
...BAB 12.5 - A FATHER'S WORRY...
...◇◇◇...
...《POV Daken Maulana》...
Ini adalah hari setelah aku memakan masakan yang hampir membunuhku.
"Ugh.. Sayang, rasanya tidak enak. Kenapa juga kau campurkan ke makananku??"
"Akan sangat di sayangkan kalo dibuat, tapi tidak di makan, jadi Ken yang memakannya saja. Bukannya itu hadiah Juara 2 mu?" Ucapnya dengan menekan kata "Juara 2"
"..Gulp."
Seperti biasa auranya sangat menakutkan.
Aku menelan ludah dan mencoba memasukkan sesendok sup itu. Tampak senyuman di wajah Rima saat menatapku.
Dia tidak ingin aku menolaknya.
"Sa-sayang, aku akan makan nanti. Jadi a-.."
Baak!
"Se-ka-rang," Ucapnya menusuk Garpu ke meja.
"Baik.." Ucapku pasrah.
.........
"Uheeek.."
Tidak enak..
Aku berjalan keluar dari rumah dengan perasaan pahit di tenggorakan.
Beruntung aku diberi penawar sesudah makan, sepertinya benar ada racun dimakanannya.
Hadiah Juara kedua.. Ugh.. Makanan pembunuh.
"Haa.."
Seharusnya aku tidak memberikan buruanku ke Ren, dia mendapat poin yang begitu banyak.
Kupikir akan bertambah beberapa, tapi untuk berpikir dua kali dari jumlah poinku.
Seperti yang bisa diharapkan dari putraku. Dia punya bakat Sepertiku!
Yah, padahal dia sangat tidak ingin belajar berpedang sejak kecil.
Kenapa dia baru ingin berlatih pedang sekarang? Walaupun aku pernah menawarkannya untuk diajari, tapi dia menolaknya dan berkata "Tidak! aku sudah bisa!" Begitu.
Apa dia mengejek seni pedang, kalau itu mudah? Memang anak kecil tidak tahu namanya usaha keras dalam melatih pedang.
Namun, selama dua minggu itu. Aku menyadari bakatnya dan bagaimana tekniknya semakin terasah dan berkembang.
Itu membuatku bersemangat dan tak sabar melatihnya.
"Yah.. Aku harus menunggu besok untuk itu," Ucapku tertawa kaku.
Nah, aku juga berencana pergi lagi. Hari ini akan menjadi hari besar dan pesta setelah Festival.
Kuharap aku bisa bertahan sampai besok!
"Daken! Cepat, Pesta akan dimulai!"
"Ya! aku ke sana!"
Lalu aku masuk ke rumah kepala desa untuk merayakan akhir dari Festival Berburu.
.........
"..Ugh."
Aku terlalu banyak minum-minum, kepalaku agak sakit.
Sudah pagi hari lagi, aku merasa mengantuk dan sedikit pusing ketika bangun.
Aku malas untuk bergerak.
Namun, aku tetap harus pergi. Jika tidak, mungkin Rima marah karena begitu buruknya aku ketika berjanji akan kembali dari pesta saat malam hari lalu.
"Haa.."
Jadi dengan lesuh aku keluar dari ruangan yang berantakan oleh banyak orang yang tidur karena mabuk.
Tampak Putri kepala desa yang kesal menatap ke ayahnya dan teman-temannya.
"Leona, aku pergi dulu.. Hahaha.."
Dia dengan jutek mengangguk dan mendekati ayahnya. Mungkin, Kepala desa akan menerima omelan yang menakutkan.
Jadi aku bergegas sebelum menjadi ramai.
.........
"Aku pulang.. Hoaam.." Ucapku agak mengantuk.
"Ken! Gawat!"
"Uh? Huh??"
Sesaat aku datang, aku melihat Rima dengan wajah ketakutan.
Tidak biasa, Rima seperti itu.
"Ada apa?" Ucapku bertanya.
"Ren! Ren menghilang!"
"Apa??"
Anak itu?? Dia menghilang??
"Kenapa bisa?"
"Jangan banyak tanya! Sejak malam dia sudah tidak ada, hari ini juga!"
"Tidak perlu khawatir. Dia pasti akan pulang, mungkin sedang menginap dengan temannya," Ucapku masa bodo. Jadi aku naik ke lantai dua untuk tidur.
"Ken!"
Meninggalkan Rima yang tampak khawatir.
Ren, dia anakku. aku yakin dia akan baik-baik saja.
.........
Esoknya..
Dia tetap tidak ada.
Rima memintaku mencarinya, aku menjadi curiga dan mulai mencari anak itu.
"Nak, kau di mana sebenarnya??" Keluhku.
Tidak biasanya dia tidak pulang ke rumah dan sampai dua hari.
Jadi aku mendatangi rumah teman-temannya.
Namun, Ren tidak pernah menginap dengan mereka.
Ketakutan menyelimutiku.
"Tidak mungkin, apa dia kabur dari rumah? Kenapa??"
Ini tidak bisa dibiarkan.
Aku mulai mencari dan bertanya ke penduduk desa yang lain, sampai ke kepala desa.
"Di mana dia.."
Mungkinkah..
"Sepertinya dia ada di luar desa," Ucapku gelisah.
"Pak, Apa kau melihat Ren?"
Sesaat aku melewati penginapan milik keluarga Urona.
Amelia urona, anak Pria itu ada di depanku dan menanyakan mengenai Ren.
"Amelia, Apa kau tidak tahu Ren di mana?"
"Maksud, bapak?"
"Dia menghilang, jika kau tahu keberadaannya beritahu aku dan Rima. Aku akan pergi mencarinya!"
Jadi aku meninggalkan gadis kecil itu dan mencari Ren.
'Sial, di mana kamu Nak..'
.........
...[ Fin ]...