The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Puluh Lima: Plodnavor yang Sama



Matahari masih belum terbit ketika Amabel dan Rain keluar dari kamar. Gadis itu sempat menatap kamarnya selama beberapa bulan kemudian tersenyum. Dalam hati ia mengucapkan terima kasih. Para peri belum bangun. Untungnya mereka sudah berpamitan kemarin. Ratu Evangeline bahkan membuat pesta perpisahan dan Amabel mendapat pelukan dari seluruh peri. Satu per satu sepanjang malam. Bahkan hari ini tubuhnya masih pegal.


"Susah ya, jadi orang populer." Ucap Rain kemudian menguap. Dia baru saja menyindir Amabel soal pesta perpisahan. Padahal Rain bersembunyi saat pesta pelukan dimulai.


Amabel mengepalkan tangannya dan akhirnya mendaratkan sebuah pukulan di bahu Rain. Cukup kencang untuk membuat lelaki itu terhentak dan mundur beberapa langkah. "Beraninya seseorang yang bersembunyi mengatakan itu."


Rain berdecih, mengusap pundaknya. Kakinya melangkah dengan mudah untuk menyamakan langkah dengan Amabel. "Oi, nona, kita akan kembali Plodnavor. Kau harus mengendalikan emosimu itu, seperti kau mengendalikan kekuatanmu." Rain menyentuh kedua bahu Amabel dengan wajah serius. "Kalau tidak nanti kau akan mendapat julukan sebagai Permaisuri Iblis."


Rain tersenyum lebar, seakan menang dalam pertarungan. Amabel sudah kembali mengepalkan tangannya, namun ia menarik napas dan menghembuskannya. "Suatu hari aku akan pastikan untuk bertarung denganmu."


"Akan kutunggu." Balas Rain dengan tangan yang tersilang di belakang kepala.


Keduanya sudah sampai gua penghubung dengan Kerajaan. Tiap langkah Amabel di dalam gua, perubahan fisiknya mulai terjadi. Rambutnya perlahan semakin panjang hingga tanah. Tubuhnya bertambah tinggi. Wajahnya terlihat lebih dewasa, begitu pula dengan bagian tubuh lainnya. Sementara Rain tak mengalami perubahan apapun.


Saat keluar dari gua, Amabel merasakan dadanya sesak. Ia baru menyadari bahwa gaunnya yang sebatas mata kaki sudah berada di atas lutut. Rambutnya bahkan sudah mencapai tanah. "Apa yang terjadi?" Katanya bingung.


Rain membulatkan matanya, ia lupa bahwa Amabel pasti mengalami perubahan dalam tubuhnya. Ia menutup mulutnya, memperhatikan Amabel dari atas hingga bawah. "Nona, saat ini anda luar biasa menggoda."


Amabel menatap Rain tak percaya kemudian mengarahkan pukulannya ke perut Rain. Meski jaraknya mencapai lima meter dengan manna ia dapat memukul Rain. "Tidak sopan."


Rain terbatuk untuk beberapa saat kemudian menjentikkan jarinya. Pakaian Amabel sudah berubah, kali ini sebuah gaun berwarna oranye-hitam dengan motif bunga dibagian bawah. Kakinya sudah menggunakan heels berwarna hitam. Rambutnya mencapai batas punggung dengan jepit bunga di sisi kiri. "Sekarang sudah seperti manusia."


Amabel ingin sekali menghajar Rain, namun ia menahan diri. "Berapa lama sebenarnya kita ada di sana?"


Gadis itu mulai melangkah, meski agak sulit. Ia mengulurkan tangannya dan Rain langsung meraihnya. "Tujuh tahun lebih. Artinya kau sebentar lagi akan berusia enam belas."


Amabel mengangguk. Pantas saja ia banyak berubah. Tubuh ini jadi lebih berat, terutama pada bagian dada. Ia menyentuhnya, ada yang berbeda di sana. "Tolong jangan menyentuh dadamu di samping seorang pria." Kata Rain datar.


Amabel langsung mendecih sinis. "Ah, kau pria? Kukira kau tak memiliki gender."


Rain menoleh dengan senyum menyebalkan. "Kau benar. Jadi, apa lebih baik aku menjadi Rain yang pertama kau lihat?"


Rambut Rain kini sudah panjang dan menggunakan gaun berwarna hijau gelap, sama seperti kali pertama Amabel melihatnya. "Begitu lebih baik."


