
...BAB 37 - PENYELAMATAN DUKE (1)...
...◇◇◇...
Cuaca yang mendung membuat perjalanan ke hutan Alta sedikit terganggu.
Apalagi hutan dipenuhi kabut dan jarak pandang yang terlalu sulit untuk melihat apa yang di depan kami.
Ini situasi yang tidak biasa, sebelumnya kabut tidak ada.
"Apa Hutan Alta biasa seperti ini? Penuh dengan kabut?" ucapku agak heran, aku memang pernah dengar kalau Hutan Alta terkadang berkabut.
Tapi untuk kabut selebat ini..
"Biasanya, di bulan ini tidak terlalu sepekat itu. Kemungkinan ada campuran sihir, terutama sihir udara atau air," ucap Joseph menganalisa sekitar.
"Begitukah.."
Sepertinya aku harus waspada dengan sekitarku.
'Senka.'
'Myu, Papa?'
'Cek sekitar, apa ada Monster atau hewan buas di sekeliling kita.' ucapku telepati.
'Baik!'
Setelah mengatakannya, Senka pergi ke dalam bayangan Hutan dan menghilang ke dalam kegelapan.
"Tofan, Aku ingin bicara," ucapku menghampirinya di belakangku.
Dia menaiki kuda coklat dan mengendarainya dengan perlahan. Lalu, ketika aku sudah di dekatnya, dia melihat ke arahku dan memasang wajah datar.
"Apa?" ucapnya datar.
Aku mendekati ke sisinya, Kuda hitam yang kunaiki perlahan bergerak menyesuaikan kuda Tofan.
"Ini tentang kenapa kau di Hutan Alta," ucapku.
"Iya, apa?" Tanyanya datar.
Terlihat dari wajahnya, dia tidak mencoba untuk berbicara lebih dengan lawan bicaranya.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan di hutan ini?"
"Hmm.. Tidak ada, aku hanya lewat saja."
"Baik.. lalu bisa jelaskan, kenapa kau tidak ikut membantu? Jika aku ingat, kekuatanmu sepadan dengan Monster Rank A ke atas," ucapku menatap lurus ke jalan.
"Tidak ada yang khusus. Aku hanya dimintai mereka untuk mengirim surat, jadi kurasa aku bisa membantu jika hanya itu," ucapnya datar.
"..."
Apa dia akan melakukan sesuatu yang lain, jika mereka memintanya untuk membantu melawan musuh itu daripada mengirimkan surat? Juga, mungkin karena dia seorang Wanita makanya lebih baik memintanya mengantarkan surat daripada bertarung.
Mungkin begitu, tapi ada yang membuatku penasaran.
"Tofan, seperti apa orang yang menyerang Duke?"
Dia menatapku sebentar dan memandang ke depan, seakan baru mengingatnya.
Dia berkata dengan wajah datar.
"Hmm.. Ada 3 orang dewasa dan seorang gadis muda," ucapnya berpikir.
"Seorang gadis?" Apa yang dia katakan menarikku untuk bertanya.
"Iya, dia memiliki rambut putih.. atau perak ya?" ucapnya meraba rambut putihnya.
Hm?
Tunggu..
"Apa dia terlihat seperti.. Vampir?"
"Vampir? Kurasa."
"..."
Walaupun aku tidak terlalu yakin, tapi kemungkinan yang Tofan maksudkan adalah gadis itu.
Lalu untuk ketiganya, aku mengingat beberapa orang. Hanya untuk Apa menyerang Duke sekarang?
"Apa itu saja?" ucapnya seperti ingin mengakhiri pembicaraan.
"Iya."
Setelah itu Tofan membuat kudanya berjalan lebih cepat, memberiku ruang di samping kudaku.
Baiklah, lebih baik aku fokus untuk sekarang. Jika apa yang kupikirkan benar, maka aku hanya harus menghadapinya.
'Papa.' panggilnya.
'Senka? Apa ada Monster di sekitar?'
"Myu, tidak ada Papa.'
Aneh, aku yakin kalau Monster atau Hewan biasanya berkeliaran jika di dalam hutan.
Kemudian aku menghampiri Joseph dan menanyainya tentang kondisi Aneh ini.
"Kondisi hutan? Memang, agak aneh. Tapi yang bisa kita lakukan hanyalah tetap waspada."
Joseph memintaku untuk tidak menurunkan penjagaanku, dan dia melaju cepat.
Tofan menjadi petunjuk jalan di depan.
Dia sepertinya ingin menyelesaikan ini dengan cepat.
