The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 31 - [ Arrive in the Magna City ]



...BAB 31 - TIBA DI KOTA MAGNA...


...◇◇◇...


Kami saat ini, menuju ke Kota Magna.


Kota pesisir dengan perdagangan nasional yang luas dan besar.


Tak Tak Tak


Kereta berjalan menyusuri jalanan hutan.


Tidak lama kereta berangkat, jalanan hutan mulai berakhir.


Lalu..


Sebuah kota pesisir terlihat.



...( Coastal City, Magna )...


Kota Magna terlihat di depan kami, setelah keluar dari hutan Alta.


Akhirnya, tujuan kami sudah terlihat.


- Di dalam kereta.


"Myu~ Hehe~." Senka tersenyum senang saat aku mengelus kepalanya.


Dia duduk di pangkuanku dengan manja, jadi aku dengan sukarela mengelusnya dan memanjakannya.


Tapi, aku kepikiran dengan yang Joseph katakan.


"Gadis berambut perak, kah.." gumamku.


Ada banyak orang berambut perak, tapi itu langka. Tidak seperti Tofan atau siapapun. Joseph memberitahuku, kalau gadis itu tidak segan-segan membunuh dan paling utamanya dia mengigit seperti ular atau..


Vampir.


"Haa.. Sudah kuduga," desahku.


Hanya saja, Kenapa Dia tidak langsung membunuh para ksatria daripada membuat mereka sekarat? Lalu apa yang Dia lakukan di hutan Alta?


Aku bingung, tapi itu tidak bisa kuapa-apakan jika orangnya saja aku tidak temui.


Untuk sekarang, aku akan fokus hal lain.


Undangan Duke Arcane dan Putrinya, Rosaline.


"Papa!"


"Iya, Senka?" Tanyaku berhenti mengelus.


Senka berdiri dari pangkuanku dan turun dari bangku.


Dia menatapku dengan bersemangat, lalu di sisinya keluar Kura-kura bayangannya, Rock. Yang dia angkat ke depanku.


Tampak ada kalung di lehernya.


"Senka sudah memakaikan semuanya Kalung yang Papa berikan, lihatlah!" ucapnya mendekatkan Rock ke wajahku.


"Begitu.."


"Rock!" Kura-kura itu menjawab dengan namanya.


"Papa, Gon sepertinya tidak bisa memakai di lehernya. Jadi Senka pasangkan di jarinya," ucapnya dengan gembira.


Jarinya? Kurasa itu tidak masalah. Mengingat bagaimana besarnya Golem bayangan bernama Gon itu.


Jadi aku mengusap kepalanya dan memujinya.


"Senka, kerja bagus."


"Hehe~."


Melihat wajah gembiranya saja, sangat menyegarkanku. Asalkan aku bersama Senka, aku bisa melakukan apapun!


Pastinya.


.........


- Di depan gerbang kota.


"Buka gerbang! Kereta Duke telah datang!"


Penjaga gerbang membuka gerbang dan membiarkan kami masuk.


Tampak kota di jaga ketat, dari bagaimana banyak pedagang dan rombongan orang mengantri di luar gerbang.


Walaupun, aku melihat ada yang menggunakan kekerasan untuk masuk. Tentunya, orang itu di ringkus di tempat.


"..." Yah, aku tidak memusingkannya.


"Myu?" Senka aku jauhkan dari jendela, sampai kami masuk.


Jadi kami melewati gerbang kota dan terbentanglah banyaknya rumah-rumah klasik dan indah.


Semua keramaian di jalanan dan kios-kios besar dan kecil yang ramai dikunjungi. Ini seperti kota yang kuingat dulu, sebelum kebangkitan Demon King.


"Papa! Apa itu?" ucap Senka menatap lekat di luar jendela.


Aku ikut melihatnya.


"Itu? Ah, Crepe namanya. Nanti Papa belikan," ucapku menepuk kepalanya.


"Janji!"


Dia memberiku kelingking.


"Ya, janji," balasku janji kelingking.


"Ya!"


Aku tersenyum melihat Senka yang riang menatap di luar jendela dengan semangat.


"Hm?"


Aku menyadari ada sesuatu di tangan kirinya.


"Senka, Cincin apa yang kau pakai itu?" ucapku menunjuk tangannya.


