The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 08 - [ A Promise and First Winner Prize ]



...BAB 8 - SEBUAH JANJI DAN HADIAH PEMENANG PERTAMA...


...◇◇◇...


Waktu menjelang sore hari, Lia sudah bisa menguasai bagaimana cara kerja mana di tubuhnya.


Sekarang aku akan mengakhiri studi sihir hari ini dan pergi ke alun-alun desa.


"Oh, sudah waktunya.." Ucapku melihat matahari menjelang turun.


"Waktu apa?" Ucap Lia bertanya, dia sangat fokus sampai tidak menyadari berapa lama waktu yang dihabiskan.


"Festivalnya," Ucapku tegas.


"Ah, benar.." Ucap Lia yang baru mengingatnya.


Lia cemberut, tapi dia mencoba kembali tenang dan menatapku dengan wajah datar.


"Jadi kita pergi sekarang?" Ucapnya datar.


"Tentunya," Ucapku dengan pasti.


Lalu, ketika aku akan pergi. Dia menarik kerah belakangku.


"Apa?" Ucapku berbalik dan menatapnya.


Lia tersipu dan memainkan tangannya dengan malu dan berkata.


"Kau akan mengajariku sihir lagi, kan?" Ucapnya agak gelisah.


Aku mengangguk dengan santai.


"Janji?" Ucapnya dengan wajah ceria.


"Iya," Ucapku dengan pasti.


Melihat bakatnya, aku yakin Lia bisa dengan pasti mendapat nilai A jika ada di akademi sihir.


"Benarkah?" Ucapnya memastikan sekali lagi, wajahnya lebih cerah.


"Benar," Ucapku dengan tegas.


"Hmm.." Tapi dia terlihat tidak percaya.


Dia menatapku seakan tidak mempercayai apa yang aku katakan, apa segitunya aku tidak bisa dipercaya?


"Aku janji! Jadi kau bisa memegang perkataanku, Lia," Ucapku gelisah.


Apa aku di kenal buruk dalam berjanji?


"Baik, aku terima. Jadi kau harus ingat besok!" Ucapnya menunjuk ke wajahku, dia terlihat sangat senang.


Sepertinya Lia sangat menikmati belajar sihir.


"Tentu," Ucapku tersenyum senang.


"Kalau begitu, kita pergi!" Ucapnya ceria dan mulai berlari.


"Iya."


Lalu, aku mengikutinya di belakang.


Kemudian kami berdua menuju ke alun-alun desa tempat Festival akan dimulai lagi.


.........


Kami sampai di alun-alun desa dan penuh dengan orang-orang.


Tempat Festival ramai oleh orang-orang.


Hampir semua penduduk desa, pelancong dan pedagang berkerumun di dekat panggung acaranya.


Mengingatkanku dengan acara yang diadakan di Ibukota dulu. Kurasa tidak sebesar saat itu, tapi di sini sudah terbilang ramai dan penuh untuk seukuran desa besar.


"..." Aku diam menatap keramaian itu, Sial untukku.


"Wah! lihat itu, Ren!" Ucapnya dengan semangat.


"..?"


Lia melihat sekeliling dengan antusias dan menarikku bersamanya. Spontan Lia memegang tanganku, sepertinya dia tidak menyadarinya karena melihat ke depan sejak tadi.


Dia membuat jantungku berdetak sangat cepat saat dipegang olehnya, bisakah Lia mendengar suaranya?


Kemudian Lia dan aku berada di tengah kerumunan. Dia terlihat seperti sedang menunggu acara dimulai, Aku tersenyum santai lalu melihat ke keramaian yang tidak biasa di sekitar kami, hmm..


Bukankah dua hari yang lalu tidak seramai ini?


"Ada apa, Ren?" Ucap Lia menatapku yang bertingkah aneh. Kau tahu, aku sedikit lelah di sini. Ramai sekali..


"...Acaranya lebih ramai dari yang kukira.." Ucapku sedikit gugup, sebentar apa kau mau memegang tanganku terus?


"Bukankah sudah jelas? Hadiah utamanya kan, itu?" Ucap Lia menatap sinis ke depan.


"Uh, yah.. benar juga, hadiahnya itu ya.." Ucapku mengalihkan wajahku.


Untuk berpikir aku melupakan hadiah juara satu yang tidak biasa itu, sudah pasti ramai, bukan?


..Tapi, seharusnya itu sudah jelas.


Karena bukankah "itu" menjadi hadiah yang agak kurang menantang?


Kau tahu, aku tidak berniat untuk menjadi juara satu. Tapi hanya untuk menilai seberapa banyak aku berkembang dan keingintahuanku saja akan event satu ini, itu saja yang ingin kuraih tidak lebih.


