The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 16 - [ Apologies ]



...BAB 16 - PERMINTAAN MAAF...


...◇◇◇...


"Ren. Siapa gadis itu..?"


Suara rendah yang tidak biasa keluar dari mulut Lia.


"Uh, Lia?"


"..??"


Lia menghampiri kami dengan berat dan menakutkan. Keranjang yang dia bawa ia genggam dengan kuat.


Seakan dia ingin menghabisi kami. Di sampingku, Flam tampak sedikit takut dan bersembunyi di belakangku.


Namun..


"..!?"


Lia menjadi semakin kesal untuk suatu alasan. Dia tampak menatapku dengan marah. Aku bisa membayangkan dua tanduk muncul di kepalanya.


"Lia, bisa tenang dulu?" Ucapku berdiri dan mendekatinya.


"Aku sudah tenang." Wajahnya sangat kesal saat mengatakannya.


Kau tidak tenang sama sekali..


"Yah.. Kau tahu, Gadis ini adalah Flam, Crystal Flam. Anak pedagang yang tinggal di samping rumahku, jelasnya tetanggaku," Ucapku pergi ke samping yang membiarkan Flam terlihat.


"Hmm.."


Dia masih kesal, Flam di sisi lain tampak gugup dan kembali ke belakangku.


"Lalu.. Flam, gadis yang kesal itu adalah Amelia, Amelia Urona. Teman ku."


"Halo.."


"Hmph."


Sepertinya hubungan mereka akan menjadi sulit.


"Lalu, kenapa kau kembali lagi, Lia?"


"...Aku diminta.. Bibi membawa ini," Ucapnya memperlihatkan keranjangnya.


Dia tampak gelisah saat mengulurkan keranjang berisi bekal makanan kepadaku, Kurasa ini buatan ibuku.


"Dari ibuku?"


"Ambil, aku akan pergi."


Lia melempar keranjang itu kepadaku dan mencoba pergi.


"Lia, kau bisa makan bersamaku, seperti biasanya kok."


"..."


Dia berhenti, tapi jalan lagi.


"Lia?"


Kenapa dengannya?


"Ren-kun. Apa Amelia-san selalu seperti itu?"


"Tidak, dia biasanya tidak seperti itu. Hanya ketika dia kesal atau tidak senang, Lia akan bersikap jutek seperti itu," Ucapku menjelaskan.


"Apa karena aku?" Wajahnya tampak murung mengatakannya.


"Aku tidak tahu, tapi kayaknya dia sedang bad mood. Flam, kau tak harus memusingkannya."


"Um, aku akan mengejarnya."


"Eh? Kenapa?"


Tanpa mendengarku, Flam berlari pergi meninggalkanku sendirian.


Dia mengejar Lia yang sudah jauh.


"Jadi.. aku makan sendiri kah?" Ucapku menatap keranjang di tanganku.


"Mbee.."


"Haha.. makan dengan seekor domba?"


"Papa!"


Senka keluar dari bayangan dan memelukku.


"Senka! Ayo makan bersama!"


"Ya!"


Jadi kami pun makan bersama.


"Hm? Ini beda nih."


"Myu?"


'Apa Lia yang membuatnya?' Pikirku mengunyah sandwich.


.........


...《 POV Amelia Urona》...


Aku berjalan dengan kesal kembali ke rumahku.


'Kenapa denganku?!' Pikirku resah.


Aku kesal setiap kali melihatnya bersama gadis lain.. kuh..


Tapi.. Dengan gadis itu, Ren..


Sial.. Ada apa denganku??


Pria itu selalu.. selalu saja.. tidak melihatku.. sebagai.. seorang gadis..


Kuhh.. kesalnya!?


"Um.."


"...?" Seseorang memanggilku, siapa dia?


Aku berbalik dan melihat Gadis menyebalkan itu datang menghampiriku.


Melihatnya bersenda gurau dengan Ren saat aku datang. Membuatku langsung tidak menyukainya.


'Gadis ini, apa maunya??'


