The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 36 - [ The End of Duel ]



...BAB 36 - AKHIR DARI DUEL...


...◇◇◇...


Duel ini menyenangkan.


Untuk berpikir, teknik terendah "Fallen of Sorrow and Moonlight." Bisa dilawan oleh Putri.


Seperti yang kuduga, Putri Anastasia kuat.


Mungkin aku akan menggunakan teknik selanjutnya.


"Kau kuat juga, Putri!" ucapku mengayunkan pedang.


"Kau juga!" balasnya mengayunkan pedang juga.


Bentrokan tajam menyelimuti kami, suara besi yang berasal dari pedang kayu memberi stimulus yang menekan.


"Blade of Chaos!" Teriakku.


Cahaya merah menerangi bilah pedang milikku dan energi api muncul menyelimuti seluruh pedang kayu.


Seakan terbuat dari sihir, pedangku terbakar oleh api tanpa merusaknya.


Wajah Putri sedikit tertegun, tapi dia mengeluarkan tekniknya yang lain.


"Dragon Fang!" Teriaknya mengangkat pedang.


Pedangnya terselubung oleh Aura merah pekat dan terasa mengintimidasi. Cahaya scarlet dari pedangnya memberikan intimidasi lebih.


"Aku akan habis-habisan!" Teriak Anastasia menerjang lurus ke arahku.


Oh, dia mengeluarkan kartu as nya.


Sepertinya aku juga.


"Akan aku ladeni!" Balasku berlari ke arahnya.


Bentrokan yang dahsyat terjadi, dalam sekejap hempasan udara layaknya topan menyelimuti kami.


Teriakan terkejut hampir tidak terdengar oleh kami, suara mereka tertutup oleh bisingnya topan.


Kejutan ekstrem yang memuakkan terjadi dan membuat pedang kami berdua mulai retak.


Namun, aku tersenyum dan mendorong Putri terbang menjauh.


BAAK! BAAM!


Angin berhenti dan memperlihatkanku di atas arena yang sudah diluluh lantahkan. Lalu di sisi lain, Putri dengan mengejutkan terlempar keluar dan membentur tembok di belakangnya.


"Ah..."


Aku tertegun setelah menyadarinya, kalau aku telah berlebihan.


Jadi aku dengan cepat pergi di mana Putri terkapar dan Rosaline dan yang lain ikut pergi.


"Tuan Putri!"


"Anastasia!"


"Yang mulia!"


"...Myu?"


Mereka menghampiri Putri yang perlahan berdiri, Rosaline terlihat khawatir dan meminta Desi dan Antonile membantunya. Ksatria penjaganya berlari dan mengeluarkan banyak ramuan juga salep penyembuh dengan panik.


Sedangkan aku yang menghempasnya, langsung menghampiri Anastasia dan membantunya keluar dari puing-puing tembok.


Beruntung, tidak ada luka pada Putri. Sepertinya pakaian latihannya sudah dipasang sihir Pelindung.


"Ahaha.. Kuat sekali, aku kalah.." ucap Anastasia menerima tanganku dan berdiri.


Terlihat dia baik-baik saja, hanya tubuhnya kotor karena debu dan bekas reruntuhan.


Dia tersenyum dan memberiku tangan padaku.


"Ren, tadi itu luar biasa," ucapnya tersenyum senang.


"..Ya, Aku juga." Aku membalas bersalaman dengannya.


Dia tersenyum padaku dan matanya menyipit yang berkata.


"Lalu, ajarkan aku," ucapnya tersenyum lembut.


"...Eh?"


"Aku tahu, kau menahan diri kan?"


Dia melirikku tajam dan tampak tertarik.


"Tidak kok, Putri."


"Tetap saja, Duel tadi tidak memakai sihir. Tapi teknik Ren saat duel terasa ada aura non mana," ucapnya menatapku bersemangat.


Mata Anastasia berkilau saat mengatakannya, senyuman yang mempesona dan pegangan tangan yang menguat.


Sudah pasti, Anastasia serius mengatakannya.


"...Setelah urusanku selesai. Akan kupikirkan."


"Janji oke? Jangan melupakannya."


