
...BAB 17 - INGATAN LAMA...
...◇◇◇...
Aku ingat saat itu, umurku masihlah 7 tahun dan aku penasaran dengan apa yang ada di dalam hutan.
Setiap kali aku bertanya ke orangtuaku, mereka berkata di sana berbahaya dan melarangku pergi.
Tapi, karena aku sangat ingin mencari tahu apa yang ada di dalam hutan, aku dengan gegabah memasuki hutan tanpa mempersiapkan apapun.
"Woah!"
Apa yang pertama ku lihat adalah pepohonan yang tinggi dan lebat. Ada banyak hewan pengerat, serangga dan burung-burung di sekelilingnya.
Semuanya adalah sumber keingintahunku.
Kemudian, ketika aku memanjat pohon untuk melihat sarang burung. Ada suara geraman yang terdengar keras di belakang semak-semak.
Rasa tegang dan ketakutan menyelimutiku, aku tidak bisa bergerak ketika itu terjadi.
Itu sangat menakutkan, keluar dari semak-semak seekor serigala yang ganas mengigit kelinci mungil di mulutnya.
Serigala itu mengunyah kelinci itu dengan kejam.
Aku terperangah dan ketakutan.
Lalu, Serigala itu berhenti dan menatap keatas ke tempatku.
"Grraawwww!!"
"Hiii?!"
'Menakutkan! Menakutkan!'
Rasa tegang membuatku kembali sadar.
"Huaaaa! Mama! Papa!!"
Aku menangis dan mencari kedua orangtuaku, tapi tidak ada siapapun di sini kecuali aku dan serigala.
'Ini mimpi buruk!?'
Karena panik, aku kesulitan berdiri di dahan pohon dan..
"Uh? Woaaah!"
Buuk!
Aku terjatuh dari pohon yang membuatku terluka, Serigala tidak diam dan membuang mayat kelinci menuju kearahku dengan cepat.
Saat itu aku berpikir aku akan mati.
Slaaaash!
"Gyaahkk!?"
Itu sangat cepat.
Darah memercik melumuri tanah.
"Haa.. haa.. uh?"
Aku masih bernafas? Apa yang terjadi?
Rasa takut masih mengerogotiku, tapi aku dengan paksa menatap ke depanku.
Apa yang kulihat adalah mayat serigala yang telah terpenggal, kepala serigala tergeletak tidak jauh dariku.
Lalu ada pria besar yang memegang pedang yang sangat besar dan lebar, wajahnya menyeramkan dan mengerikan.
Gasp!
Aku terkesiap dan jatuh ke belakang.
Takut! Takut! Takut! Takut!
"Eh? Anak Fernan-.."
"Hiiiiek!?" Aku mundur dengan takut.
Dia terlihat terkejut melihatku.
Lalu, anak itu juga di sana.
"Ayah, kau menakutinya."
Anak laki-laki yang kukenal.
"Lia, kenapa kau di sini?"
"....Uh, ah... huwaaaaaaaa!!"
"Eh?? Eh??"
"Ayah sih.."
Aku menangis dengan keras saat itu, aku takut, aku tidak ingin mengingat itu lagi. Hari itu aku tidak ingin memasuki yang namanya hutan dan mengenal akan hewan buas dan Monster.
.........
"Amelia-san, apa kau tahu itu?" ucapnya menunjuk suatu tempat.
"..."
"Amelia-san?"
"Ah, iya.. Apa?"
"Kau melamun lagi.. Aku hanya ingin tahu, apa itu?"
Flam menunjuk ke sebuah stand yang tertutup dengan kain berwarna ungu yang terlihat seperti toko mencurigakan.
Lalu tertulis "Ramalan keberuntungan (Fortune Teller)."
"Stand Ramalan."
"Ramalan? Maksudmu yang itu!"
"Benar, mau coba?"
Aku tidak terlalu tertarik, tapi mungkin ini bisa menjadi pengalaman yang bagus untuknya.
"Aku ingin mencobanya!"
"Kalau begitu, ayo ke sana."
"Iya!"
.........
Kami memasuki stand misterius itu, Fortune Teller.
Di dalamnya memberikan aura mistis dan misterius.
Terlihat ada wanita muda(?) yang wajahnya tertutup oleh tudung kain dan di depannya terdapat bola kristal biru yang berbinar seperti bintang.
"Di sini," ucapnya menunjuk alas di depannya, meminta kami duduk di sana.
Saat ini dia sedang duduk dengan bola kristal di depannya, tampak menunggu kami.
Jadi kami langsung duduk di depannya.
"Apa yang ingin kalian Ramal?" ucapnya tampak tersenyum.
"Kekayaan!"
'Kekayaan? Apa karena Flam anak pedagang?' Pikirku melihatnya yang bersemangat.
"Kekayaan, kah? Sebelum itu, kalian akan dipungut biaya satu tembaga setiap Ramalan. Bagaimana?"
"'Murah!"" Itu yang kami pikirkan bersama.
"Jadi mau diramal?"
"Tentu saja!" Flam tampak bersemangat.
"Bagus kalau begitu."
Dia menyentuh kristalnya dan warnanya berubah hijau. Serius aku tidak mengerti kenapa meramal seperti itu..
