The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 07 - [ Magic Study ]



...BAB 7 - STUDI SIHIR...


...◇◇◇...


Suara air memercik deras di tepi aliran sungai.


Angin menghembus dedaunan yang terbang melayang di udara.


Sebuah Nyala Api berkobar terang di telapak tanganku. Aku mulai menyebarkan sihir ku ke dalam api dan mengendalikannya dengan lebih efesien.


Api menyala merah dengan terang dan membara. Letupan api berkobar dan membuat sekitarku hangat karenanya.


Sihir Api milikku telah berkembang dan menjadi lebih mudah untuk dikendalikan.


Dahulu aku hanya bisa membentuk sihir dasar dan perlu berlatih lebih lama untuk bisa menggunakannya saja. Namun, sekarang aku bisa membuat api dengan bentuk yang lebih beragam, detail dan mudah untukku kendalikan seakan aku hidup seperti itu.


Bwoosh! Api memercik dan membesar.


"Aku bisa membuat seekor Ikan sampai Naga ... Bukankah penguasaan sihirku meningkat?" Ucapku yang membentuk Naga dari Nyala Api di telapak tanganku.


Naga kecil terbentuk dan berputar di telapak tanganku dengan begitu menarik. Bentuknya mirip dengan Naga yang pernah kulihat di secarik kertas.


Naga dari Benua Timur.


Kemudian aku membuatnya lebih kecil dan menyebarkannya di telapak tanganku.


Tentunya, apa yang kulakukan sekarang adalah di mana Api yang kuciptakan bisa terbang seakan berenang di udara. Bentuk api terlihat seperti ikan-ikan yang bergerombol dan itu terlihat cukup keren.


"Fuuh."


Aku kagum dengan diriku sendiri.


"Hee.. Itu terlihat menyenangkan.." Ucap Lia sinis.


"Eh, Lia? Kenapa kau tiba-tiba muncul seperti itu?" Ucapku tidak menyadari keberadaannya.


Lia berjalan dan menghampiri ke sampingku. Dia tidak berbicara dan duduk di batu yang cukup besar.


Saat ini aku ada di tepi aliran sungai dan bebatuan banyak terlihat di sisinya.


Suara deras air terjun juga terdengar tidak jauh dari kami.


Lia diam dan tidak mencoba menatapku, seakan tidak dalam mood baik.


"Kenapa denganmu?"


"Hmph, aku hanya mencoba mengagetkanmu," Ucapnya cemberut dan mengalihkan Wajah.


Wajahnya agak muram dan pipinya mengembung, melihatnya seperti itu aku tersenyum kecil.


Betapa lucunya dia.


"Wah, aku kaget.." Ucapku bercanda.


"Berisik!" Dia menatapku tajam dan masih cemberut.


"Hahaha.. Wajahmu imut, kalau marah," Ucapku menggodanya.


"Uh! Hmph, bodoh," Ucapnya dengan tidak senang, tapi wajahnya merah sekali apalagi telinganya.


Aku ingin sekali mencubit pipinya, melihat betapa lucunya gadis ini.


Tiba-tiba dia berdiri dan menatapku tajam.


"Err.. Lia, Ada apa?"


"Ren! Ajarkan aku sihir!" Ucapnya agak kesal.


"Hah? Apa yang tiba-tiba, bukannya kamu malas melakukannya?" Ucapku dengan heran.


"Kenapa? Apa kau tidak mau?" Ucap Lia semakin kesal.


Wajahnya tampak seakan protes dan kesal padaku. Juga apa yang kau pegang?


Lia menggenggam batu seukuran genggamannya, mata birunya menatapku intens.


"Bukannya aku tidak mau, hanya saja sihir yang kubisa hanya api," Ucapku sedikit mundur.


Tentunya, dulu sebelum kembali ke masa lalu. Aku lebih dominan mempelajari Sihir Api dari elemen yang lain, karena lebih mudah dan praktis untuk digunakan, tentunya menempa Pedang juga membutuhkan sihir api dalam prosesnya.


"Tidak masalah! Kau hanya perlu memgajarkanku saja!" Ucapnya tersenyum sambil menunjukku.


Wajahnya terlihat sangat tidak ingin aku berkata "Tidak."


Ugh, dia lebih memaksa dari yang pernah kuingat. Mungkin karena aku sedikit anti sosial saat dulu, dia tidak terlalu mencoba bertindak tidak sabaran seperti ini.


"...Baiklah.." Ucapku pasrah.


Dia memang gadis yang ingin langsung melakukannya jika sudah memutuskan.


Apalagi, seingatku dia akan bersikap tidak sabaran seperti ini jika dia menginginkan sesuatu?


Apakah itu karena dia ingin bisa menggunakan sihir dan mungkin, ya mungkin.. ingin mencoba bertanding duel denganku atau ada alasan lain?


Aku tidak tahu, tapi jika dia ingin belajar aku akan membantunya. Karena, aku bisa ikut berkembang dengannya saat mengajarinya, apalagi kalau dia punya bakat di dalamnya.


Sudah pasti akan mudah untuknya menguasai sihir.


