The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 39 - [ Also Success ]



...BAB 39 - SUKSES JUGA...


...◇◇◇...


Duke telah bangun dan duduk bersandarkan pohon dan melihat ke sekelilingnya.


"Tuan Duke, anda selamat!" Joseph langsung pergi ke sisi Duke setelah Duke siuman.


Duke tampak tertegun ketika Joseph tiba-tiba berdiri di sampingnya.


"Joseph! Ah ... Ternyata begitu," Ujar Duke, mulai memahami situasinya.


Duke mengerti akan situasinya, wajahnya perlahan menjadi lega, lalu dia menatap kami dengan serius.


"Red Domination. Di mana mereka?" ucapnya serius.


Yang lain terlihat terdiam, lalu aku mendekatinya.


"Mereka telah pergi, Tuan Duke," ucapku menjawab pertanyaan Duke.


"Pergi? Ke mana?" tanyanya gelisah.


"Mereka pergi begitu saja," ucapku yang membuatnya lebih tenang.


"Huu.. Terimakasih. Karena Kalian sudah menyelamatkan orang tua ini.." ucapnya dengan tulus.


Duke tersenyum dan menatap kami dengan apresiasi.


Aku mengangguk dengan Joseph yang khawatiran di sampingnya.


"Tuan Duke, akan aku bantu anda masuk ke tenda!" ucap Joseph yang langsung membantu Duke berdiri ke tenda yang baru dibuat.


Para ksatria ikut di belakang Joseph dan beberapa menjaga sekitar.


Aku, Senka dan Tofan berdiri melihat mereka pergi ke tenda.


"Lalu.. Siapa namanya?" Tanya Tofan menunjuk Senka dengan penasaran. Lalu, gadis yang ditunjuk memasang wajah bingung.


"Myu?"


Aku tersenyum dan menepuk kepala Senka yang kemudian menjawab pertanyaannya.


"Dia anakku, Senka. Senka sapa Bibi ini," ucapku mendekatkannya pada Tofan.


"Halo Bibi!"


"Bibi?!" Wajahnya tampak sangat terkejut.


Aku ikut terkejut melihatnya memasang ekspresi selain datar. Juga, aku rasa yang aku katakan sudah benar.


"Aku bukan Bibi," Keluh Tofan dengan dingin.


"Baik, Bibi!" Jawab Senka ceria.


"Bukan, Hei!" Melihat Senka yang usil membuatku tersenyum, apalagi wajah Tofan yang memerah. Itu pemandangan baru yang kulihat.


Saat keduanya bercengkrama, aku mendekati mereka dan berbicara dengan lirih.


"Senka, Papa akan pergi sebentar. Jadi bermainlah dengan Bibi Tofan, ok?" ucapku mengusap kepalanya.


"Yes, sir!" ucap Senka memberi hormat.


"Sebentar, aku bukan Bibi." Tofan protes Mendengarnya.


Aku meninggalkan Senka dengan Bibi Tofan yang terlihat kesal di sampingnya.


Arah yang ku tuju adalah jalan di mana Red Domination dan Van lewati.


'Van. Gadis itu, kenapa dia bertingkah seperti itu..'


Aneh untuk aku mengatakannya karena belum lama mengenalnya, tapi gadis itu sikapnya tidak seperti dirinya.


Gadis yang dengan naif tertawa dan ceroboh dalam situasi apapun, sikapnya yang kurang hati-hati membuatku tahu sifat aslinya.


Hanya saja, Apa yang hari ini terjadi mengubah persepsiku sepenuhnya mengenainya.


Van pasti di mintai oleh Kakaknya untuk mengincar nyawa Duke bersama ketiga anggota Red Domination. Lalu, sama halnya dengan Duke, Van juga lah yang menyerang Joseph dan bawahannya.


Ini meyakinkanku kalau dia masihlah seorang Vampir. Berbeda dengan Vampir yang tidak bisa bergerak di siang hari (karena mereka akan mati jika terkena sinar matahari.) Van mampu berjalan dan bergerak dengan bebas di siang hari.


Alasannya jelas, dia adalah Vampir kelas Atas dan memiliki garis keturunan langsung dari Vampir Leluhur. Langka untuk sejenisnya terlihat di pemukiman apalagi masih muda.


'Jika sesuai dengan masa depan, seharusnya Vampir leluhur belum terpublis sampai di usia ke 20 tahunku.' Tapi, Tetap saja. Van saat ini ada di pihak kelompok kejahatan, aku mungkin bisa membantunya keluar dari kelompok itu.


Akan tetapi, apakah baik-baik saja? Kemungkinan dia tidak akan mau dan jika kakaknya melarangnya, dipastikan gadis itu akan menurutinya.


