The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Empat Puluh Tujuh: Mere



Arion mengulurkan tangannya di hadapan Amabel setelah keduanya selesai makan. "Boleh aku denganmu?"


Amabel meraihnya dan mengangguk. Namun, Arion tak membawa Amabel ke lantai dansa. Keduanya melangkah menuju taman, musik masih terdengar. Arion menyatukan jemari keduanya dan melingkarkan tangan kirinya di pinggang Amabel. Keduanya berdansa pelan, diiringi musik yang sayup-sayup terdengar.


"Pemilik pesta harusnya berada di dalam sana." Ledek Arion, tangannya dengan mudah memutar tubuh Amabel.


"Yang Mulia sendiri menculikku ke sini." Balas Amabel sambil memberi hormat, tanda dansa keduanya berakhir. Arion melangkah maju, berdiri di sisi Amabel. "Setelah ini kita pasti akan sangat sibuk."


Arion mengangguk, tak dapat lebih setuju daripada itu. "Pesta pernikahan dan penobatan ya."


Amabel hanya bisa menganggukkan kepalanya. Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Arion masih tak menyukai ide untuk menjadi penerus selanjutnya. Sejak awal ia memang lebih suka mengurus soal keamanan, dibanding mengatur kerajaan. Dibanding mengurus para menteri, Arion lebih suka mengurus pasukan dan strategi. Padahal jika boleh ia lebih memilih mengatur Srela--kerajaan yang telah ia kalahkan--dibanding harus mengurus kerajaan Yerkink.


"Aku tak terlalu suka dengan ide menjadi Putri Mahkota." Ujar Amabel akhirnya setelah lama menahan. Hanya pada Arion ia bisa mengatakan hal ini tanpa perlu khawatir soal hukuman dan lainnya. "Kamu tahu sejak dulu aku tak terlalu suka soal kekuasaan dan tahta. Aku tak pernah mengira Raja akan memilih kita. Maksudku, kemungkian kamu menjadi Putra Mahkota tentu saja sangat besar, tetapi aku tetap tak mengira hal ini terjadi. Aku tak suka."


Helaan napas terdengar dari mulut Arion. "Aku paham. Aku pun sama. Aku tak pernah ingin terlibat dalam politik kerajaan. Itu alasanku lebih suka mengurus soal perang dan keamanan kerajaan. Dibandingkan aku, Kak Kenan lebih mampu untuk berada di posisi ini. Kemampuan berpolitiknya luar biasa dan ia memiliki banyak ide untuk kemajuan. Entah apa dasar Ayah memilihku."


Angin berdesir, menari pelan melewati tubuh keduanya. Arion melepaskan jas miliknya dan memakainya pada bahu Amabel. Ia merapikan jas tersebut sambil menatap Amabel. "Hanya saja, aku yakin kamu akan menjadi Ratu terbaikku. Kamu adalah perempuan dengan kemampuan luar biasa, Bel. Jika saatnya tiba nanti, berdirilah di sampingku, bukan di belakangku untuk mengatur Yerkink."


Jantung Amabel berdegup, cepat dan menciptakan semu merah di pipinya. Arion tak tahu bagaimana ucapan tersebut membawa harapan pada Amabel. Berdiri di sampingnya berarti Arion ingin mengatur kerajaan bersama Amabel. Gadis itu bisa terjun langsung, bukan hanya menjadi pembantu di balik layar. "Kamu serius? Para menteri mungkin akan menolak."


Arion malah tersenyum lebar. "Aku tetap rajanya. Selama seorang Ratu memberikan masukan yang baik kenapa harus dibuat sulit? Kita bisa mengubahnya. Hal yang pertama ingin kuubah adalah posisi perempuan dalam strata pemerintahan. Aku ingin para perempuan di masa depan dapat duduk di posisi yang mereka inginkan."


Mendengar itu cukup membuat Amabel tersenyum. "Kamu pasti akan menjadi Raja yang luar biasa nantinya. Arion, lebih dari apapun, ketahuilah bahwa posisimu bukan di atas rakyat, namun di bawah mereka. Kamu bekerja untuk menyejahterakan mereka bukan membuat mereka kesulitan. Di negeru yang kaya ini, jangan pernah sekali pun kamu membuat rakyat merasa miskin. Itu yang harus kamu ingat."