"..." Aku tersenyum kaku.


"Janji?"


"..."


Matanya sangat berbinar dan memegang tanganku dengan kuat.


"..Baiklah," ucapku menundukkan kepala menyerah.


"Sip!"


Sepertinya aku membuat janji di tempat lain lagi..


Karena Duel telah selesai, kurasa aku akan kembali ke ruanganku.


"Senka," ucapku memanggilnya.


Menjawab panggilanku, Senka langsung berjalan menghampiriku dengan menggemaskan.


Spontan aku memeluknya dan memanjakannya.


'Ah.. Aku sekarang merasa lega..'


"Hehe~"


Rosaline dan Anastasia menatap kami dengan senang.


"Ren-sama, aku ingin menjadi ibu angkat Senka, boleh?" ucap Rosaline ke sisiku.


"Eh??" Aku terkejut dengan keinginannya yang tiba-tiba.


Dan di sampingnya, Anastasia menatap Rosaline dengan heran.


"Apa...?" Mulutnya terbuka tak percaya.


"Apa kau serius, Rosa?" Tambahnya memegang bahu Rosaline.


"Serius, bukannya aku pernah mengatakannya padamu?"


"Kapan? Seingatku kau tidak pernah memberitahuku."


"Hmm.. Apa aku pernah membahas saat aku di lamar Ren-sama?"


"Belum pernah!"


"Eh, aku tidak melamar."


Anastasia terlihat tidak percaya, tapi perlahan mengakuinya.


"Rosa, kurasa kau memilih orang kuat yang tepat," ucapnya memgangguk senang.


"Kau mendukungku?"


"Iya, lakukan yang terbaik."


"Tentu!"


Sebentar, aku merasa aneh sejak mereka berbicara hal-hal tidak masuk akal ini..


Saat aku ingin menyangkal perkataan Rosaline, suara gaduh terdengar.


"Lady Rosaline!" Teriak seseorang memasuki lapangan pelatihan.


"Richard? Ada apa?" Rosaline menyadari orang itu dan menunggunya sampai.


Pria itu terengah-engah dan memegang lututnya kelelahan. Lalu dia menatap Rosaline dengan nafas tidak tenang.


"Pesan, pesan datang."


"Pesan?"


Sebuah surat diberikan pada Rosaline.


Aku dan Putri Anastasia menelan ludah menunggu apa isi dari suratnya.


Wajah Rosaline seketika memucat.


"Ayah diserang??" Kejutnya.


"!?"


Diserang? Kapan??


Tidak hanya aku, Putri Anastasia dan para pelayan; Desi dan Antonile terlihat terkejut.


"Di mana itu, Rosa?" Tanya Anastasia serius.


"Di Hutan Alta," ucapnya gelisah.


"Tidak jauh dari sini??"


"Iya, dari pesan ini seharusnya tidak lama."


Wajah Rosaline menegang dan melihat ke ksatria bernama Richard.


"Panggil orang yang mengirim surat dan Joseph ke sini!" Teriaknya.


"Baik!"


Kemudian Richard pergi dan meninggalkan kami dalam situasi tegang.


Aku mendekati Rosaline.


Senka dalam waktu itu menghilang ke dalam bayanganku.


"Rosaline," ucapku mendekatinya.


"..."


Kurasa dia syok.


"Rosaline, kau harus tetap tenang. Kuyakin ayahmu baik-baik saja," ucapku mencoba membuatnya tenang.


"Benar yang di katakan Ren, Rosa kau harus tetap tenang."


Anastasia menghampirinya dan mendukung perkataanku.


"I-Iya.." Dia tampak masih tegang.


Sekarang yang bisa kami lakukan menunggu kabarnya dari Pembawa pesan itu.


.........


Di aula besar, Rosaline, Putri Anastasia, Aku dan beberapa orang berada di tengah ruangan.


Joseph yang dipanggil berlutut di depan Rosaline.


"Lady Rosaline.."


"Joseph, semuanya.. Kita akan pergi."


Rosaline menatap kami dengan serius. Kurasa aku termasuk dalam bala bantuan?