Karena saat dulu aku tidak mau ikut dengan festival ini, acara bernama "Hunting Festival" itu melelahkan dan hadiahnya kurang menarik. Inilah alasan kenapa dulu aku merasa lebih baik berburu untuk makan daripada berlomba yang melelahkan.


Tapi.. sekarang, walaupun hadiahnya tetap tidak menarik. Aku tetap ikut. Kenapa? Karena untuk melihat perkembanganku saja. Aku mengulangi kedua kalinya, bukan karena hadiah "itu" tapi karena aku ingin melihat seberapa berkembangnya aku. Yah, itu saja.


"..." Sepertinya aku perlu memberitahunya, sejak tadi kami berpegangan tangan..


Sejak aku kembali ke masa ini, aku ingin berkembang melebihi waktu di mana dulu aku tidak berkembang. Tujuanku yang jelas adalah melampaui diriku yang menetap di Rank C dan melebihinya, lalu melawan orang itu tentunya.


Orang itu.. Yah, aku harus..


"Hei, kenapa kau melamun?" Ucap Lia menatapku.


"Uh, tidak ada apa-apa.." Ucapku agak gugup. Sebentar, apa kau tidak menyadari tanganmu masih berpegangan denganku?


Lia menatapku datar dan kembali fokus ke panggung acara. Sepertinya Pembawa Acara ingin memberitahu pemenangnya. Sudahlah, lebih baik aku menikmati acara dan pegangan tangan.


"Hadirin sekalian, terima kasih telah datang di acara tahun ini!! Kalian pasti penasaran siapa pemenang kita tahun ini!!" Ucap Pembawa Acara dengan meriah.


""Yaa!!"" Sontak sederet penonton berteriak, kemungkinan ada juga peserta yang berteriak di dalamnya termasuk Ayah dan aku.


"Pastinya aku yang juara satu!!" Ucap orang A.


"Tentu saja aku yang juara satu!" Ucap orang B.


"Aku!!" Ucap Orang F.


""Aku!"" Ucap beberapa orang bersamaan.


"Stop! Jangan bertengkar! Pemenang hanya satu! Tapi! Kita akan menyebutkan juara 3 dan 2 tentunya! Kalian juga pasti tahu hadiah juara 2 dan 3, kan!" Ucap Pembawa Acara dengan meriah, sungguh sangat antusiasnya orang ini.


Mereka mengangguk serentak dan mulai memperhatikan Pembawa Acara sekali lagi. Walaupun ada orang yang santai dan ingin ini berakhir dengan cepat, tentunya itu aku.


"Hadiah juara 3, Sekeranjang buah-buahan yang mampu bertahan 2 bulan dari kebun Thomas Alva! Aku akan memanggil juara ke 3! Tofan kyuciose!"


Pembawa Acara memanggil nama seorang Pria..


Orang yang dipanggil datang dan naik ke atas panggung, tentunya dia... Seorang wanita. Wanita?


"Siapa tadi?" Ucapku bingung.


"Apa kau tidak dengar? Dia Tofan, Petualang Rank C yang sering datang ke desa untuk Quest pemberantasan Monster di luar desa. Ku yakin nama panggilannya, The Boring white," Ucap Lia dengan semangat.


"Wah, begitu ya," Ucapku mengingat orang itu.


Aku baru ingat, ada seseorang bernama seperti itu. Tapi mengingat panggilan yang menyakitkan itu, sepertinya memang benar dia ya..


Lalu Pembawa Acara memanggil juara ke 2.


"Juara ke 2 adalah........." Pembawa Acara diam seakan mencoba menegangkan suasana.


""......"" Benar seperti yang diharapkan, semuanya bersitegang menunggu nama juara kedua disebut.


Semua orang menunggu dengan tenang juga menelan ludah untuk menunggu siapa juara ke 2. Walaupun aku rasa juara 1 saja yang perlu seperti ini tapi kenapa harus juara 2 yang membuat acara lama??


Butuh 1 menit kurang dalam keheningan untuk membuat Pembawa Acara berbicara lagi.


"Daken Maulana!"


Ayahku?? Aku pikir dia juara 1? Bukankah sudah jelas? Dia paling kuat di desa..


"Tidak biasa.." Ucap Lia heran.


"Ada apa?" Aku bingung mendengar gumamannya.


"Tidak, kukira ayahmu yang akan juara 1. Dia kan sangat bersemangat dengan hadiah "itu"..?" Ucap Lia bingung.


"Jangan ungkit itu lagi.. haa.. benar, seharusnya dia juara 1.." Ucapku menghela nafas berat, omong-omong gadis ini tidak merasa kalau kami masih berpegangan tangan?


