The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 05 - [ Battle In The Bloody Forest (2) ]



...BAB 5 - PERTEMPURAN DI HUTAN BLOODY (2)...


...β—‡β—‡β—‡...



...(Ular Anaconda Hijau)...


[ Blood Contract telah dibuat! ]


[ Skill Blood Exchange di dapat. Player bisa menggunakannya. ]


"Guhh?!" Tiba-tiba aku merasakan rasa sakit disekujur tubuhku.


[ HP : 190/200 ] πŸ”» [ MP : 28/120 ] πŸ”ΊοΈ


[ HP : 170/200 ] πŸ”» [ MP : 42/120 ] πŸ”ΊοΈ


[ HP : 160/200 ] πŸ”» [ MP : 67/120 ] πŸ”ΊοΈ


[ HP : 120/200 ] πŸ”» [ MP : 88/120 ] πŸ”ΊοΈ


Aku merasa aku semakin melemah, tetapi aku penuh dengan energi sihir.


Ini kesempatanku!


"Kshaaaasii!!"


Pekikan keras Anaconda bergemuruh.


Anaconda menuju kearah kami dengan menakutkan. Ayah mengangkat pedangnya dengan berat untuk bertarung dan menghadangnya.


Tampak sedikit goyah Ayah mencoba berdiri, tapi dia tetap berusaha melawannya. Walaupun tubuhnya terdapat luka yang cukup parah diterimanya, dia tetap teguh menghadang Anaconda.


"Ayah, aku akan membantu!" Kataku tegas berdiri di sampingnya.


"Tidak! Kau harus ... Baik! Lakukan seperti yang kau mau, Nak!" Ucap Ayah yang berubah pikiran melihat betapa seriusnya Aku.


"Ayah, tolong tahan satu menit, tidak setengah menit saja," Ucapku mulai merapalkan sihir.


"Baiklah," Ucap Ayah berdiri di depanku.


Aku sangat yakin, aku bisa mengalahkan Monster itu. Walaupun aku harus menggunakan semua Mana milikku.


"Hufft..." Aku menarik nafas dan menatap lurus ke depan.


Aku mulai berkonsentrasi saat mengangkat tangan ke depan.


"Monster sudah semakin dekat," Ucap Ayah.


Aku mengangkat kedua tangan ke depan dan menatap lurus dengan tajam.


Rasakan seperti saat itu, saat pertama kali aku mencoba sihir api.


Fokus, rasakan seperti saat aku menggunakannya.


Aku harusnya bisa melakukan hal lain dengan sihir Api.


[ Skill Concentration Magic di dapat ]


Sihir api mempan terhadapnya, aku hanya perlu membuat sihir ini lebih kuat, lebih kompleks dan lebih panas.


Udara di sekitarku berubah, hawa panas menyengat menyelimutiku.


"Nak.." Ayah tampak tercengang melihatku.


"Ksihhaaahh!!"


Klang!


Dentingan keras pedang bertabrakan dengan Kepala Anaconda, tampak Ayah mencoba menahannya sekuat mungkin.


"Sial." Ayah mulai menahan serangannya.


Bwoossh!


Udara panas terasa di seluruh tubuhku, bukti sihir terbentuk terjadi padaku.


Rune-rune sihir melayang dan berputar di sekelilingku. Ingatan-Ingatan yang asing muncul di kepalaku.


Ini terasa sangat baru.


Aku mulai menargetkan musuh di depanku.


"Ksiiissakk!!"


Ayah tampak terkejut dan membelalak saat menahan serangan Ular. Serangan yang lebih kuat mendorong Ayah ke samping.


Anaconda merasakan bahaya dan bergegas menuju kearahku, tapi itu terlambat.


Kedua tanganku terbentang lurus mengarah menuju kedatangan Anaconda yang dengan ganas menemuiku.


Sihir terkuatku akan terwujud.


Aku melangkah ke depan, berdiri dengan tenang dan mengangkat ke atas tangan kiriku bersamaan tangan kanan.


"Ayah!"


Mendengar teriakanku, Ayah bergegas menjauh.


"Ksihhaaahh!!"


Anaconda dengan raungan marah bergegas kearahku.


Seringai kejam terukir di wajahku, mataku membara melihat Ular yang hampir mencapaiku.


"O Dewa Api! Aku akan mengirim hadiah untuknya ke alam baka! My strongest Fire Magic, Explosion!?" Teriakku.


Dengan teriakanku lingkaran rune-rune kuno menyebar hingga pergelanganku.


Warna merah dan biru memancarkan dari rune yang terukir. Lalu suara anorganik yang biasa terdengar muncul.


[ Sihir Kuno 'Explosion telah diaktifkan ]


"Matilah!" Ucapku keras.


Fwooosh! Blaaaasst!!


"Kikyaahhhh!?!?"


Nyala Api muncul di tengah Anaconda, Api raksasa menyelimuti seluruh tubuhnya.


Nyala Api yang menyala-nyala dengan terang, memerah dan menghitam mengerubuninya.


