The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 14 - [ Guest I Know ]



...BAB 14 - TAMU YANG AKU TAHU...


...◇◇◇...


Esok harinya, Aku bersiap untuk pergi menggembala dan melatih teknik pedangku serta sihir di padang rumput.


Akan tetapi, aku kedatangan seorang tamu, sesaat aku menghampiri pintu rumah.


"Halo."


Di depan pintu, ada seorang gadis muda yang terlihat seumuran dengan Lia.


Memiliki wajah yang cantik dan rambut berwarna biru cerah dengan pita biru berbentuk bunga di kanan rambutnya, matanya yang hijau toska menatapku dengan lembut.


Pakaian kasual berwarna biru cerah dan putih serta renda di ujung roknya. Penampilannya menawan dan tampak cantik.


Gadis itu tersenyum manis saat menyapa kami.


Di sana aku menemukan Ibu yang membuka pintu untuknya. Ibu menyapanya dengan wajah senang.


"Ara, ada gadis manis?"


"Halo, Bibi. Saya tetangga baru. Nama saya Crystal Flam," Ucapnya dengan sopan.


Gadis itu..


Aku mengenalnya, ternyata hari ini dia datang..


"Fufu, Bibi bernama Rima Maulana dan Anak ini, Ren Maulana," Ucap Ibu menarikku yang di belakangnya.


"Halo.." Ucapku menyapa.


Aku tersenyum kaku saat menyapanya dan Crystal balas tersenyum kepadaku.


Sebenarnya, Crystal adalah sosok yang akrab denganku. Tapi melihatnya lagi, ini membuatku mengingat kenangan buruk.


Lalu, Dia memperkenalkan dirinya. Bahwa, dia tinggal dengan ayahnya di rumah sebelah rumah kami.


Tapi ayahnya sekarang sedang ada pekerjaan jadi dia sudah pergi sejak pagi dan karena Crystal punya kesempatan untuk menyapa Tetangganya, yaitu kami.


Dia pun datang untuk berkunjung.


Bersikap sopan dan santun yang baik saat berbicara dan keberanian untuk menyapa tetangga barunya. Inilah kepribadiannya.


"Crystal, kalau tidak sibuk masuklah. Bibi akan memberikan makanan yang enak."


"Ah, tidak usah repot-repot. Saya hanya menyapa saja dan sekalian memberikan ini.."


Dia memberikan Ibu makanan kudapan yang terlihat enak. Ibu menerimanya dengan senang hati akan ketulusannya dan memintanya masuk ke rumah sekali lagi.


"Ayo masuk, Crystal," Ucap Ibu tetap mengajaknya masuk.


"Baik, Bi," Balas Crystal mengangguk dan tersenyum.


Crystal menerima ajakan Ibu dan memasuki rumah.


"Saya masuk," Ucapnya melepas sendalnya.


"Tidak perlu kaku, duduk di sini."


"Baik.."


Crystal melewatiku dan tersenyum. Lalu, mengikuti Ibu di tempat yang diminta.


Jadi, karena aku tidak ada urusan lagi. Aku pun berencana pergi.


"Ren, tunggu bersama Crystal sebentar."


"Eh? Tapi bu.."


"Cepat."


Tatapan tajam terarah kepadaku.


"Uh, Baik.."


Mau tidak mau aku menemani Crystal, Ibu pergi ke dapur untuk membuat sesuatu untuk di makan bersama.


Walaupun aku berencana mengembala pagi-pagi sekali. Hanya saja, agak canggung untuk tiba-tiba seperti ini.


"..."


"..."


Crystal hanya tersenyum dan menunggu, dibandingkan aku yang tidak tahu harus mengambil topik apa untuk bicara dengannya.


Dia tampak bersabar menunggu Ibu kembali.


'Papa?'


'Senka, nanti Papa berikan makanan. Jadi tunggu di bayangan dengan tenang, ok?'


'Baik, Myu!"


'Fiuh.. Jadi apa yang harus kulakukan?'