"Myu?? Cincin..? Ou, ini Papa?" Senka awalnya bingung, tapi ingat sesuatu yang ada di tangannya dan menunjukkan padaku.


"Ini.." Aku menatap cincin itu ragu.


[ Cursed Ring (◇◇◇◇◇) ]


"...??"


Cincin terkutuk dan.. Apa isinya?


"Senka, kau tahu apa Cincin itu?"


"Tidak."


Senka terlihat sama sekali tidak tahu.


"Kenapa kau memakainya?"


"Myu!? I-Itu.."


Dia tampak gelisah dan menarik Cincin itu dari tangannya.


"Umyu! Uhhh.." Wajahnya memerah mencoba menariknya dengan kuat.


Senka menarik Cincin dengan sekuat tenaga.


"Se-Senka??" Aku heran dengan tindakannya.


"Papa.. tidak bisa lepas.." Keluhnya.


Wajahnya murung, jadi aku menarik tangannya dan melihat cincinnya.


[ Kondisi : Cursed Active ]


'Kutukan??'


'Sistem, apa itu berbahaya??'


[ Cursed Ring tidak membahayakan pengguna. ]


Itu yang suara sistem katakan..


Walaupun begitu, itu tetaplah cincin terkutuk..


"Papa.."


"Haa.. Tidak apa-apa, Asalkan tidak membahayakan Senka," ucapku menghela nafas.


"Ini tidak bahaya, Papa. Mungkin," ucapnya tidak pasti.


"Aduh.. kau ini.."


Aku mengacak-acak rambutnya, Senka terlihat menikmatinya. Aku tersenyum melihat kepolosan malaikat kecilku ini.


.........


Kami sampai di depan gerbang besar.


Di dalam gerbang, terlihat dengan megah sebuah Mansion besar milik Duke Arcane berada.


Begitu besar hingga rasanya, aku tidak seharusnya berada di sini.


Gerbang di buka setelah Joseph menunjukkan diri di depan gerbang.


Para penjaga membuka gerbang dan kereta kami mulai masuk.


"..." Aku dan Senka terdiam melihat luasnya halaman Mansion yang dipenuhi oleh berbagai bunga dan Burung-Burung kecil terlihat bermain di sekitarnya.


Bukankah kami ada di tempat yang sangat asing? Aku ingin pulang.


"Gulp." Aku menelan ludah.


Kereta berhenti tepat di depan Mansion, lalu pintu kereta terbuka untuk memberi jalan keluar untuk kami.


Jadi Aku turun duluan, lalu Senka melompat dari kereta dan langsung ke arahku. Jadi aku menangkapnya dan menurunkannya.


"Papa, pegangan!" ucap Senka meminta tanganku.


Aku dengan senang hati memegang tangannya.


Kami maju mengikuti Joseph.


"..."


Pria itu sedikit bingung dan menatapku.


"Anak siapa it-.." Saat Joseph akan bertanya.


Pintu Mansion terbuka lebar dan seorang Wanita muda keluar dari sana. Dia memindai sekitar dan wajahnya seketika cerah.


Dia berlari ke sini.


"Ren-sama!!" Teriaknya menerobos lurus ke arahku.


"!?" Aku tertegun.


"Jangan lakukan itu," ucapku pada Senka, dia menuruti ucapanku dan menurunkan tangannya. Tapi matanya tetap sinis ke depan.


"Ha-Hai, Rosalin-.." ucapku akan menyapanya.


Tapi..


"Ren-sama!" Dia langsung memelukku sesampai di depanku.


"..." Aku di peluknya dengan kuat, ada sesuatu yang lembut kurasakan.


"Kau lama sekali!" ucapnya saat melepaskanku.


"Ada masalah sebentar," ucapku memalingkan wajah ke kanan tanpa melihatnya.


Wajahnya melembut dan tersenyum, sampai ada sesuatu yang dilihatnya.


"Masalah? Hm..??" Rosaline tertegun.


Dia tampak terkejut.


"Ada apa?" Tanyaku agak bingung.


Dia menatapku tajam dan melirik ke belakangku.


"Dia anak siapa?? Apa itu masalahnya!?" Tanya Rosaline meminta jawabanku.


Senka yang di tunjuknya tetap waspada.