Jadi kami bergegas ke tempat Duke berada.
.........
Aku lupa karena sekarang informasi dari layar yang terkadang muncul tidak aku pedulikan.
Sekarang ada layar Quest baru dari permintaan Rosaline.
[ Quest Langka #3 "Selamatkan Duke Arcane! Penyerangan tak terduga dan Ambisi misterius." Diterima. ]
[ Info Quest : Duke Arcane telah di serang oleh sekelompok orang misterius. Karena kekhawatiran Rosaline, bala bantuan dikerahkan. Selamatkan Duke Arcane dari kelompok tersebut! ]
[ Reward : EXP Level, Magic Item dan Affections Rosaline ]
Hadiahnya menggiurkan, tapi Affection lagi..
Sudahlah, aku tinggal menyelamatkan Duke agar Quest ini selesai.
Lalu, kabut mulai sedikit di depan kami.
Suara sekitar masihlah sunyi, tapi Tofan mendekati aku dan Joseph.
"Tidak jauh dari sini, belok kanan tempat terakhir aku diminta ksatria dan Duke," ucapnya menunjuk di depan persimpangan jalan.
"Baik. Prajurit percepat!"
""Iya!!""
Kami mulai mempercepat pergerakan ke lokasi.
Tak lama, kami sampai di lokasi.
Daerah hampir sama seperti yang kami lewati, sedikit berlumpur dan gelap. Rerumputan terlihat banyak bekas kaki dan sekitar terlihat berantakan seakan ada pertarungan.
Jadi apa yang Tofan sampaikan benar, Duke dan bawahannya telah diserang di sini.
Haruskah mereka?
"Tuan Ren, bagaimana menurutmu?" Joseph mendekatiku dan bertanya.
Aku berpikir sebentar.
"Apa kau ingat yang pernah menyerangmu di gua bandit?"
"Tentu saja, aku punya hutang dengannya," ucapnya sedikit kesal.
"Haha.. Jadi dari yang aku kira, musuh yang menyerang Duke sama seperti yang menyerangmu. Walaupun ada anggota lain yang ikut menyerang," ucapku serius.
"Jadi benar begitu, Prajurit bersiaga! Waspada sekitar, lawan cenderung menyerang saat kita berpisah. Berkumpul!" Teriaknya ke sekitar.
Dengan ketegasan dan kepemimpinan Joseph, para prajurit merapat. Aku dengan Tofan ikut merapat.
"Joseph, Tofan. Seharusnya dengan jejak sebanyak ini, kami mungkin melewati Duke dan yang lain," ucapku mengingat arah jalan kami.
Duke dan Bawahannya mungkin memilih melarikan diri dan menuju keluar hutan.
"Terutama tidak terlihat mayat atau bekas sihir di sekitar," ucapku menganalisa.
"Kalau yang Tofan sebutkan, apa tidak ada pertarungan sihir di sini?" Joseph agak bingung, karena dalam informasi Tofan menyebutkan Duke menggunakan sihir.
"Sihir? Sihir yang dia pakai tidak terlalu kuat dan sepertinya.." Tofan berpikir sebentar dan melanjutkan "Agak sihir dasar atau pemula."
Aku mengangguk, sesuai dugaanku. Kemungkinan Duke mencoba menjaga jarak dengan menghemat Mana.
Karena Duke termasuk penyihir hebat di abad ini, dia harusnya memiliki sihir setingkat Menengah atau Puncak. Aku yakin, penyerang berniat menangkapnya daripada membunuh Duke.
"Joseph dan Para ksatria. Kita mungkin harus masuk lebih dalam untuk menemukan Duke," ucapku dengan tenang.
Mereka mengangguk.
"Tofan dan aku akan memeriksa sekitar, lalu Joseph aku percaya kau bisa menjaga depan dan belakang kami," ucapku tegas.
"Iya, tentu saja!" Balas Joseph.
"Bagus. Lalu Tofan, Aku mengandalkanmu," ucapku kepadanya.
Dia mengangguk dan mulai meregangkan tubuhnya. Sepertinya dia benar-benar mencoba serius.
Jadi Tofan dan aku akan memeriksa sekitar hutan dengan Para ksatria jauh di depan dan belakang memantau dan menjaga kami.
Senka ikut membantu dan mencari apa ada Duke dan yang lain tidak jauh dari sini.
Namun, satu jam terlewati tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka.
"..."
Pencarian ini akan memakan waktu lebih lama dari yang kami duga.
"Ren," panggil Tofan mendekat.
"Iya?"
