
...BAB 13 - ANAK PEREMPUANKU...
...◇◇◇...
Keheningan menyelimuti seisi ruang makan.
Aku tersenyum kaku dan Ibu menatapku lembut(?)
"..." (Aku)
"..." (Ibu)
"Myu?" (Senka)
Kami bertiga hanya diam dan tidak saling bicara.
Pada saat ini, Senka sedang digendong oleh ibu dan wajahnya tampak lembut saat menggendongnya.
Namun, berbeda dengan senyumannya pada Senka. Berbalik dengan yang terlihat, aura mengintimidasi yang berat terasa mengarah padaku.
'Ugh.. Aku merasa tidak enak badan...'
Situasi yang tak terhindarkan, bagaimana bingungnya aku sekarang.
Tepatnya ini terjadi, berawal saat aku tengah duduk di meja makan bersama Ibu dan membahas mengenai Ayah dan keadaan saat aku menghilang.
Lalu di saat aku akan menceritakan semuanya.
Tanpa ada aba-aba, seorang gadis kecil lugu nan imut muncul di belakang bayanganku.
"..." Aku terdiam saat merasakan sesuatu yang menarik baju belakangku. Perlahan aku melirik ke belakang dan sejenak dadaku sakit.
"Papa," Ucapnya dengan lugu.
'Ukkhh.. Lucunya..'
Situasi yang tak bisa diubah, Ibu tampak terkejut menatap seorang gadis kecil datang dan langsung memanggilku dengan sebutan "Papa."
Ini terjadi karena Senka keluar dari bayanganku secara mendadak dan Ibu yang melihatnya langsung menangkap basah yang terjadi.
Dia langsung berdiri dan menghampiri Senka tanpa aku bisa merespon.
"Siapa anak ini??" Ucap Ibu melototiku dan langsung memeluknya.
Aku berkeringat dingin dan gugup menatap Ibu mengambil Senka ke pelukannya tanpa penundaan sesaat dia melihatnya.
Hanya saja, Apa Ibu menyadari kalau Senka bisa masuk ke dalam bayangan?
'Senka, kenapa kau keluar?! Bukankah aku memintamu tidak muncul??' Ucapku dalam pikiran menatap gadis kecil itu.
'Umyu.. Papa, aku lapar..'
Senka menyentuh perutnya, melihatnya seperti itu. Ibu memberinya makanan di atas meja untuknya, sebuah biskuit kecil.
Kemudian Senka memakannya dengan senang.
'Senka?'
'Myuu.. Di luar ada aroma yang enak. Jadi Senka keluar mau makanan. Hehe~'
Itu bukan alasan yang bisa dibenarkan?!
"Uhh.." Aku dengan lesu bersandar ke kursi.
"Ren? Ada apa, nak?" Ibu melihatku bertingkah aneh dan bertanya.
Melihat Ibu yang bingung, tapi tetap melotot kearahku saat berbicara.
Uh ... Itu agak menakutkan.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan selama ini, Ren?" Ucap Ibu dengan sedikit mengancam.
"Eh? Aku tidak.." Ucapku dengan gugup dan mencoba beralasan.
Sepertinya aku dalam masalah.
Tatapan tajam mengarah padaku.
"..Gulp."
"Jadi, bisa kau ceritakan. Kenapa Anak ini memanggilmu Papa dan di mana asalnya?" Ucap Ibu saat memberi Senka kue lagi.
"Yay!" Senka memakan biskuit dan kue kering itu dengan lahap.
Melihat tingkah Senka membuatku tersenyum tanpa di sadari.
Tapi, Ibu meminta penjelasanku terutama mengenai bagaimana Senka keluar dari bayanganku. Jadi aku mencoba mengeles.
"Aku hanya pergi ke luar desa.. sebentar.. dan aku bertemu Senka.. "
Ibu menatapku untuk menjelaskan dengan lebih rinci...
"Um.. Ada sesuatu.."
"Jelaskan."
"Uh, iya.. Aku pernah menemukan sebuah Telur misterius di tengah Hutan Bloody saat acara Festival Berburu. Lalu minggu lalu aku pergi kesana untuk-.."
Jadi aku mulai menceritakannya tanpa memasukkan bahwa ada Demon atau di mana aku hampir mati.
"Syukurlah.. Ren, kau selamat.."
Ibu tersenyum senang dan lega.
Aku ikut senang. Benar untuk hanya memberitahunya bahwa aku melawan beberapa Monster. Walaupun itu sama buruknya dengan sesuatu seperti Demon.
"Jadi Senka yang menyelamatkan Ren. Anak yang baik.."
"Hehe~ Agak geli.."
Ibu mengusap kepalanya dengan lembut. Melihat Senka dan Ibu, aku menjadi melembut melihat interaksi keluargaku.
Lalu..
BaaK! Suara pintu terbuka dengan keras terdengar di luar rumah.
Suara kaki yang terburu-buru mencapai kami, lalu sosok itu muncul di balik pintu.
Dia terengah-engah dan melihat ke sekitar sampai ke arahku.
"Haa.. haa.. Ren! Di mana kamu?!" Ucapnya yang baru sampai.
"Ayah??" Aku spontan heran, walaupun aku merasa tidak lama bertemu dengannya.
Ayah hanya tahu kalau aku menghilang sudah satu minggu.
"Ken, tenanglah." Ucap Ibu menghampiri Ayah.
Ayah mulai berjalan datang dengan kelelahan langsung menuju ke arahku.
Dia langsung memelukku dengan kuat tanpa aku bisa melawan.
"Untungnya kau selamat.." Ucap Ayah dengan lirih.
