
...BAB 25.5 - IN A HURRY...
...◇◇◇...
...《POV Scarlet Varnian》...
Aku harus cepat!!
Kakak pasti marah!!
"Hup! Hup!"
Aku melompat dari satu rumah ke rumah, atap ke atap dan angin ke angin.
Semua stamina aku percepat untuk sampai ke Kakak.
Semoga dia tidak marah!!
.........
"Kenapa denganmu, My Dear?" Ucap Anna heran.
"Tidak pergi?"
"Pergi? Istirahatlah, kita tidak terlalu terburu-buru."
"Baik.."
Sesampainya aku kira kakak sudah pergi, tapi sebaliknya..
Kak Anna duduk di kursi depan teras kamar menyesap segelas teh hangat.
"Duduklah."
"Baik.."
Aku duduk di kursi sebelah Kak Anna, memandang ke depan di mana pemandangan pedesaan yang luas dan begitu menyegarkan.
"Van."
"Kak Anna?"
"Kau tahu apa itu 'Scarlet Sword?"
"Uh? Apa itu ka?"
Kak Anna hanya menggelengkan kepala dan menepuk kepalaku.
Dia tersenyum lembut dan mengusap rambutku.
"Tidak apa, hanya pedang biasa," ucapnya lembut.
"Oh? Begitu, um.. Kak Anna."
"Ada apa, My Dear?"
"Apa kita akan pulang?"
Dia menatapku sebentar dan tersenyum.
"..Tentu saja." ucapnya mengusap kepalaku lebih sering, aku mengangguk dan tersenyum mendengarnya.
Akhirnya aku akan pulang bersama Kak Anna.
"..."
Pulang..
"Ada apa Van?" Kak Anna menatapku dengan bingung.
"Mhmh.. Tidak ada, Kak," ucapku menggelengkan kepala.
"Begitukah?"
Aku berdiri dari Kak Anna.
"Van?"
"Aku ingin mencari angin dulu.." ucapku tersenyum.
"Pergilah."
"Iya!"
Aku meninggalkan Kak Anna di kamarnya dan menuju keluar.
.........
"Haa.. haa.."
Aku berhenti di atas atap rumah sedikit lelah dan memandang ke sebuah rumah di seberangku.
Di balkon itu, aku pertama kali melihat dia.
Pria aneh yang tetap berbicara padaku dan tidak bersikap lain setelah mengetahui aku adalah Vampir.
Walaupun begitu, aku merasa tertarik dengannya.
Darahnya sangat berbeda, rasanya sangat lezat dan membuatku ketagihan.
Apa benar dia manusia?
Sekarang saja aku ingin menghisapnya lagi.
"Ren.. Ren.." Gumamku.
Darahnya begitu manis dan lezat..
Lain kali, aku ingin menghisapnya sepuasku.
.........
Di tempat lain.
Tiga orang memasuki kamar Anna.
"Kalian kembali?"
"Iya, Lady Anna."
Noa berhenti di depannya dan keduanya ikut berhenti.
"Apa kalian menemukan dia?" Ucap Anna menekan dia (wanita)
"Iya."
Ucapan singkatnya membuat Anna berdiri dan mendekatinya.
"Di mana?!" Teriaknya dengan keras.
Dia menatap Noa dengan tajam.
Noa terdiam sebentar dan menjawabnya.
"Sayangnya.. Dia telah mati."
Wajah Anna perlahan pahit dan kegelisahan menyelimutinya.
"..Apa? kau bohong, kan? Dia sekuat itu! Tidak mungkin.. Itu tidak mungkin.." Anna mencengkram kerahnya dengan keras dan menatap lurus Noa dengan marah.
Perlahan wajah marahnya memudar.
"Mungkin anda tidak akan percaya, tapi kami hanya menemukan mayatnya saja."
"Intinya! Apa kau membawanya!!"
Noa menggelengkan kepala, melihat itu Anna menelan ludah pahit.
Dia melepas cengkeramannya dan mundur dengan pahit.
"Tidak mungkin.."
"..." Noa dengan diam memberikan tas kecil kepadanya.
Anna mengambilnya dan mengintip isinya.
Cengkeramannya menguat dan dia tampak lebih marah.
"Siapa.. Siapa yang melakukannya.."
Tidak ada yang menjawabnya, tapi Anna tampak semakin marah.
Lalu, setelah lama. Ketukan terdengar dari pintu.
Tok Tok Tok
"Kak Anna, di bawah sudah ada sarapannya!" Suara cerah terdengar dari balik pintu.
Van berjalan masuk setelah membukanya.
"..Eh? Ada apa?" ucap Van.
Amarah Anna meredup dan membuat senyuman.
"Iya, Ayo kita ke bawah."
"Ya!"
Anna berjalan keluar kamar mengikuti Van di depan, di dalam kamar ketiganya hanya diam dan salah seorang menghela nafas berat.
Wanita dan Pemimpinnya menatap kepergian Anna dalam diam.
Meski Anna tampak tersenyum, dia sama sekali tidak tenang dan aura gelap tampak menyelimutinya.
Van tidak tahu itu dan tetap bersamanya.
"Tidak akan aku biarkan, harapan Kak Asta dan.. Raja Iblis padam."
Perkataan pelan Anna hanya menghilang di udara tanpa terdengar oleh siapapun, termasuk Van.
Mereka menuju ke kantin Penginapan.
"Hehe~ Kak Anna~"
Van dengan manis berjalan berdampingan dengan kakaknya yang ia sayangi itu.
'Kuharap kita bisa pulang,' ucap Van dalam hati.
.........
...[ Fin ]...