Arion tak pernah salah memilih Amabel untuk menjadi pendamping hidupnya. Pemikirannya benar-benar luar biasa. Untuk seorang gadis dapat berpikir demikian membuat Arion merasa Yerkink mendapatkan calon Ratu yang baik. Amabel adalah calon Ratu terbaik yang memikirkan rakyat lebih dari dirinya. Jika Arion menguasai daerah lain dengan perang dan kekerasaan, Amabel dapat menyatukan dengan cinta kasih dan pengertian. Tatapan tajamnya seakan dapat melihat keseluruhan dalam diri seseorang sementara tatapan lembutnya dapat membuat hati seseorang merasa aman. Amabel memiliki kualitas seorang Ratu.


"Selama kamu menjadi ratunya tak akan ada masalah. Aku dapat mengatasi apapun." Arion menepuk puncak kepala Amabel, beberapa kali dengan senyuman lembut di wajahnya. Jika ada yang melihat pasti tak akan ada yang mengira bahwa laki-laki di hadapan Amabel adalah laki-laki yang membunuh lebih 1.000 orang dalam satu malam. Tak akan ada yang mengira jika pedang di pinggangnya telah berlumur darah dengan senyuman selembut itu.


Amabel menyentuh tangan Arion. Tangan keduanya masih berada di atas kepalanya. "Arion, beberapa hari ini aku belajar bahwa kehidupan manusia sangatlah pendek. Maka, berjanjilah, apapun yang terjadi kamu akan tetap menjadi Raja. Raja yang dapat menyatukan negeri dan membawa kemakmuran. Di tanah ini, kamu akan membawa kebahagiaan setelah menghapus air mata dan segala kesulitan."


Arion menggeleng, "jika umur manusia singkat, maka akan kupastikan waktuku dan waktumu berakhir bersamaan."


Tatapan Amabel berubah, sendu. "Jangan. Jika waktuku berakhir lebih dulu, kamu harus tetap hidup. Kamu harus tetap bertahan karena satu-satunya alasan untuk hidup bukan hanya aku. Jadi, berjanjilah kamu akan tetap menjadi Raja meski apapun yang terjadi."


"Kenapa tiba-tiba menjadi keras kepala, Bel?" Tanya Arion, khawatir. "Ada yang terjadi?"


"Tak ada. Aku hanya ingin melihat Yerkink dipimpin oleh Raja sepertimu." Balas Amabel, tangannya masih menahan tangan Arion di kepalanya. "Makanya aku ingin kamu berjanji."


Arion akhirnya mengangguk, "baiklah. Lagipula aku tak bisa mengalahkan keras kepalamu itu."


Senyum Amabel tercipta, menampakkan deretan giginya. "Aku rasa kita harus ke dalam. Sudah terlalu lama kita di sini."


Arion langsung mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Amabel, erat. Lantai dansa masih ramai dengan beberapa pasangan yang sepertinya baru masuk tahap pendekatan.


"Tuan putrinya sudah datang!" Seruan itu datang dari Rahel bersama Noah. Amabel langsung tersenyum lebar dan memeluk Rahel. "Selamat ulang tahun. Semoga kamu selalu diberikan keselamatan. Ini hadiah dariku dan Noah."


Amabel dengan senang hati menerima kotak tersebut. "Terima kasih. Rahel, apa kamu sudah melihat kue-kue di sana?"


Rahel mengangguk, binar matanya tak bisa bohong. "Aku sudah mencicipi semua makanan saat kamu sibuk bermesraan dengan Pangeran Putra Mahkota."


Pipi Amabel kembali memerah. "Jangan menggodaku."


Rahel terkekeh, "oh, aku harus kembali ke istana. Besok pagi aku akan pergi."


"Ke mana?" Tanya Amabel, penasaran.


Rahel langsung menaruh jarinya di depan bibir. "Rahasia. Ini bulan madu kami. Kalau tempatnya bagus aku akan mengatakannya padamu."


