The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 23 - [ She is a Vampire ]



...BAB 23 - DIA ADALAH SEORANG VAMPIRE...


...◇◇◇...


Van dan Kakaknya beserta ketiga orang itu memesan beberapa kamar untuk mereka singgahi sehari saja.


"Baik, ini dia Kunci kamarnya," ucap Lia memberikan tiga kunci ke Anna.


"Terimakasih," ucap Anna dengan tersenyum lembut.


Sepertinya mereka ingin beristirahat setelah melakukan perjalanan panjang.


Dari cerita Van, mereka mau menuju ke kota lain. Tidak tahu apa yang mereka incar, tapi Van menutup mulutnya menceritakan apa itu.


Toh, aku tidak terlalu ingin tahu juga.


Jika aku tahu pun, mungkin tidak berjalan baik untukku. Siapa juga yang mau berurusan dengan kelompok jahat seperti Red Domination, tentunya bukan aku.


Sekarang, lebih baik aku pulang saja.


"Oh, Ren. Bagaimana dengan menginap di sini untuk sehari saja?" ucap seorang wanita yang menghalangi jalanku.


"..." Aku tersenyum pahit.


Ibunya Lia memergokiku yang akan pulang dan menghalangi pintu keluar.


"Bibi, bisa aku pergi?"


"Fufu~ Menginap saja, Ren. Bibi tidak masalah kau menginap di sini, Kok," ucapnya tampak memaksaku.


Dia tetap menawarkanku untuk tinggal, walaupun aku tampak tidak mau.


"Bibi, aku akan pulang saja.." ucapku tetap teguh pendirian.


"Baiklah, tidak apa-apa."


Ibu Lia dengan menghela nafas kecil mundur dan menjauh dari pintu.


Kurasa sekarang aku bisa pergi.


"Fufu~ setidaknya lebih baik Ren di sini lebih lama.. Anakku sepertinya tidak ingin kau pergi," ucapnya menggodaku.


"Ibu?! Apa yang coba kau bicarakan?!"


Lia agak kesal dengan yang Ibunya katakan itu.


Aku agak sedikit ragu, tapi lebih ingin pulang daripada berlama-lama di sini.


"Tidak apa, aku akan pergi," ucapku tetap dalam pendirian.


"Baiklah, bawa ini."


Ibu Lia tersenyum dan memberikanku sesuatu.


"Apa ini?"


"Aku menemukannya di kamar Lia, bawa saja," ucapnya tersenyum lembut dan mengedipkan matanya padaku.


"Apa yang Ibu berikan??"


Lia langsung menghampiriku dengan panik, dia mencari tahu apa yang ibunya berikan kepadaku.


Tapi, Aku langsung menyembunyikan barang itu ke kantungku sebelum Lia bisa merebutnya kembali.


"Ren!!"


"A-Aku pergi dulu!"


Jadi aku melarikan diri.


.........


Duduk di bangku taman, aku menatap ke barang yang diberikan Ibu Lia.


"Ah.. Benda ini ya.." ucapku tersenyum kecil.


Aku ingat dulu Ibunya memberikan ini padaku, tapi saat itu Lia tidak bersama kami.


Berarti takdir telah berubah.


Tapi, tetap ada konflik dengan Lia saat itu dan saat ini.


"Tidak disangka, Cincin Ruby ini buatan Lia," ucapku kagum.


Dia memang punya bakat sihir sejak lama. Tapi, ini dibuat lebih maksimal dan terlihat betapa murni sihir di dalamnya.


Aku beruntung mendapatkannya. Kuharap dia tidak mempermasalahkannya. Sejak dia bisa membuatnya lagi..


"Senka," ucapku memanggil.


"Iya, Papa?"


Senka dengan cepat keluar dari balik bayanganku.


"Coba kau kirimkan manamu ke dalam cincin ini," ucapku memberikannya Cincin Ruby itu.


Senka mengambilnya dan mengangguk memahami.


"Baik, Myu! Uohh!"


Senka langsung mengirimkan mana miliknya ke dalamnya. Warna Rubynya semakin merah dan terlihat tebal juga gelap.


[ Bloody Ruby Ring ]


[ Mana : 4000+ ]


Wow.


"Hebat, Senka!"


"Hehe~."


Aku mengusap-usap kepalanya dengan bahagia.


Jadi aku tidak akan dengan mudah kehabisan mana sekarang! Hore untukku dan Senka!


Lalu gadis pemarah itu juga!


"Hore!"


"Hore!!"


Aku bersorak dan Senka mengikutinya.


Ini adalah hari yang menyenangkan.


Baiklah, lebih baik aku bekerja sekarang!


"Senka, waktunya berburu!"


"Ya!"


.........


Malam harinya, di kamarku.


"..?"


Ada penyusup!?


"Kenapa kau ada di sini?! Van!!" ucapku dengan terkejut.


"Kenapa? Kupikir aku akan nyaman di sini.."


Gadis itu sedang berbaring nyaman di atas tempat tidur.


Aku bertanya-tanya bagaimana dia bisa di sini..


"Hehe.."


Aku dan Senka menatapnya mengganggu.


"Senka, buat dia keluar."


"Siap, Papa!"


Senka menyelam masuk ke dalam bayangan kegelapan rumah.


Lalu..


"..?"


Sebuah tangan raksasa dari bayangan muncul di bawah Van dan menangkapnya.


"Ehh??"


Lalu menghempasnya keluar melalui jendela.


"Selamat tinggal."


Kurasa aku akan bisa tidur nyenyak sekarang.


Namun, 5 menit kemudian.


"..."


"Myu~.."


Senka telah tidur di dekatku.


Tapi..


Gadis perak itu kembali.