"Haa.. Leganya," Ucap seseorang disebelahku, tampak banyak yang sama puas dengannya.


Kenapa seperti itu? Juara 2 mendapat peringkat hadiah yang tidak ingin mendapatkannya, tapi hadiahnya itu loh "Masakan Buatan Bibi Ryuela."


Aku sangat prihatin dengan Ayah, dia tidak suka dengan makanannya dan sering menjebakku makan makanan itu. Sungguh sebuah neraka.


Lihat, wajah ayah memucat. Aku mendoakan yang terbaik untuk Ayah..


"Jadi siapa juara 1 nya, Lia?" Tanyaku.


"Tidak tahu.." Lia menggelengkan kepala.


Walaupun Lia terlihat penasaran, dia juga tidak terlalu peduli. Karena dia yakin siapa saja yang dapat itu tidak masalah. Hanya aku akan bermasalah jika aku yang mendapatkannya..


"Ren Maulana!" Suara nyaring terdengar di depanku.


"Haii? Apa?" Aku kebingungan. Ada yang memanggilku?


Siapa yang memanggilku?


Lia menatapku kaget.


"Apa? Aku?" Aku heran. Ah, dia melepas tanganku. Walaupun dia kaget, wajahnya memerah seakan malu. Sebentar..


Dia agak bingung, tapi semua tatap mata penduduk mengarah kearahku dengan aura penuh intimidasi. Lalu pedagang dan pelancong yang di sekitar ikut penasaran yang kemudian melihat ke tempatku. Sepertinya aku dalam bahaya?


"...Umm? Lia, apa aku dalam masalah?" Tanyaku ke gadis yang memerah itu.


Dia mengangguk.


Gulp.. apa aku juara ke-1? I'm in danger.


"Ren Maulana, sebagai juara ke-1. Naiklah ke panggung!" Ucap Pembawa Acara dengan meriah.


Aku tahu itu! Jangan berteriak juga Pembawa Acara?!


Aku dengan terpaksa naik ke atas panggung.


Sungguh, apa alasan yang membuatku menjadi juara ke 1??


Di atas panggung, ada beberapa orang dan Pembawa Acara.


Gulp..


.........


Ibu yang menonton acara terlihat lega melihat aku yang menjadi juara 1 bukan ayah, seakan aku yang menggantikan ayah adalah suatu kelegaan untuknya. Ibu?!


Aku merinding, karena ditatap banyak orang. Apa benar aku juara 1??


Ayah disampingku berbisik.


"Kau bisa bergantian dengan ayah kok," Ucap Ayah serius.


"Lebih baik, tidak ayah.. kau hanya ingin aku keracunan.." Ucapku dengan wajah jengkel.


"Tidak! Aku.." Sepertinya benar.


Ibu menatap ayah dan aku. Itu membuat kami merinding. "!?!?!" Perasaan kami sama, Aku dan Ayah merasa punggung kami menjadi dingin.


Karenanya, kami berdua diam membisu seperti wanita yang diam sejak tadi di samping kami. Dia terlihat bosan dan hanya memandang ke depan seakan menunggu ini selesai. Juga Wanita itu menguap sambil memegang keranjang juara 3.


Dia memiliki tinggi yang sama denganku, kurasa tinggi 5 kaki itu sudah terbilang tinggi untuk wanita seusianya.


"Poin yang telah kami akumulasi adalah seperti ini!! Tofan dengan 280 poin! Daken dengan 310 poin!! Lalu juara 1, Ren dengan 780 poin!! Itu adalah nilai tertinggi dari semuanya!! Sepertinya Ren sangat ingin hadiah pertama!!" Ucap Pembawa Acara dengan menekankan yang terakhir. Kenapa??


Tidak tidak tidak!!! Apa maksudnya itu?!


Mata Lia menggelap menatapku. Heeeeeikk?!


Apa yang terjadi?! Aku menatap ke ayah..


"Nak, ayah memberimu tambahan. Tapi ternyata ayah kalah.. Haha.." Ucap Ayah mencoba mencairkan suasana. Tapi itu sangat tidak berhasil.


Aku sangat ingin memukulnya sekarang!!


"Hadiah akan dibagikan!! Terutama Ren! Kau akan mendapatkannya setelah ini!!" Ucap Pembawa Acara dengan tersenyum.


Kurasa aku diberi cobaan.. besar..


Lalu hadiah juara 1 datang. Tentunya "itu".


"Selamat untukmu, Ren-sama," Ucap seorang gadis muda yang sangat cantik.


Ugh.. Serius..


.........


...[ Continued ]...