"..Iya, aku baik-baik saja Ayah," Balasku memeluknya balik.
Ayah memelukku dengan erat dan tidak mencoba melepaskanku.
'Ughh.. ini agak sakit.. badanku serasa remuk..'
"Ah, maaf.."
Kemudian pelukannya padaku mengendur dan ayah melepaskanku. Dia berdiri menatapku, lalu pada ibu dan..
"Eh? Anak siapa itu??"
Ayah terkejut dan mendekati Ibu.
Melihat Senka, Ayah penasaran dan Ibu tersenyum lembut.
"Dia adalah cucu kita, Senka," Ucap Ibu memperlihatkan Senka lebih dekat, Wajah Senka ceria memakan biskuitnya.
"Oh, Cucu ya... Hah?! Apa???"
Aku suka dengan reaksinya.
.........
"Haha! Kau sudah menjadi orangtua ya!"
"Ugh.."
Ayah dengan seenaknya mengacak rambutku setelah mendengar cerita mengenai Senka.
"Untuk berpikir kau akan di sembuhkan oleh Anakmu, kau agak beban ya."
"Tidak, aku hanya kelelahan setelah melawan banyak monster, itu saja.."
"Haha! Terserah padamu."
Walaupun ini berakhir berbeda dengan yang kupikirkan. Orangtuaku tampak bahagia dan senang dengan fakta mereka mempunyai cucu.
"Jadi, siapa ibunya?" Ucap Ayah serius.
"..." Aku hanya terdiam.
'Gulp.. Aku sendiri tidak tahu..' Pikirku, sedikit aku membayangkan siapa tapi aku menghilangkannya dari benakku.
Aku tertegun, Ibu menjadi penasaran dengan pertanyaan Ayah.
"..."
"Katakan saja, Ren.."
Ugh..
"Baik.. Aku akan memberitahu Ibu dan Ayah.."
"Gadis kecil itu bernama Senka. Dia lahir dari telur yang aku temukan di tengah hutan..
Itu saja, dia lahir dari darah dan manaku," Ucapku menjelaskan. Adapun bagian Mana dan darah, aku agak meragukannya.
Ibu dan Ayah awalnya agak curiga, tapi mereka sadar kalau berbohong di waktu seperti ini percuma untukku.
"Baiklah, kalau seperti itu."
Ayah menyerah dan Ibu merangkul Senka dengan nyaman. Mereka sudah menerima Senka dengan cepat. Aku tersenyum bahagia mengetahuinya.
"Kita makan dulu, Ren ambil makanan di dalam rak," Ucap Ibu sambil memanjakan Senka.
Aku mengangguk dari perintah Ibu dan membawakan makanan dari dapur ke ruang makan.
Setelah aku membawa makanan, Senka tertidur di pelukan Ibu. Tampak kelelahan setelah lama menjagaku.
Aku tersenyum dan meletakkan piring makanan, Ibu dan Ayah memintaku membawanya ke kamar.
Lalu, ketika aku mengendong Senka yang tertidur, aku tempatkannya ke dalam bayanganku.
Dengan lembut, Senka tenggelam ke dalam bayangan dan menghilang begitu saja.
"..."
"..Nak."
Keduanya tampak terkejut dengan apa yang terjadi, tetapi aku menjelaskan mengenai ras dan kemampuan unik Senka yang membuat mereka mengerti dan tidak mengangkat topik lebih jauh.
Jadi, setelah itu kami pun makan bersama.
.........
Di kamar tidur.
Seusai makan bersama keluarga berakhir.
Ibu dan Ayah memintaku untuk beristirahat di kamar, jadi di sinilah aku berada.
Mengingat kejadian seminggu yang lalu, aku tidaklah kuat untuk melawan Demon apalagi kekuatanku terlalu lemah menghadapinya.
Bahkan, sekarang saja aku gelisah dan takut jika harus melawan mereka lagi.
Level mereka tidak bisa dibandingkan dengan levelku yang baru Level 16.
Itu bukan sesuatu yang bisa aku ubah begitu saja, tapi dari kejadian itu aku menyadari betapa lamban dan lemahnya kekuatan dan sihir milikku.
Demon lebih cepat, lebih kuat dan lebih tangkas dari yang kupikirkan. Inilah yang membuatku hampir mati saat melawannya, jika saja aku tidak di tolong oleh Senka.
Mungkin, aku sudah pasti mati.
"Gulp.."
Sihir dan teknik pedangku memanglah kuat dan tidak ada yang bisa menandinginya di usiaku ini.
Namun, teknik pedang dan skill Telekinesisku tidak banyak membantu dalam melawan Demon. Seolah-olah sangat sulit bagiku untuk mengalahkannya.
Sampai-sampai aku tidak bisa dengan benar menggunakan Telekinesis dan Teknik Elite Swordsmanship saja tidak bisa membantuku lebih kuat dengan cepat.
Aku memerlukan proses yang menyakinkan.
Kuyakin aku harus lebih banyak berlatih dan tidak membuat diriku lebih lambat daripada sekarang.
Aku harus menjadi kuat, hingga aku bisa melindungi orang-orang yang kusayangi dengan percaya diri.
Aku perlu keberanian dan tekad untuk melakukannya.
"Baiklah. Aku pasti akan menjadi lebih kuat!" Ucapku menyakinkan.
Latihan pedang, sihir dan telekinesis! Aku tidak sabar!
.........
Di Depan Rumah.
Memang aku berniat begitu, tapi hari ini..
"..."
Senyum kaku terbentuk di wajahku.
"Halo."
Aku kedatangan seorang tamu.
.........
...[ Continued ]...