
...BAB 11 - TELUR MISTERIUS...
...◇◇◇...
Mungkin aku kurang persiapan, tapi setidaknya aku memiliki senjata baru dan perbekalan sementara.
Ini mendadak, tapi aku harus cepat. Sudah lewat 10 menit saat aku mengetahui informasi itu.
Seharusnya aku bisa sampai ke tempat yang pernah kulalui. Walaupun kurasa akan memakan waktu lumayan lama.
'Apakah itu ada disana?' Pikirku menembus rerumputan tinggi.
Namun, semakin aku mendekat ada cahaya merah yang bersinar di depan sana. Semakin dekat, cahaya semakin terang. Lebih dekat lagi.. lagi..
Hm?
Sesampai di tempat yang bercahaya itu dan keluar dari rerumputan tinggi, aku melihat seseorang di dekat telur.
'Siapa dia?'
Aku mendekatinya dengan waspada.
Krak! Tak sengaja aku menginjak ranting di bawahku.
"Ah?" Ucap seseorang itu, dia berbalik dan melihatku. Matanya melebar dan dia tersenyum angkuh.
Cahaya merah menghilang begitu Wanita itu berbalik melihatku.
"..." Aku tertegun melihatnya.
Seorang Wanita berambut merah berapi, memiliki dua tanduk hitam legam di kepalanya. Sayap kelelawar yang mengerikan dan aura gelap yang menyelimutinya.
Mengenakan pakaian yang kurang bahan dan tampak seksi, aku bisa melihat wajahnya yang cantik tersenyum.
Gaun hitam yang sama dengan malam yang dingin ini. Di terangi oleh cahaya bulan, sosoknya tampak anggun dan menawan.
Matanya yang merah melirikku angkuh.
Dia adalah Demon.
Ras terburuk yang bisa kau temui.
"Ara, ada tamu tak diundang ya?" Ucapnya melayang di sekitar telur Misterius.
'Ada apa ini?' Ucapku heran dalam hati.
[ Demon kelas atas ]
[ Astabell ]
[ Level 80 ]
Sial..
Jantungku terpacu dengan cepat dan situasi ku sedikit rumit untuk kubicarakan.
Aku dalam bahaya.
"..Ya, Aku hanya orang lewat. Kau bisa melanjutkan bisnismu, jadi sampai jumpa!" Ucapku bergegas pergi.
Aku harus lari dari sini!
"Tunggu sebentar, anak manis," Ucapnya yang terdengar di sampingku.
"Hah?" Aku langsung melihat ke asal suara.
Dia tersenyum di depanku.
"Ugh??" Aku merasakan rasa sakit di tenggorokanku.
Tiba-tiba Astabell sudah ada di depanku dan memegang tengkuk leherku. Dia sangat dekat dan aku merasa terkunci.
Dia sangat cepat, Ugh..
Jadi ini alasan kenapa Demon sangat mengerikan?
"Hehe, aku akan menjadikanmu milikku," Ucapnya yang menatapku senang.
".!!" Aku merasakan kekuatan sihir meluap darinya.
Saat wanita itu merapal sihir asing tepat di depanku. Aku merasakan bahaya dan seketika aku membuat sihir api di depanku.
Bwooosh!
Api menyembur kearahnya.
"Oh! Apa tadi itu?" Ucapnya melepas leherku dan melompat mundur.
Aku berhasil membuatnya menjauh, dia terlihat terkejut dan menatapku agak heran. Sepertinya dia menjadi lebih tertarik padaku saat dia menyeringai senang menatapku.
"Kau penyihir ya? Usiamu muda, tapi sihir ini adalah sihir api menengah. Hebat juga, anak manisku," Ucapnya mengetahui sihirku dalam sekali pandang.
Sial. Sial. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini!!
[ 07.56 ] 🔻
[ 07.54 ] 🔻
Waktu terus bergerak.
Huh? Waktunya masih ada 8 menit?
Kenapa?? Bukankah, wanita itu bisa dengan mudah membawa telur itu tanpa harus mengincarku?
Lantas kenapa masih ada waktu, apa Telur itu akan menetas?
"Hei, kenapa kau melamun?" Ucapnya sudah di depanku.
"!?" Cepat!
Dia ada di depanku sekali lagi. Aku dengan cepat menjauh dan mengeluarkan pedangku menangkis tangannya yang mencoba mencekikku sekali lagi.
"Walah, apa kau ingin bertarung?" Ucap Astabell melihat ke pedangku.
Dia terlihat senang dan memanjangkan kuku-kukunya menjadi sangat tajam.
Gulp.. Aku hanya perlu melakukannya seperti biasanya.
Skill Elit Swordsmanship.