Rain mengangguk. "Tentu. Kita tak akan tahu apa yang orang katakan jika mereka tahu kau pergi dengan seorang pria selama tujuh tahun."


"Kau bukan pria." Balas Amabel datar.


Lagi, Rain mengangguk. "Kau benar."


Keduanya kembali berjalan menelusuri sungai. "Akan lebih baik jika kau menggunakan sihir agar kita sampai ditujuan sekarang."


Rain menoleh, menatap Amabel. "Ke mana tujuan kita?"


"Tentu saja Plodnavor." Balas Amabel tak paham. "Memang kau memiliki tujuan lain?"


Rain malah menyeringai. "Kau yakin tak ingin pergi ke suatu tempat? Ralat, maksudku menemui seseorang?"


Amabel diam beberapa saat dan Rain menganggap itu sebagai jawaban. Ia menjentikkan jarinya dan saat Amabel membuka mata ia berada di sebuah gang. Rain pergi entah ke mana, namun meninggalkan sebuah kertas di tangannya.


"Kita bertemu di Plodnavor." Kata Amabel saat membaca kertas tersebut. Ia kembali mengepalkan tangannya, kesal. Selalu saja seenaknya!


Gadis itu menyerah dan keluar dari gang tersebut. Ini bukan Plodnavor atau Rezenavor atau bahkan Iliyä. Amabel menatap sekitarnya, mencari petunjuk. Ia hanya tahu jika ini berada di salah satu desa dekat perbatasan. Amabel mulai menelusuri jalan, menatap kegiatan di sekitarnya.


Desa ini kemungkian besar baru dibangun. Melihat banyak bangunan baru dan orang-orang yang berlalu lalang. Saking sibuknya melihat keadaan Amabel tak sadar ada seseorang di depannya dan keduanya bertabrakan. Tubuh gadis itu hampir saja jatuh ke tanah jika tangan pria di hadapannya tak menahan.


Tangan yang menyentuh pinggangnya terasa hangat. Amabel mendongak dan mata merah darah itu ada di hadapannya. Keduanya saling bertatapan untuk beberapa saat hingga Arthur berdeham. Arion membantu Amabel untuk berdiri sebelum akhirnya melepaskan tangannya. Keduanya masih bertatapan hingga Amabel memalingkan tatapan dan menunduk. "Maafkan kecerobohan saya."


Ia langsung berbalik dan menjauh dari sana. Bagaimana bisa mereka bertemu seperti ini? Amabel menyentuh dada kirinya, ia dapat merasakan detak jantungnya. Ia yakin itu adalah Arion. Hanya lelaki itu yang memiliki mata merah itu. Itu Pangeran ke Lima. Itu Arion Saverio. Dari segala tempat, Rain malah memilih tempat ini. Kenapa?


"Tuan?" Panggil Arthur karena Arion tak juga bergerak. Lelaki itu masih menatap seorang gadis berambut perak tadi. "Anda baik-baik saja?"


Sentuhan di punggungnya membuat Arion sadar. Lelaki itu menyuntuh kepalanya. Tadi itu Amabel, bukan? Arion tidak sedang bermimpi. Mata bulan dan rambut perak, itu pasti Amabelnya. Kenapa gadis itu ada di sini? Tunggu. Apa dia sendirian?


"Arthur kau kembali ke barak duluan." Perintah Arion kemudian berlari mengejar Amabel.


Kenapa gadis itu ada di sini? Apa sesuatu terjadi? Napasnya tersenggal dan matanya terus mencari. Tatapannya terhenti pada seorang gadis berambut perak dan gaun oranye-hitam. Tangannya terulur, jika ini bukan mimpi ia dapat menyentuh Amabel.


Tatapan mata mereka bertemu, namun dengan cepat Amabel menunduk. Ini terlalu cepat. Amabel bahkan belum mempersiapkan diri. "Amabel Rosemary Lancaster." Panggil Arion.


Gadis itu mengangguk. "Ya, Pangeran."


"Tolong lepaskan tangan saya agar saya dapat memberi salam dengan layak." Ujar Amabel dan Arion melakukannya. Gadis itu menarik kedua ujung gaunnya dan menunduk. "Amabel Rosemary Lancaster memberi salam pada Pangeran ke Lima. Semoga kejayaan selalu bersama anda."


Sebuah senyum tercipta di bibir Arion. "Semoga kejayaan juga selalu bersamamu."


Amabel mengangguk. Keduanya terdiam. Arion yang tengah memperhatikan perubahan dalam diri Amabel dan Amabel yang hanya menunduk sibuk dengan pikirannya sendiri. "Kau banyak berubah." Ujar Arion. Ia maju satu langkah.


