The Only Daughter Of Lancaster

The Only Daughter Of Lancaster
Bagian Tiga Puluh Enam: Tentang Yang Lain



Ian menaruh pedangnya di atas tanah. Baru saja ia selesai latihan dengan Alec dan tentu saja dirinya kalah. Ian menutup matanya dengan lengan, "kau menang lagi, Duke."


Alec terkekeh pelan, ia mengulurkan tangannya. "Tolong berhenti memanggilku Duke, Pangeran."


Ian berdecih dan meraih tangan Alec. Sahabatnya langsung menarik tubuhnya hingga berdiri. Keduanya saling berhadapan dan Ian langsung menyentil kening sahabatnya. "Berhenti juga memanggilku Pangeran."


"Itu karena kau yang memulai." Kesal Alec sambil melangkah menuju gedung utama. "Aku harus cepat kembali. Hari ini ada pertemuan dengan Duke Hamilton dan Duke


Prada."


Ian menyamakan langkahnya dengan Alec. Sejak lulus dari akademi, Alec mengikuti Duke Lancaster selama satu tahun dan menjadi penerus keluarga. Terhitung sudah dua tahun Alec menjadi Duke dari Plodnavor. Awalnya tentu saja sulit karena ada beberapa hal yang tak Alec pahami. Akan tetapi, ia mendapat dukungan dari banyak orang. Eli sering membantunya dengan memberi buku referensi bahkan mengajarinya soal politik. Alterio dan Ian juga membantu membahas peraturan Kerajaan. Ayahnya pun memberi dukungan penuh. Juga, alasan ia bekerja begitu keras adalah janjinya pada Amabel. Dengan menjadi Duke ia akan bekerja di istana dan Amabel tak akan sendirian.


"Oh, bagaimana hasil ujian Eli?" Tanya Ian saat keduanya berada di dalam istana.


Alec hanya menatap lurus ke depan. "Baik. Dia sedang menunggu hasil pengumuman untuk penempatan staf kementerian. Katanya dia ingin memulai dari awal."


Ian mengangguk dan berhenti di depan perpustakaan. "Aku akan kembali ke kamarku. Kau selesai saat makan siang bukan?"


Alec mendesah, lelah. "Aku harap begitu. Kalau aku selesai makan siang, mari makan bersama."


Ian mengangguk kemudian keduanya berpisah. Alec melangkah menuju ruangan Duke Hamilton, mengetuknya tiga kali sebelum akhirnya masuk. "Selamat siang."


Alnorth Geo Hamilton--putera sulung Duke Hamilton--menoleh. "Siang, silakan masuk."


"Duke Prada belum datang?" Tanya Alec sambil mencari.


Alnorth menggeleng, "dia tidak akan datang."


Satu alis Alec naik, "kenapa? Aku kira kau sudah mengatakan bahwa ini penting?"


Alnorth malah terkekeh. "Memangnya selama kita menjadi Duke dia mau berada di satu ruangan yang sama? Dia memiliki harga diri yang tinggi."


Alec menghela napas. Duke Prada bahkan tak pernah menatap matanya langsung, selalu menghindar, dan meremehkan. Tak aneh karena dia pasti mereka lebih tua dan senior. Namun, harusnya dia lebih hormat bukan hanya ingin dihormati saja. Akan tetapi, meski mereka tak berada di kapal yang sama Alec tetap harus bersikap baik. Alec dan Alnorth bahkan tak bisa mengatakan hal ini kepada Raja.


"Aku tak tahu bagaimana cara menarik Pak Tua itu duduk bersama kita." Alnorth terdengar begitu lelah. Masalah di daerah yang ia pegang sudah cukup banyak, belum lagi permasalahan antara kerajaan tetangga dan lainnya. Ia tak punya waktu mengurusi lelaki dewasa dengan sikap kekanakan.


Alec bahkan tak tahu harus membalas apa. Ia akhirnya mengetuk meja, membuat fokus Alnorth terarah padanya. "Jadi, apa yang mau kau diskusikan?"


Alnorth langsung memberikan beberapa kertas yang telah ia susun. "Ini surat keluhan atas naiknya pajak tanah dan bangunan. Aku sudah melihat beberapa dan meninjau ulang kenaikannya. Ternyata di Loftnavor kenaikannya sebesar hanya 4%, begitu juga di Plodnavor. Akan tetapi, di Pavienavor kenaikannya sebanyak 15%. Perbedaan sangat jauh, itu alasan aku ingin bertemu dengan Duke Prada."


Alec membaca tiap kertas yang ada di tangannya. Memang benar kebanyakan keluhan berasal dari Pavienavor. Ia menghela napas, pada akhirnya mereka tak bisa membiarkan masalah ini dan harus melapor pada Raja. Ini masalah serius yang tak bisa mereka selesaikan sendiri.


"Kau memiliki bukti lain?" Tanya Alec dan Alnorth mengangguk.