"Uhh.. Yah.. Apa bisa dibahas di tempat lain?" ucapku mencoba mengganti topik.


"Ah, benar. Maafkan aku, ikut denganku," ucap Rosaline mengangguk dan memintaku agar mengikutinya.


Kami pun memasuki ke dalam Mansion, Rosaline mengajak kami untuk mengikutinya ke sebuah ruangan.


"Myu!" Senka berhenti dan matanya berbinar-binar saat melihat ke sekitar ruang depan Mansion.


Senka melihat-lihat interior Mansion yang mewah dengan kagum dan senang.


'Ini semua apa yang Bangsawan miliki, Aku ingin tahu apa aku bisa punya rumah sebesar ini nanti?' ucapku dalam hati.


"Lewat sini," ucap Rosaline dengan tersenyum senang.


Jadi kami memasuki ruangan di sebelah kanan dan tampak begitu luas, lalu kami menjumpai seisi ruangan memiliki meja makan panjang dengan berbagai hidangan telah disediakan di atasnya.


Ada beberapa pelayan diam di tepi ruangan menunggu kedatangan tamu, yaitu kami.


"Myu! Papa, ada banyak makanan!" ucap Senka menarik-narik lengan bajuku dengan bersemangat.


"Tenang dulu," ucapku dengan tersenyum.


Di depan kami, terdapat meja yang sangat panjang dengan banyak kursi yang berjajar rapi di setiap sisinya.


Semua itu terlihat sangat mewah dan tampak betapa besarnya daya tarik bangsawan dengan makanan mewahnya.


"..Gulp," Aku dan Senka menelan ludah.


"Silakan Ren-sama dan gadis kecil duduk di mana yang kalian mau," ucap Rosaline tersenyum lembut.


Dia terlihat lebih dewasa dari terakhir kami bertemu, aku kagum melihat perkembangannya.


Kemudian, aku duduk di kursi terdekat dan Senka langsung duduk di atasku, dia bertingkah Imut walaupun di rumah orang.


"Senka, kau bisa duduk di kursi di sana, kok," ucapku menarik kursi di kananku mendekat.


"Aku mau di sini!" ucap Senka menyilangkan tangan dengan pipi mengembung. Imutnya!


"Baiklah, kalau itu maumu," ucapku mengusap kepalanya.


"Hehe~.. Myu~.. myu~.." Dia terlihat senang.


Aku mengusap kepalanya dengan lembut dan memanjakannya. Senka terlihat menikmatinya.


"Ahem." Batuknya.


"..?" Kami melihat ke Rosaline yang terbatuk dan menatap kami.


Dia memasang wajah serius dengan kedua tangannya di atas meja dan badannya maju perlahan.


Dia melirik Senka dan kemudian aku.


'Uhh??' Ada apa dengannya?


"Jadi, apa Ren-sama bisa jelaskan mengenai anak perempuan itu?" ucapnya dengan serius.


"Uh.. ya.." ucapku sedikit berkeringat.


'Kenapa dengan ketegangan misterius ini..?'


Sepertinya aku perlu memberitahunya tentang ceritanya ya, jadi aku membuat cerita improvisasi padanya.


.........


"..!!" Dia terlihat syok.


"Um.. Rosaline..?" ucapku bertanya, sedikit berkeringat.


"Anak.. anak tiri.. kenapa.." Matanya terlihat mati.


"Er.." Aku agak ragu, tapi mencoba memanggil.


'Aku tidak tahu kalau dia akan sesyok itu.'


Tiba-tiba dia mencengkram bahuku.


"Siapa ibunya???" Teriaknya.


"Um.. Bukannya aku sudah bilang, dia adopsi?" ucapku mencoba melepas cengkeramannya. Ugh, kuat sekali..


"Tapi, ibunya.." Wajah Rosaline agak terdistorsi.


Ugh.. Bisa lepaskan, ini sakit..


"Rosaline," ucapku dengan nada berat.


"Ren-sama?" ucapnya agak terkejut.


"Karena aku sudah memberitahu ceritanya padamu, bisa lepaskan?" ucapku memberinya penekanan dalam berbicara.


"Uh, i-iya.. maaf." Rosaline langsung menjauh, dia terlihat memerah dengan malu.


