
...BAB 38 - PENYELAMATAN DUKE (2)...
...βββ...
Clank! Clank! Clash!
Serangan beruntun dan berat terus menerus di lemparkan ke arahku.
Noa membalas dan mendorongku sebagai balasan. Gauntletnya begitu kokoh sampai The Broken Sword tidak bisa merusaknya.
Aku menjaga jarak dengannya sebentar, di sekitarku Para ksatria memulai bentrokan ke kedua teman Noa dan Van terperangkap dengan Senka mengekangnya.
Di tempat Duke, sepertinya untuk sekarang dia aman. Duke pingsan di pinggiran Medan tempur, aku hanya harus mengalahkan Noa tidak lebih.
Karena ada jeda, aku mengangkat tangan kiriku ke samping.
"Sovereign Hand." ucapku pelan.
Fwoosh! Pedang Besi yang tertancap di tanah, tiba-tiba melayang dan menuju ke arahku.
Seketika aku menangkapnya.
[ Sovereign Hand ]
[ Termasuk skill Telekinesis dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan satu atau lebih target objek atau subjek dengan lebih cekatan dan baik. Memiliki kemampuan penghancur dan kecepatan yang tinggi, perlu di perhatikan bahwa skill ini memiliki cacat yaitu hanya 40% berhasil kepada sesuatu selain objek. ]
Kekuatan yang disebut "Sovereign Hand." Adalah cabang skill Telekinesis yang ku miliki, Namun, lebih kuat dan cepat dalam mengendalikan objek.
Harga menggunakannya adalah Mana yang tidak sedikit.
"Hou, Menarik." Noa terkesan dan perlahan dia mulai terselimuti aura hitam yang kotor.
Dia sepertinya mulai serius.
"Haha.. Sepertinya dia masih belum serius sejak tadi."
Aku memasang kuda-kuda dan menyilangkan kedua pedang di depan.
"Wind Step. Fire Armor," ucapku yang memberi buff sihir padaku.
Angin menghembus ke kedua kaki ku dengan Aura merah menutupi sekujur tubuhku.
"Kuh.." Aku merasakan penolakan sebentar dan layar lain muncul.
[ Blood Contract Aktif. ]
Aku terlalu berlebihan, tapi ini memberiku ruang untuk bernafas.
Swoosh! Batu-batu di sekitarku perlahan melayang dan melesat lurus ke arahnya.
"Jangan mati, Nak!" Teriak Noa menstimulusku.
Noa berlari dengan cepat ke arahku tanpa penundaan, Aku di sisi lain ikut maju.
Syuuut! BAAM!
Suar cahaya menyala menjunjung tinggi ke atas, Cahaya yang sangat terang dan membuat kami berhenti sejenak karena betapa silaunya.
Noa dan Aku terhenti, saling menatap dan bergerak kembali.
Clank! Clash! Clank!
Tebasan, tepisan, menghindar, menghancurkan, mendorong dan memaksa serangan terus terjadi di pertukaran kami.
Menunggu, aku menunggu Bala bantuan yang akan tiba.
Suar yang di nyalakan oleh para kstaria bermaksud untuk mendatangkan Joseph dan Tofan untuk berkumpul ke sini dengan para ksatria.
"Lakukan lebih serius!" ucapnya menangkis segala serangan dariku.
"Aku sudah mencoba!!" Aku terus melawan dan mengendalikan Telekinesis untuk menyerangnya.
Akan tetapi, Dia tetap unggul dan terus mendorongku. Betapa kuatnya?!
"Gahaha!" Dia tertawa saat masih menyerang dan mendorongku.
Noa dengan agresif dan terlihat bersenang-senang terus mendorongku.
Walaupun aku sudah meningkatkan kekuatanku untuk sementara, Noa masih saja unggul dan aura kegelapan yang menyelimutinya kemungkinan adalah peningkatan kekuatannya yang mirip denganku.
Hanya saja, dia lebih kuat.
Dalam proses yang memakan waktu, Duke berhasil dibawa pergi oleh dua ksatria yang bergegas membawanya.
