The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 24 - [ A Problem in There ]



...BAB 24 - SEBUAH MASALAH DI SANA...


...◇◇◇...


Di pagi harinya.


Van masih memelukku dengan senyumnya yang polos di sampingku.


Aku ingin tahu seberapa kuat dia ini, aku sampai tidak bisa melepaskan diri darinya.


Gogogogogo--!!


"..." Aura mengintimidasi yang sangat kuat terasa di dekatku.


Aku melirik dengan keringat dingin ke sosok dengan aura yang menekan itu.


Senka menatap sinis ke arah Van.


"Se-Senka?" Aku terkejut menyadari Senka telah berdiri di sampingku dengan aura yang menekan, ia menatap sinis ke Van.


Gulp..


Senka mengangkat tangan kanannya ke depan, tepat Van berada. Kemudian seolah menjawab panggilannya, bayangan di sekitar kami bergetar dan perlahan naik membentuk tangan-tangan bayangan.


Situasi kami menjadi semakin rumit.


Tangan-tangan bayangan yang berdiri di sekitarku tampak menakutkan.


"Uh.." Aku menelan ludah mengawasi situasinya.


Beberapa tangan bayangan langsung melesat dan menangkap Van, kemudian melemparnya keluar jendela sekali lagi.


"!?!??" Itu sangat cepat, sampai Van tidak menyadarinya.


Aku menatap adegan itu dalam diam.


"..."


Keheningan menyelimuti seisi ruangan.


Tap Tap Tap.


Langkah kaki mendekat, aku menatap ke Senka dengan gugup.


"Papa!" Senka dengan lucu memelukku, dia menatapku berbinar.


Ugh.. Lucunya!


"Senka, anak baik.." Dengan bahagia aku memeluknya kembali.


"Hehe~.." Senka balas memeluk dengan lembut.


"..." Tapi, aku tetaplah merasa merinding melihat apa yang Senka perbuat barusan.


Walaupun begitu, Senka tetaplah anakku yang paling imut dan manis di dunia~!!


Melihat malaikat imutku, wajahku melembut dan aku mengelus kepalanya dengan penuh rasa sayang.


"Hehe~." Senka terlihat bahagia saat aku mengelus kepalanya.


Menyadari Senka menjadi manja, aku terus mengelus kepalanya dengan lembut dan memanjakannya. Senka balas memelukku lagi dengan ekspresi cerah yang bahagia.


Pagi yang sangat indah~!


Ah, benar..


"Senka, ayo ke bawah. Nenek (ibu) pasti sedang memasak makanan kesukaan Senka sekarang.."


"Ayo!" Senka melepaskan pelukan dan turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa. Melihatnya saja sangat lucu sekali.


Dengan begitu, kami menuju ke lantai bawah di mana ruang makan berada.


"Papa, cepat!"


Senka sangat bersemangat untuk pergi menuju ruang makan.


Aku tersenyum dan mengikutinya.


.........


Seusai sarapan, aku di mintai pergi mengantarkan barang yang dipesan oleh Paman Thomas.


Ibu memintaku mengantarkannya.


Lalu seperti biasanya..


[ Quest Umum "Mengantar Barang." Diterima ]


Walaupun ini hanya Quest Umum alias biasa, aku bisa mendapatkan Hadiah dari sistem seperti Exp Level dan Itu saja.


Lalu, hadiah dari Klien atau si pemintanya juga menjadi bagian hadiah.


Jadi aku mengambil barang yang diperlukan dan membawanya.


"Baiklah.. Akan aku bawa."


Aku mengambil sekantung pupuk tanaman, tampak berat dan ukurannya lumayan besar.


Tapi, aku bisa membawanya. Terutama aku diminta membawa sekitar 4 Karung.


Begitu banyak, akan tetapi aku masihlah kuat membawa semuanya.


"Ren, Biarkan Senka bersama Ibu," ucap Ibu sebelum aku berangkat.


"Papa!" Senka terlihat ingin bersamaku.


"Senka.." ucapku dengan sedih.


Uhh.. Aku juga ingin selalu bersama Senka!!


Namun, aku dengan berat hati melepas Senka dengan Ibu.


Kau tahu, amarah seorang Emak-.. Ibu sangat mengerikan. Karena itu, jadilah penurut jika tidak ingin hal itu terjadi.


Kemudian aku bergegas pergi ke tempat tujuan, yaitu perkebunan buah Paman Thomas Alva!


