
...BAB 42 - SETELAH HARI ITU...
...◇◇◇...
Ini hanyalah mimpi, kan? Sebuah mimpi buruk, Aku yakin itu, pastinya..
"Gulp..."
Aku meliriknya lagi.
Gadis itu masih terbaring di atas ranjang dan terlihat tertidur dengan nyenyak, dari bagaimana wajah tidurnya yang imut, Ugh ... Sial! Ini nyata!
"Mmh ... Ren?" Suaranya pelan saat bangun, ia mencoba duduk dan menatapku sambil mengusap mata kanannya.
Walaupun Lia baru bangun, dia masih terlihat menawan dan sedikit membuatku terangsang hanya dengan melihatnya.
"Hn?" Mungkin sadar setelah melihatku, Wajahnya memerah dan gemetaran.
"Uh ... Ah, Re-Ren?!"
"A-Aku bisa jelaskan-.."
PAAKK!
Belum selesai aku menjelaskan, Lia memukulku dengan keras yang membuatku jatuh terpelanting keluar ranjang. Itu agak menyakitkan.
"Aduduhh.." Punggungku sakit.
Lia menatapku dengan gugup dan menarik selimut untuk menutupinya.
"Er.. Lia.." Aku mencoba berdiri dan mendekatinya, Lia memerah tomat di atas ranjang dengan wajah gelisah dan malu.
Lalu, seakan dia mencoba berkata sesuatu, suaranya begitu pelan.
"..Hmph, a-aku hanya.. aku.. ugh.." Lia tampak ragu, tapi wajahnya memerah dan memalingkan wajah dariku, sampai membalikkan badannya dan tidak sedikitpun menatapku.
Aku bisa mendengar suaranya yang sedikit kebingungan. Menelan ludah, aku mencoba memastikan sesuatu.
"Apa semalam, kita melakukan 'itu?" Tanyaku serius.
Tolong katakan tidak, ya pasti tidak!
"Uh... Hn..." Dia terkesiap dan perlahan mengangguk.
"..Oh, begitu." Siaaaal!!
.........
Kami pun keluar dari kamar setelah berpakaian, aku tidak terlalu ingat, tapi terakhir yang kuingat adalah aku sedang bersama Lia di bar dan ... Yah, itu saja yang kuingat..
Uwaah ... Aku bingung sekali, Jika benar aku melakukan hal 'Itu padanya, Aghhh ... Aku tidak percaya telah melakukannya!?
Setelah turun dari lantai dua ke lantai satu, di mana bar kedai berada. Terlihat penuh dengan orang-orang yang tidur sembarangan di sekitar bar setelah acara pesta selesai.
Kurasa kebanyakan yang lain tertidur di sini, daripada di lantai 2.
Di sampingku, Lia tetap diam dan sedikitpun tidak berbicara padaku. Sama hal dengannya, aku tidak tahu harus membicarakan topik apa.
"Kak Amelia?"
Fiona yang menjaga bar dan sedang membawa gelas-gelas dan piring di tangannya melihat Lia, lalu dia menghampiri kami setelah meletakkan semuanya di atas meja bar.
"Ren," Bisik Lia di sampingku, wajahnya menggelap dengan nada yang dingin.
"Gulp ... I-Iya?" Aku menelan ludah.
"Rahasiakan apa yang terjadi kemarin," ucapnya dengan wajah gelap dan mengancam.
"Ba-Baik." Walaupun kau tidak mengatakannya, aku tidak akan mengatakan tentang apa yang terjadi semalam. Juga, aku tidak tahu kronologinya..
"Kak, tadi malam kemana? Aku tidak melihat Kak Amelia semalaman?"
"...Yah, sedang ada urusan. Benar, ada urusan mendadak."
"Benarkah?"
Fiona menatapku, Ugh.. Kenapa aku?
Aku merasa ada yang menyikutku, Lia yang di sampingku melirik tajam dan seakan memintaku untuk berbicara.
"Kak Ren? Apa mau menjemput Ayahmu?"
Dia menunjuk Pria besar yang tertidur berbaring di lantai tidak jauh dekat meja bar resepsionis.
"...Ayah."
Sepertinya aku harus membawanya pergi secepatnya, atau tidak kami akan mendapat masalah yang lebih buruk.
"Iya, akan aku bawa dia.." Aku pergi meninggalkan Lia dengan Fiona, walaupun aku masih merasakan tatapan Lia yang sedikit aneh.
[ Affections Amelia Urona meningkat. ]
Lalu apa ini??
Spontan aku melihat Lia, dia memalingkan wajahnya seketika itu juga. Ugh.. Mungkinkah..?
Kemudian, aku mencoba membangunkan Ayah dan hasilnya nihil.
Pria besar itu masih tertidur dengan nyenyaknya, walaupun aku memukulnya pun masih tidak bangun. Itulah kenapa Ayah sulit sekali dibangunkan, hanya Ibu lah yang bisa membangunkannya.