Tidak biasanya Tofan berbicara duluan, jadi aku menghampirinya.
"Lebih baik kami berpencar."
Memang ide yang bagus, tapi situasi kami yang terhimpit oleh kabut dan kewaspadaan akan musuh yang tak terlihat membuat opsi itu dihindari.
"Tapi Tofan.."
Aku ragu dengan pilihan itu.
"Berpencar," ucapnya tetap teguh.
Dia menyebutkan, kalau itu adalah cara terbaik untuk menemukannya.
Aku mengangguk.
"Baiklah, kurasa hanya itu pilihan yang kita punya.."
Jadi aku mendekati Joseph yang menjaga sekitaran.
"Joseph," panggilku menghampirinya.
"Iya, Tuan Ren?"
"Lakukan rencana B."
Aku mencoba terdengar keren, tapi memang benar kami ada rencana B.
Yaitu berpencar dan mencari dengan beberapa kelompok terpisah.
Jadi kami membuat 3 kelompok dengan masing-masing yang memimpin adalah Aku, Joseph dan Tofan.
"Ayo berpencar!"
"Ya!"
.........
Aku dengan 3 ksatria berjalan ke Barat.
Kami semua berjalan menyisiri pepohonan dan salah satu menyalakan obor karena gelapnya jarak pandang di hutan.
Walaupun, aku memiliki Senka yang memantau sekitar di kegelapan hutan.
Situasi masih misterius dan kami diharuskan menemukan Duke dan bawahannya, sebelum menjadi buruk.
"Pak, di sini tidak ada jejak kaki," ucap Ksatria yang mengintai di sekitaran timur.
"Tidak bagus."
Kami semakin kesulitan menemukan keberadaan Duke.
Lalu, di saat aku masih mencari.
Clang! Clash!
Suara keras terdengar tidak jauh di depan kami. Itu seperti suara sebuah pertarungan.
"Ke arah sana!"
"Ya!"
Dengan sigap kami bergegas ke lokasi suara.
'Senka, periksa apa yang ada di depan sana.' ucapku padanya.
'Baik!'
Senka maju mencari tahu apakah ada pertarungan di sana.
Tak butuh lama, kami sampai di lokasi.
Area di depan kami telah hancur di sebagian tempat dan Duke bersandar terluka di dekat tebing tidak jauh dari sana.
Empat orang yang di maksudkan Tofan terlihat, salah satunya dengan mengerikan mencoba membunuh Duke saat dia mengangkat Kapak ke arahnya.
Aku agak tertegun dan langsung menyiapkan pedang. Dengan gagah, aku melompat maju ke depan.
"Tak akan kubiarkan!" Teriakku.
Telekinesis kuaktifkan dan mengangkat berbagai batuan di sekitarku ke perseteruan sengit di depan.
BAAM! BAAM! BAAM!
Dengan menakutkan menghujani lokasi di mana beberapa orang berada. Aku meminimalkan serangan agar tidak mengenai Duke.
"Uhuk, uhuk... Apaan tadi itu??" ucap salah satu penyerang dan dia terdengar tidak senang.
"Duke.." Suara berat terdengar tidak jauh dan mengangkat dengan mencekik Duke ke atas.
Seakan ingin membunuh Duke saat itu juga.
"Tuan Duke!" Teriak para ksatria.
Para ksatria sampai dan terkejut dengan yang terjadi.
Aku turun dari kuda dan mengangkat kedua pedang, Teknik Dual Pedang "Wind of Honor."
Senka sudah memberi tahu kalau hanya ada 4 orang saja yang menyerang Duke.
Lalu orang itu, Noa mencekik Duke.
"...Benar seperti yang aku duga," ucapku pelan, aku sudah lama menyadari kalau kelompok Red Domination tidaklah sebaik yang terlihat.
Mereka berisi penjahat-penjahat dan tentara bayaran yang hanya menjalankan misi pembunuhan, penghancuran dan perampasan dengan harga tinggi.
Jadi kemungkinan Duke sudah lama menjadi Target mereka.
"Van."
Aku memanggilnya dengan langkah pelan ke arah mereka.
Gadis perak itu menatapku, wajahnya terlihat seakan sudah tahu akan seperti ini. Dia langsung berlari ke arahku, cakar tajam ia bentangkan.
'Pertarungan dengan Van. Aku tidak berpikir akan menjadi seperti ini.'
Jarak kami mulai menyempit. Tapi, tujuanku bukanlah Van. Melainkan orang lain.
Clash! Clank! Clank!
Aku menangkis serangan yang datang, Van dengan agresif menyerang dengan cakar tajamnya.
