
...BAB 41 - 2 TAHUN KEMUDIAN...
...◇◇◇...
Sudah 2 Tahun terlewati sejak itu dan usiaku telah mencapai 16 tahun.
Gulungan status yang Duke pernah berikan akan berguna hari ini.
Sekarang, aku berada di Gereja desa.
Ada Pastor yang mendekatiku dan aku memberikan gulungan itu padanya.
Dia membaca sihir tertentu dan gulungan itu bercahaya yang menyilaukan.
[ Acara Kedewasaan akan dimulai. ]
Suara anorganik yang biasa terdengar mengumumkannya.
Pastor memintaku membuka gulungan itu.
Aku memberi gulungan itu Manaku dan mengisinya sampai muncul tulisan darinya.
[ Status di buat ]
Aku sudah sering melihat status ini, tapi aku tetaplah tenang dan memberikan gulungan itu tanpa ada hal yang salah pada Pastor itu.
"!?" Dia terlihat heran melihat statusku dan menatapku penuh kekaguman.
"Ren Maulana. Selamat Anda mendapatkan berkah dari Dewa Perang dan Penempa, Abantes. Selamat!" ucap Pastor itu memberiku pujian.
Aku rasa itu respon yang benar, karena aku sering melihat statusku. Aku hampir tidak bereaksi apapun hanya melihatnya.
Namun, Dewa Abantes ya..
Para Dewa Morfus ada banyak dan terlebih ada 6 Dewa utama.
Salah satu yang terkenal adalah Dewa Abantes. Dewa yang menjadi lambang dalam perang dan Dewa yang di sembah ras penempa, Dwarf.
Sama halnya Dwarf, Manusia dan Beastman banyak yang menyembah Dewa Abantes.
Kekuatan Berkah Dewa Abantes lebih kuat dari berkah Dewa lain, terutama ketika memegang senjata. Kekuatan serangan akan dilipat gandakan dan dalam hal menempa, kualitas tempaan akan tinggi dan luar biasa.
Inilah kenapa dalam Kerajaan-Kerajaan seperti Jasdal, Teuron dan lainnya banyak yang mendewakan Dewa Abantes. Karena begitu hebat berkahnya.
Artinya Kekuatan berkah yang khusus dalam perang dan pertarungan.
Lalu, inilah aku yang memegang berkah itu. Kekuatanku digandakan dan aku bisa membuat tempaan yang hebat, walaupun aku memiliki semua itu. Tetap saja, aku tidak sekuat kebanyakan orang.
Apalagi Levelku yang baru mencapai level 40 di umurku ini.
"Apa sudah selesai?" Tanyaku.
"Iya, anda bisa keluar," ucap Pastor memperbolehkanku pergi.
Tidak lupa, dia mengembalikan Gulir identitas status padaku. Jadi aku menyimpannya ke dalam Tas Sihirku yang kemudian menghilang ke dalam bayangan.
Lalu, beberapa orang bergantian setelah aku selesai. Rico melewatiku, dia mengangguk padaku saat berpapasan.
"Hm.."
Tanpa pikir panjang, Aku langsung menuju ke rumahku.
.........
Dikatakan lebih baik tidak pulang.
Aku tengah duduk di kursi di alun-alun desa, tidak, sekarang adalah Kota.
Kota Konora.
Sejak pergantian kepala desa dan Ayah memimpin, sungguh aneh untukku berkata begini. Tapi benar-benar apa tidak masalah jika harus Ayah yang menjadi kepala desa, tidak penguasa kota Konora?
Mungkin iya, mungkin tidak.
Sejak saat itu, dia sibuk dan jarang terlihat keluyuran seperti biasa. Mungkin desakan ibu membuat Ayah menyerah dan akhirnya memimpin.
Karena Baron Santom, Desa Konora menjadi Kota dengan beberapa desa di satukan. Dari desa Simbus, Desa Karan dan Desa Sukie bergabung dengan Desa Konora yang lebih Makmur saat itu.
Alhasil, setelah pemungutan suara. Ayah lah yang menjadi pimpinan. Aku ingat wajah Ayah yang pucat, itu sangat menyenangkan.