Teknik pedang terbaik yang aku miliki dan aku akan mencobanya dengan melawannya.
Aku memasang kuda-kuda dan menarik lurus pedang ke depan. Aku pasti akan mengalahkannya.
"Anak manis, kuharap kau tidak mengecewakanku!!" Astabell melaju lurus kearahku dengan kedua cakar ia rentangkan.
Wanita Demon itu maju dengan sangat cepat kearahku. Akan tetapi aku bisa melihat gerakan serangannya.
'Hah? Kenapa dia menjadi lebih lambat, lalu kenapa tubuhku perlahan bergerak?' Ucapku bingung dalam hati.
Mungkinkah ini efeknya? Elite Swordsmanship telah aktif.
Teknik tingkat 1, Pedang ekstrem, Silver Thunder Slash.
"Hup!" Aku menyerang dengan teknik pedangku dalam menangkis serangannya yang datang.
Clang!
"!?" Dia terkejut melihatku mampu menahan serangannya dan mendorongnya mundur.
Senyuman lebar terbentuk di wajahnya, kedua cakarnya memanjang dan menjadi lebih tajam.
"Bertahanlah lebih lama, Anak manis!!"
Clang!
"Guh!?"
Tapi tidak habis di situ saja, dia menerjang dan mulai menyerangku bertubi-tubi.
Clang! Clash! Clang!
Aku berhasil menghindari setiap serangannya dan menangkis serangan Demon itu yang datang dan membalasnya di setiap kesempatan.
Dia terkejut saat aku mampu melawannya balik.
"Menarik!!" Ucapnya menyeringai senang.
Clang! Clang! Clang!
"Guh!" Aku semakin terdesak.
Aku menahan setiap serangan tajamnya yang terus menerus dengan beruntun yang membuatku kewalahan dan harus terus menghindarinya hingga ada celah seperti sebelumnya, aku menunggu celah untuk menyerang.
"Sial.." Ucapku menangkis serangannya yang datang terus menerus.
"Kehehahaha!! Lagi!! Lagi!!" Astabell terus membabi buta menyerangku dengan kedua cakarnya dan semakin ganas.
Aku menahan serangan yang tiada akhir ini, sampai aku merasa terpojok semakin lama ini berlangsung.
Aku harus menahan ini semua dan membuat serangan balasan yang tepat.
Guh..
Ada 2 menit lagi dari batas waktu.
"Kenapa kau masih melawan? Bukankah ini sia-sia?" Ucapnya bersenang-senang dan mendorongku.
Tampak dia seperti bersenang-senang melawanku, daripada pertarungan serius yang seharusnya.
"Haa.. haa.. sial, aku ingin pergi. Tapi kau tidak mencoba membuatku lepas.." Ucapku mencoba menjaga jarak.
Mendengar jawabanku, wajahnya semakin terlihat angkuh dan senyum mengejek terbentuk di wajahnya.
"Bukankah menarik melihat seekor semut mencoba melawan?" Ucapnya dengan angkuh.
Wajahnya penuh kesenangan dan seringainya terbentuk seperti bulan sabit.
"Ugh.." Aku merasa hampir mencapai batas.
Aku perlu sihir. Walaupun aku yakin akan teknik pedangku. Tapi sepertinya aku tidak perlu menghemat terlalu lama..
Lalu aku mendorongnya menjauh, tapi aku terhempas bukannya Demon itu.
"Ugh.."
"Menyerah?"
Sial.. Aku melirik ke kanan dan kiri.
Banyak bebatuan dan batang pohon yang rusak di sekitarku.
Tanpa menunda, aku menggunakan Telekinesis dan bebatuan beserta dahan pohon terbang kearahnya.
"Hoo?"
BAAM! BAAM! BAAM!
Namun, dia mampu menahannya dan menghindari setiap seranganku.
"Hahaha! Apa itu saja?" Ucapnya mengejekku.
Aku terengah-engah dan menatapnya dengan kesal.
Telekinesisku tidak mempan, tidak ada pilihan lain.
"Baiklah!? Kau akan menerima balasanku, sialan!?" Ucapku dengan kesal.
Aku mengangkat kedua tanganku mengarahnya, dia menatapku dengan diam dan langsung mengerti.
Seringai lebar terbentuk di wajah cantiknya.
"Oh?"
"Uh??"
Dia menerjang begitu saja, Itu membuatku tidak bisa merespon dengan baik dan harus menahan serangannya dengan pedang yang kutarik dari pinggangku.
Creeak!
Suara retak yang keras terdengar dari pedang besiku dan terbelah dua begitu saja.
"Sial! aku baru memakainya?!"
"Glup.. Geh.."