.........


Di tengah desa.


Aku berjalan dengan santai membawa 4 kantung di kedua tanganku.


Di sekitar Alun-alun desa tampak ramai dan hidup seperti biasanya.


Lalu...


"...?" Aku memperhatikan sesuatu yang tidak asing.


Dalam perjalanan menuju Perkebunan buah Paman Thomas. Aku menemukan seorang gadis yang terlihat sepantaran denganku, dia berambut perak dan terlihat babak belur. Seakan terjatuh di suatu tempat dan berdiri tidak jauh dari ... rumah ... ku.


"..." Aku merasa sial.


*Bersiul


Jadi aku berjalan menjauh darinya sambil pura-pura bersiul, tidak melihat.


'Kuharap aku tidak disadarinya..'


Aku dengan perlahan menjauh dari jalanan desa dan pergi ke arah lain menuju perkebunan buah.


Namun.


"Ren?"


"...!" Oh, tidak.


Saat aku pikir sudah menjauh, gadis itu menatap sinis kearahku saat menyadari kalau aku tidak jauh darinya.


Dia berjalan mendekatiku dengan wajah cemberut.


"..sial." Aku dalam bahaya.


"Ren.."


Gadis perak itu, Van sang Vampir mendekatiku dengan santai dan menekan.


Aura yang menekan darinya meluap kearahku.


"..Hahaha. Ada apa, Van..?" ucapku yang perlahan mundur.


"Ada apa..? Hm.. ya.." ucapnya berpikir sebentar dan tersenyum manis, tampak mencurigakan.


Lalu, entah sejak kapan Van sudah di depanku.


"Huh?!" Aku terkesiap dan menjatuhkan bawaanku.


Baak!


Dia mencengkram kedua bahuku dan menatapku serius. Wajahmu terlalu dekat?!


"Ren. ..Aku ... lapar.." ucapnya yang diikuti suara keroncongan. Growwwl~


Hm?


Hmmmmmm??


Mungkinkah..


"Ti-Tidak. Lepaskan aku-... ??!?!?" Aku dengan panik mencoba kabur.


"Slurp.."


Terlambat.


Dengan seenaknya, Gadis Vampir ini mengigit tengkukku dan menghisap darahku.


"Ugh.."


"Aah.." Tampak dia sudah puas.


"..." Setelah selesai, aku terjatuh dan memikirkan apa yang sudah aku lakukan.


Aku merasa lelah sekali ... sepertinya aku perlu makan daging lebih banyak lagi ... bisa-bisa aku anemia.


"Sudah kenyang?" ucapku agak lesu.


Perlahan aku berdiri.


"Ahh.. Mantap. Kau memang sangat enak, Ren!" ucapnya memujiku, walau terdengar buruk untukku.


"Hm.. ya.." ucapku jengkel.


Agak menjengkelkan mendengarnya dari seseorang yang seenaknya seperti Van.


Jadi aku mengambil lagi barang bawaanku dan mencoba pergi.


"Mau kemana kamu?" ucap Van menghampiriku, dia juga penasaran dengan yang aku bawa.


"Aku ada urusan. Jadi bye.." ucapku ingin sekali menjauh darinya.


"Eh, tunggu dulu! Aku bisa membantumu." Van menghalangiku dan dia menunjuk kantung yang kubawa saat mengatakannya.


"Membantu?"


"Iya! Serahkan padaku!" ucapnya menepuk dadanya dengan bangga.


"Baiklah.. Ini." Aku memberinya barang bawaanku, dua buah karung berisi pupuk ternak.


"Oke. Jadi apa selanjutnya?" ucapnya dengan mudah membawanya, seperti yang diharapkan dari ras superior.


"Ikut saja.."


Jadi aku terbebas dari membawa banyak barang berat.


.........


Di tengah jalan, aku melirik ke Van yang bersiul dengan semangat.


"Oh iya, Van," ucapku memanggilnya.


"Apa?" Van melirik padaku.


Dia tampak dengan lugu menatapku, aku tersenyum kecut dan mengatakan apa yang sejak tadi aku pikirkan.


"Kapan kau akan pergi?" ucapku yang membuatnya berhenti.


"Pergi?" ucapnya dengan bingung.


"Iya, bukannya kalian menginap sehari untuk pergi pagi ini?" ucapku mengingat saat Kakaknya, Anna berniat menginap satu hari untuk pergi pagi-pagi sekali.