Namun, karena hal itu juga. Aku ingat akan bencana yang akan datang, kehancuran yang tidak aku kira akan terjadi.
Itu adalah Mimpi buruk, aku harus secepatnya menjadi kuat dan mampu melawannya.
Orang itu..
Aku ingat saat dibunuh olehnya, sosok yang mengenakan jubah hitam..
"Sial.." Keluhku.
"Hm? Ren, sedang apa kamu di sini?"
Suara yang menawan dan lembut terdengar di depanku, aku mengangkat wajahku dan melihat sosok itu.
Gadis remaja dengan rambut merah oranye panjang dan mata biru cerah. Dia menatapku dengan penasaran.
Berparas cantik dengan tubuh ramping, dia memiliki aset yang besar dan terkadang bergoyang yang lumayan menggangguku.
"Lia," ucapku padanya.
"Apa berkah Kedewasaanmu sudah, Ren?"
Aku mengangguk, dia tersenyum dan duduk di sampingku.
"Heh~.. Aku masih satu tahun lagi.. Uhh.." ucapnya cemberut.
"Apa Lia sudah tidak sabar?" tanyaku meliriknya.
"Tidak, hanya saja.. Apa Ren akan pergi setelah ini? Seperti yang biasa kau katakan. Aku akan berpetualang di luar sana dan mengelilingi dunia, seperti itu," ucapnya santai.
"Haha.. Kayaknya, aku juga tidak terlalu yakin."
Benar, itu hanya mimpi lamaku.
"Apa tidak?"
"Tidak, aku tetaplah pergi," ucapku tersenyum.
Menjadi kuat tidak lah diam di satu tempat, aku perlu merantau dan meningkatkan skillku di luar sana. Keyakinanku sudah bulat dan tidak akan berubah.
"Hei, apa aku bisa melihat Statusmu Ren?" ucapnya melihatku berbinar-binar dengan semangat.
"Hm? Iya, tentu.." ucapku tidak masalah.
Walaupun Status itu sangat pribadi dan tidak baik di umbarkan pada siapapun. Tapi, Lia tidaklah menjadi masalah.
Aku mengambil Gulir statusku dan memperlihatkannya.
Saat dia melihatnya, dia tertegun.
"Hebat! Bukankah ini sudah setingkat Rank C atau B??"
Aku mengangguk setuju.
Apa yang di maksud Lia adalah Rank dari kekuatan para petualang dan rata-rata Level.
Dalam Level ku, Level 40 adalah Level yang setingkat Rank B atau kurang.
Karenanya itu normal untuk orang awam terkejut.
Apalagi gadis ini sudah memiliki pengetahuan mengenai Rank dariku dan Flam.
"Muhh.. Aku ingin tahu levelku.." ucap Lia cemberut dan mengembungkan pipinya.
Aku tertawa melihatnya, dia begitu lucu di usianya sekarang.
Sejak umur 14 tahun, Lia terlihat lebih kalem dan tidak mudah terpicu amarah. Itulah perbedaan yang terlihat darinya, tapi sekarang aku lebih sering melihatnya bertingkah lucu dan imut.
Untuk alasan apa dia bersikap seperti itu, tapi dia menjadi lebih baik padaku. Jadi itu bagus untukku.
"Ah, benar.. Ren, apa kau akan datang ke kedaiku? Ada acara besar untuk perayaan Remaja yang sudah dewasa!" ucapnya dengan senang.
"Oh.. Benar.. ada itu ya.." ucapku ragu.
Itu membuatku teringat akan mimpi buruk, di waktu acara yang dulu pernah aku rasakan.
Sangat menyebalkan untuk mengingatnya, karena aku mudah mabuk dengan cepat dan itu menyakitkan karena ketika bangun aku ingat bertingkah menyedihkan di acaranya.
Walaupun kawan-kawan yang sama denganku juga mengalaminya, mimpi buruk di atas menjadi dewasa itu.. Ugh..
Aku rasa aku harus menolaknya.