"Aku hanya harus berbicara dengannya." Itulah poin pentingnya, sejak aku saja belum mengenalnya jauh selain dia mudah diajak bicara dan sembrono. Aku sama sekali tidak terlalu mengenalnya.


"..." Aku sampai di lokasi yang ku tuju, Quest lain muncul di perjalanan aku kesini.


[ Quest Rahasia #3 "Dungeon yang hilang" ditemukan. ]


[ Apakah Player mau menerimanya? ]


Suara anorganik terdengar di kepalaku.


Aku memeriksa info lengkapnya.


[ Info Quest : Jejak-jejak magis terasa di sekitar Hutan Alta, puing-puing sejarah terdapat di sekitar Dungeon. Dungeon Kuno akan terbuka di waktu tertentu. Saat ini masih dalam waktu tertentu : 1708 Hari. ]


Lama sekali..


Apa yang aku temukan adalah puing-puing reruntuhan sebuah desa. Hutan Alta dulunya memiliki beberapa desa di dalamnya, hanya saja sekarang sudah tidak banyak.


Terutama reruntuhan desa ini. Bekas kerusakan dan hangus terlihat di mana-mana dan seluruh desa menjadi puing-puing.


Hampir sepenuhnya hanyalah puing-puing bebatuan dan rumah yang telah hancur.


Kabut masih menyelimuti Hutan, tapi tidak separah sebelumnya. Jarak pandangku masih normal dan tidak kesulitan dalam melihat sekitarku. Namun, kabut inilah penyebab pertarunganku dengan Noa dan yang lain tidak mudah.


Aku tidak bisa beralasan, tapi tetap saja aku masihlah lemah jika bersaing dengan Noa dan ketiganya. Apalagi Van, gadis itu mungkin akan mampu membunuhku jika Senka tidak menguncinya dengan bayangan.


Ada kalanya aku berpikir menggunakan Senka untuk melawan musuh dengan Level tinggi. Tapi, aku tidak berniat melakukannya. Dia masihlah kecil dan muda, tidak pantas untukku membiarkannya mendapat masalah yang seharusnya bisa kuatasi.


"...Untuk sekarang, aku akan menerimanya."


[ Quest Diterima. ]


Aku hanya perlu menunggu 1 Lustrum saja.


"Sovereign Hand." ucapku diam menatap ke reruntuhan.


Puing-puing perlahan naik dan dengan pikiranku bebatuan dan kayu itu terbang menjauh memberi jalan untukku. Lalu, Aku mendekat lebih dalam ke reruntuhan dan layar tertentu bersinar di sana dengan memancarkan cahaya emas.


Ini sesuatu yang tidak biasa.


[ Altar Summon ]


Sebuah altar tua yang tertutupi oleh lumut dan tumbuhan menjalar. Hampir seluruhnya sudah tertutup dan kerusakan terlihat di mana-mana.


Warna layar nya emas. Ini tidak seperti layar yang biasa kulihat. Apa sebenarnya itu?


Aku mendekati Altar tersebut. Layar lain muncul sebagai gantinya.


[ Pemanggilan Spirit bisa dilakukan. ]


'Spirit? Serius??' Aku tertegun menyadari fungsi Altar itu. Walaupun sudah tua dan kuno, ternyata ini masihlah berfungsi untuk pemanggilan.


"Apa yang harus kulakukan?" Menjawab pertanyaanku, layar lain muncul.


[ Pengorbanan dibutuhkan ]


"...Huh?" Pengorbanan..??


'Benda apa yang harus aku korbankan?!' Pikirku heran.


"Apa itu?" Tidak ada yang muncul saat aku bertanya, tapi entah kenapa aku yakin sesuatu bisa digunakan untuk ini.


Aku mengingat benda yang sebelumnya aku dapatkan.


[ Demon Eyes of Envy ]


Benar, mata itu. Mata yang terlihat seakan keluar dari pemiliknya. Begitu mengerikan.


"Aku letakkan di sini." Aku meletakkan Mata Demon ke tengah Altar.


[ Pengorbanan di terima. ]


[ Salurkan Darah dan Mana. ]


"..." Aku menjadi ragu untuk melakukannya.


Saat aku akan melukai sedikit jariku, Gadis mungil menyelinap ke sisiku.


"Papa!" ucapnya yang berteriak di sampingku.


"Senka??" Aku terkejut menatap gadis kecilku ada di sini.


"..Bukankah Papa sudah memberitahumu?" ucapku menatap Senka tidak senang.


"Umyu, Pa-Papa lama! Senka sudah menunggu lama dengan Bibi!" ucap Senka cemberut.


"Aku bukan Bibi.. Geez." ucapnya tidak senang.


Sekarang Tofan juga datang.


Sepertinya Tofan mengikuti Senka kemari.


"..." Sekarang menjadi lebih ramai, aku menatap ke pisau di tanganku. Apa yang sebenarnya mau aku lakukan..


