The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 22 - [ What? ]



...BAB 22 - APA?...


...◇◇◇...


Apa yang dia katakan barusan??


Desa Konora menghilang?


Jelas sekali itu tidak terjadi. Apa penyebabnya?


"Mereka akan melewati tempat ini.. Jadi seharusnya begitu, kan?" Ucapnya dengan polos.


""..??""


Aku dan Lia bingung dengan apa yang di maksud Van.


"Siapa mereka yang kau sebut itu?" Ucapku bertanya-tanya.


"Er.. Etto.. Red.. Dome? Siapa ya.."


Red Dome? Red-..


..Ah!? Kelompok itu..!?


"Red Domination." Ucapku dengan serius.


"Ah, iya! Itu nama panggilan mereka."


Van tampak mengangguk dengan yakin saat aku menyebutkannya.


Kelompok misterius yang berjumlah tiga orang itu?!


Seharusnya mereka tidak akan ketahuan pergi ke sini ... atau ini karena Van?


"..?"


Van, dia pasti ada kaitannya dengan kelompok jahat itu..?


"Apa yang kau tahu tentang mereka?" Ucapku mencengkram kedua bahunya.


"Eh? Itu..."


Pipinya memerah dan dia tampak gugup.


"Siapa mereka itu??" Ucapku menekannya.


Van terlihat berpikir keras dan memejamkan matanya dengan mengerutkan dahi.


"Van?"


"Ah, mereka berjumlah tiga orang. Lalu mereka sedikit aneh. Kupikir Itu saja," Ucapnya tersenyum seakan 'seperti itu, kau tahu?'


"..."


Begitu ya.. Sepertinya gadis ini memang tahu hal umumnya saja.


"Kenapa kau bisa tahu kalau mereka akan ke sini?" Ucapku tetap mencengkramnya dengan kuat.


"Hm? Itu karena aku tadinya bersama mereka," Ucapnya dengan santai.


'Apa??'


"Tadinya? Kapan itu?" Ucapku semakin mengencangkan cengkeramanku.


"Kemarin." Jawabnya, wajahnya masih memerah.


Jadi dari malam itu, Van berpisah dari mereka.


"Hehe, Kakak juga akan lewat sini!"


Van tampak senang ketika menyebut kakaknya.


"Kakak..?"


"Iya, Kakakku," Ucapnya dengan wajah cerah dan tampak bahagia.


Siapa sebenarnya kakaknya ini..?


Aku harus bersiap-siap. Jika yang terburuk terjadi, aku akan bisa menyelesaikannya.


Senka.


'Myu? Iya, Papa?'


Kita akan melakukan rencana SS seperti yang pernah aku katakan.


Rencana SS : Waspada.


'Iya, Papa!'


Lalu, sepertinya aku perlu mengorek semua informasi lebih darinya.


Ketika aku mau meminta informasi lebih darinya, tiba-tiba Lia sudah di samping kami.


"Ren," Ucapnya berjalan kearahku dan memisahkanku dari Van dengan paksa.


Wajahnya tampak tidak senang.


"Lia?" Aku agak bingung melihatnya tampak marah.


"Kenapa kau berperilaku aneh seperti itu?" Ucap Lia menarik kerahku. Kebiasaan apa ini??


*Tatap..


"Apanya?" Ucapku dengan heran.


"Jarang sekali kau banyak tanya ke orang asing," Ucapnya terdengar mencemooh.


"Bukankah itu tidak masalah?" Ucapku melepas diri darinya.


"Tentunya, tapi apa yang kalian bicarakan itu. Red Domination? Hilang? Hal apa yang kalian bicarakan sebenarnya??" Ucapnya berwajah sebal.


Lia tampak kesal dan meminta jawabanku.


"Oh, itu karena Merek- mnhmhnnm???"


Aku menutup mulut Van sebelum dia bisa mengatakannya.


"Ahaha.. Jangan pikirkan itu Lia. Dia terkadang bercanda."


"Oke..." Ucapnya dengan sinis.


'Uh.. kenapa kau melihatku seperti itu, Lia?'


Tapi sudahlah, yang penting aku akan membuat penghancuran itu tidak terjadi. Karena kelompok mereka tidak akan asal menyerang selain target yang klien mereka incar.


Pria itu, aku berterimakasih padanya. Karena telah dengan rinci memberitahu banyak hal mengenai kelompok misterius yang sebenarnya semacam tentara bayaran dan sekelompok orang Gila aneh yang haus akan sesuatu. Mereka merupakan lawan menyusahkan dan tidak boleh di lawan.


Jadi apa yang harus kulakukan adalah menghindari hal itu. Benarkan, Master?


.........


Aku berkata seperti itu, tapi sekarang Van, Lia dan aku tengah berhadapan dengan mereka.


Red Domination dan Kakaknya Van (?).


Ini terjadi ketika Van langsung melompat dan turun dari tempat tidurnya. Dia tampak girang dan pergi keluar kamar.


Jadi kami mengikutinya dengan terburu-buru.


Van menuju ke gerbang desa, lalu aku dan Lia mengikutinya dari belakang.


Firasatku saat itu tidak enak, tapi aku tetap mengikutinya dan itu terbukti sekarang.


Bukankah kakaknya terlihat berbeda?


Seorang wanita dewasa dengan rambut berwarna coklat panjang dengan wajahnya pucat dan terlihat betapa lama dia hidup.


Berpenampilan layaknya pendeta, warna putih dan hitam yang berpadu di pakaian pendetanya.