"Surat pengumuman kenaikan pajak di Pavienavor dan bukti pembayaran beberapa orang." Alnorth memberikan rekap dokumen tersebut pada Alec. "Pada akhirnya kita harus memberitahu Raja. Duke Prada tak bisa dibiarkan."


Alec mengangguk, tangannya merapikan kertas yang telah dibaca dan menaruhnya di atas meja. "Jika ia menaikkan pajak tanah, ada kemungkian dia menyembunyikan hal lain."


Alnorth menatap sekitar, seolah takut ada yang mendengar. "Aku sudah mencari tahu dan ternyata memang bukan hanya pajak tanah. Di Pavienavor bahkan ada pajak keamanan, sesuatu yang seharusnya tak dilakukan. Hanya saja tidak ada yang berani melapor."


Alec tak menyangka akan sepelik ini masalahnya. Ia memijat keningnya yang terasa sakit. "Kau harus menyimpan semuanya dengan baik. Aku akan mencoba mencari bukti lain, jadi untuk sekarang mari rahasiakan dulu."


Lelaki berambut hitam di hadapannya mengangguk. Untuk saat ini lebih aman mengamati musuh dibanding menyerang tanpa ada keyakinan. "Kita butuh buku laporan keuangan dan saksi yang terpercaya. Kau bisa melakukannya?"


Alec tersenyum, memperlihatkan deretan giginya. "Itu mudah. Aku pergi kalau begitu."


"Hati-hati." Ujar Alnorth dan Alec mengangguk.



Dorothy menurunkan rajutannya saat Ian masuk. Gadis itu buru-buru berdiri dan menyambut Ian. "Anda sudah datang, Pangeran. Apa ada yang-"


Ian mengabaikan dan langsung masuk ke dalam kamar. Dorothy hanya dapat menggenggam rajutannya erat. Lagi-lagi ia diabaikan. Sudah tiga tahun mereka menikah dan bahkan Ian hanya bersikap manis jika berada di pesta. Artinya hanya beberapa kali.


Hubungan mereka sama seperti untaian benang kusut. Dorothy tak tahu akan berakhir bagaimana, namun sama seperti hasil rajutan ia harap akan tercipta sesuatu yang berguna. Gadis itu mengepalkan tangannya, menepuk kedu pipinya. "Yosh! Semangat!"


Dorothy tak pernah menyerah dengan Ian. Bagaimana pun, Ian adalah cinta pertamanya. Orang bisa berpikir bahwa Ian adalah orang yang kasar. Namun, selama ini Ian tak pernah menyakitinya secara fisik. Ian mungkin tak pernah memperhatikannya namun, ia tak pernah menyakitinya. Itu hanya bagaimana Ian bertindak. Dorothy bahkan tahu jika Ian menyukai putri keluarga Lancaster. Ian mungkin tak sadar--bahkan orang lain pun tidak--namun, Dorothy sadar. Alasannya karena sejak awal mata Dorothy selalu terarah pada Ian. Hingga ketika sorotan mata Ian melembut ketika menyadari kehadiran Amabel, Dorothy tahu jika hati Ian sudah menjadi milik orang lain.


Dorothy menatap bentuk rajutannya. Ia akan membuat syal. Selama ini, meski Dorothy tak pernah memberikannya secara langsung, Ian selalu memakaninya. Saat musim dingin pertama mereka, Dorothy menaruh sarung tangan rajutannya di atas meja kerja Ian. Keesokan harinya Ian mengucapkan terima kasih dan memakainya. Dua kata yang membuat Dorothy tersenyum berminggu-minggu.


"Akh," seru Dorothy tertahan. Jarinya tertusuk jarum.


"Kau tak apa?" Tanya Ian, kebetulan ia mendengar suara Dorothy. Ia melangkah, mendekat ke arah Dorothy dan mengulurkan tangannya. "Kau terluka." Ucapnya sambil melihat tangan Dorothy. "Cepat obati."


"Kita." Tekan Ian, membuat kelopak mata Dorothy melebar. "Kita akan makan siang bersama Alec. Kau bisa pergi ke toko kain setelahnya."


Dorothy agak linglung. "Hng? Kenapa saya ikut?"


"Apa ada pelayan di luar?" Teriak Ian dan seorang pelayan masuk. "Putri terluka, obati."


Pelayan tersebut mengangguk dan berbalik untuk memanggil tabit. "Kau bilang ingin membeli kain."


Masih sama linglungnya, Dorothy mengangguk. "Kalau begitu keluarlah setelah selesai diobati."


Dorothy mengangguk. Jantungnya berdegup kencang. Hari ini ia akan makan bersama Ian. Syukurlah. Dorothy bahagia.


"Alberto," Rain melambaikan tangannya pada pria dengan jubah hitam. Si pemilik nama berbalik dan tersenyum. "Wah, kau semakin tua."