Aku melirik ke Crystal, tampaknya dia juga melihat kearahku.


"Um, Ren-kun," Ucapnya lirih.


"Ah, i-iya. Ada apa, Crystal?" Ucapku dengan gugup.


"Kau bisa memanggilku Flam kalau kau mau."


Aku menatapnya, wajahnya sedikit merah saat mengatakannya. Kurasa, aku harus mengatakannya.


"Baik.. Flam."


"Iya."


Dia tersenyum dengan senang saat mendengarku mengatakannya.


"...Um, Ren-kun. Kau berapa bersaudara?"


"Saudara? Aku anak tunggal."


"Oh, Saya-.. Aku juga anak tunggal," Ucapnya tersenyum lembut.


"Ah.. Berarti kita sama, ya.. Haha.."


"Nn, iya."


Lalu dia mulai memberikan berbagai topik dalam pembicaraannya padaku.


"Jadi aku.."


Topik-topiknya lumayan menarik, aku merasa nostalgia berbicara dengannya.


Dia tersenyum ramah dan terkadang tertawa kecil saat berbicara.


Aku terpesona karenanya, dia tampak cantik jika ku lihat lebih dekat.


"Ren-kun?"


"Ah? Apa?"


"Kau tidak mendengarkan.."


"Tidak, aku dengar kok."


Dia cemberut, tapi mulai melanjutkan yang dia bahas. Semua topik adalah mengenai pekerjaan Ayahnya sebagai pedagang keliling dan dia yang bersama ayahnya menjual banyak barang. Mengenai kota-kota di luar sana, makanan yang enak dan banyak hal ia ungkapkan.


Lama-lama dia menjadi antusias yang membuatku ikut berbicara dengannya. Ini menyenangkan.


Walaupun, kemana Ibu? Dia lama juga..


..Mungkin saja.


Aku menatap ke dapur, sepertinya Ibu sengaja melamakannya. Dia memberi jempol kearahku.


"..."


"Hehe, rasanya menyenangkan."


"Tentu."


Flam sangat senang berbicara denganku, yang juga membuatku senang.


.........


"Ah.."


"Ada apa, Ren-kun?"


Sudah siang, harusnya aku menggembala sekarang?!


"Maaf, Flam. Aku akan pergi kerja."


"Ba-Baiklah.."


Flam terlihat gelisah, tapi dia membuat senyuman padaku.


"Ibu, aku akan menggembala sekarang. Jadi aku pergi dulu!"


"Pergi saja."


Jadi aku bergegas keluar rumah.


Menuju ke kandang hewan yang tidak jauh dari rumah, aku masuk ke dalamnya.


Hari ini, aku menggembalakan para domba, untuk Sapi sudah ada orang lain yang mengurusnya.


"Ayo, ayo kalian semua menuju ke padang rumput."


Mereka para domba dengan sigap menuju ke arah yang di tuju mereka, surga rumput, Padang rumput di luar desa.


Tempatnya agak jauh dari desa, tapi di sini lebih terjamin karena luas dan agak jauh dari hutan Bloody dan Hutan Deso.


Lalu sesampai di padang rumput dengan gerombolan domba mengikuti. Aku berhenti di area menggembalaku seperti biasa.


Kemudian..


"Hmm? Lia?"


Terlihat tidak jauh dari tempatku, terdapat Lia yang sedang duduk di atas batu besar tempat biasa dia duduki. lalu aku menuju ke tempatnya sambil menggiring para domba ke padang rumput sekitar.


"Tumben kau sudah di sini?" Ucapku sampai di depannya.


"Muhh.. Ren saja yang lama.." Ucapnya mengembungkan pipinya.


"Haha, maaf. Lalu ada apa?"


"Sihir. Belajar sihir," Ucapnya melompat turun, lalu mendekatiku dan menekan setiap kalimatnya.


Aku tertawa kering. Sepertinya dia tidak ingin setiap sore saja.


"Aku masih ada kerja.."