"Kau.." Ucapku dengan dingin.


"Uh, maafkan saya!"


Dia langsung menurunkan kepala meminta maaf.


"Eh, apa?"


"Maafkan saya! Saya sepertinya membuat Amelia-san tidak nyaman.."


"Tidak, itu.."


Dia berbicara sangat sopan, aku bingung untuk meresponnya.


"Saya tidak akan mencoba menganggu Amelia-san dengan Ren-kun lagi."


"..Uh."


Kenapa dengannya, seharusnya dia bisa saja menjadi lebih dekat dengan Ren-kun daripada mengejarku. Ini menggangguku.


"Saya minta maaf!"


"..."


Dia ini kenapa sih?? Meminta maaf padaku, padahal dia tidak tahu apa yang salah. Menyebalkan.


"Kenapa?"


"I-iya?"


"Kenapa kau meminta maaf?"


Wajahnya tampak bingung dan dia mulai berkata dengan suara lirih.


"Uh, Saya pikir Amelia-san salah paham pada saya dengan Ren-kun. Jadi aku meminta maaf, kalau itu menganggu Amelia-san."


"..."


Kenapa.. kenapa? Aku tetap merasa tidak menyukainya.. kuh.. Dia sampai meminta maaf padaku hanya untuk membuatku tidak kesal, juga sepertinya dia tidak bermaksud buruk.


Wajah itu.. Sial.


"..."


"..."


Ini menjadi canggung, jika tidak ada yang bicara duluan.


"Lupakan saja.."Ucapku dengan lesuh.


"Eh?"


Aku menghela nafas dan memalingkan wajah darinya.


"Kau baru dari desa ini kan?" Ucapku tanpa melihatnya.


"I-iiya, ah Saya Crystal Flam. Panggil saja Flam," Ucapnya mendekat ke sampingku.


"Flam," Ucapku menatapnya.


"Iya!"


Tampaknya gadis ini tidak terlihat berbahaya.


Dia lebih terlihat penurut. Hmm..


"Tidak perlu kaku, kau bisa berbicara santai denganku. Seperti kau dengannya," Ucapku sinis.


"Ba-Baik." Dia menjawab dengan gugup, suara tegukan terdengar darinya.


Melihatnya yang gugup, sepertinya membuatku paham tentangnya.


Dia sepertinya mencoba mencari teman. Teman di desa ini, aku baru melihatnya di desa.


Jadi aku yakin, dia belum kenal siapapun selain Ren.


"..."


"..."


Dia tampak diam berjalan di sampingku, aku menghela nafas dan menatapnya.


Kurasa.. Itu tidak masalah.


"Aku bisa mengajakmu berkeliling, jika kau mau. Flam," Ucapku dengan tegas.


"I-Iya, a,aku mau!"


Warna di kulitnya kembali cerah, terlihat dia sudah tidak gugup lagi.


"Kalau begitu, ikut denganku," Ucapku belok ke kiri di pertigaan jalan.


"Iya, mohon bantuannya."


Jadi aku membawanya pergi. Kurasa aku hanya perlu melihat apakah dia rival atau bukan.


.........


Di sebuah rumah kosong yang berada di tengah Hutan.


Karena sangat sepi, banyak hewan pengerat dan serangga menghinggapi rumah itu.


Krek! Suara ranting terinjak terdengar tidak jauh dari rumah itu.


Terdapat sekelompok orang berjumlah tiga orang datang mendekati rumah itu.


Mereka tampak bersenjata dan berpakaian sederhana.


Namun, penampilan mereka yang tertutup oleh mantel hitam membuat mereka tampak tidak sesederhana itu.


"Guheh, Masakan Rilril tidak enak seperti biasanya.." Ucap seorang wanita muda dengan wajah tidak senang.


"Kalau kau tidak suka, tidak perlu memakannya." Pria yang disebutkan tampak tidak terlalu peduli dengan wanita itu.


"Haha, biarkan saja. Jadi apa ini tempat yang kau maksud, ketua?"