"Kudengar Ayahmu yang memimpin di sana," ucapnya melirikku.
"Ugh.." Dari yang dia katakan, sepertinya aku harus datang. Anak dari pemimpin kota tidak datang akan menjadi buah bibir tidak baik dan Ibu akan marah padaku karena bersikap seperti itu.
"Datang, kan?" ucapnya mengodaku.
Aku hanya tersenyum kecut dan mengangguk.
"Iya deh.. Kenapa kau bersemangat begitu?"
"Hehe.. Aku juga mau menco-.."
"Tidak ada alkohol untukmu," protesku.
"Eh!?"
"Tunggu setahun dulu," tambahku menatapnya tajam.
"Ugh.. Beneran deh.. Bukannya itu acara minum-minum??" ucapnya cemberut.
"Tidak untukmu."
Dia mengembungkan pipinya dengan kesal, aku menusuk pipinya karena itu lucu.
"Muhh.. Ren, akan aku pastikan aku akan minum!" Teriaknya.
"Tidak akan aku biarkan."
Kami saling melotot satu sama lain, lalu senyum kecil terbentuk dari kami.
"Puh.. Hahaha!"
"Hahaha!!"
Kami tertawa bersama.
"Hahaha.." Tetap aku tidak akan membiarkannya.
.........
Acara pesta diadakan di kedai Killer Rabbit dan akan dimulai di malam hari setelah matahari terbenam.
Jadi waktu acara masihlah lama, karenanya aku berpisah dengan Lia yang bergegas ke kedai untuk mendekorasi tempatnya.
Sekarang aku kembali ke rumah dan di luar rumah, ada Ibu yang menungguku.
Sepertinya dia sudah lama menunggu.
"Kemana saja, Ren?" tanyanya menatapku tajam.
"Eh, ya.. Aku baru selesai," ucapku tersenyum.
"Begitukah. Lalu ayo masuk, Ibu ingin lihat status dan berkahmu, Ren!"
"Iya, Ayo.." Lalu, Aku memasuki rumah dan menuju ke ruang tamu.
Di sana ada Ayah yang menyilangkan tangan duduk di atas karpet. Kemudian Ibu duduk di sofa dan aku di sampingnya.
Ayah terkejut dan langsung duduk di sofa di seberang kami.
"Ahem.. Jadi perlihatkan hasil Statusmu pada kami," Ucap Ayah dengan nada serius.
Aku dengan santai mengeluarkan Gulir status.
"Ini," ucapku.
Ibu dan Ayah membukanya dan lalu menyimaknya.
"!?"
"Ara~.."
Ayah terkejut dan wajahnya kaku seakan disiram air dingin, sedangkan Ibu terlihat senang.
"Tidak mungkin.. Ren.." Ayah melihatku seperti melihat orang lain.
"Ayah.. Apa maksudmu?" ucapku dengan wajah bermasalah.
"Aku tidak melihatmu sebentar dan sekarang kau setingkatku.. Tidak mungkin.."
"Bisa lupakan itu."
"Ken, Ren.. Bisa diam dulu. Lebih baik kita makan untuk merayakan Ren yang telah dewasa!"
"Ya!"
Ibu mengganti topik dan berdiri untuk mengambil berbagai makanan dari dapur dan meletakkannya di atas meja.
"Nenek!" Senka keluar dari bayangan Ibu dan mendekatinya dengan ceria.
"Ara~ ... Nenek sudah membawakan Senka sesuatu. Ambillah."
Apa yang Ibu berikan adalah sepiring kue coklat kering.
"Kue!" Senka memakan kue yang Ibu berikan dengan lahap.
Sekarang Senka sudah setinggi anak usia 10 tahun lebih dan dia sudah seperti anak Ibu dan Ayah daripada anakku sendiri. Yah bagaimana tidak, kalau Remaja berusia 16 tahun memiliki anak dengan usia 10 tahun. Bukankah itu aneh?
Tapi, kami tidak memikirkannya dan tetap melanjutkan makan bersama.
Lalu, Ayah bertanya dengan serius, "Sejak kapan kau menjadi petualang?" ucapnya menatapku tajam.