"Baiklah. Hati-hati di perjalanan." Amabel kembali memeluk Rahel, lebih erat. "Saat kembali nanti aku akan menemuimu."


Rahel tersenyum, lebar. "Tentu. Aku akan mengabari saat tiba nanti. Sampai jumpa, Rosemary."


"Sampai jumpa, Rahel." Amabel melambaikan tangannya pada Rahel yang kini merangkul tangan Noah. Melihat keduanya bahagia tanpa sadar membuat Amabel tersenyum.


"Mereka serasi ya." Puji Arion yang sudah berdiri di sisi Amabel. Tangannya melingkari pinggang Amabel. "Kudengar mereka mau bulan madu lagi."


Amabel mengangguk. "Rahel terlihat begitu bahagia. Aku bersyukur."


"Bel!" Alec dan Elliott menghampiri keduanya bersamaan. Kemudian menatap tangan Arion tak suka, membuat lelaki itu menarik tangannya. "Ayo, ikut. Ada yang ingin berkenalan." Ujar keduanya, bersamaan.


Amabel hanya dapat menatap Arion, tanpa bisa menjelaskan situasinya. Kedua kakaknya masih belum rela sepenuhnya melihat Arion bermesraan dan menyentuh Amabel semudah itu. Mereka berhenti di depan dua perempuan cantik. Satu dengan bibir berwarna semerah ceri dan satu dengan gaun yang ditutup dengan jas.


"Selamat malam, aku Amabel Rosemary Lancaster. Terima kasih sudah datang ke pestaku." Sapa Amabel sambil memberikan salam penghormatan. Ia kemudian menoleh pada kedua kakaknya bergantian dengan kedua tangan di depan perut. "Kakak, perkenalkan padaku siapa perempuan mempesona di depanku ini?"


Mata Amabel langsung bersinar, "sungguh? Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu, Sofia. Eh, apa boleh aku memanggilmu demikian?"


Sofia tersenyum melihat tingkah Amabel. Benar-benar manis dan sopan. Cara bicaranya begitu riang, namun tak mengolok atau merendahkan. "Tentu saja. Aku dengan senang hati menerima tawaran tersebut."


Tatapan Amabel terfokus pada perempuan berbibir merah ceri. Elliott mengangkat tautan tangan keduanya. "Dia Maya Athens. Cantik 'kan? Cantik 'kan?"


Amabel berdecak, menatap Elliott sebal. "Kakak, dibanding mengatakan sesuatu yang sudah jelas lebih baik lepas tanganmu. Nona Athens terlihat tak nyaman."


Nona Athens katanya, bisik Maya dalam hati. Tak pernah ada yang menyebutnya demikian karena dia hanya rakyat biasa. Amabel maju, meraih tangan Maya dengan lembut. Ia tersenyum, begitu mempesona dan menghipnotis. "Nona, tolong maafkan kakakku. Dia ini tipe yang bertindak tanpa berpikir. Aku yakin dia pasti sudah mengatakan hal aneh, jadi atas segala tingkahnya aku minta maaf."


Elliott langsung cemberut. "Aku tidak mengatakan apapun! Hanya mengatakan fakta!"


Amabel menyipitkan matanya, curiga berlebihan. "Sudah pasti kakak mengatakan hal gila di pertemuan pertama."


Elliott langsung diam, seakan tertembak. Bagaimana bisa adiknya tahu?


Maya terkekeh mendengarnya. Amabel langsung tersenyum, "akhirnya nona tersenyum juga. Itu lebih cocok untuk nona."


Maya terhenyak. Sejak tadi Amabel memperhatikan, sementara Maya malah memiliki penilaiannya sendiri tentang Amabel. Ia malu. Amabel menepuk pundak Maya, menenangkan. "Nikmati pestanya."


Amabel kini menatap dua perempuan di hadapannya. "Kedua kakakku ke depannya pasti akan lebih merepotkan, jadi tolong bantuannya. Meski merepotkan, aku akan pastikan kedua kakakku akan selalu menjaga dan membuat Nona Athens dan Sofia tersenyum." Amabel tersenyum, lebar kemudian membungkuk. "Tolong jaga kakakku dengan baik."