Jika kuingat lagi, ada kalanya Ayah lari dari rumah hanya karena dibangunkan tidurnya oleh ibu. Aku tidak ingin tahu apa yang terjadi saat itu.
"Ayah.. Ibu akan datang kesini.."
"Zzzz.." Dia masih tertidur walaupun aku menyebut Ibu.
Yah, itu normal. Orang itu tidak terlalu menyadari apa dan siapa yang bicara selain dia sudah terjaga dan sadar, mungkin dia bisa mendengarnya.
"Haa.." Aku membuka Tas sihir dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
[ Siren Voice ]
Sebuah logam yang didesain rumit dengan warna hitam legam. Aku mendapatkannya di toko, benda ini sedikit mahal dan memiliki fungsi seperti Suara mekanik milik Desi.
[ Durabilitas : 3/3 ]
Artinya aku akan menggunakannya, hanya untuk membangunkan Ayah. Walaupun terdengar tidak sepadan, hanya saja jika tidak, Aku dan Ayah akan dalam bahaya.
Jika dipikir-pikir, bukannya Aku yang dalam Bahaya. Aku ingat pernah berkata pada Ibu..
"Bu, aku mungkin akan pulang cepat dengan Ayah."
"Baik, nanti Ibu buatkan Makanan setelah kalian kembali!" ucap Ibu tersenyum senang.
"Makanan!" Senka bersorak.
Aku dan Ayah tersenyum saat itu dan lalu pergi.
"...Oh, tidak."
Terbayang-bayang dalam pikiranku kata "Makanan setelah pulang.." berulang-ulang dengan nada dingin.
"Ah! Ayah!!" Aku panik dan mencoba membangunkannya.
Dengan terpaksa aku menggunakan Siren Voice.
"Daken, bangun." Suara Ibu terdengar dariku dan Ayah langsung terbangun dan gemetar ketakutan.
"Aku bangun! Aku bangun!!!"
Dia dengan ketakutan menatapku, perlahan wajahnya menjadi datar.
"..Ren."
"Ayah."
Buuk! Dalam waktu itu aku merasakan pipiku sakit.
"Ah! Ayah, Ayo pulang! Ingat janji semalam dengan Ibu!" ucapku mengabaikan pukulan tiba-tiba Ayah.
"Oh sial."
Ayah telah sadar dan mengangguk.
"Ayo pergi!"
"Ayo!!"
Aku dan Ayah berlari keluar dari Kedai Killer Rabbit tanpa penundaan dan menuju rumah dengan terburu-buru.
.........
Masih di dalam Kedai Killer Rabbit.
"Kak Amelia?"
"...Uuh."
Fiona bingung melihat kakaknya itu terlihat aneh, dia mencoba bertanya dan hanya diabaikan olehnya.
Sepertinya kakaknya itu tidak baik-baik saja, jadi Fiona memintanya untuk duduk dan akan dibawakan sarapan untuknya.
Dalam pikirannya, mungkin dia sedang lapar.
Lia makan dengan tenang dan Fiona tersenyum senang melihatnya enerjik kembali.
Walaupun apa yang dipikirkan Lia berbeda dengan yang Fiona pikirkan.
"Ren bodoh.."
.........
Sesampai di rumah.
Benar saja, kami di hukum mendengar Ucapan sang Messiah "Ibu." Dengan pasrah dan ikhlas.
Hukuman untuk makan di luar pun di sebutkan dalam ucapannya, Kami hanya bisa berwajah pasrah mendengar semua itu.
Sedangkan Senka sedang memakan Kue kismis tidak jauh dari kami dan duduk di kursi. Dia terlihat begitu ceria dan mulutnya penuh dengan kue yang membuatnya terlihat seperti tupai.
Sejak tadi aku melihat malaikat kecilku itu, sangat menyejukkan hati.
'Nak, harusnya kau membangunkanku lebih cepat." Bisik Ayah di sampingku.
'Ayah..' Walaupun kamu protes pun tidak akan mengubah situasi kita, Ayah.
Hanya saja, Ibu memasang wajah marah sejak tadi. Jadi kami tidak bisa melihat langsung ke wajah Ibu. Sepertinya kita hanya bisa mendengarkannya saja.
1 jam terlewati.
"Haa... Kalian, dengar?"
""Yes, Ma'am"" Ucap kami bersamaan.
Ayah dan Aku sudah kelelahan secara mental dan raga, jadi alhasil menjadi penurut adalah pilihan yang tersedia.
"Baiklah, karena sudah waktunya makan." Ibu tersenyum dan pergi menuju ruang makan.
"Sini, kita akan makan," ucap Ibu dengan lembut.
"Yeah!"
"Gasken!"
Kami langsung ke ruang makan, hidangan di keluarkan oleh Senka dalam bayangan dan diletakkan di atas meja.
"Ini Makanan yang semalam," ucap Ibu dengan senyuman lembut.
""...""
Aku dan Ayah terdiam.
.........
...[ Continued ]...