"Papa? Umyu! Pisau!" Senka terlihat panik dan menarik pisau dariku.


Sekarang malah Senka yang terlihat berbahaya.


"Senka, kembalikan," ucapku memintanya.


"NO, Papa!"


Aku menghela nafas, lalu aku melirik ke Tofan.


Dia hanya melihat kami dan terlihat terhibur.


'Ini bukan tontonan kau tahu..' pikirku lelah.


"Senka, kembalikan ke Papa."


Dia menggelengkan kepala dengan gelisah, berpikir aku ingin mengakhiri hidupku.


"Tidak Senka, ini hanya pengorbanan sedikit," ucapku tersenyum kecil.


"Myu? Pengorbanan??"


"Iya, jadi kembalikan."


"..Myu, ga bunuh diri?"


"Iya.." ucapku mengangguk.


"Myu.." Senka terlihat ragu, tapi pada akhirnya menyerahkan pisau kepadaku juga.


"Akan kumulai.."


Mereka berdua penasaran dan mendekati ke sisi ku. Aku menyentuh bawah Altar dan mengisi Mana ke dalamnya. Perlahan cahaya bersinar mengikuti jalur Rune sihir yang terukir di seluruh Altar. Sampai semuanya bersinar oleh cahaya Rune sihir.


[ Pemanggilan akan dimulai. ]


Aku pergi dari Altar dan menjauh bersama keduanya. Cahaya emas kehijauan tercipta di tengah Altar.


Apa yang ingin kulakukan adalah Pemanggilan Kuno dari Altar Summon; sebuah alat yang cara penggunaannya telah lama dan tidak diketahui lagi.


Sejak aku memiliki pengetahuan saat masih petualang, salah satu temanku mengajariku cara menggunakan Altar Summon yang bisa di temukan di setiap Hutan. Walaupun, aku pernah mencobanya. Tapi tidak di Altar ini.


Aku memang ada niatan untuk pergi ke sini untuk mencobanya. Namun, siapa sangka aku akan menggunakannya setelah apa yang terjadi sebelumnya.


Lalu yang akan dipanggil, aku sudah mengetahui apa yang mungkin akan muncul.


"Myu!" (Senka)


"Oh!" (Tofan)


"..." (Aku)


Cahaya hijau keemasan menghilang dan sesuatu muncul di balik cahaya.


Senka dan Tofan terlihat kagum melihat cahaya yang cantik itu, tapi aku di sisi lain menatap cahaya dengan memohon agar apa yang dipanggil akan berguna untukku.


"Halo! Apa kabar!" ucap seseorang dari cahaya tersebut.


Suara gadis muda terdengar dari Altar, cahaya yang perlahan menghilang dan sosok itu keluar untuk menunjukkan eksistensinya kepada kami.


Senka terlihat tertegun dan waspada. Tofan menatapnya datar dan Aku menghela nafas.


Sepertinya takdir tetaplah sama.


[ Sylphy ]


[ Roh Angin ]


[ 70 ]


Teman elemen sihirku dulu. Ternyata dia yang aku panggil, kenapa..


Walaupun aku sedikit kecewa, tapi gadis roh itu memiliki kegunaannya yang lain.


"Jadi... Siapa yang memanggilku?" Sylphy melihat ke sekitar, mencari-cari yang memanggilnya di antara kami.


Aku hanya menghela nafas, terlihat sepertinya Roh yang ku panggil belum merasakan ikatan pemanggilnya.


Inilah kenapa Roh di depanku adalah pemula. Walaupun apa yang ku korbankan sepertinya jika di jual akan mahal, apalagi mata dari Demon of Envy.


Kurasa, aku hanya bisa menerimanya ... Untuk saat ini saja.


"Sylphy," panggilku.


"Uh? Kau mengetahui namaku?"


Dia langsung terbang ke arahku.


"Aku bisa melihatnya," ucapku santai.


"Woah! Benarkah! Keren!" ucapnya dengan keras.


'Agak dramatis, tapi ya tak masalah lah..' pikirku mendengarnya.


"Jadi apa yang Tuan inginkan untuk aku kerjakan??" Tanyanya agak arogan.


"Buatlah kontrak denganku," ucapku tersenyum.


"Eh?"


'Eh, dengkulmu.'


Dia tampak terkejut.


Aku hanya menghela nafas kecil dan berkata santai, "Ayo."


"Eh! Ta-Tapi aku tidak terlalu kuat!"


[ Level 70 ]


"Benarkah?"


"Iya!"


'Dia tidak kuat ya..' pikirku melihat Level dari layarnya.


"Sudah cepatlah, aku ingin pergi dari sini."


"Oh, baiklah! Kalau kau memaksa." Roh itu melayang dan mendekatiku, Tofan dan Senka menatap dalam diam.


"A-Aku akan mulai!"