Sekarang, aku harus mengalahkan Noa. Jika tidak, aku akan lebih kesulitan.
"Lucu sekali! Kenapa kalian serius bertarung!!"
Serangan kapak yang muncul tiba-tiba dan menerjang kami berdua membuat aku dengan Noa menghindar dan melebarkan jarak satu sama lain.
Wanita itu tersenyum saat mendekati kami.
Dia teman Noa, Fanya.
[ Fanya ]
[ Level 54 ]
[ Title : The Killing Laugh ]
Wanita berambut ungu itu tersenyum dan menarik kembali kapaknya ke tangannya.
Swooosh! Tap!
Kapak kembali ke tangannya dengan sendirinya.
"Menarik! Menarik!"
Dia sangat senang, Noa di sisi lain terlihat tidak senang dan wajahnya merenggut kesal.
'Sial. Para Ksatria sudah banyak yang tumbang!'
Sesaat serangan tiba, aku yakin wanita itu telah menjatuhkan para kstaria lain dan melihat dari jauh Riel terlihat sudah selesai dan hanya menonton dari jauh. Tampak duduk di sebatang kayu dengan menguap.
"Fanya. Ini pertarunganku."
"Heeeee... Biarkan saja! Aku juga ingin bertarung!!"
Dia menerjang lurus ke arahku dengan sangat cepat.
Kapak yang dia pegang langsung di lempar menujuku tanpa ragu.
"Ugh!"
Aku berhasil menghindarinya, tapi kapak itu kembali ke tangannya. Dalam proses itu mengenaiku yang membuat bahuku terluka dengan dalam.
"Kekh.."
Sakit sekali. Sekarang lawanku bertambah..
Waktu yang bisa kuulur agak sedikit.
HP ku juga terkuras banyak karena kontrak darah, semakin lama pertarungan berlangsung tubuhku akan dalam situasi berbahaya.
Serius, Aku dalam bahaya.
Jadi mau tidak mau, aku mengaktifkan sihir lain dengan mematikan sihir api dan angin yang meningkatkan kekuatanku.
"Wall Fire! Fotress of Fire!"
Tembok api hitam memuncak di depanku yang menghalangi keduanya.
Mereka menatap nyala api yang menghitam itu.
"Menarik. Apa kau pikir ini bisa menghalangiku?" Noa terlihat kagum.
Di sisi lain, Fanya tanpa penundaan maju menembus tembok apiku.
"Hahaha!! Sia-sia!"
Dia menerjang dan melewati Tembok benteng api dengan mudah dan hampir tidak terluka.
Namun, aku memang menunggunya.
"Phantom Blade of Anti magic."
Tebasan transparan lurus ke arah Fanya dan menuju lehernya. Dia tertegun dan langsung mencoba melindunginya.
Tapi itu menembusnya dan melukai lehernya lebih jauh, karena panik dia mencoba menghindari serangan tapi sayangnya tangan kanannya terbelah dalam proses menghindar.
Slash! Tebasan yang mulus memotong tangan kanannya.
"Ap-!?"
Baak! Fanya menjaga jarak dan tangan kanannya jatuh begitu saja.
Wajahnya penuh amarah.
"Kah.. ha.. ha.."
Teknik pedang yang kugunakan adalah teknik yang lebih tinggi dan teknik ini membebaniku saat menggunakannya. Tubuhku tidak kuat untuk menggunakan teknik berbahaya ini.
Walaupun aku berhasil membuatnya menjauh, tapi aku berniat membunuhnya. Hanya saja itu gagal.
"Buff in Mind of Terror."
Kepalaku menjadi cerah kembali, hanya saja kelelahan tubuhku belum sirna.
Aku harus bertahan lebih lama lagi.
Baam!
Suara jatuh tepat di depan kami.
Riel yang terlihat tidak nyaman turun ke lapangan, dia berdiri di depanku dengan membelakangi kedua temannya.
"Ketua, kurasa kita sudahi saja," ucapnya melirik ke belakang dengan tidak sopan.