Dan menjadi Seorang Guru Sihir punya banyak manfaat dan resiko; seperti dilewati oleh muridnya dalam hal yang diajari.


Mungkin aku tidak masalah dengan sihir, Namun, berbeda dengan pedang. Aku tidak ingin kalah.


Jadi aku berjanji akan mengajarkannya besok pagi. Tapi, Lia protes.


"Kenapa?! Aku inginnya sekarang!!" Ucapnya menarik kerah bajuku dengan mengancam.


"..."


"Ren!"


"Lia ... Bukankah sudah jelas aku katakan, kalau sekarang Acara Festival Berburu akan dibuka kembali setelah peristiwa minggu kemarin.


Aku tidak ada waktu untuk melakukannya sekarang.. Juga bisa lepaskan aku?" Ucapku memintanya melepaskan kerahku.


"Gak mau, kenapa begitu! Kau hanya perlu mengajariku saja! Cepetan!" Ucapnya mengoyangkan kepalaku. Ugh pusingnya..


"Tidak.." Ucapku tidak mau mengalah.


Aku menggelengkan kepala sangat menolak. Aku sangat ingin bebas hari ini..


"..." Dia melepas kerahku. Fuh.. akhirnya..


Wajahnya tampak kesal, tapi terlihat sedikit sedih. Aku jadi tidak enak..


"..." Aku bingung sekarang.


"..."


Kenapa kau harus sampai seperti ini, Lia?? Wajahnya memerah dan matanya berair. Apa dia akan menangis?


"..." Aku masih bingung dan diam.


"...Kumohon.."


Aku menghirup udara.


Haaa... sepertinya aku akan menyisihkan waktu sebentar.


"Baiklah ... Tapi, hanya sebentar," Ucapku menyerah.


"Yatta!!" Lia melompat senang, seakan apa yang sebelumnya palsu.


"..." Sepertinya tadi itu dia berpura-pura..


"Apa kau serius.." Ucapku tidak mengerti.


"Jadi ayo ajarkan aku!" Ucapnya dengan mata berbinar dan bersemangat.


Melihatnya yang gembira, aku hanya menggelengkan kepala dengan pasrah.


"Hanya sebentar.." Ucapku lelah.


"Ayoo!!" Teriaknya.


Karena di belakang rumah tidak terlalu bagus, jadi kami pergi ke tempat lain.


.........


Di Lahan kosong.


Ini adalah lahan luas kosong yang kurencanakan untuk membuat lahan pertanian baru di masa depan.


Tempat ini masih penuh rumput dan belum ada rencana yang dibuat. Jadi aku dengan Lia berada di tengah lahan ini untuk belajar sihir.


"Apa aku hanya perlu melakukan ini?" Ucapnya memejamkan mata dan mengangkat kedua tangannya kedepan.


"Benar, kau sering mengamatiku. Pastinya tahu apa yang aku biasa lakukan saat melakukan sihir, kan?" Ucapku bertanya.


Dia mengangguk dengan cemberut.


"Aku tahu ... Jadi bagaimana langkah selanjutnya!" Ucapnya dengan senang.


Melihat Lia dari jutek menjadi ceria lagi dan bersemangat untuk belajar sihir, membuatku tersenyum melihat tingkahnya itu.


Dia memang gadis yang lucu.


Kurasa aku akan mengajarinya dasar yang lebih mudah, juga sedikit menjahilinya.


"..?"


Aku menyeringai mendekatinya.


"Coba kulihat.. hm.. hmm.." Ucapku yang memeriksa posenya dengan seksama.


Wajah Lia tampak gugup saat aku memeriksanya lebih dekat. Aku sebenarnya hanya ingin menjahilinya, tapi melihat wajahnya memerah dan agak terganggu membuatku sedikit terhibur.


"Ba-Bagaimana?" Ucapnya dengan gelisah.


"Hm.. hmm.." Aku masih memeriksa dan lebih dekat memeriksa posenya.


"Re-Ren??" Ucap Lia Panik.


Aku memerhatikan bagaimana Lia berpose seperti saat aku mencoba sihir. Hanya saja, kenapa dia melakukan gaya yang sedikit chunni? Dia sedikit berlebihan.


Sudahlah, mungkin dia suka dengan gaya seperti itu.


"Lia, kau hanya perlu melakukan seperti ini saja dan tangan kananmu seperti ini.." Ucapku mencoba membenarkan posenya, pertama dari tangannya.


"U-Uwahh??" Ucapnya kaget saat kusentuh.


Dia panik saat aku memegang tangannya untuk membenarkan gerakannya.


"A-Apa sudah??" Ucapnya semakin panik.


Melihat wajahnya sudah tidak kuat lagi, aku tersenyum senang dan tampak lucu mengusilnya.


"Hahaha, aku hanya bercanda, bercanda," Ucapku tertawa usil.


"Uh? Apa??" Dia kebingungan mendengarku.


Dia sepertinya serius berpikir sihir perlu gerakan tertentu, bukan? Sudahlah..


Lia menatapku dengan bingung, jadi aku tersenyum lembut dan berbicara dengan santai.