Setelahnya ia memamerkan senyum dengan deretan giginya. "Nikmati pestanya! Aku harus kembali ke sana. Sampai jumpa!"


Setelah Amabel pergi, Alec mengajak Sofia untuk mengambil segelas anggur. Sementara Elliott dan Maya masih berdiri di tempat yang sama. Maya menyampirkan rambutnya ke balik telinga. "Adikmu luar biasa." Puji Maya.


Elliott tersenyum lebar, seakan ia adalah orangtua Amabel. "Tentu. Dia adalah adikku."


"Aku kira dia akan berkomentar soal penampilanku." Ucap Maya akhirnya.


Elliott menoleh, menatap Maya bingung. "Kamu terlihat cantik seperti biasa. Aku tak melihat ada masalah."


Kali ini pujian Elliott memberi pengaruh pada Maya. Ia merasa sedikit gugup. Hanya sedikit. "Gaunku menampakkan lekuk tubuh dan bibirku begitu merah. Ini bukan sesuatu yang dipakai ke pesta bangsawan bukan?"


Elliott memiringkan kepalanya sambil menyentuh dagunya. "Lalu kenapa? Kamu merasa nyaman dengan penampilan ini 'kan? Selama kamu nyaman aku tak melihat ada masalah."


Baru kali ini ada yang mengatakan hal tersebut pada Maya. Selama ini ia hanya mendapatkan ejekkan dan hinaan. Ucapan Elliott adalah pegangan Maya selama ini dan ia mengatakannya secara gamblang. "Aku yakin Amabel pun berpikir demikian. Adikku itu lebih sulit diatur dibanding yang terlihat. Dia mengambil keputusan besar di usia delapan. Dia lebih jago menggunakan pedang dibanding diriku. Dia tak pernah memperlihatkan lukanya pada kami. Dan dia adalah alasan aku bisa bertemu denganmu. Karena itu kamu tidak perlu berubah untuk menyesuaikan dengan standar yang ada. Karena aku menyukai kamu yang apa adanya."


Pujian yang diucapkan tanpa pikir panjang, nasihat manis berisi ucapan rayu tanpa persiapan, dan tatapan tegas yang menyorot kasih sayang membuat bagian dalam diri Maya bergerak. Seakan ada ribuan kupu-kupu bergerak bersamaan, mengelitik perutnya. Efek kupu-kupu yang membuat wajahnya tersipu malu.


Elliott adalah makhluk berbahaya. Maya harus menjaga jarak. Namun, Elliott sudah menariknya menjauh dari dinding yang baru ia bangun. "Aku ingin tumbuh dan menua bersamamu. Pikirkan itu, kumohon."


Dinding yang berusaha ia bangun sudah berubah menjadi debu. Elliott sukses menginvasi Maya.


"Jadi, kenapa mengajakku?" Tanya Sofia sambil memutar gelas anggur di tangannya.


Alec mengangkat alisnya, seolah tak percaya dengan pertanyaan yang diajukan. "Sungguh Sofia? Setelah semalam kamu muntah di jasku?"


Sofia langsung menutup wajahnya, malu. "Jangan dibahas."


"Kamu yang memulai." Balas Alec kesal.


Sofia menghela napas dan menaruh gelasnya. "Kamu memperkenalkanku pada adikmu, Alec. Dia memintaku untuk menjagamu, menitipkanmu tepatnya. Itu kata-kata untuk seorang ipar, kau tahu?"


"Ya, lalu?" Balas Alec santai.


"Kita hanya teman." Tekan Sofia.


Alec maju, mendekatkan wajahnya pada Sofia. "Teman tak akan menghabiskan malam bersama."


Sofia langsung mendorong tubuh Alec, wajahnya memerah. "Jangan buat orang salah paham!"


Alec malah terkekeh, "kamu yang menciumku dan mengatakan ingin jatuh cinta padaku."


"Dan kamu tak masalah dengan itu?" Tanya Sofia, tak paham.


Alec menarik ujung bibirnya, "selama itu kamu aku tak menemukan adanya masalah."


Segala batasan akan hubungan pertemanan hancur malam itu.