The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 20 - [ Looking at You ]



...BAB 20 - SEDANG MELIHATMU...


...◇◇◇...


"Hiiiii!! Ampuni kami!!"


"Tolong lepaskan kami!!"


"Huwaaaah!?"


Benar-benar bermasalah sekali..


Mereka yang menyerang kami, tapi pada akhirnya mereka lah yang meminta ampun kepada kami.


"Ren, bisa buang saja mereka?" Lia tampak kesal mengatakannya.


"Amelia-san, jangan begitu. Mereka hanya berbuat salah saja," Ucap Flam mencoba menenangkannya.


"Hmph, itu bohong. Mereka melakukan ini karena mereka jahat."


"Uu.. tapi, tapi.. Ren-kun!"


Tatapan memohon bantuan tersirat kearahku.


"...Haa."


Lia dan Flam sedikit tidak sependapat. Tapi benar, mereka hanya bandit liar. Tapi apa yang kutemukan adalah hal luar biasa.


"Kerja bagus, Senka," Ucapku menepuk kepalanya.


"Hehe~ Senka anak baik?"


"Iya, Senka anak baik.."


"Hehe~"


Sebenarnya Senka ikut andil dalam hal ini, dia membuat mereka semua terjungkal dan tak bisa bergerak karena bayangan mereka sendiri yang menangkap dan menghentikan mereka.


Jadi aku dengan mudah menangkap mereka yang terjebak dan mengikat mereka agar tidak melawan.


"Sudahlah, kalian ayo pulang," Ucapku berjalan pergi.


"Mereka bagaimana?"


Lia menunjuk ke kelompok yang terikat itu.


Aku berpikir sebentar dan berkata..


"Hmm.. Kurasa aku akan membawa mereka ke desa dan meminta memasukkan mereka ke penjara sampai Mereka mi-.. hmm.."


"Penjara?"


"Ada apa Ren?"


Benar juga. Aku mungkin bisa mencoba skill 'itu.


"Kalian berdua."


"Iya?"


"Ren-kun, apa penjara yang kau maksud, kan?"


"Berbalik," Ucapku dengan serius.


"Eh?"


"Ren-kun?"


Keduanya menatapku heran, tapi aku tetap memasang wajah serius.


"Lakukan."


""..!?""


Aura intimidasiku meluap ke mereka berdua yang reflek berbalik.


"A-Apa yang terjadi tadi?!" Lia gemetar ketakutan dan mengajak bicara Flam yang mengigil ngeri.


"Me-Mengerikan!!"


Baguslah.. lalu..


"Apa yang kau coba lakukan padaku-.."


Aku menyentuh kepala pemimpin bandit, lalu berkata.


"Teror."


Dia langsung tersedak, matanya melotot, wajah mengerut dan terlihat sangat menderita.


"Ghyaaaaaakk!?!?!" Jeritan menakutkan memberi kengerian ke semua orang di sekitar.


""Hiiii?!""


Para bandit yang ditahan semuanya ketakutan dan ingin melarikan diri, tapi tidak bisa.


Dan juga kedua gadis itu pun terkejut dan ingin berbalik, tapi menahan diri.


"Jangan berbalik!" Ucapku tegas.


"Uhh.. O-Oke."


Mereka menurut dan tidak berbalik, juga Lia sedikit menggerutu kesal di sana.


"Lalu ... Kalian semua.. Teror," Ucapku dengan dingin.


Kabut hitam tebal menyelimuti mereka.


""!!!??!?!?!?!??!?""


Dalam sekian detik mereka terlihat sangat tersiksa dan menderita. Jeritan dan rasa sakit memberi suasana mencekam dan menakutkan.


Keduanya, bahkan tidak ingin berbalik sama sekali. Mereka tahu, jika berbalik sesuatu yang mengerikan akan mereka lihat.


"..Lepaskan," Ucapku kearah mereka yang tampak berbusa.


Sihir Teror yang menempel pada mereka mulai memudar dan menghilang dan dari semuanya, hanya Pemimpin Bandit saja yang terlihat mati.


Lalu sisanya sekarat dan busa meluap di mulut mereka.


Pemimpin itu lebih dari mereka, sudah tidak merespon saat aku mendekatinya.


Tampaknya Teror asli sudah terukir di pikirannya.


"Dia masih hidup?" Ucapku ragu melihatnya.


Walaupun begitu, dia ternyata masih hidup dari bagaimana dia bernafas.


Jantungnya masih berdetak, walaupun tampaknya cepat.


"Kalian semua.. Jangan pernah melakukan hal jahat lagi, baik?" Ucapku menyeringai jahat.


Mereka semua mengangguk dengan ketakutan.


"Lalu, katakan apa yang kalian tadi ingin lakukan dan yang pria ini perintahkan pada kalian juga, baik?"


Mereka mengangguk dengan sangat putus asa.


"Bagus. Lalu katakan."


Jadi mereka mulai berkata dengan sangat keras, tapi berhenti dan menjadi pendiam setelah salah satu temannya aku rapalkan sihir Teror lagi untuk membuat mereka diam.


"Katakan dengan pelan, baik?" Senyum lebar terbentuk diwajahku, mereka tampak ketakutan dan mulai mengatakan semua yang mereka tahu secara pelan.


Aku mengangguk mengerti mendengar apa yang mereka semua katakan.


"Oh, begitu.. Kalian bisa pergi. Cepat," Ucapku dengan mudah memotong tali yang mengikat mereka.


""Terimakasih!!""


Dengan begitu semuanya menghilang dan membawa pemimpin yang tampak mati itu menjauh.