Di lanjutkan dengan Api biru dan terakhir putih cerah. Semuanya menutupinya dan lalu cahaya mengerikan terwujud untuk mengakhiri penderitaannya.


BAAAAAAAMMM!!


Ledakan dahsyat terjadi dengan kuat di depan kami dan menghempaskan Aku dan Ayah.


Kami terlempar oleh ledakan sihir itu dan menabrak pepohonan di belakang.


Hingga asap berakhir, kami tetap siaga jika ini belum berakhir.


Lalu, akhirnya itu terlihat..


Sosok di balik asap tebal mulai menampakkan.


"Haa.. haa.. haa.. Bagaimana.. itu?" Ucapku tersengal-sengal, aku sudah kehabisan mana dan tampak kelelahan menyelimutiku.


"Hebat, Nak.. Kau bisa melakukan itu, ya?" Ucap Ayah yang menekan pedangnya sebagai tongkat untuk bersandar.


Aku menatap dengan waspada jika Monster itu masih hidup. Walaupun aku tidak yakin, apa ada yang hidup setelah serangan seperti itu.


Kemudian, tirai asap mulai menghilang dan Ular raksasa itu berdiri dengan angkuhnya. Itu masih berdiri dan menatapku dengan kengerian.


"Tidak mungkin.. " Ucapku frustasi.


"..." Ayah hanya diam dengan mulut terkatup.


Ayah terdiam dengan ngeri melihat Monster itu. Namun, seharusnya bukan itu wajah yang harus kami tunjukkan.


Karena akulah yang membuat ini terjadi.


BAAK!


Anaconda jatuh tergeletak tak berdaya, perlahan cahaya di matanya mulai redup dan akhirnya itu sudah tidak bergerak lagi.


""..."" Kami berdua menatap Ular itu dalam diam.


"Ayah," Ucapku melihat pada Ayah.


"Iya, Nak," Ucap Ayah mengangguk.


Kami berdua tersenyum, ini berarti kami telah mengalahkannya.


"Haha.. Akhirnya berakhir..." Ucapku menatap tubuh Ular itu yang menghitam.


Aku mencoba menusuknya dengan ranting kayu yang kutemukan.


Ayah berjalan ke sampingku dengan senyum lebar, walaupun dia harus perlahan-lahan karena rasa sakit yang dia rasakan di rusuknya.


"Nak, seranganmu luar biasa sekali!" Ucap Ayah mengacak rambutku dengan gembira.


"Hei!?" Aku mencoba menghentikannya, tapi rasa penat membuatku tidak kuat melakukannya.


Ular Anaconda memiliki hampir di tubuhnya banyak bekas terbakar di mana-mana dan karena ledakan itu, membuat kerusakan hampir 10 meter lebih di sekitarnya dan membuat kawah besar seukuran danau tepat lokasi Anaconda mati.


"Sepertinya ini... Sudah berakhir..." Ayah tersenyum tipis mengatakannya.


"Benar... Ayah.." Ucapku agak lelah.


Uh..? Apa? Tubuhku terasa sangat berat..


Tiba-tiba aku merasa lemas dan langsung runtuh ke belakang.


"Nak!?" Ayah terkejut dan menangkapku.


"Ugh.. Ah, Ayah.."


Aku menatap Ayah yang tampak khawatir.


"Nak! Ayah akan membawamu pulang!"


"Ayah, sebelum itu.. Aku ingin mengatakannya.."


"Baik, apa yang kau mau, Nak." Ayah menatapku serius.


"Haha.. Ayah, di sebelah utara sana ada gua yang ditutup oleh sebongkah batu berwarna hitam kecoklatan di mana aku menyimpan banyak buruanku. Ayah bisa mengambil.. Semua.. nya-.." Ucapku menunjuk ke kananku, tapi sebelum aku bisa selesai, rasa lelah lebih dulu menarikku.


"Ren?!" Teriak ayah.


.........


Hmm..? Tempat ini..


"Huh?!" Aku langsung tersentak dan bangun melihat sekitarku.


Aku langsung menyadari kalau aku berada di kamar tidurku.


"..?" Aku mencoba mencerna situasiku.


Apakah itu semua mimpi?


"Ah, benar!" Sekarang aku ingat!


Aku sedang mengikuti acara Festival!


"Aku harus sece-.." Aku beranjak keluar dari tempat tidur, tapi aku merasakan sesuatu di sampingku.


Aku melirik ke kananku, ada seseorang tertidur dan tampaknya menjagaku.


"..Lia?"


"Mm? Mmn.. Uuh?" Dia terbangun dan mengusap mata yang kemudian menatapku.


"..."


"..?"


Wajahnya mulai memerah dan air mata keluar dari mata hijaunya.


"Ren!?" Lia dengan histeris memelukku.


"Eh??"


Lia langsung memelukku tanpa aku bisa bereaksi. Dia menangis dengan kencang, sampai aku tidak tahu harus apa.


"..Lia?"


"Huwaaaa! Ren! Ren! Kau selamat! Syukurlah.." Ucapnya yang berlinang air mata.