Ketua yang di maksud, Noa berbalik badan dan melambai meminta temannya kembali. Dia mengakhiri pertarungan ini.
"Tidak! Aku masih harus memotong tangannya!" Teriak Fanya kesal.
"Fanya," ucap Noa memanggilnya dengan tegas.
"Ugh. Sial. Anak sialan! Lihat saja nanti! Aku pastikan memotong tanganmu!!" Teriaknya yang kesal dan mengambil tangan kanannya.
Noa, Fanya dan Riel pergi. Dalam proses Noa membawa Van yang sudah tak sadarkan diri.
Senka menyelam ke bayanganku, dia terlihat kesal.
Namun, Duke terlihat dalam kondisi kritis.
Dia mendapat kutukan yang kemungkinan dari Red Domination dan sepertinya dia banyak kehilangan darah.
Saat aku bingung untuk melakukan apa di sini, sesuatu menarik di lengan bajuku.
"Papa, jika Papa mau. Senka bisa menolongnya," ucap gadis kecilku.
"Senka.. Apa kau bisa?" Tanyaku menatapnya.
"Iya! Tapi kutukan itu tidak bisa Senka perbuat," balasnya.
"Tak Masalah."
"Myu!"
Senka mendekati Duke yang bernafas kasar, lalu beberapa mayat Monster dari Shadow Storage jatuh tidak jauh darinya.
Kemungkinan, Senka akan menggunakan sihir yang pernah menyembuhkanku.
"Myu, dia tidak dalam kondisi kritis."
Suara mungilnya terdengar lega dan energi dari mayat para Monster perlahan keluar.
"...Tidak mungkin."
Perlahan dengan energi yang terambil, semua mayat ikut menghilang.
Energi kehidupan. Cahaya itu menyeret langsung ke Duke.
Membutuhkan waktu lama untuk mengisi kembalinya.
[ HP : 40/2000 ]
Dia dalam kondisi kritis, tapi perlahan itu meningkatkan.
[ HP : 48/2000 ] πΊοΈ
[ HP : 52/2000 ] πΊοΈ
Kekuatan ini.. Mirip dengan Kontrak darahku, hanya saja itu mengirimkan energi HP monster ke Duke. Daripada mengurasnya.
Aku tidak mengerti konsep kerjanya, tapi terlihat itu efektif menyelamatkan Duke.
Lalu, tidak lama kemudian Bala bantuan datang.
Joseph bergegas setelah melihat Medan perang telah berhenti dengan banyak ksatria yang runtuh.
Setelah melihatku, Joseph dan Tofan bergegas ke tempatku. Para ksatria yang lain menolong ksatria lainnya di medan tempur.
"Tuan Ren! ... Lady Senka..? Ah, Tuan Duke!"
Joseph menangis dan menghampiri ke sisi kami. Dia sangat senang karena Duke masih hidup.
"Ren, anak itu.." Joseph melihat Senka sedang menyembuhkan tuannya.
"Tenang saja, Senka sedang menyembuhkan Duke," ucapku santai.
"Lady Senka.." Joseph terlihat senang dan menangis sedu. Sepertinya Duke sangat di cintai oleh bawahannya juga.
Senka sepertinya membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkan Duke sepenuhnya.
"Joseph, minta yang lain menolong yang sudah jatuh dan merawat mereka," ucapku berdiri.
"Iya, akan aku pastikan semua selamat!"
Joseph ikut berdiri dan langsung memerintahkan Para Bawahan ksatrianya untuk bergerak membantu para ksatria lain yang dikalahkan.
Hanya saja, ada sesuatu yang mengangguku. Red Domination, mereka tidak sampai membunuh Duke dan hanya memberinya Kutukan. Lalu, mereka mengakhirinya begitu saja, aku tidak tahu kenapa tapi jika pertarungan itu berlanjut dipastikan aku akan mati.
"Ren," panggil seseorang.
Aku berbalik dan melihatnya menghampiriku.
"Ah, iya Tofan?"