"Dan mulutmu semakin kurang ajar." Balas Alberto. Ia menatap ke sisi Rain, namun tak menemukan Amabel. "Kau tidak bersamanya?"


Rain menggeleng dan tersenyum. Jarinya ia taruh di bibir. "Aku membawanya ke tempat yang seharusnya."


Satu alis Alberto naik, ia tak paham. "Lalu bagaimana perkembangannya?"


Dengan santai Rain menyilangkan tangan di belakang kepala. "Lebih baik dibanding saat aku pertama bertemu dengannya."


Lelaki di hadapannya mengeluarkan surat dan memberikannya pada Rain. "Identitas untukmu."


Rain mengambilnya dan mengangguk. "Terima kasih. Jadi, bagaimana keadaan saat ini?"


Alberto menyandarkan tubuhnya pad dinding. "Duke Lancaster dan Duke Hamilton sudah diganti dengan anak sulung mereka. Sejauh ini masih aman."


"Ya, tentu masih aman. Selama tokoh utama belum datang, semua akan aman." Ujar Rain kemudian ia menatap Alberto. "Usaha kita tak akan bisa mengubah takdir."


"Aku tahu." Ujar Alberto kemudian Rain menghilang. Lelaki itu keluar dari gang dan berjalan menuju istana.



"Kau bisa tidur di sana." Tunjuk Arion pada kasur di sisi meja kerjanya.


Amabel mengangguk. "Terima kasih. Anda tidak tidur?"


Arion membuka kertas laporan dari kerajaan Srela. Bahkan meski perang sudah berakhir ia masih sibuk. "Setelah aku menyelesaikan ini."


Gadis berambut perak itu memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia tak tahu bagaimana membuka pembicaraan. Tak tahu juga harus melakukan apa. Jadi, lebih baik berbaring. Matanya menangkap Arion yang sibuk bekerja. "Bagaimana kabar Pangeran?"


Pertanyaan Amabel membuat Arion berhenti menulis. Untuk beberapa detik, ia terdiam. Cukup lama hingga Amabel menoleh dan mata mereka bertemu. "Tidak pernah lebih baik dari ini. Kau sendiri?"


Amabel memutus tatapan keduanya dan menatap langit-langit. "Aku baik."


Banyak yang ingin Arion sampaikan. Seperti bagaimana Amabel begitu egois karena tak pernah mengirim surat selama ini. Atau juga tentang surat yang tak bisa ia simpan sebagai kenangan. Amabel melirik ke arah Arion, mungkin alasan ia berada di sini memang karena dirinya sendiri. Melihat Arion membuatnya senang. Arion tampak baik, sehat, dan tampan. Ah, yang terakhir membuat wajah Amabel memerah.


"Bagaimana perjalananmu?" Arion akhirnya bertanya untuk memenuhi rasa penasarannya.


Amabel tahu pertanyaan ini akan datang. Ia tak berencana untuk menutupinya. "Aku belajar dari guru terbaik. Selama lima bulan aku bersama Sir Bennett di Iliyä. Kemudian aku pergi ke tempat lain bersama Rain. Dia penyihir dan aku belajar sihir darinya."


Memang tidak detail, namun itu cukup. Arion tiba-tiba merasa tidak nyaman. "Rain? Dia perempuan?"


"Hah," kata Amabel tak sadar. Ia menoleh, menatap Arion. "Dia tak bisa dikatakan sebagai perempuan atau laki-laki. Ah, tetapi anggap saja saat ini dia perempuan."


Arion sebenarnya tak paham. Akan tetapi, ekspresi wajah Amabel begitu menggemaskan. Tanpa sadar ia terkekeh pelan, sesuatu yang tak pernah ia lakukan selama ini. Amabel menangkap kekehan tersebut dan tersenyum kecil. "Pangeran tersenyum."


"Ya, tampan bukan?" Balasan Arion membuat Amabel mendengus.


"Percaya diri itu baik."


Arion tak tahu jika keduanya bisa berbicara seperti ini lagi. Santai, seakan tujuh tahun lalu mereka tak pernah menghindar. "Tidurlah. Kita akan berangkat sebelum fajar."


Amabel mulai memejamkan matanya, "selamat malam, Pangeran."


"Mimpi indah, Bel." Sesuatu yang tak pernah ia katakan sebelumnya. Amabel mulai hanyut dalam mimpi sementara Arion menutup mulutnya dengan satu tangan. Dia tersipu malu. Amabel ada di dekatnya dan ia bisa melindunginya.


Jika tiap malam dapat mereka lewati bersama pasti akan sangat menyenangkan. Arion harap itu bisa terjadi. Amabel membuka matanya perlahan, ia melihat punggung Arion. Terdapat garis panjang bekas tebasan pedang di sana. Amabel tak tahu jika itu nyata atau tidak, namun ia berdoa agar Arion selalu diberikan perlindungan.