
...BAB 12 - KEBENARAN DAN KEKHAWATIRAN...
...◇◇◇...
Saat aku terbangun, semua lukaku telah sembuh dan aku merasakan tubuhku membaik, seakan sehabis tidur yang lelap.
Seolah-olah kemarin malam tidak pernah terjadi.
Hanya saja, sosok kecil yang berada di kakiku membuatku tidak bisa tidak bingung.
Namun, mayat yang tidak jauh dari kami membuatku tersadar akan kengerian malam itu.
Wanita Demon itu dengan mengerikan terbelah dan seakan tidak melawan saat sebelum kematiannya.
Kemudian kondisinya tampak mengering dan beberapa tubuhnya agak berantakan.
Perlahan aku mencoba berdiri dan duduk.
'Situasi apa ini? Dia terlihat sudah lama membusuk,' Pikirku bingung.
"Ugh.. Benar, aku ingat.. apa yang sudah terjadi.." Ucapku mengingatnya kembali.
Sosok kecil ini..
Sebelum aku pingsan karena kekurangan darah, aku melihatnya.
Telur itu menetas dan seorang gadis kecil berambut hitam muncul dari dalam sana.
Gadis kecil itu memiliki rambut panjang terurai, wajahnya mungil, imut dan terlihat seperti malaikat kecil.
Dia mengenakan gaun kecil berwarna hitam dengan renda putih di ujung gaunnya.
Sosok kecilnya yang lugu dan cantik menatap kearah kami.
Tapi entah kenapa, saat dia melihat aku dan Demon itu. Wajah imutnya berganti menjadi wajah marah. Tapi tetaplah imut..
Lalu entah sejak kapan, ada sesuatu yang terbentuk dari bayangan gadis itu. Menyebar masuk ke seluruh hutan.
Semua bayangan di sekitarnya mulai berkumpul di sekeliling dan perlahan-lahan membentuk lusinan tangan dari bayangan.
Tangan-tangan bayangan muncul dan berbaris di sekitar gadis itu dengan mengerikan.
Puluhan hingga ratusan tangan bayangan yang cukup besar terbentuk dan menyatu menjadi satu lengan besar. Lalu ujung jarinya berubah menjadi pisau besar.
Slaaaash!
Pisau yang terlihat tajam menembus melalui Demon itu dengan cepat.
Tanpa membuat Demon itu menyadari bahwa dia telah mati.
Apa yang kulihat saat itu adalah sesuatu yang mengerikan dan tidak bisa aku ungkapkan dalam kata-kata.
Tidak akan ada yang percaya kalau gadis kecil itu memiliki kekuatan yang begitu mengerikan seperti itu.
Lalu, ketika Demon telah Mati..
Di saat aku akan kehilangan kesadaran, gadis kecil itu mendekat dengan gelisah dan menatapku...
Dia menangis..
"Ahaha.." Aku tertawa kecil, menyadari aku telah diselamatkan olehnya.
Ini seharusnya mengerikan, tapi kenapa.. kenapa.. Aku ingin menangis.. sial..
Saat aku berpikir bahwa aku sangat menyedihkan, gadis itu terbangun dan menatapku dengan lugu.
Mata ungunya berbinar menatapku.
"Papa!" Ucapnya dengan wajah ceria, dia langsung memelukku.
..Papa? Eh?? Apa???
"Apa??!" Isi batinku keluar.
Aku syok.
.........
[ Tidak ada Nama ]
[ Ras Shadow Queen ]
[ Level 90 ]
"..." Aku tercengang melihat layar di atas kepalanya.
'Makhluk apa ini?? Juga kenapa dia ada di pelukanku?' Ucapku dalam hati penuh keheranan.
Jika aku perhatikan terlepas dari kejadian kemarin malam, layar dan status di atas kepalanya.
Mungkin aku akan mengira dia anak orang.
Tapi, alasan yang paling tidak logis adalah dia memanggilku Papa-nya?!
"Kenapa kau memanggilku Papa?" Ucapku menatapnya yang memelukku dengan erat.
"Myu? Kenapa? Karena Papa adalah Papa?" Ucapnya agak bingung.
Aku tersenyum kaku. Benarkah begitu..?
"Lalu.. Apa yang membuatmu yakin?" Ucapku mencoba menyangkalnya.
"Karena aku lahir oleh Papa." Ucapnya dengan ceria.
Hmm?? Aku baru 12 tahun dan bulan depan 13 tahun. Tapi aku sudah punya seorang anak? Bukankah ini mengerikan jika ada yang tahu??