"Kau tidak banyak bekerja dan selalu latihan pedang, juga sihir."


Senyumku menjadi kaku.


"Jadi, kau ingin melatih sihir api mu?"


"Um, iya.."


"Papa!"


""?!""


Kami sontak kaget.


"Si-Si-Siapa anak ini?!"


"Ah.. Haha.. "


"Papa! Papa! Senka ingin kue!"


Aku dengan lembut mengusap kepalanya dan mengeluarkan beberapa kue dan memberikannya pada Senka.


"Hehe, enak!"


"Yosh, yosh, anak baik."


"Mm.. Hehe.."


Uah.. Imut sekali..


"Ren!!"


Tiba-tiba kerahku ditarik olehnya dan membuatku terkejut.


"Uh, iya?"


"Anak siapa ini?! Dia memanggilmu Papanya!"


Oh, Ah.. benar juga.


"Begitulah, aku sekarang Papanya."


"Hah??"


Lia memerah dan terkejut, dia syok mendengarku dan menatap ke Senka.


"Anakmu?"


"Papa, aku ingin tidur."


Senka menghilang ke dalam bayanganku.


"..."


"Lia?"


"Jangan bertingkah bodoh! Kau sudah punya Anak??"


Wajah Lia sangat memerah.


"Apa kau demam?"


"Jangan mengubah topik!!"


Wajahnya tampak memerah mirip dengan tomat.


"Ah, maaf. Bukannya aku mengubah topik, tapi memang benar dia anakku."


"Ceritakan semuanya!!"


"...Baiklah."


Jadi aku menceritakannya dengan sedikit modifikasi yang sama dengan apa yang kukatakan pada Ibu dan Ayah.


"..Begitu."


"Mengerti, kan?"


"Tentu saja tidak! Kau punya anak!"


"Kenapa itu yang kau masalahkan?"


"Masalahkan?!"


Sepertinya aku membuatnya marah.


"...Sudahlah. Jadi siapa Ibunya?"


"Hah?"


"Ibunya! Apa kau tidak tahu?!"


"Iya, tidak tahu. Aku menemukan telur dan Senka memanggilku Papa. Itu saja."


"..."


Jadi Lia menyerah dan menatapku sedikit memerah. Aku agak khawatir jika terus seperti ini.


"Kau lebih baik istirahat Lia."


"Mohh.."


Lia memalingkan wajahnya dan meninggalkanku sendiri.


"..Oke."


Dia dengan cemberut meninggalkanku sendiri, hingga dia tak terlihat lagi.


"Terserahlah, lebih baik aku latihan pedang saja."


Aku menarik keluar pedang besiku dan mulai mengayunkannya.


Jadi selama dua jam lebih aku hanya mengayunkan pedang dan mengasah teknik pedangku yang kurasa agak tumpul sejak seminggu cuti, karena koma.


Lalu aku pun terkadang melatih sihir dan Telekinesis ku, ketika ada kesempatan seusai melatih pedangku.


"Bagus, sekarang aku bisa membuat pedangku melayang," Ucapku mengendalikan pedang besiku menggunakan Skill Telekinesis.


"Dengan begini aku bisa dengan cepat naik level! Baiklah, kurasa aku akan menggunakan Poin ku sekali lagi untuk meningkatkan skillku ini," Ucapku bersemangat.


Jika seperti ini terus, mungkin aku bisa mencapai Level 20 lebih cepat dari yang kurencanakan.


"Yosh!"


"Oh, aku menemukanmu, Ren-kun."


Suara lembut terdengar di belakangku.


"Oh? Flam?"


Ada gadis pita biru itu lagi. Dia datang menghampiriku dengan ringan, mengenakan pakaian biru cerah dengan rok berumbai putih hijaunya.


Dia datang menyapaku.


"Halo, apa kau tidak sibuk?"


Aku hanya menatapnya.


"Ren-kun?"


"Ah, Halo, tidak juga."


"Nn, baguslah.."


Apa yang dia inginkan?


.........


...[ Continued ]...