Menghabiskannya dalam sekali teguk, Demon itu tampak tertarik dengan yang ku bawa.
"Ramuan ya?"
Tubuhku perlahan membaik dari serangan sebelumnya, mengabaikannya aku dengan getir memaksakan diri menggunakan Telekinesis sekali lagi.
Dahan besar di belakangnya terbang kearahnya.
"Hahaha!! Menarik!!" Ucapnya menatap ke belakang.
Lalu dia mengayunkan kakinya ke belakang.
BAAAAAAM!!
Dengan megah dahan besar itu hancur dan terlihat Demon itu menyeringai tampak meremehkan kearahku.
"..."
"Apa hanya itu yang kau bisa, Anak manis?"
Dengan geram, aku merapalkan sihir dan mengangkat kedua tangan lurus kearahnya.
Aku tidak akan gagal sekarang!
"Maju brengsek!" Ucapku sangat kesal.
"Jika itu yang kau mau!"
Dia menerjang ke depan saat aku berteriak mencelanya.
Sihir! Sihir!
Aku mencoba membuat sihir terbaik yang kubisa dan terus mengalirkan banyak mana untuk membuat sihir yang bisa mendorong Demon itu hingga aku bisa keluar dari sini.
"Fire Ball! Fire Ball! Fire Ball!" Ucapku terus menerus.
Blast! Blast! Blast!
"Sia-sia!!" Ucapnya yang melesat kearahku.
Dia menghindari semuanya dengan sangat mudah, tapi aku tetap menyerangnya tanpa menahan diri.
Ini akan menjadi penentunya!
"Wall Fire!" Ucapku menekan semua manaku hingga batas.
Bwooosh!
Lalu Tembok api terbentuk di depanku, sangat besar dan menutupi penglihatanku. Wanita Demon itu sampai tidak bisa kulihat.
Namun..
"Itu percuma!!" Astabell menerobos melewati dinding api.
Aku langsung mengambil keluar Blue Potion dan menelannya habis.
Ini akan menjadi penentuan.
"Wall Fire!! Fotress of Fire!!" Ucapku membuat tembok api yang amat besar.
Bwoooooosh!
Nyala api yang ganas muncul di depanku dan membentuk pertahanan benteng yang kokoh.
Manaku terserap dengan deras dan alhasil sihir api yang ganas berhasil terbentuk menjadi sebuah benteng yang luar biasa panas di depanku.
"Ouch! itu sakit?!" Ucapnya heran, dia berhenti dan menyadari jenis api di depannya itu berbeda.
Benteng api yang kubuat adalah berasal dari jenis api yang terbentuk dari campuran berbagai api.
Jenis api yang paling mematikan yang bisa kubuat, Black Fire.
Ini membuat manaku hampir kritis.
"Api apa ini?!" Ucapnya keheranan.
Dia tertegun dan berdiri di depan tembok api hitam dengan kagum. Setiap kali dia mencoba maju, api itu berhasil membakarnya.
Akan tetapi, dia harusnya menyesalinya karena diam saja.
"Fire Bullets!!" Ucapku mengakhiri ini.
Api yang berbentuk pipih muncul dan menerjang menembus tembok api dengan rentetan yang sangat banyak.
Karena benteng api hitam, peluru api yang melewatinya terbalut dengan api yang sangat kuat dengan daya bakar yang mampu membakar Demon itu.
Blast! Blast! Blast!
"Ugh! Sial, Magic Shield!" Dia terkesiap, ketika puluhan peluru api mengenainya dan membuatnya terluka di banyak sisi.
Lalu dia langsung membuat sihir Pelindung, yang mampu menangkis serangan peluru apiku.
Permukaan magis bercahaya berbentuk perisai muncul di depannya dan menghalangi setiap rentetan serangan sihir apiku.
"...Ugh." Senyumannya menghilang dan tampak terluka.
Dia mengeluarkan sihir perisai di tengah rentetan serangan dan tampak berlindung.
Shining!
Aku melihat cincinnya bersinar cerah dengan warna biru terang ketika dia mengaktifkan sihirnya.
Apa sebenarnya itu?
[ Ring of Blue Magic ] (Grade B)
[ Sihir biru atau sihir Pelindung tertanam pada cincin dan hanya bisa membuat sihir pelindung tingkat dasar dan pemula. ]
Tingkat B?!
'Bukankah cincin itu sangat luar biasa?! Aku ingin mendapatkannya?!' Pikirku yang terus menembak rentetan peluru api padanya.
"Sialan!" Astabell mendecak penuh kebencian menahan seranganku.
Demon itu kesal dan mencoba menyerang dengan sihir. Tapi aku tetap menyerangnya dengan rentetan walaupun manaku mulai berkurang dan perlahan habis.