Karena seharusnya masalah sudah beres, aku ingin mengetahui inti alasan aku dimintai datang ke sini.


"Rosaline, bisa beritahu aku. Kenapa aku datang ke sini? Juga ini terlalu terburu-buru," ucapku dengan serius.


"Ah, ya.. Aku akan memberitahu, alasan Ren-sama tiba-tiba ke sini," ucapnya dengan serius juga.


Suasana menjadi lebih serius, Rosaline menatap ke Para Pelayan. Mereka serentak keluar dari ruangan, meninggalkan aku dan Rosaline.


Sedangkan, Senka sibuk makan dan dia sudah ada di dunianya sendiri.


"Ayah ingin bertemu denganmu, Ren-sama," ucapnya serius.


"Ayah? Maksudmu Duke Arcane?"


Rosaline mengangguk, aku memang tahu bahwa Sang Duke sendiri lah yang meminta kedatanganku.


Karena sebelumnya, Joseph memberitahuku saat di perjalanan ke sini, kalau Duke lah yang memanggilku.


"Apa aku akan menemuinya sekarang?" ucapku gugup.


Rosaline menggelengkan kepala.


"Ayah sedang keluar, karena Ren-sama sedikit terlambat dari waktu yang ditunggu. Jadi ada sedikit waktu di sini, Ayah akan kembali lusa nanti," ucap Rosaline dengan lirih.


"Jadi sekarang Ren-sama dan Senka-chan akan di bawa ke ruangan yang telah disediakan," ucap Rosaline dengan tersenyum.


Lalu dia mengeluarkan lonceng mini yang dia bunyikan.


Riing! Riing!


Kemudian, pintu terbuka dan Seorang gadis muda masuk.


[ Refram Bell ]


[ Lonceng pemanggil dengan Mana sebagai konduktur yang membawa gelombang untuk memanggil seseorang tertentu. ]


Hm? Canggih betul.


"Saya datang, Ojou-sama," ucap Pelayan itu.


Gadis berambut hijau yang dipotong sebahu muncul dari balik pintu dan membungkuk hormat saat masuk. Dia mengenakan pakaian Maid dan terlihat lebih muda dari Rosaline.


[ Desi Rahma ]


[ Maid ]


[ Level 15 ]


"Desi, antar Ren-sama dan Senka-chan ke ruangannya," ucap Rosaline berdiri dari kursinya.


"Baik, Ojou-sama," ucap Desi mengangguk dan kemudian meminta kami untuk mengikutinya.


"Tolong, ikuti saya," ucapnya lirih.


Suaranya sedikit pelan dan hampir tidak terdengar. Tapi entah kenapa kami memahami yang dia katakan.


Kami pun mengikutinya.


Lalu dia menuju ke pintu dan membukakannya.


[ ****Mechanical Sound**** ]


[ ****Alat bantu untuk mengeluarkan suara dan membutuhkan energi sihir untuk menggunakannya. Suara yang dihasilkan mudah di dengar oleh orang banyak, memiliki volume yang bisa di atur dan mampu untuk menirukan suara pemilik atau orang lain. Saat ini suara yang terdaftar : Desi Rahma****++ ]


Layar muncul saat aku mengamati punggung lehernya, ada besi yang menempel di sana.


'Jadi Desi memakai alat bantu sihir, ya..'


"Senka-chan, coba panggil aku Mama?" ucap Rosaline berjalan berdampingan denganku.


"...?" Senka terlihat bingung, dia sedang digendong olehku.


"Panggil Aku, Mama? Ya?" ucapnya sekali lagi dengan senyum manis.


"...?" Senka tetap tidak mudeng (Ga Ngerti)


"Mama, ya?" ucap Rosaline tidak menyerah.


"Papa, apa yang dia bilang?" Senka menatapku dengan bingung.


"Haha.." Aku hanya tertawa kecil mendengarnya, di sampingku Rosaline terlihat down dan wajahnya menggelap.


Kami mengikuti Desi dengan tenang dan mengabaikan kesedihan Rosaline.


"Aku tidak akan menyerah!" Teriaknya berapi-api.


Deklarasi tiba-tiba Rosaline, membuat kami terkejut.


'Kuharap ini tidak masalah,' ucapku dalam batin.


.........


...[ Continued ]...