"Tunggu." Aku menghentikannya dan berjalan lebih dekat.


"Eh? Apa?"


"Aku ingin melihat lembar perjanjiannya," ucapku menatapnya serius.


"Uh? Tapi, aku akan memberinya.."


"Mana?"


"O-Oke." Dia membentuk selembar kertas kulit yang mengambang di depanku.


Aku mengambilnya, ini terbentuk dari perjanjian dan tertulis dalam bahasa campuran.


Hampir setengahnya bahasa Roh dan oleh sebab itu, perjanjian dengan roh beresiko merugikan.


Apalagi jika gadis roh ini, aku ingat pernah mendapatkan perjanjian menyebalkan darinya.


"Ada beberapa yang keliru," ucapku meliriknya tajam.


"Eh??" Dia berkeringat dan gelisah, tampaknya dia heran melihatku mengetahui niatnya.


Sejak awal, gadis roh ini tidak berniat membentuk kontrak yang adil dan hanya akan membantuku seadanya. Asalkan ada beberapa hal yang menarik dan membuatnya senang, dia akan membantuku sepenuhnya.


Itu adalah sedikit perjanjian yang pernah dia buat.


Karenanya, aku sebagai pemanggil punya hak yang sama dengannya.


"Fire." Api terbentuk di tanganku, lalu aku mewujudkan angin di sekitarnya.


"Wind." Keduanya aku gabungkan dan perlahan merapat menjadi sebuah pena yang membara.


Aku menggunakannya ke kertas perjanjian, Sylphy terlihat tegang dan mendekatiku agak panik.


"Tu-Tuan, tidak ada yang keliru kok!"


"..Ada, lalu apa yang tertulis di sini sedikit tidak seimbang dan memaksa."


"Ugh.."


Apa yang tertulis dalam bahasa roh di lembar perjanjian, antara lain:


- Roh diberi kebebasan untuk meninggalkan Pemanggil (Bahasa Roh)


- Pemanggil harus memberi sesuatu yang disukai Roh setiap dia mau memanggilnya (Bahasa Roh)


- Roh tidak wajib menuruti perintah Pemanggil (Bahasa Roh)


- Semua syarat bisa Roh tidak lakukan (Bahasa Roh)


"..." Aku bersyukur pernah belajar bahasa roh dan sekarang aku sangat marah dengannya.


"Benar-benar tidak seimbang. Aku akan menyeimbangkannya," ucapku menarik pena ke kertas perjanjian.


"Eekk!?"


Pena menggores kertas dan menuliskan sesuatu di sana. Aku mengores dan menulis beberapa hal, di sisi lain Sylphy tercengang dan berteriak di sampingku.


"Hentikan! Apa yang coba Tuan lakukan!?"


"Aku sekarang Mastermu," ucapku yang mengakhiri tulisan, lalu aku memberikannya lagi padanya.


"Hah!? Apa ketentuan ini semua?!" Wajahnya penuh keheranan, sikap cerianya hilang dan menatapku penuh kekesalan.


Aku tersenyum dan berkata dengan lembut, "Sylphy, terimalah." ucapku tersenyum.


"Aku tidak ma-.."


Aku mengangkat tangan ke arahnya.


"Magic Terror - Nightmare."


Wajah Sylphy memucat, walaupun dia Roh. Sylphy tetaplah makhluk biasa dan karena perjanjian yang dia berikan sudah termasuk menjanjikan yang tertulis.


Apalagi sihir yang ku tempelkan padanya, membuatnya seolah-olah dia akan mati.


"Ahh!?!?"


Senka dan Tofan terkejut melihat Roh di depan mereka menjerit kesakitan dan sontak melihatku.


"Apa?" ucapku melirik ke mereka.


Senka hanya tersenyum kecil yang imut dan mendekap ke Tofan, Sedangkan Tofan menutup mata dan berbicara "Aku akan kembali ke Kamp dengan Senka."


Lalu, mereka meninggalkanku dengan Roh yang menjerit itu.


"Terima saja," ucapku tersenyum lembut.


"!?!?!?" Sepertinya dia tidak bisa berbicara apapun selain berteriak.


"Terima saja," ucapku sekali lagi.


Dia masih berteriak.


"Terima saj-."


"Baiklah!! Aku terima!!! Augggahagtaya!?!?"


Lalu, cahaya lingkaran Rune sihir terbentuk di bawahku dengannya, perlahan itu terserap dan menghilang.


[ Kontrak Roh dibuat ]


[ Player sekarang mampu memanggil dan memberi perintah pada Roh dengan syarat yang sesuai perjanjian. ]


Begitulah yang terjadi, artinya aku memiliki orang patuh lain.


"Selamat datang di Kelompokku, Sylphy," ucapku dengan tersenyum senang.


"Ughh.."


.........


...[ Continued ]...