Ini akan menjadi buruk jika terus berlanjut. Aku tidak bisa mengisi manaku sekali lagi.
Potion-potion beberapa hancur dan tak bisa dipakai karena pertarungan sebelumnya.
"Sepertinya, Aku akan mempercayakan serangan terakhirku pada sihir penentuan ini." Ucapku menghentikan tembakan.
Kemudian, Aku membuat api yang menyerupai sebuah pedang yang membakar dengan ganas di depanku.
Perlahan api membentuk sebuah pedang di udara.
"Terbaik! Sejak aku memiliki gelar Pengendali Api, aku bisa melakukannya," Ucapku yang dengan cekatan mengendalikan api untuk membentuk senjata.
Sekarang aku bisa membuat hal seperti ini. Tapi aku hanya bisa membuatnya mengambang seperti sihir api biasanya. Rasanya seperti bukan pedang.
"Sialaan!? Kau pikir aku akan terus seperti ini?!" Ucapnya sangat marah.
Dia merapal sihir lagi dan sepertinya pelindung sihir menyebar dan menutupi seluruh tubuhnya.
Sihir Pelindung menutupi seluruh tubuhnya seperti jirah besi.
"Apa?!" Aku terkejut melihatnya memakai sihir Pelindung seperti itu.
Dia bisa melakukan itu?!
Senyumannya kembali muncul dan tatapannya yang penuh kemarahan tertuju padaku.
Wajahnya yang cantik tampak menikmati pertarungan dan langsung menerjang lurus kearahku.
Aku harus cepat!!
Sebentar lagi! Guh, Kontrak Darah.
[ Skill Blood Exchange Aktif. ]
HP ku mulai berkurang dengan cepat dan energi sihirku pun mulai terisi. Seharusnya sekarang aku bisa membuat pedang api selesai dengan cepat.
"Berhasil," Ucapku berhasil membentuk pedang api.
"Apa yang kau coba lakukan!" Astabell melewati Tembok api dan menerobos kearahku.
Wanita Demon itu sudah menembus Bentang api dan mendekatiku dengan ganas. Pedang telah terbentuk tapi di saat aku mencoba menyerang menggunakannya.
Jleeeb!
Cakar Demon itu menembus perut di sisi kananku.
Seketika benteng api hitam menghilang, pedang api di tanganku pun ikut memudar dan aku tertegun menatap ke Demon itu.
"Ugh!? Gahh?!" Darah keluar dari mulutku.
"Keheheha!" Tawa jahatnya terdengar keras.
Apa aku akan mati..?
Sreeeeet!
Cakarnya ia tarik dengan kuat yang membuat darahku terciprat keluar.
Aku berdiri dan menahan pinggang kananku yang penuh darah. Tapi, terpaksa aku runtuh dan terbaring jatuh ke tanah.
Darahku memercik ketika aku berdiri dan menyebar ke sekitarku.
Telur Misterius itu tidak jauh dari kami, itu terbaluri oleh darahku yang keluar.
Darahku menetes dan melumuri telur, tampak Demon itu tidak sengaja melakukannya.
Tapi dia terlihat puas.
"Hahahaha! Mati!" Ucapnya yang mencoba mengakhiriku.
Namun..
Shiiiiinngg!
Cahaya terang membuatnya membeku terkejut.
"Tidak mungkin?!" Ucapnya terkejut melihat asal cahaya.
Sesuatu muncul saat itu. Aku pikir aku akan mati sebelum tahu akan apa itu.
Creeak! Tuk
Suara telur menetas terdengar dan sesuatu keluar dari sana.
"...Apa itu kau?" Suara yang pelan dan lembut terdengar dari cahaya yang perlahan memudar.
Suara mungil yang tiba-tiba membuatku secara tidak sadar merasa berat. Aku... Ah.. apa aku akan mati? penglihatanku perlahan menggelap.
"Aku tidak mau.. kenapa kau melakukan itu?" Suara itu masih terdengar, begitu mungil dan lembut.
"A-Apa yang kau-.. Ugh.. Tidak mungk-" Astabell terdengar ketakutan dan menjauh dariku.
Lalu suara tebasan terdengar..
Slaaash!
Suara yang menggema itu terdengar nyaring di keheningan hutan.
Penglihatanku tampak redup, tapi aku melihat bercak darah jatuh di dekatku.
Darah? Darimana?
Aku melihat darah yang mengalir tapi tidak berasal dariku.
BAak Suara jatuh terdengar dan sosok yang di sampingku membuatku keheranan.
Kenapa Wanita itu..
Mati?
.........
...[ Continued ]...