Lalu dua gadis itu melihatku dengan tercengang ketika berbalik untuk mengetahui aku membebaskan mereka.


"Apa yang terjadi!? Kenapa kau lepaskan penjahat-penjahat itu??" Lia menarik kerahku dan meminta penjelasan.


Aku memintanya untuk tenang dan menjawabnya .


"Mereka sudah tobat dan pergi," Ucapku singkat.


"Benarkah! Kau Hebat Ren-kun!!"


"Hmph."


Aku tersenyum dengan pujian Flam dan terhibur melihat Lia yang cemberut sekali lagi.


Lalu kami kembali ke desa dengan aman.


.........


Di kamarku.


Sekarang aku sudah kaya.


Kenapa? Aku mendapat banyak barang yang akan sangat mahal jika kujual di masa depan nanti! Terimakasih untuk anak tercintaku, Senka.


Karenanya aku mendapat barang-barang Hebat yang dulu dikubur oleh sekelompok bandit mengerikan bernama Evil Laugh.


Tapi sekarang itu menjadi milikku dan kelompok itu tidak akan pernah ada lagi.


Jadi secara tidak langsung, takdir dunia telah berubah.


"Papa.. Hehe.."


Di sampingku, ada malaikat kecil yang dengan imut bersandar tidur di lengan kananku.


Imutnya! Imuuuuutt!!


Haa.. luar biasa.


Tapi, kurasa 2 tahun lagi. Aku akan pergi dari desa ini. Secepatnya.


Namun, ingatan sebelum kematianku kemungkinan akan terjadi. Sosok yang membunuhku.


"..."


Zzzz...


"..!"


Aku bangun dari tempat tidurku dan melihat sekitar dengan waspada.


"Papa?"


"Ah, aku membangunkanmu."


"Myu.. myu.. "


Aku mengusap kepalanya, Senka terlihat masih mengantuk.


"Tidur saja dulu, Senka."


"Hnn.. Nn."


Senka kembali ke atas tempat tidur dan langsung tertidur di sana.


"Yare.. yare.."


Jadi aku membenarkan posisi tidur Senka dan menyelimutinya.


"...Aku pergi dulu, Senka."


"Mn..mn..."


.........


Aku merasa seperti ada seseorang yang mengintipku. Siapa?


"...?"


Apa hanya pikiranku saja?


Aku melangkah ke balkon dan mengecek keluar.


Pemandangan perumahan desa tampak sunyi, lalu aku melihat seseorang di sana.


Hm?!


Di atas atap di rumah di seberangku, aku melihatnya.


"Kau..?"


Tidak mungkin.


"Are, ada orang?" Ucap seorang gadis muda.


Gadis muda berambut perak itu melompat dari atap ke atap dan sampai tepat berdiri di atap rumahku.


Mata merahnya menatap lurus kearahku.


"Apa kita pernah bertemu?" Ucapnya memiringkan kepala.


Tidak mungkin??


Dia sudah ada di depanku dalam sekejap.


"Eeeh? Aku rasa ini pertama kalinya?" Ucapnya merengutkan wajah.


Gadis itu terlihat penasaran dan menatapku ingin tahu.


"..Siapa kamu??" Ucapku mundur.


Layar di atas kepalanya, membuatku waspada.


"Oh, aku? Hm.. panggil aku Van," Ucapnya tersenyum lembut, dia mendekat dan berjalan memutariku.


"..Van?"


"Iya, lalu siapa kamu?" Ucapnya menatapku dengan tersenyum.


"Aku Ren.. Ren Maulana."


"Owh.."


Dia tersenyum manis dan melihatku dengan penasaran.


Lalu, wajahnya berubah seakan mengingat sesuatu.


"Ah, aku harus pergi. Selamat tinggal, Anak kecil."


Gadis bernama Van itu melompat dari atap ke atap dengan cepat.


"Dia.."


Aku mengingatnya. Seharusnya 4 tahun lagi, barulah aku akan bertemu dengannya, kenapa dia bisa ada di sini??


Scarlet Varnian. Seorang Vampir kelas atas.


"Haha.."


Aku melihat statusnya, walaupun kurang lengkap tapi itu memperlihatkan betapa kuatnya dia.


[ Scarlet Varnian ]


[ Ras : High Vampire ]


[ Level 70 ]


"..."


Tapi tetep saja, siapa yang mengintipku kalau bukan dia? Hm?


"Miaw~."


Suara itu..


"Tama, ya? Jadi kamu yang mengintipku?" Ucapku mendekati Tama.


Tama mengeong dan menjilat kaki depannya, tampak tidak peduli.


Kurasa tatapan kucing kadang membuatku bangun.


Sudahlah.


"Tama.."


Aku mengelus kucing hitam ini, Tama mendengkur Pur pur ketika aku mengusap badannya.


"Miaw."


Lalu kucing itu melompat dari pagar balkon dan beranjak pergi keluar.


Melihatnya pergi, aku kembali ke tempat tidur.


Dan mencoba tidur.


.........


Paginya..


BAAK!


Suara keras terdengar dan langsung membangunkanku.


"Ren! Gawat!"


"Eh?"


'Lia?? Kenapa dia di sini?? Lalu ada apa dengannya, dia sampai terengah-engah seperti itu??'


"Ada apa??" Ucapku heran.


"Sini ikut aja!"


"Ehh??"


Aku langsung ditarik keluar dari kamar oleh Lia.


Dia dengan paksa membawaku pergi.


"Apa yang gawat??"


"Sudah ayo!"


"..??"


Mau tidak mau aku ikut dengannya, setidaknya aku ingin ganti baju dulu.


.........


...[ Continued ]...