Bagaimana ini?!
"Benar juga, siapa namamu?" Ucapku mengalihkan isu.
"Nama??" Dia terlihat bingung dan menatapku.
Dia menatapku dengan kepalanya di miringkan, seakan dia tidak tahu apa yang ku maksudkan.
"Myu.. tidak punya, Papa." Ucapnya menatapku dengan wajah yang tampak lugu.
Aku menelan ludah melihatnya, dia memang sangat imut.. ughh..
"Papa, kasih nama!" Ucap gadis kecil itu menatapku dengan semangat.
"Aku?" Ucapku heran.
Dia mengangguk dan berkata "Papa beri aku nama!" Matanya terlihat berbinar mengatakannya.
"Nama.. Nama ya.." Ucapku berpikir.
Aku bisa merasakan kalau anak ini menatapku dengan penuh harapan. Ugh..
Jadi aku menatap gadis kecil itu, dari usianya aku bisa mengatakan dia mungkin berumur 5 atau 7 tahun. Lalu, dia memiliki rambut berwarna hitam gelap dan sangat panjang untuk seusianya(?), juga mata ungunya begitu indah dan menawan.
Hmmm... Apa yang harus ku berikan nama padanya??
Hitam.. Ungu.. Bayangan.. Hmm..
Ah, aku rasa nama itu mungkin cocok untuknya.
Jadi aku menatap ke Gadis kecil yang penuh harapan di depanku.
"..Bagaimana dengan Senka? Asalnya dari bahasa asing yang berarti Bayangan dan sangat cocok untuk seorang gadis." Ucapku memberinya nama dan mencoba terdengar tidak buruk untuknya.
"Senka.. Senka.. Myu, Namaku Senka!" Ucapnya senang.
Senka tersenyum dan menyukai namanya.
Dia melihatku dengan wajah imutnya.
"Senka, kau lucu sekali!!" Ucapku memeluknya erat.
"Umyu?! Papa, hentikan?!" Ucap Senka mencoba lepas.
Aku memeluknya dan mengusap pipiku pada pipinya. Entah kenapa aku menyukainya.
"Baiklah, aku yakin kau anakku!" Ucapku yakin.
"Papa!!" Ucap Senka gembira.
Dia memelukku balik dengan senang dan mendengkur layaknya kucing.
"Iya, iya. Senka, kau imut sekali~.." Ucapku membalas pelukannya.
"Myu~ Hehe~"
Aku tersenyum lembut ke anakku(?) ini.
.........
Sekarang sudah menjelang siang hari.
"Ah.." Ucapku baru mengingat, kalau aku sudah seharian di hutan.
Karena aku sudah menghilang seharian penuh, sudah pasti orangtuaku akan sangat khawatir. Sebaiknya aku kembali secepatnya.
"Senka, kau.." Ucapku ke Senka yang di depanku.
Tapi..
Aku tidak melihatnya di manapun.
"Senka! Di mana kau!!?" Ucapku panik.
Sial! Di waktu seperti ini?!
"Papa?" Ucap Senka di dekatku.
"Huh?" Aku terkejut dan melihat ke sisiku.
Aku melihatnya keluar dari balik bayanganku dan dengan imut berjalan kearahku.
"Kenapa bisa.. ah, aku ingat..
Senka adalah Ratu bayangan," Ucapku menggelengkan kepala.
'Jadi Senka bisa melakukan hal seperti itu ya,' Pikirku melihatnya berjalan memutariku.
"Senka, berjanjilah. Kau jangan sekali-kali keluar dari bayangan sampai Papa memintanya, dengar?" Ucapku mengingatkannya.
"Myu! Senka mengerti, Papa!" Ucapnya mengangguk.
Dia sangat imut..
Jadi sebelum aku pergi aku menepuk kepalanya. Dia terlihat senang dan merespon "Hehe~." saat aku menepuk dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Baiklah, aku harus cepat sebelum ini menjadi masalah besar," Ucapku mulai berlari.
Dan aku bergegas kembali ke desa. Meninggalkan mayat itu sendiri.
.........
Di luar desa.
Terlihat beberapa orang di dekat gerbang desa dan sepertinya mereka sedang sibuk berbicara.
Sesampai aku di depan gerbang desa, aku berjalan menghampiri mereka.
Beberapa penduduk yang sedang berada di dekat gerbang tampak khawatir dan ada penduduk yang saling berbicara seakan ada suatu masalah serius.