Lalu, matanya yang biru menatap kami dalam diam.


"Kakak!"


"Van, kau disini ternyata.."


"Hehe~.."


Van langsung memeluk Kakaknya itu dengan riang.


"Van.. Seharusnya.. kau bilang jika ingin pergi dari kakakmu.." Ucapnya dengan dingin.


"...Ma-Maaf."


Van dengan takut mundur dan tampak menyesal.


"..."


Rasanya suasana di sekitar kami menjadi agak dingin.


Walaupun begitu, ketiga orang itu tetap diam di belakang Kakak Van.


Lalu, aku melihat layar di atas kepalanya.


Rasa dingin dan tidak menyenangkan menjalar masuk ke seluruh tubuhku.


Seakan realitas yang tidak menyenangkan muncul di depanku.


[ Anna Asmode Ussia ]


[ Ras Demon ]


[ Level 82 ]


Kurasa situasi kami dalam bahaya.


Lalu, ketiganya juga memiliki status yang sama berbahaya.


"Apa kalian Kakak dan teman-teman Van?" Ucap Lia dengan ramah.


"Iya, nona muda. Apa kami menganggu?" Ucap Anna dengan lembut.


"Ti-Tidak kok. Ah, apa mau mampir di tempat ku dulu? Kami punya bisnis penginapan, jadi kalian juga bisa menginap di sana."


Oh, tidak. Situasi kami semakin dalam bahaya. Apa yang kau coba lakukan Lia!?


"Tentu, kami memang ingin beristirahat." Anna menyambut ajakannya.


"Baik! Aku akan mengantarkan kalian ke penginapan." Lia tampak bersemangat mendengarnya.


Jadi Lia dengan senang hati mengantar mereka ke Penginapan yang dikelola keluarganya, The Killer Rabbit. Penamaan yang sangat berkesan.


"Ah, benar Namaku Amelia Urona," Ucapnya memperkenalkan diri.


"Fufu, sepertinya aku belum mengenalkan diri. Aku kakaknya Van, Anna," Ucapnya dengan lembut.


Anna tersenyum mengatakannya dan Lia ikut tersenyum.


"Mba Anna, kalo boleh tahu. Apa yang mba ingin lakukan di sini?" Ucap Lia berjalan di sampingnya.


"Oh? Tidak ada, kami hanya lewat saja." Anna tersenyum mengatakannya.


"Begitu ya." Lia mengangguk mendengar jawaban Anna.


'Bagus, kurasa aku harus semakin berhati-hati.' Pikirku mengawasi situasi kami.


"Oh iya, pria aneh di sampingku adalah Ren Maulana." Ucapnya menunjukku.


"Siapa yang kau panggil Aneh?? Iya, Salam kenal Mba Anna," Ucapku menyapanya.


"Iya, salam kenal juga," Ucap Anna dengan senyum.


Aku balas tersenyum, di sisi lain Van tampak riang di depan kami.


Lalu ketiganya mau ga mau ikut memperkenalkan diri.


"Mereka adalah yang menjaga kami. Dia adalah Noa," Ucap Anna menunjuk ke Pria besar berkulit hitam dan botak.


"Salam." Jawab Noa singkat.


"Lalu.."


Saat Anna akan menyebutnya, dia maju dan dengan bersemangat menjawab.


"Aku Fanya! Salam kenal, Kiddo," Ucapnya dengan riang.


Gadis remaja yang tampak berenergi itu menampar bahuku.


Oi??


"Hm.. Riel," Ucap Pria berambut pirang yang tampak lesuh dan malas itu.


Jadi kami mengangguk dan berkata "Salam kenal juga."


Kemudian, karena jarak kami dengan penginapan The Killer Rabbit, lumayan jauh.


Jadi, sambil di jalanan. kami menjelaskan beberapa hal mengenai desa.


Namun, Suasana agak dingin, aku dan Lia merasakannya. Entah kenapa ketiganya sangat diam sejak perkenalan dan terasa waspada dengan sekitar dan kami.


Lalu Kakaknya Van terus tersenyum saat berjalan berdampingan dengan kami, tetapi berbeda dengan kakaknya, Van tersenyum di sampingnya dan berjalan dengan riang, seolah tidak bermasalah dengan suasananya.


"Hehe~ hehe~"


Van tampak sangat bahagia sekali, sedangkan Lia dan aku merasa berat dan ikut diam.


Jadi aku menatap Lia seakan kesulitan berbicara di situasi seperti ini.


"Lia, coba lakukan sesuatu.." Ucapku berbisik padanya.


"Oke, oke.." Dia dengan berat hati mengangguk.


Jadi dia berbicara sambil menuju ke tempat yang kami tuju, kira-kira sebentar lagi.


"Mba Anna, bagaimana perjalananmu?" Ucapnya dengan ramah.


"Perjalanan? Itu menyenangkan," Balas Anna singkat.


"Begitu ya."


Dia mengangguk dan berjalan ke jalurku.


"Hei, kenapa kau bertanya seperti itu??" Ucapku berbisik padanya.


"Emang apa yang kau harapkan dariku??" Ucapnya ikut berbisik.


Aku dan Lia menjadi sibuk berdua. Kakak Van menatap kami tersenyum dan terkikik tertawa. Van juga ikut tertawa. Mungkin ini lucu oleh mereka.


Kami melanjutkan menuju ke Penginapan milik keluarga Lia.


.........


...[ Continued ]...