"Ah.. iya, hm? Sehari?" Dia terlihat masih bingung, walaupun mencoba mengingatnya.


"Apa kau ti-.. Benar juga." Aku baru menyadarinya.


Gadis ini sudah menghilang saat kakaknya, Anna mau memesan kamar. Jadi dia sudah pergi keluar penginapan dan mungkin? Berada di kamarku ketika aku kembali.


"Haaa?! Jadi kakak dan yang lain pergi!?" Dia terkejut menyadarinya.


"Iya, mungkin. Jadi benar kau tidak tahu..?" ucapku bertanya.


Wajahnya memucat.


Serius deh..


"A-Aku akan pergi!!" Van dengan panik menjatuhkan barang yang dia bawa dan mulai berlari.


"Hei..?" Aku menatap karung itu yang tumpah.


"Sampai jumpa, Ren! Lain kali aku akan membuatmu menjadi Partner kontrakku!" ucapnya yang dengan lincah melompat dari atap ke atap.


"Partner.. Kontrak?"


Apa yang dia maksud itu?


Tapi, masalahnya karung itu mengeluarkan isinya, karenanya dalam proses aku menggunakan Telekinesis untuk memindahkan isinya kembali.


"Haa.."


Jadi sekarang aku tanpa motivasi pergi menuju ke Perkebunan buah Paman Thomas. Lelahnya..


Sialan Van..


.........


Aku melewati gerbang desa dan berjalan tidak jauh ke lokasi yang ada di timur desa.


Lumayan jauh jika berjalan, tapi pada akhirnya aku sampai juga.


"Haa.. Sudah lama sekali," ucapku memandang perkebunan dengan nostalgia.


Ingatanku sebelumnya tidak terlalu banyak mengenai perkebunan Paman Thomas, tapi tetaplah tempat ini merupakan penghasil desa terbesar.


Jadi aku berjalan memasuki Perkebunan melewati gerbang pagar yang di Jaga.


Penjaga melihatku yang aku balas mengangguk, jadi aku di perbolehkan masuk.


Jadi aku memandang Perkebunan dengan santai.


Perkebunan milik Paman Thomas begitu besar dan luas. Jika aku perhatikan, itu sekitar sepertiga desa.


Hampir tertanam banyak sekali jenis tanaman buah-buahan yang di tanam di kebun yang luas ini.


Lalu ada beberapa pekerja di sana-sini yang sedang bekerja, tampak ada yang tidur di gubuk perkebunan.


Karena aku sudah sampai, aku berjalan mendekati salah satu pekerja di sana.


"Halo, aku membawakan barang untuk Paman Thomas. Apa dia ada?" ucapku mendekatinya.


"Uh? Iya... !?" Suara yang tidak asing terdengar darinya.


Wajah gadis yang kuajak bicara itu merona dan langsung menjauh dariku. Dia terlihat gelisah dan gemetar saat melihatku.


"Eh? kenapa..?" Aku agak heran.


Aku bingung sesaat, tapi melihat lagi. Gadis yang kuajak bicara terlihat mirip dengan Amelia, mungkinkah gadis ini..


"Kau ... Fiona?" ucapku bertanya.


"..!! A-Aku, I,Iya.." Dia terkesiap dan mengangguk menjawab.


Tampaknya dia sangat gelisah dan dari bagaimana wajahnya yang memerah, dia sepertinya malu.


Tapi dia tetap mencoba membalasku, jadi aku dengan santai mengangkat kedua tanganku dan mendekatinya.


"Tenang saja, aku hanya mengantar pesanan Paman Thomas," ucapku tidak macam-macam.


"Untuk Paman? Tunggu sebentar," ucapnya dengan gelisah pergi.


"Baik." Jawabku.


Fiona berjalan pergi menuju sebuah rumah yang tidak jauh dan merupakan tempat tinggal Paman Thomas.


Sambil menunggunya, aku meletakkan keempat kantung yang lumayan berat itu ke tanah dan menatanya satu per satu ke dalam kotak kayu dengan tertulis "Letakkan pupuk di sini".


Setelah selesai mengisinya, aku menghapus keringat dan melihat ke sekeliling.


Tidak jauh dariku, ada meja dengan dua kursi memutarinya. Di atas meja tidak ada apapun, tapi lokasinya yang strategis membuatku bisa melihat seluruh perkebunan dari sana.