"Aku akan menyentuh tanganmu sebentar."
"Tentu."
Peramal itu memegang tangan Flam dan dia terlihat menggerutu dan seperti membaca mantra komat kamit.
'Apa sebenarnya yang dia coba lakukan?'
"Oh.."
"Apa ramalannya?"
Flam terdengar bersemangat dan terlihat betapa antusiasnya dia dari wajahnya yang ceria itu.
Lalu, peramal itu mengangguk-angguk dan menggerakkan kedua tangannya memutar di atas bola kristal.
Di sini aku tidak sesemangat gadis di sebelahku, tapi melihat ini berlangsung agak menghiburku.
"Ohh!"
"Kehidupan pertama akan berlangsung singkat dengan segala cara, satu orang akan membantu."
"Lalu! Lalu!"
"Hmm.. Kekayaan agak miring ke bawah."
"Eh?"
"Ramalanmu tidak menunjukkan Kekayaan untuk saat ini."
"Apa benar?"
"Iya, jadi bayar."
"Baiklah."
Flam membayar satu tembaga pada peramal ini.
Bukankah ini agak aneh??
"Flam, apa kau menerima-menerima saja itu? Bukankah itu mungkin kebohongan?"
"Tidak apa kok, aku juga terhibur. Dulu aku pernah di ramal dan ada yang menjadi nyata."
"Jadi ada yang enggak?"
"Begitulah."
Flam terlihat tidak mempermasalahkannya. Ya sudah, kita akhiri saja di sini.
"Ayo pergi, Flam."
"Iya."
"Tunggu, gadis oranye."
"Hah?! Kau memanggilku??"
Wanita itu tersenyum dan berkata dengan lirih.
"Iya, sepertinya kau ada masalah dalam percintaan?"
"!? Apa maksudmu?? Aku tidak!"
Wajahku memerah dan bingung dengan yang dia tiba-tiba katakan.
"Jadi benar, lalu mau di ramal? Aku bisa meramalmu gratis jika kau mau?"
"Eh? kok aku bayar?" ucap Flam tidak senang.
"Bagaimana?" Peramal itu mengabaikannya dan menatapku.
Di ramal gratis, kurasa baik-baik saja. Karena aku juga sedang luang.
"Boleh saja."
"Kalau begitu, aku akan bertanya dua pertanyaan saja."
"Tanyakan."
"Orang terdekat?"
"Eh?"
"Oke, lalu apakah dia mempunyai barang yang sama denganmu?"
"Itu, eh tidak.. apa maksudmu??"
"Ini pertanyaan, kau bisa menjawabnya atau tidak terserah. Tapi di lihat dari wajahmu, aku bisa tahu."
Apa maksudnya itu?!
"Amelia-san, wajahmu memerah sekali," ucap Flam menatapku.
"Eh? Benarkah??"
Tidak mungkin.. kayaknya aku kepanasan..
"Bisa tunjukkan barang itu?"
Apa maksudnya itu.. Ugh.. Aku hanya perlu mengeluarkan itu, kan?
Dengan cemberut, aku mengeluarkan sesuatu dari leherku.
"Ini." Aku meminjamkannya padanya.
"Sebuah Kalung?" Flam melirik dengan antusias.
"Hoo.. Jadi begitu.."
Peramal itu mengangguk dengan pelan, seakan mengerti sesuatu.
"Jadi bagaimana?" Tanyaku melihat tingkah anehnya itu.
"Sebentar."
Dia meletakkan Kalung ku di depannya dan mulai melakukan gerakan aneh itu lagi, dia membuat gerakan tangan memutar di atas bola kristalnya.
Lalu warnanya menjadi merah pudar.
Apa maksudnya itu?
"Begitu ya.."
Dia mengangguk-angguk.
"Apa itu?"
"Sayang sekali.." ucapnya menggelengkan kepala.
"Hah??"
Apa yang dia maksud??
"Sepertinya begitu, sulit mengatakannya. Tapi ini ambilah."
Dia memberiku bungkusan kecil.
"Apa ini?" Aku menatap bungkusan di tanganku itu.
"Permen."
"Eh?"
Permen..?
"Kau mau juga?"
"Tentu!"
Flam juga di berikan permen padanya.
Aku sedikit pun tidak paham ini semua.
"Oh iya, gadis itu bisa pergi." Peramal itu menunjuk Flam yang sedang menikmati permennya.
"Kenapa?"
Aku melirik ke Flam, lalu ke peramal.
"Apa dia juga boleh mendengarnya?"
"Eh?"
'Apa yang dia-..'
"Amelia-san?"
Aku agak gelisah jadinya.
Ketika aku bingung, seseorang menepuk bahuku dan berkata lembut.
"Aku akan di luar duluan, jadi tenang saja. Oh iya, jika kau selesai temui aku, baik?" ucap Flam tersenyum lembut.
"Iya. Tentu." Jawabku singkat.
Flam meninggalkan kami berdua.
Lalu peramal berkata dengan serius.
"Apa yang kau coba akan berakhir dan menyerahlah lalu kau akan menemukan yang lebih baik." Suaranya begitu pelan dan dingin.
"Apa.. maksudmu?"
Peramal itu terlihat serius.
Tidak mungkin, kan?
.........
...[ Continued ]...