"Aduh..duh.. Kenapa kau melakukan itu??" ucapnya heran.


Aku ingin tidur..


.........


"Kembali ke tempat kakakmu.." ucapku memintanya pergi.


"Tak mau.."


"...Kenapa?"


"Tak mau."


Van tetap keras kepala menolak dengan menggelengkan kepala. Jadi dia tidak mau pergi.


"..."


"Sa-Sakit?! Apa yang kau lakukan!!?"


Aku mencubit telinganya saat dia terus cemberut di atas tempat tidurku.


Senka di sisi lain sedang tidur dengan nyenyak, dia tampak mengemaskan.


"Lepaskan," ucapnya mencoba melepas tanganku dari telinganya.


"..."


"Muu.. Kenapa sih denganmu.."


Van dengan cemberut membiarkanku, aku dengan menghela nafas melepasnya.


"Ada juga aku yang harusnya mengatakan itu ... kenapa kau tidak mau pergi?"


"..Aku merasa nyaman di sini," ucapnya semakin melilit lenganku dengan kedua tangannya


"Itu saja alasanmu?" ucapku cemberut.


Dia menggangguk malu-malu.


"...Pergi."


"Eh?"


"Jangan 'Eh saja, lebih baik kau pulang dari pada membuat masalah di sini."


"Tak mau."


Gadis ini..


Dia menempel telentang di atas tempat tidurku seakan menolak sekali ingin pergi. Kenapa dia sangat ingin di sini??


"Sekali lagi, jujur kenapa kau ke sini?"


"..."


Dia memalingkan wajah sambil tiduran di atas tempat tidur .


"Heiiiii..."


"..."


Aku kesal sekarang..


"Jika kau memaksa, aku akan melemparmu lagi.." ucapku mengancamnya.


Namun, gadis itu tetap enggan dan menanam lebih dalam tubuhnya ke tempat tidur.


"Tak mau."


"Van.." ucapku mendekatinya, dia memerah saat itu.


Jadi aku memaksanya untuk bicara.


Lalu, ketika aku memikirkan sesuatu untuk memaksanya. Dia mendorongku menjauh dan tampak panik.


"Ba-Baik! A-Aku akan bicara," ucapnya dengan panik.


"Lakukan."


"Uu.."


Wajah Van semakin memerah dan malu-malu. Apa alasannya sampai seperti itu..?


Jika dipikir-pikir dia ingin tidur di sini, di mana tempat tidurku ... lalu maksudnya ... tidak mungkin, kan?


"..Aku.. nn, tidak.. kamu punya rasa yang enak. Jadi.. aku ingin ke sini.." ucapnya dengan gugup.


Enak? Apa yang-..


"Darahku?"


"I-Iya." Dia mengangguk malu-malu.


Haa.. lebih baik aku mengusirnya segera.


"Sudahlah, lebih baik kau pergi."


"Tidak mau!"


"Kenapa??"


Dia menggelengkan kepala menolak sekali pergi.


"Ayolah.."


Van tetap menolak.


"Hmm? Van?" Aku bingung ketika dia menatapku kembali, tapi ada yang berbeda.


Matanya tampak bercahaya merah.


Cahaya bulan dari jendela perlahan menyinarinya, tampak lekukan tubuh rampingnya terlihat dari balik pakaiannya yang ketat.


Wajahnya memerah.


"..Van?"


"A-Aku.."


Dia berubah pikiran dan menyerangku(?).


"Aku..." ucapnya mendorongku.


"Apa yang kau coba laku-.."


Perasaan panas dan menusuk di leher membuatku sadar. Vampir perak ini, dia mencoba menghisap darahku.


"Hei?! Hentikan!!"


Dia menolak lepas dariku dan tetap menempel menghisap darahku. Oh sial...


"Berhenti, aku merasa pusing??"


"..."


Van melepas gigitannya, lalu wajahnya terlihat puas dan tenang.


"..."


"..."


Aku merasa sedikit pulih.. efek penyembuh dari Cincin Ruby terasa.


"Van.."


"...Mn?"


"Apa seperti itu responmu setelah seenaknya menghisapku??"


"Eh?"


Aku pun mencoba memarahinya. Tapi Senka bangun.


"Papa.."


Dia melirikku dan Van. Meminta kami untuk tenang dan tidur.


Tapi..


"Zzz.."


Dia tampaknya sangat mengantuk.


"..."


"Dia.."


Van terlihat menganalisa dengan cermat.


"Anakmu?" ucapnya menunjuk Senka dengan heran.


"Iya."


"Tidak mungkin!"


Dia terlihat sangat terkejut.


"Jadi kau sudah punya Anak di usiamu ini, Ren?" ucapnya tampak bingung.


"...iya."


Ini pertama kalinya dia menyebut namaku. Agak aneh..


"..."


"...kau ini ya.."


Dia menatapku polos, "Apa?" Aku menghela nafas berat..


"Bisa pergil?!"


"Tak mau.."


Kenapa dengannya???


.........


Jadi karena aku menyerah, walaupun banyak opsi untuk mengusirnya. Dia tetap tidak menyerah dan kembali ke kamarku.


Sekarang dia dengan nyenyak tidur di sampingku dan mendekapku.


Senka dengan lucu berada di kiriku memegang lenganku.


"......."


Aku merasa aneh sekali.


Untuk merasa terganggu dan nyaman di waktu bersamaan.


Lalu aku mencoba tidur.


"..?"


Van mendekati leherku, dia tidak mencoba mengigit tapi berbisik.


"Ren.. nnnh.."


Dia mengingau..


Lalu memelukku dengan erat.


"??"


Gadis itu, berbau manis dan harum. Ini menganggu.


Apa yang harus aku lakukan sekarang..


.........


...[ Continued ]...