"Sebenarnya sihir tidak harus melakukan gerakan seperti itu, loh.." Ucapku memberitahunya dengan tersenyum.


"Apa!? Kau menipuku??" Ucap Lia dengan geram dan menarik kerahku.


"Te-tenanglah! Aku hanya berkata bahwa sihir bisa dilakukan dengan cara biasa!!" Ucapku mencoba membuatnya tenang.


"Biasa?" Ucapnya bertanya.


Aku menenangkan Lia yang menarik kerahku saat marah, dia menatapku dengan bingung.


"Jadi bisa lepaskan dulu..?" Ucapku memintanya melepaskanku.


"Tentu.." Ucapnya melepas kerahku.


Dia melepas kerahku, tapi tatapannya serius menatapku seakan tidak puas dengan hanya mengintimidasiku. Ugh..


"Ahem, jadi kau hanya perlu membayangkan sihir apa di tanganmu. lalu kau juga bisa dengan tanganmu lurus seperti ini dan membayangkan serangan sihir," Ucapku menjelaskan dengan mengangkat lurus tangan kananku ke depan dan menargetkan sebuah dinding batu.


"Seperti ini?" Ucapnya mengikuti.


"Iya, lalu alirkan mana mu ke telapak tanganmu saat membayangkan sihir," Ucapku mengangguk dan memintanya untuk membayangkannya.


"Uh? Hmm.. Se-seperti ini?" Ucapnya sedikit gelisah.


Dia terlihat bingung, tapi mencoba fokus dan terus bertanya padaku.


"Lakukan dengan benar, kau hanya perlu membayangkan sihir mu. Bisa Api, Air atau Angin.." Ucapku dengan tersenyum.


Dia merenggut dan agak kesal.


"...Ugh.. " Lia merenggutkan keningnya dan tampak tidak senang.


Sepertinya dia tidak bisa melakukannya, padahal dia bisa melakukan sihir penyembuh.. ah..


"Lia, kau bisa Sihir Penyembuhan, kan?" Ucapku memastikannya.


"Eh? Tidak, aku tidak bisa.. kenapa?" Ucapnya bertanya agak bingung.


"Ya, tidak apa," Ucapku agak heran.


Berarti dia tidak tahu akan Sihir Penyembuhan, jadi dia tidak menyadari bakatnya.


Pantas dia tidak mengerti akan sihir, mungkin saat Kedewasaan nanti barulah dia memahami akan sihir penyembuh dari jobnya.


Dan Aku mengingat sihir juga, karena dulu pernah mengalami berkat Kedewasaan. Apalagi aku sudah kembali ke masa lalu, ingatan sihir sudah tercetak jelas di kepalaku.


Mungkinkah aku termasuk langka? Padahal orang-orang biasa saja melihatku melakukan sihir.


"Ah.."


Mungkin.. Ya, mungkin saja. Aku lah yang salah paham, para penduduk desa tidak terlalu tahu kalau sihir itu mudah dan kalau mereka tahu akan cara menggunakannya sebelum kedewasaan ... Kemungkinan ... Para penduduk ... menganggapku..


"Um, Lia. Apa yang orang desa pikirkan tentangku?" Ucapku bertanya, aku agak gelisah untuk mendengar jawabannya.


"Tentangmu? Hmm, mereka menganggapmu sebagai Anak yang jenius," Ucapnya agak tidak peduli.


"Jenius??" Sontak aku kaget.


Aku baru pertama kali mendengarnya?? Apa mereka memang berpikir begitu?!


"Kenapa??" Tanyaku bingung.


"Kenapa katamu? Bukankah sudah jelas, karena kamu bisa melakukan teknik pedang seperti ayahmu dan juga mampu sihir yang jarang dikuasai oleh yang lain. Ren, kau Hebat dalam kedua hal itu, loh.." Ucapnya mengangguk dengan senyum lebar dan tampak senang.


Dia berbicara seperti itu, seakan dirinya yang dimaksud. Wajahnya agak sombong.


Tapi aku sedikit malu mendengarnya, Aku tidak sehebat itu ... Aku bisa melakukannya karena mengingat kenangan ku di masa depan itu..


"...Baiklah, sepertinya Lia harus tahu dasarnya dulu, sebelum belajar sihir," Ucapku mengoreksi pelajaran.


"Benarkah!" Lia menjadi lebih bersemangat.


"Iya, tentu."


"Yay! Aku akan menjadi lebih baik lagi!"


Sepertinya dia menjadi lebih bersemangat semakin lama..


"Yeah ... Jadi hari ini aku akan membuatmu bisa memahami apa itu Mana dan aliran sihir ditubuhmu untuk sekarang," Ucapku memberitahunya.


"Jadi sekarang, kita hanya perlu bersiap sampai waktunya akhir festival dimulai! Yosh!" Ucapku mengangkat tangan dengan tegas.


"Yosh!!" Dia mengikuti mengangkat tangannya dengan bersemangat.


Jadi kami memulai studi sihir dari awal lagi.


.........


...[ Continued ]...