"Eh? Bukankah aku pernah memberitahu Ayah aku dulu menjadi petualang?"
"Tidak pernah, kapan!"
"Saat ke Kota Magna."
Wajahnya tampak "Oh saat itu.." Lalu, berubah datar dan menghela nafas.
"...Lupakan, lanjutkan makannya."
Kami pun melanjutkan makan, sedangkan Senka dan Ibu makan bersama dengan ceria.
.........
Aku memasuki Kedai Killer Rabbit.
Di dalam ramai oleh orang-orang dan tentunya Ayah sebagai pemimpin kota turut datang untuk memeriahkan pesta kedewasaan tahun ini.
Walaupun aku setiap tahun di bulan Leden datang untuk merayakan pesta ini, tahun ini lebih meriah daripada sebelumnya.
"Pesta dibuka secara umum!" ucap Ayah yang langsung mengambil bir ditangannya.
Sekarang meriahnya acara telah berlangsung dan banyak orang-orang minum bir dan alkohol dengan lugas dan bebas.
"Yah, aku tidak akan terlalu lama di sini."
Karena sejak awal, Aku berencana untuk pulang lebih cepat hari ini dan itu juga karena Senka sedang di rumah menungguku dan Ayah untuk kembali. Ibu juga menjaganya di rumah.
Jadi aku perlu setidaknya meminum segelas dan pulang.
Lalu, ketika aku berjalan mencari kursi. Aku melihat dua orang yang kukenal dan mendekati keduanya; Doglass dan Rico yang sedang menatap bir di depan mereka.
"Tidak diminum?" ucapku mendekat.
"Oh Ren! Iya, akan aku minum!" Tanpa basa-basi Doglass meminumnya dan seketika dia pingsan.
"Gulp.. Gulp..." Dia meneguknya habis.
Buuk
Doglass pingsan saat itu juga, wajahnya tampak mabuk.
"...Akan aku bawa dia." Rico berinisiatif dan membawa Doglass ke ujung ruangan.
Jadi karena sudah tidak ada urusan di sana, aku pergi dan menemukan Lia dan Fiona, mereka melayani kedai dengan terampil.
"Hei Ren, kau datang juga," ucapnya melihatku.
"Begitulah.. Hm?" Aku melihat ke Fiona, gadis yang terlihat gelisah dan memerah di samping Lia.
"Yo Fiona," sapaku padanya.
"..." Dia tidak menjawab dan bersembunyi di belakang Lia.
"..?" Ehh..??
"Sudah jangan ganggu Fiona, lebih baik kau pergi minum di suatu tempat," ucapnya sebal.
"Heh.. Aku di sini tidak untuk minum," ucapku tersenyum.
"Lalu?"
"Melihat-lihat, siapa tahu ada gadis di bawah umur yang minum diam-diam," ucapku menggodanya.
"..Hee.. Apa memang ada?" balasnya tersenyum mengejek.
"Iya, kuharap tidak ada. Tapi mungkin saja, kan?" balasku.
"Hee..."
"Hmm.."
Kami saling melotot, di sisi lain Fiona panik dan menarik Lia.
"Kak Amelia, kita masih kerja.." ucapnya gelisah.
"Ah, iya.. Maaf Fiona, ayo bekerja," ucapnya meninggalkanku.
Lalu, dia pergi dan mulai bekerja mengantarkan pesanan dengan Fiona.
Aku menghela nafas dan hanya menatap mereka pergi. Jadi aku mencari kursi untukku duduk.
"Ah."
"Hm?" Saat aku duduk, ternyata Flam ada di sana. Dia meminum sesuatu.
"Apa yang kau minum, Flam?"
"Ini, jus jeruk," ucapnya menunjuk gelas berisi jus jeruk.
"Baik.."
Dia melanjutkan minum jusnya, aku sedikit canggung jika berurusan dengan Flam. Tapi tidak seperti dulu, aku bisa berinteraksi dengannya lebih baik.
Jadi karena ada waktu luang dari keramaian orang yang berpesta di sekitar.