Wanita itu berjalan mendekati pria paling depan.


Lalu di balasnya hanya satu kata.


"Iya."


Pria botak yang berbadan besar dan mengenakan pakaian serba hitam itu tampak berjalan dengan tenang dan kalem, yang berbeda sekali dengan keduanya.


Lalu, mereka sampai tepat di depan rumah yang tidak berpenghuni itu.


Creeeeak


Suara pintu terbuka dengan tidak nyaman terdengar.


Pria itu membuka pintu rumah dan memasukinya, lalu di ikuti oleh kedua orang di belakangnya.


"Woah, kotor sekali.." Ucap Wanita itu tampak gelisah melihat ruangan yang berantakan dan tak terurus itu.


"Lebih baik kalian saja di sini, aku ingin di luar." Pria yang dipanggil Rilril itu terlihat agak tidak menyukai untuk terlalu lama diam di rumah itu dan tidak ingin masuk.


"Diam saja kalian, ikuti aku," Ucap ketua mereka itu dengan tegas.


Tatapannya yang dingin membuat keduanya mau tidak mau mengikutinya.


"Oke, oke ketua.." Ucap Rilril dengan datar.


"Huuh.."


Wanita berambut pirang itu memasang wajah tidak senang, yang berbeda dengan pria berambut hitam yang dengan sukarela mengikuti ketuanya itu.


Jadi mereka sampai di ujung ruangan dengan pintu besi yang terlihat tidak pernah disentuh.


"Apa benar disini?" Ucapnya Wanita itu bertanya-tanya.


"Iya." Balas ketua singkat.


Wanita itu agak penasaran dan melihat-lihat sekitarnya.


Tuk Baak!


Vas bunga jatuh dan membuat suara gaduh, wanita itu menatap ke barang yang tak sengaja ia senggol itu.


"Bisa kalian diam?" Mata ungunya menatap dingin ke arah keduanya.


""..oke,"" Balas kedua orang itu bersamaan.


Pria itu terlihat risih dengan keduanya, walaupun hanya si wanita itu sendiri yang tidak bisa diam.


Si ketua menyentuh pintu besi berkarat itu dan kemudian lingkaran sihir terbentuk di pintu tersebut.


Rune-rune sihir tercipta dan lingkaran beserta huruf kuno di setiap lintasannya memberi suasana magis di sekitar mereka.


"Woah! lihat itu Rilril, lingkaran sihir!"


"Bisa kau tenang, Fanya?" Ucap Rilril menarik Wanita itu mundur dari Ketua.


"Hump!" Fanya mengembungkan pipinya dengan tidak senang atas perlakuan Rilril padanya.


Ketua menekan lingkaran sihir dengan mananya yang ia alirkan ke pintu dan cahaya biru pada lingkaran berubah warna menjadi merah gelap yang terlihat mengintimidasi sekali.


"Release Circle Magic."


Cahaya merah mulai redup dan diikuti dengan pintu yang berubah menjadi pintu besi hitam legam.


"Itu berubah!"


"Haa..?"


Ketua menatapnya dengan sinis.


Fanya menjadi gugup dan takut, sedangkan Rilril menatapnya seakan melihat seorang yang idiot.


Lalu di bukalah pintu tersebut.


Ruangan besar terlihat dari sana yang mampu membuat siapapun bertanya-tanya bagaimana mungkin di rumah yang tampak seperti gubuk itu, terdapat ruangan besar yang seharusnya ada di rumah besar atau kastil?


Kemudian, mereka menelan ludah melihatnya.


"Kalian sudah datang." Suara yang dingin dan menekan terdengar dari balik pintu itu.


Apa yang di balik pintu, membuat ketiganya dengan gugup masuk ke dalam ruangan itu.


Senyuman tipis muncul dari sosok itu.


"Aku akan memberi kalian tugas?" Ucap sosok itu dengan nada dingin dan berat.


"Baik, Pemimpin."


.........


...[ Continued ]...