"Ikut aku," ucapnya berjalan menjauh.
"Uh? ya?"
Tofan menjauh dari kelompok dan membawaku ke sisi dekat tebing yang agak jauh.
"Ada apa memanggilku?" Tanyaku penasaran.
"Lihat ini," ucapnya memperlihatkan suatu benda.
"Ini??"
Artefak sihir?
"Apa maksudmu?" Tanyaku tidak mengerti.
"Benda ini ada di sini saat aku menemukannya. Aku ingin tahu apa ini jika kamu tahu, tapi sepertinya tidak ya."
"Oh.. iya."
Kupikir apa, tapi...
"Biarkan aku memegangnya," ucapku memintanya.
"Ini."
Aku memeriksanya dengan mataku dan layar informasi muncul di atasnya.
[ Dungeon Key of Chrono ]
"Kunci Dungeon?!"
"Kunci apa??"
Aku terkejut saat menyadarinya, bukankah Dungeon Chrono belum ada?? Lalu kenapa ada Kuncinya di sini??
"Dungeon di mana itu?" Tanya Tofan melihat Kunci itu.
"Chrono. Apa kau tahu?" ucapku menatapnya.
"Tidak, tapi kurasa kita bisa menyimpannya," ucapnya menggelengkan kepala.
Sepertinya begitu.
"Ini, lebih baik kau yang memegangnya. Kau juga yang pertama menemukannya," ucapku mengembalikan Kunci itu padanya.
"Tak Masalah?"
Aku mengangguk.
Tofan mengambil dan menyimpannya di kantungnya.
"Lalu, kurasa Senka mungkin sudah selesai," ucapku melirik ke tempat penyembuhan.
Jadi kami menuju ke Senka.
Tapi, situasinya masih belum selesai. Belum setengah dari HP berhasil di tambahkan.
"Senka, mungkin kau bisa berhenti setelah yakin Duke bisa bergerak," ucapku tersenyum.
"Baik, Papa!"
"Bagus."
Aku menepuk kepalanya dengan lembut dan melihatnya bekerja.
"Ren, Papa? Apa ini anakmu?"
Tofan terlihat tidak yakin saat melihatku dengan Senka.
"Iya, dia anakku," ucapku tanpa keraguan.
"...Begitu ya."
Wajahnya agak meragukannya. Yah, aku tidak masalah tentang itu. Sejak warna rambut dan mata kami berbeda jauh.
"Benar juga, Joseph apa masih ada ramuan hijaunya?" Tanyaku tanpa melihatnya.
"Tunggu sebentar. Yah, masih ada selusin," ucapnya memberitahuku.
"Ramuan-ramuan itu berguna untuk kesembuhan Duke nanti," ucapku santai.
"Baik, Tuan Ren. Tapi sepertinya Tuan juga membutuhkannya," ucap Joseph yang mengambilkan beberapa ramuan hijau.
"Apa begitu?" Aku tidak terlalu merasa sakit.
Tapi dari sudut pandang lain.
"Papa, kau terluka di mana-mana," ucap Senka masih menyembuhkan Duke.
"Eh? Benarkah?"
Aku memeriksa tubuhku dan banyak bekas tebasan, luka ringan dan ada luka dalam di bahuku.
"Ahaha.. Sekarang aku merasa sakit."
"Tuan Ren, ini minumlah."
Jadi aku mengambil ramuan hijau dan langsung meminumnya, seketika tubuhku perlahan tersembuhkan dengan luka-luka menutup dan bekasnya menghilang.
Kemudian Senka memanggilku.
"Papa, Papa." panggilnya.
"Iya, Senka?"
"Dia sudah mau bangun," ucapnya menyelesaikan penyembuhan.
"Benarkah?"
Aku menghampiri mereka dengan Joseph di sampingku.
Duke terlihat lebih tenang dan perlahan matanya terbuka.
"Ugh ... Hmm..? Anak ... kecil?"
Dia terbangun dan melihat Senka tersenyum di depannya.
.........
...[ Continued ]...