"Hei?" Aku mendekati mereka dan mencoba berbicara.
Sesaat aku mencapai pintu gerbang, para penduduk terkejut melihatku kembali dan langsung menghampiriku.
"Ren!? Kemana saja kamu?"
"Ayahmu mencarimu!"
"Uh, apa?" Ucapku agak terkejut.
Seperti dugaan, mereka pasti mencariku.
"Di mana Ayahku pergi?" Ucapku bertanya padanya.
"Dia kira kau masuk ke dalam hutan, jadi dia pergi mencarimu," Ucapnya menunjuk hutan Bloody.
"Hutan Bloody dilarang dimasuki, karena Monster mungkin masih ada. Jadi kami meminta petualang untuk mencarimu.. " Ucapnya menambahkan.
Ugh.. Sepertinya aku merepotkan semuanya.
"Maafkan aku.. aku harus menemui semuanya terutama ayah dan keluargaku sekarang," Ucapku mulai bergegas kembali ke rumah.
"Lebih baik kau ke sini dulu," Ucap pria itu memintaku mengikutinya dan para penduduk lain ikut juga.
Jadi mengikuti para penduduk desa, aku menemui kepala desa dan orang-orang desa. Ada Ibu dan Amelia di alun-alun desa.
"Ibu.." Ucapku mendekatinya.
"Ren!? Kemana saja kamu.. ibu khawatir kau menghilang.." Ucapnya langsung memelukku.
Aku langsung dipeluk oleh Ibu dan dia sangat sedih sampai memelukku sangat erat.
Apa yang terjadi? Bukankah aku hanya menghilang kemarin saja?
"Maafkan aku, ibu.." Ucapku meminta maaf.
Saat masih dipelukan, aku melihat seseorang menghampiriku. Dia menatapku dan berbicara dengan pelan.
"Ren.." Ucapnya saat mendekat.
Amelia terlihat sedih, tapi dia mencoba untuk tenang.
Yang lain semua lega dan aku bertanya pada ibu saat melepas pelukan.
"Ibu, ayah di mana?" Ucapku ingin tahu.
"Ayahmu.. mencari mu selama seminggu ini.. dia masih di dalam hutan.." Ucap Ibu dengan wajah sedih.
Seminggu?? Apa yang terjadi?!
Aku terkejut dan keheranan. Apa aku pingsan selama seminggu?
'Senka..' Ucapku dalam batin.
'Apa aku boleh keluar?' Ucap senka dari bayanganku.
Karena kemampuannya, Senka bisa berbicara padaku lewat bayangan tanpa mengeluarkan suara atau singkatnya telepati.
'Jangan, aku ingin memastikan. Apa aku tertidur selama seminggu?' Ucapku memastikannya.
'Un, Papa tidak bangun. Jadi Senka membutuhkan beberapa hari untuk membuat Papa sembuh total dan Senka melindungi Papa dari banyak Monster!" Ucapnya terdengar serius.
Jadi itu benar adanya..
'Papa, aku membutuhkan banyak Mana untuk menyembuhkan Papa dan membutuhkan pengorbanan selama penyembuhan,' Ucapnya dengan lugu.
Hah? Apa? Apa yang tadi dia bilang??
"Ren? Ada apa?" Ucap Ibu bingung melihatku melamun.
"Ah, tidak ada apa-apa.." Ucapku menggelengkan kepala.
"Ayo kembali.." Ucapnya memintaku kembali.
'Aku mengangguk, Senka aku ingin mendengar penjelasannya nanti,' Ucapku pada Senka.
'Myu! Baik, Papa!' Ucapnya dengan senang.
Suaranya imut sekali..
.........
Jadi sesampai di rumah.
Ibu dan aku pergi duduk di kursi ruang makan.
Sambil menunggu Ayah kembali, ibu meletakkan beberapa makanan di meja. Aku memakannya dengan lahap.
Setelah aku selesai makan, Ibu bertanya padaku mengenai keadaan selama seminggu itu.
"Maafkan aku ibu, membuatmu khawatir," Ucapku sedikit menyesal.
"Tidak apa, tapi beritahu Ibu apa yang terjadi selama seminggu itu.." Ucap Ibu serius.
Aku gugup, tapi mencoba tenang. Jadi aku memberitahunya.. Semuanya.
Bahwa aku telah menjadi..
"..."
"..."
Kami semua terdiam, tapi suara itu.
"Papa?"
Membuatku terdiam lebih jauh lagi.
.........
...[ Continued ]...