"Rosa, apa kau ingin langsung pergi sekarang? Bukankah dari pesan seharusnya sudah lama serangan terjadi," ucap Anastasia serius.


"Benar, jadi aku ingin mendengar lengkap darinya," ucap Rosaline melirik seseorang.


Orang yang disebutkan Rosaline adalah Wanita yang tengah menatap jendela sejak tadi.


Seakan dia tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi di sini.


"..." Aku hanya menggelengkan kepala, kenapa dia selalu ada di situasi seperti ini?


Wanita itu, Tofan Kyuciose.


Dia lah yang membawakan pesan Duke ke sini.


"Tofan-san."


Rosaline memanggilnya dan dia menengok.


"..."


Katakan lah sesuatu!


Dia menghirup udara dan suara "Er..." darinya.


Hanya saja, tatapan kami yang serius membuatnya agak bingung.


Tapi dia tetap berani mengatakannya.


"Aku hanya dimintai membawakan surat ke Kota terdekat," ucapnya dengan menggaruk belakang kepalanya.


Rosaline terlihat jengkel, tapi dia mencoba menenangkan diri.


"Bisa katakan apa yang terjadi pada orang yang memintamu?" Tanyanya serius.


"Ksatria itu? Hm.. Dia memberiku surat dan... Ah, ada bangsawan yang mengeluarkan sihir bersama ksatria lainnya."


"Apa itu ayahku!?"


Rosaline mencengkeram bahunya dan membuat Tofan tidak senang.


Dia melepas tangan Rosaline darinya dan berkata.


"Sepertinya, lalu aku hanya mengirimkan surat saja. Itu saja." Dia terlihat tidak tertarik saat mengatakannya.


Rosaline sedikit muram dan melihat ke sekitarnya.


"Ayo kita cari Ayah!" Teriaknya keras.


"Rosa, tenanglah.."


Anastasia mendekatinya dan memintanya untuk tenang.


Rosaline yang sekarang terlihat tidak tenang dan tergesa-gesa.


"Pertama, kita harus bersiap-siap. Jangan terburu-buru, Rosa," ucap Anastasia menghentikan Rosaline dari buru-buru.


"Anastasia.."


Wajah Rosaline terlihat murung, tapi dia mengelengkan kepala dan mencoba tenang kembali.


"Benar, aku harus tenang. Baiklah, bersiap-siap sekarang!"


Rosaline meminta para prajurit dan ksatrianya untuk bersiap, lalu mereka pergi dan mulai mempersiapkan diri. Sedangkan aku dan Anastasia melihat Rosaline yang memaksakan diri.


"Rosaline," ucapku mendekatinya.


"Ren-sama? Te-Tenang saja! A-Aku.."


"Kau tetaplah di sini," ucapku tenang.


"Eh? Ke-Kenapa?" Wajahnya tampak sedih.


"Biarkan aku, Joseph dan yang lainnya yang menolong Duke," ucapku dengan serius.


"Ren-sama.. Itu.."


Aku menggelengkan kepala dan menepuk bahunya.


"Duke pasti baik-baik saja, dia dikenal hebat dalam sihir dan kau harusnya tahu betapa kuat Duke, Ayahmu, Rosaline.."


"Ren-sama... Ugh.. Baik, aku akan di sini.."


Aku tersenyum dan mengusap kepalanya, Rosaline terlihat terkejut dan menatapku.


"Kami akan membawa ayahmu kembali, jadi tenang saja," ucapku tersenyum.


"U..uhh.."


Wajahnya terlihat seakan ingin menangis.


Ini memperlihatkan betapa dia menyayangi ayahnya begitu besar, aku mengusap kepalanya.


"Kau bisa menangis Rosaline.." ucapku mencoba memeluknya.


Dia meneteskan air mata dan langsung menangis ke pelukanku.


.........


Di luar Mansion.


"Kami akan berangkat, semuanya pergi!!" Joseph berteriak dan Aku bersama Tofan mengikutinya di belakang.


Pasukan berkuda ikut di belakang.


Kami semua mulai menuju ke Hutan di selatan kota, Hutan Alta. Tempat penyerangan terjadi.


.........


...[ Continued ]...