Karena itu aku terdorong mundur.
Lalu, tangan gelap keluar dari bayangannya dan menghentikannya.
"Apa ini??"
Senka menghentikan gerakan Van dengan kekuatan bayangannya.
"Baiklah, sebelum hal buruk terjadi! Aku membiarkan kalian mengurus sisanya!" Teriakku kepada para Ksatria di belakangku.
Mereka mengangguk dan maju.
Aku melewati Van dan menuju Noa dan kedua yang lain.
"Ren!" Teriak Van.
Aku mengabaikannya dan berlari ke Noa. Sihir Angin aku wujudkan untuk membuat pergerakanku lebih cepat.
"Nightmare," ucapku mengaliri sihir ke dalam pedangku.
Saat itu juga, aku melempar pedangku ke arah Noa.
Fwooosh! Clank!
Pedangku di tangkis oleh pria itu.
Pria berjubah itu, Riel terlihat tidak senang. Tapi setelah pedangku tertancap.
Kabut hitam muncul yang menutupi mereka semua.
"Apaan ini!?"
"Sial, gelap sekali!!"
Keduanya terlihat terkejut, tapi aku tidak mendengar Noa atau Duke.
[ Nightmare ]
[ Sihir Teror yang memberi mimpi buruk ke arah target, melalui objek atau subjek yang pengguna targetkan. Hati-hati dalam penggunaannya, bisa ketagihan. ]
Sihir Terror tingkat 2 "Nightmare", sihir ini memberi efek mimpi buruk ke objek atau orang. Hanya saja memakai Mana yang lumayan banyak.
Namun, saat ini itu diperlukan.
Melewati mereka, aku melihat Noa yang menyadari kedatanganku.
"Kau.. ya.."
Suara yang dalam dan tekanan yang intensif keluar darinya.
Tapi, Duke yang tercekik terlihat kesakitan dan Noa terlihat tidak mencoba membunuhnya.
Kenapa? Aku berpikir seperti itu, tapi aku akan menanyakannya setelah mengalahkan mereka.
"Blade of Chaos!"
The Broken Sword terselimuti aura padat berwarna merah dan membakar.
Aku dengan sekejap menuju ke Noa, dia tidak melihatku dan sepertinya berbicara dengan Duke.
Clash! Clank!
Bentrokan tajam yang kuarah menuju Noa terhenti olehnya. Dia menangkis dengan Gauntlet besi yang dia kenakan.
"Blade of Fire!"
The Broken Sword tersulut api yang lebih panas dan sebagai ganti Gauntlet Noa memerah. Tapi dia terlihat tidak mempermasalahkannya dan memukul balikku.
BAAANG!
"Ugh.. Sial.."
Aku terlempar menjauh dan berputar ke belakang yang sedikit menyakitkan. Kekuatannya terlalu besar.
[ Noa ]
[ Level 68 ]
Aku tertegun saat menyadarinya, kalau levelnya dua kali dariku.
Pantas saja, dia tidak terlalu mempedulikanku.
Tapi, semakin dalam aku memakai sistem kepada orang lain. Semakin aku fokus, layar lain bertambah.
Seperti itu.
[ Title : The Blood Fotress ]
"..!"
Gelar apa itu?
BANG!
"Kuk!"
Aku menghindari pukulannya yang tertanam ke dalam tanah.
Gelombang kejutnya menghempas sekitarnya termasuk aku dalam radius serangannya.
"Nak. Lebih baik kau pergi.. Kau terlalu terlibat," ucapnya dengan nada yang berat.
Buuk Dia melepas Duke dan terlihat Duke masih hidup, hanya saja aku melihat layar yang muncul di atas kepalanya.
[ Condition : Cursed ]
"Apa yang kau lakukan kepada Duke!!" Teriakku.
"Oh? Kau menyadarinya? Tapi. Sekali lagi pergilah, Nak," ucapnya menekan aura mengintimidasinya.
"...Sial."
Auranya sangat menekan, sepertinya aku harus membalasnya.
"Buff of Mind in Terror," ucapku menyentuh dahiku.
"Terror Magic, Terrified." Lanjutku menyebar sihir ke sekitarku.
Aura Teror dan menekan terwujud di sekitarku, aku perlahan pulih dari tekanan Noa.
Wajahnya yang datar terlihat terganggu, seakan dia menyadari kalau apa yang ku pancarkan berbeda.
'Walaupun dia kuat, aku masih punya banyak kartu as.'
Babak kedua dimulai.
.........
...[ Continued ]...