"Ah.." Aku tertegun dan membiarkan Lia terus memelukku.


Sekarang aku ingat, aku hampir saja mati di sana.


Kondisiku dan ayah dalam bahaya saat itu, pasti Ayah lah yang membawaku ke rumah.


"..." Aku hanya diam dengan Lia menangis di pelukanku.


Yah, tetap saja. Melihat Lia menangis dan ada di pelukanku itu bukanlah hal biasa.


Jadi aku sedikit terkejut, tapi aku harus merangkulnya hingga dia selesai menangis.


Benar, itulah bagaimana pria sejati melakukannya!


Nikmatilah!


.........


"A-Aku hanya khawatir. Ja-Jadi lupakan yang tadi itu!" Ucapnya memalingkan wajah dengan tersipu malu. Dia mengusap matanya dengan panik.


"A-Aku mengerti," Ucapku menatap ke kiri, mencoba tidak saling bertatapan.


"..."


"..."


Ini.. agak canggung.


Namun, aku merasa lega rasanya.


Mengetahui kalau Lia mengkhawatirkanku adalah apa yang membuat ku sangat bahagia.


"Lia," Ucapku memanggilnya.


"I-Iya, ada apa?" Dia mencoba melihatku, walau wajahnya masih memerah.


Tampaknya dia selesai membersihkan air matanya, Lia kemudian menatapku dengan gugup.


Aku tersenyum dan menepuk tanganku seakan baru ingat.


"Oh iya, bagaimana dengan Festival?" Ucapku penasaran.


Sejak aku tidak sadarkan diri di sini, sudah pasti Acara masih berlangsung atau sudah selesai.


Namun, ekpresinya membuatku bingung.


"Huh? Ah.. Kalau itu," Ucapnya sedikit malas.


"..?"


"Festival ditunda," Ucapnya datar.


"Apa..? Kenapa begitu? Apa mungkin karena aku?" Ucapku dengan gelisah.


Dia menggelengkan kepala dengan tegas.


"Bukan Bodoh! Itu karena Monster buas terlihat di Hutan Bloody. Juga para peserta yang berburu telah diserang dan ada yang terluka sampai yang lukanya parah. Beruntung mereka semua selamat, jadi yang lain harus menunda acara sampai semuanya berakhir," Ucap Lia tanpa jeda.


"Be-Begitu.."


Monster buas, ya..


Memang, aku juga salah satu korban yang diserang. Akan tetapi, kurasa ini ada hubungannya dengan bagaimana Monster yang tidak biasa berada di Hutan Bloody membuat sarang.


Kudengar tidak ada Monster yang setingkat Anaconda atau lebih. Jika Hutan memang dipenuhi banyak monster setingkatnya.


Aku yakin, kondisi desa akan memburuk.


Jadi ini sudah pasti membuat semua penduduk desa khawatir dan ketakutan.


"Benar juga! Bagaimana kondisi ayahku?!" Ucapku panik.


"Kalau ayahmu, dia baik-baik saja. Walaupun sekarang masih dalam tahap penyembuhan. Karena beberapa tulangnya patah dan dia memerlukan tindakan medis. Juga perlu untuknya beristirahat beberapa hari sampai dia membaik," Ucapnya menjelaskan dengan datar.


Melihatnya menjelaskan, sepertinya dia ikut bertindak dan membantu penduduk desa.


Aku merasa kalau dia mungkin telah mengembangkan bakat penyembuhannya.


'Memang begitu seharusnya seorang Pendeta Suci bertindak.' Pikirku mengingat bagaimana dia dewasa nanti.


"Ren, untuk sekarang kau harus istirahat beberapa hari. Jadi jangan pergi kemana-mana. Tidur, ok." Ucap Lia menunjuk lurus tepat ke wajahku, juga dia menatapku tegas seakan mengingatkanku.


"Baik, Perawat," Ucapku memberi hormat.


(β€’ w β€’)7


"Uh?! Di-Diam. Aku akan pergi!" Dia terkejut dengan wajahnya memerah tomat.


Melihat Lia memerah, membuatku tersenyum.


Dia langsung berjalan pergi dengan malu dan tampak gelisah.


Kurasa aku akan cepat sembuh jika sering melihatnya seperti itu.


"Hahaha.."


"Hmph! Bodoh!" Dia mengembungkan pipinya dan berlari keluar dari kamarku.


Lalu dia menutup pintu dengan keras yang meninggalkanku sendirian di kamar.


Sekarang..


Apa yang aku akan lakukan, ya?


Karena aku dimintanya untuk tetap di kamar dan tidur..


"Yah, Aku tidak mengantuk sih.."


Karena aku baru saja bangun, aku tidak lagi mengantuk dan sekarang lebih terjaga.


Karena layar baru telah muncul sejak tadi, wajahku tidak berhenti tersenyum.


[ Player telah mencapai level 15 ]


[ Akses Quest telah di buka. ]


"Quest?"


Apa? Serius??


.........


...[ Continued ]...