
...BAB 40.5 - AN ORDINARY DAY IN KONORA VILLAGE...
...◇◇◇...
Pada Tahun 879, Hari Senin di bulan Leden (879.01.20)
Aku rutin beraktivitas olahraga dan berpedang, juga meningkatkan Sihirku.
Sejak sekembali aku dari Mansion Duke, banyak pertanyaan dari Keluarga dan kerabatku mengenai kepergianku ke Kota Magna.
Tentunya, jawaban yang bisa aku katakan adalah "Menantang dan Menyenangkan."
Bukannya aku tidak mengakui kalau aku sudah menjadi Petualang, tapi hal seperti sudah menjadi petualang sebelum Dewasa adalah topik yang sensitif.
Terutama aku, Ayah saja menjadi Petualang di usia 20 tahun dan artinya dia barulah berniat menjadi petualang di usia di mana keberlangsungan hidupnya tinggi.
Namun, hal yang berbeda dari biasanya adalah Amelia dan Flam.
Mereka menatapku dalam diam, aku tidak terlalu terganggu dengan apa yang mereka lakukan. Tapi, jika mereka rajin melakukannya setiap kali aku berlatih di lapangan.
Jujur, agak meresahkan.
Saat aku tanya, Amelia hanya "Hmph, jangan ganggu kami." Dan Flam tersenyum di sampingnya.
Aku sangat penasaran apa yang membuat mereka bertingkah seperti itu.
"Papa! Senka membawa Belalang!" Teriaknya ceria.
Hanya Senka saja yang menghangatkan hatiku, lihat saja dia sekarang mengambil serangga untukku.
Yah, serangga.
Bentuknya hitam, memiliki cakar yang terlihat menyakitkan dan ukurannya seperti kucing.
Apa benar ini belalang?
[ Vengeful Grasshopper ]
Kurasa jawabannya, Iya.
Lalu, hariku berakhir dengan latihan hingga sore harinya. Senka masih bermain-main di sekitar lapangan saat itu.
"Latihan," ucap Amelia, matanya membara dengan semangat saat mengatakannya.
"Sihir!" ucap Flam di sampingnya.
"Ini sudah mau malam," ucapku padanya.
'Ugh.. Melihat keduanya membuatku gelisah. Apa mereka menunggu malam, hanya untuk studi sihir??'
Kurasa begitu.
Walaupun sebelumnya mereka tampak cuek dan mengabaikanku saat latihan pedang, mereka akan menjadi serasi dan memintaku melatih sihir.
Terutama Flam, dia sama bersemangatnya dengan Amelia mengenai sihir. Berbedanya, dia merasa sihir akan berguna untuknya saat berdagang.
Tidak seperti Amelia yang menggunakan sihir untuk Memasak dan kesenangannya (Aku pernah melihatnya tak sengaja membakar hutan saat bermain api).
Lalu, Hari itu di akhiri dengan pelajaran sihir lainnya. Mereka senang dan aku tenang.
"Lia, aku akan-.."
"Hmph, Ayo pulang Flam!"
"Iya."
Sebelum aku bisa berkata, mereka sudah pergi.
"Padahal, aku berencana pergi ke dalam hutan Besok. Sudahlah, aku akan pulang juga. Ayo Senka."
"Myu! Ayo!"
.........
Esok harinya.
Sylphy, Roh Angin sedang duduk di atas batu besar.
"Tuan, apa yang kau ingin aku lakukan?" ucapnya agak malas.
"Bersihkan sekitaran sini."
Aku menunjuk lapangan yang di penuhi rerumputan panjang.
Rencananya, aku ingin menanam tanaman di sini. Karena aku membeli bibit di Kota Magna sebelumnya, jadi aku ingin mencoba menanamnya.
"..." Roh itu melihatku dengan tatapan enggan.
"Lakukan, potong semuanya. Aku ingin membuat pertanian," ucapku sekali lagi.
"..." Dia masih enggan melakukannya.
Aku menyentuh dahinya, seketika wajahnya memucat.
"Nightma-.."
"Baik! Baik! Aku hanya perlu memotongnya, kan! Akan aku lakukan!!" Roh itu bergegas dan dengan cepat rerumputan menghilang dan menyisakan satu petak lahan yang bisa menjadi tempat pertanianku.
"Hah?"
"Lakukan."
"Baik.. Baik.. Aku akan menjadi Petani, ok?" ucapnya tersenyum kecut.
Sylphy dengan sabar mengarap tanah dengan sihirnya, untuk suatu alasan dia membuat angin mengarap tanah. Hal yang magis.
"Sudah, apa aku boleh pergi?"
"Ada lagi, ini. Bibit-bibit ini kau masukkan setiap petaknya," ucapku melempar sekantung bibit padanya dan ia langsung menangkapnya.
"..." Dia melihat bibit itu dengan enggan.
"N."
"Baik, Tuan." Dia melakukannya seperti yang aku minta.
Lalu, tanpa aku minta, dia menyirami tanamannya, membuat pagar, membersihkan sekitar pertanian dan berbagai hal yang berkaitan pertanian.
"Hmm.."
"Ha.. ha.. Puas?" Tanyanya kelelahan.
"Bagus. Kau bisa pulang," ucapku mengangguk senang.
"Akhirnya! Yaay!" Slyphy menghilang dalam sekejap.
Aku tersenyum dan berkata pelan, "Mungkin, Roh itu bisa berguna lebih dari ini. Mwahahaha.."
"Hahaha!" Senka ikut tertawa di sampingku.
Besoknya, Aku membuat Roh itu dengan resmi menjadi Petani di ladang itu.
.........
Hari-hari biasa dan tidak ada yang aneh.
Tatapan Amelia dan Flam tidak seperti sebelumnya, mereka terkadang pergi meninggalkanku sendiri.
Senka mereka bawa.
Begitu sakit saat aku harus jauh dari Senka. Ugh..
"Lalu.. Kenapa aku di sini?" ucap Sylphy menatapku cemberut.
"Temani aku."
"...Baiklah." Roh itu duduk di atas batu dan menatap bosan padaku yang melatih pedang.
Setiap hari, kerjaanku kalau tidak Berburu adalah latihan dan terutama jika pedang aku hanya mengayungkan pedangku sampai sore hari.
Tidak lebih tidak kurang. Sihir terkadang aku latih di malam harinya atau Pagi hari sebelum Berburu.
Kemudian, waktu berlalu begitu saja..
"...Bisa aku pergi?"
"N."
"..." Dia tidak berencana pergi sampai Sore harinya.
.........
...[ Fin ]...
Note : Kalender Dunia (Morfus) di cerita ini memakai kalender biasa, dengan bahasa Ceko. Seperti :
[ Januari : leden ]
[ Februari : únor ]
[ Maret : březen ]
[ April : duben ]
[ Mei : květen ]
[ Juni : červen ]
[ Juli : červenec ]
[ Agustus : srpen ]
[ September : září ]
[ Oktober : říjen ]
[ November : listopad ]
[ Desember : prosinec ]
Kalender menurut bahasa Ceska (Ceko)