"Waktu sudah banyak berlalu, tentu akan ada banyak perubahan." Balas Amabel.


"Bagaimana kau ada di sini?" Tanya Arion sambil maju satu langkah lagi.


Amabel dapat melihat jika jarak keduanya semakin dekat. Matanya terpejam, berpikir untuk jawaban yang masuk akal. "Aku menggunakan kertas sihir yang rusak."


Kepala Arion miring dan alisnya naik. "Maksudmu?"


"Aku membeli kertas sihir untuk teleportasi namun, sepertinya rusak." Jawab Amabel asal. Ia hanya belum siap menceritakan semuanya pada Arion.


"Ke mana tujuanmu?" Tanya Arion. Ia ingin agar Amabel menatapnya.


Amabel berdeham. "Plodnavor."


"Kalau begitu ikutlah denganku. Aku juga dalam perjalan menuju Plodnavor." Jelas Arion. "Tentu jika kau tak keberatan berada di antara prajurit."


Buru-buru Amabel menggeleng. Ia mendongak dan akhirnya mata mereka bertemu. Secepat itu juga Amabel memutuskan pandangan mereka. "Tentu tidak. Sebuah kehormatan bagiku berada di antara pahlawan negara."


Arion mengulurkan tangannya, Amabel mendongak. Tatapan keduanya kembali bertemu bersamaan dengan angin yang berhembus. "Ayo."


Pandangan Amabel terarah pada tangan dan mata Arion. Gadis itu mengulurkan tangannya namun dengan cepat menariknya. "Saya rasa akan lebih baik jika tidak ada yang tahu tentang saya."


Ah, penolakan. Arion tersenyum, meski ia merasa sakit. Ia menarik tangannya kemudian berbalik. "Baiklah. Lagipula hubungan kita memang tak sedekat itu"


Arion lupa jika Amabel mungkin hanya tersesat dan membencinya. Penolakan Amabel terasa menyakitkan. Sementara Amabel hanya dapat menatap punggung Arion dari belakang. Arion tumbuh dengan baik. Bahunya lebar begitu lebar namun juga kesepian. Ia merasa bersalah. Lagi-lagi di hadapan Arion, Amabel tak bisa jujur.


Sejujurnya Amabel senang bisa bertemu dengan Arion. Sejak surat panggilan untuk kembali ke Plodnavor tiba, Amabel hanya memikirkan tentang Arion. Ia merindukan Arion, namun tak bisa mengatakannya. Saat ini ketika Arion ada di depannya, Amabel malah melakukan penolakan.


"Arthur, dia akan ikut dengan kita menuju Plodnavor." Ujar Arion saat mereka tiba di barak.


Amabel memberi salam pada Arthur. "Maaf jika merepotkan."


Arthur menggeleng, "tak masalah, nona?"


"Rosemary." Jawab Amabel. Ia tak sepenuhnya berbohong dan untunglah Arthur percaya.


Arion menghentikan langkahnya dan menatap Amabel. "Dia akan tidur di barakku."


Arthur dan Amabel saling menatap. "Dia akan menjadi pelayan pribadiku."


Amabel mau tak mau mengangguk. "Aku adalah pelayan pribadinya."


Melihat Amabel yang gugup malah membuat ujung bibir Arion tertarik. Untuk saat ini Arion akan menikmati sedikit waktu yang ia punya bersama Amabel. "Tunggu apalagi, Rosemary? Kau harus membantuku berganti pakaian."


Panggilan Arion cukup keras hingga mereka mendapat perhatian dari prajurit yang ada di sana. Wajah Amabel memerah dan ia melangkah menuju Arion sambil menunduk. Seperti belum puas, Arion menatap Arthur. "Malam ini tak ada yang boleh menggangguku. Kami harus melakukan banyak hal pribadi bersama."


"Tuan, tolong berhenti berbicara dan kita mulai saja." Perkataan Amabel malah membuat persepsi orang-orang semakin salah. Ia sendiri hanya bisa menutup wajahnya malu. Amabel merutuk dirinya berkali-kali dalam hati.


Arion langsung merangkul pundak Amabel. "Kalau begitu mari pergi dan habiskan malam bersama."


Sejak tadi mulut Arthur sudah terbuka lebar. Apa ini benar-benar Arion?


"Sir, apa Pangeran baik-baik saja?" Tanya salah satu prajurit dan Arthur hanya dapat menggeleng.