"Hmm.. Baiklah, kurasa aku akan duduk saja," ucapku mendekati meja.


Karena sedang luang, aku duduk dengan santai dan memandangi pemandangan perkebunan buah yang indah dan mempesona.


"Aku ingin minum ... ah.."


'Benar juga, Senka tidak di sini.'


Sekarang aku tidak bisa mengambil sesuatu dari bayangan. Karena, biasanya Senka lah yang menyimpan barang-barang di bayangannya.


Tepatnya dia memiliki skill Shadow Storage dan itu sangat praktis yang mempermudah dalam segala hal.


Tak masalah, lebih-lebih aku akan menunggu dan melihat pengelolaan perkebunan yang menyegarkan untuk di lihat.


.........


Tap Tap Tap.


Tak lama kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku.


"Oh, Ren!" Teriak Paman Thomas mendekatiku.


"Ah, Paman Thomas. Aku sudah menunggumu.." ucapku berbalik dan menyapanya.


Paman Thomas datang bersama Fiona dan mengenakan pakaian petani biasanya.


Di tangan kirinya, dia memegang garpu rumput yang ia gunakan untuk mengurus perkebunan dan di tangan kanannya terdapat sekeranjang buah-buahan hasil panen.


Setelah ia meletakkan keranjang ke meja, Paman menghampiriku.


"Oh! Kau sudah mengisinya! Kerja bagus, Ren!" ucap Paman melihat kotak pupuk telah diisi.


"Iya, Paman," ucapku tersenyum atas pujiannya.


Paman tersenyum puas dan memberiku jempol, karena telah membawa empat kantung dengan masing-masing seberat 25kg.


"Bagus, ini uangnya," ucapnya memberikanku bayaran.


"Baik."


Aku mengambil uang yang Paman Thomas bayarkan.


[ Quest Umum "Mengantar Barang" Selesai! ]


[ Hadiah diberikan : Exp Level dan 20 Silver ]


Aku mengangguk puas menerima hadiahnya.


"Baiklah, aku pergi dulu," ucapku pamit.


"Ya, hati-hati di jalan!" ucap Paman Thomas dengan nyaring.


Lalu, aku pun beranjak pergi menuju jalan keluar.


"Kyaa!!" Suara teriakan terdengar tidak jauh, ketika aku baru saja keluar.


"Hm?"


Aku melihat ke belakang dan tampak Paman Thomas terkejut oleh teriakan itu.


Aku berlari kearah Paman dengan cepat.


Paman tampak bingung dan melihat seseorang mendekatinya.


"Apa yang terjadi??" ucapnya heran.


"Boss, gawat! Ada sekawanan Kera perusak menerobos ke dalam kebun!" Seorang pria berteriak menuju Paman Thomas.


"Apa?!" Terkejutnya.


Wah.. Datang sebuah masalah..


"Perintahkan yang lainnya untuk pergi mengungsi! Lalu panggilkan bantuan dari desa!" ucap Paman Thomas dengan tegas.


"Siap!" Pria itu bergegas pergi setelah memberi hormat.


Paman dengan terburu-buru menuju ke dalam rumahnya, sampai aku memanggilnya.


"Paman!" ucapku dengan keras memanggil.


"Ren? Kenapa kau kembali?" Paman menyadari kedatanganku dan tampak tidak mengerti alasan aku kembali.


"Aku mendengar ada teriakan, apa yang terjadi?"


"Kera Perusak menyerang perkebunan," ucap Paman serius.


"Apa ada yang mengusirnya?"


"Kami sedang meminta bantuan desa dan sebisa mungkin menjauhkan para Kera sejauh mungkin dari desa dan orang-orang," ucap Paman yang mengambil garpu rumput.


Aku mengangguk memahami yang Paman katakan. Sepertinya aku akan bergerak lagi setelah sekian lama.


"Paman, biarkan aku ikut membantu," ucapku percaya diri.


"Benarkah!?"


"Tentu, aku akan membabat habis mereka."


"Baiklah, itu melegakan. Ren, tenang saja aku akan membayar bantuanmu," ucap Paman tampak lega.


[ Quest Langka #2 diterima ]


Aku mengangguk senang, Quest Langka di dapat!


"Baiklah!!"


Aku langsung menuju ke tempat Para Kera Perusak menyerang.


Saatnya bekerja!


.........


...[ Continued ]...