Aku mengajaknya berbicara, tapi belum aku bisa ada orang lain duduk di meja kami.
"..." Kami memandang kedatangannya.
"...Bibi Tofan," ucapku.
"Jangan panggil aku begitu." Dia melotot padaku dengan pisau diacungkan.
"Bisa turunkan itu, Bi-.."
"Jangan."
"Gulp... Iya, Tofan," ucapku gugup.
"Bagus," ucapnya menurunkan pisau.
Akhirnya aku bisa bernafas lega dan Tofan hanya meminum gelas birnya dengan tenang.
Flam yang melihat interaksi kami memiringkan kepala dan bertanya, "Ren-kun dekat dengan Tofan-san?"
"Tidak juga," balasku spontan.
Tofan menatap sinis ke arah kami dan Flam mengangguk memahami.
"Um.. Aku akan pergi," ucapnya berdiri dari kursi.
"Huh? Kenapa?"
Flam menatapku lembut dan langsung pergi.
Aku sedikit heran, Tofan menarik telingaku tiba-tiba.
"Aw! Sakit."
Lalu, dia membisikan sesuatu padaku.
"..." Sepertinya aku yang salah, untuk berpikir dia pergi untuk urusan sehabis minum.
Jadi aku memesan bir.
Tofan pergi saat bir telah datang dan Lia lah yang membawakannya.
"Hoo, jadi mau minum ya.." ucapnya menatapku mengejek.
"..Kenapa kau diam di sini? Kerja sana.."
"Flam ikut membantu, jadi tidak apa kan aku istirahat dulu.." ucapnya yang duduk di kursi yang dulu di tempati Tofan.
Perlahan tangannya mencoba mengambil bir, jadi aku menepuk tangannya.
"Aduh, uuh.. bagi padaku.."
"Tidak, sudah kubilangkan.."
"Uuh.."
Walaupun aku berkata begitu, Aku sendiri ingin mencobanya juga. Umurku sudah di usia untuk itu.
"..." Aku mengambil gelasnya.
Tapi, itu berhenti di tangan dan tidak aku minum.
"Tidak diminum?" ucap Lia menatapku, dia tampak tersenyum.
Dia melirikku terus menerus yang sedikit menggangguku.
"Minum saja," ucapnya menggodaku.
"..." Aku masih menatap bir ku, ini sedikit berbahaya. Hanya dalam sekali minum, aku bisa menjadi liar dan bertingkah bodoh di sini. Ugh..
"Sepertinya, aku tidak jadi..." Aku melepas bir, tapi Lia tetap menggodaku.
"Minum saja. Apa susahnya, apa aku saja?'
"Tidak, aku akan minum." Karena tersulut olehnya, aku meneguk bir dalam sekali jalan.
Gulp.. Gulp.. Gulp..
"Hoo!" Dia melihatku takjub.
"..." Rasanya agak pahit kemasaman.
"Apa enak?"
"Uh.. iya.. hm? Kepalaku agak.." Rasanya memusingkan.
"Ren? Ren?" Lia tampak terkejut dan mendekatiku dengan panik.
"Aku.. Ah.." Kesadaranku perlahan memudar, aku bisa melihat wajah Lia yang khawatir.
Ugh.. Ini terjadi.. lagi..
.........
Perlahan aku membuka mataku..
"Uuh..?" Pikiranku sedikit kurang jernih dan melihat sekeliling ruanganku.
Aku mencoba duduk dan menyadari satu hal.
'Di mana pakaianku??'
Lalu, aku menyentuh sesuatu di sisiku.
"Mm.." erangan kecil terdengar di sampingku.
"..." Aku membeku di tempat, perasaan mengigil dan tidak mengerti tercampur aduk di situasiku sekarang.
Lia ada di samping ku tanpa busana.
"Sial.." Aku tidak bisa beralasan.
Lalu, layar itu muncul di depanku.
[ Gelar "One Who the Holy Priest (Future) Lover" ]
"...Ah." Aku mencoba berbaring dan melupakan apa yang terjadi. Perlahan aku mengingatnya..
.........
...[ Continued ]...