The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 33 - [ Adventurer Guild, But Why? ]



...BAB 33 - GUILD PETUALANGAN, TAPI KENAPA?...


...◇◇◇...


Sesampai di depan gerbang masuk Duke Mansion, aku berniat untuk meminta para penjaga membolehkanku keluar.


Tapi, suara menggemaskan memanggilku.


"Papa! Papa!" ucap Senka menarik belakang bajuku dengan ceria.


"Senka, ada apa?" Tanyaku selagi mengusap kepalanya.


"Senka menemukan jalan keluar!" ucapnya dengan senang dan mata berbinar.


"Benarkah? Di mana?" Tanyaku penasaran.


"Di sini, ikut Senka." Senka menunjuk ke suatu tempat dan langsung berlari ke sana.


Jadi aku mengikutinya, tapi yang aku temui adalah tembok gerbang yang terhalang dari sinar matahari. Karena begitu gelap lokasi yang ku kunjungi ini, bayang-bayang terlihat di setiap sisi.


"Di mana jalannya Senka?" ucapku bingung.


"Ini!" ucapnya masih menunjuk suatu tempat.


Aku tidak mengerti, dengan melihatnya hanya menunjuk ke tembok. Walaupun itu gelap karena terhalang oleh sinar matahari, jadi apa?


Lalu, Dia masuk ke dalam kegelapan tembok, tapi bukannya itu memang kemampuannya?


Aku tidak bisa, kau tahu..


"Papa?" Senka terlihat bingung melihatku.


"Senka, Papa tidak bisa melewatinya," ucapku tersenyum dan berkata dengan sabar.


"Eh? Hmm.. Papa, pegangan,'' ucapnya berpikir sebentar dan lalu mengulurkan tangan memintaku.


"Pegangan? Oke?" balasku mengulurkan tangan.


Senka mengambil tanganku dan menarikku ke arah tembok.


"Um, Senka?" ucapku ragu.


Lalu..


Secara ajaib aku menembusnya dan berada di luar gerbang.


"Huh?" ucapku keheranan setelah apa yang terjadi.


"Hehe, bagaimana Papa?" ucapnya dengan menggemaskan.


Aku tercengang dan melihat ke Senka yang "Fuh~." Dengan dadanya ia majukan.


'Kemampuannya telah berkembang sampai bisa membawaku juga, aku bangga dengannya,' ucapku dalam batin.


Aku tersenyum melihatnya dan berkata dengan senang.


"Hebat! Senka memang yang terbaik!" ucapku mengangkatnya ke atas.


"Hehe~ Papa!" ucapnya tertawa riang.


"Haha!" Tawaku dengan senang.


Dengan begitu kami berhasil keluar dari Duke Mansion. Lalu apa yang kita lakukan terlebih dahulu? Hmm..


"Ayo jalan-jalan!" ucapku tegas.


"Ya!" ucap Senka riang.


Kemudian kami menuju ke tengah kota untuk berjalan-jalan layaknya orangtua dan anak.


.........


Kota Magna.


Kota yang berada di dekat Gunung Jabala dan Laut Swalla Selatan.


Wilayah yang di kuasai Duke Arcane dan menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Yu Deila dan para bangsawan Kerajaan. Karenanya tidak jarang Kota Magna ramai oleh banyak pelancong dan pedagang.


Salah satunya, Pasar di Jalan MagnaTown yang dipadati penduduk dan pedagang.


Kami berjalan melihat-lihat apa yang ada di kios-kios yang sibuk mengiklankan diri.


"Papa!" Senka dengan menggemaskan menarik-narik lengan bajuku.


"Senka?" ucapku bertanya.


Senka menarikku dan menunjuk dengan ceria ke arah Kios tempat makanan yang aku janjikan sebelumnya.


Kios Crepe.


"Baik, baik tenanglah Senka. Papa belikan kok," ucapku tersenyum karena ditarik-tarik oleh Senka.


"Yatta!" ucapnya dengan bahagia.


Senka langsung berlari ke kios tersebut dengan aku di belakangnya mengikuti.


Jadi kami berbaris dan menunggu giliran.


"Ini dia," ucap penjualnya.


"Wah!" Senka mengambil dan mendekatiku dengan wajah senang.


"Makanlah," ucapku melihatnya yang langsung mencicipinya.


"Enak!" ucap Senka dengan bahagia.


"Hahaha, memang." Aku ikut senang.


"Papa, ini!" ucap Senka menawarkan Crepe miliknya.


"Buat Senka saja," ucapku tersenyum.


Tapi Senka cemberut dan menatapku agak sedih.


'Uh, Senka?'


"Papa," ucapnya mengangkat Crepenya ke arahku.


"Iya, iya Papa coba." Jadi aku mencobanya.


Aku mengigit sedikit Crepe dan memberi jempol pada Senka. Dia senang dan dengan gembira memakannya.


Sepertinya dia menyukainya.


Kemudian kami pergi ke kios-kios lain, entah kenapa kami diberi diskon yang lumayan. Mungkin Senka penyebabnya, tapi aku rasa kami hanya beruntung saja.


"Banyak makanan!" ucapnya menggandeng tanganku dan memakan permen gula.


"Iya, Senka memang paling imut," ucapku mencubit pipinya.


"Hehe~." Senka terlihat bahagia.


Karena waktu sudah mulai menjelang Sore, kami berencana kembali ke jalan keluar pasar dan pelabuhan.


Pelabuhan yang kami lewati, setiap harinya ramai sampai malam tiba. Karena itu, seringkali orang-orang berlalu lalang di sekitar pelabuhan dan dekat pasar.


Lalu saat kami berpegangan tangan, kerumunan semakin banyak dan memadati jalanan.


"Senka, nanti Papa akan-.. Hm?" Aku tidak merasakan memegang tangan Senka..


'Hm? Aku melihat ke belakang dan penuh keramaian, tapi di mana Senka?'


"Hah?!" Terkejut, aku baru menyadarinya.


Aku lengah, sampai membuatku kehilangan Senka dengan cepat. Karena panik aku mencarinya.


"Senka!?" Teriakku.


"Papa." Suara menggemaskan terdengar di dekatku.


"..Senka." Aku melihat ke asal suara.


Suara Senka terdengar di bawahku.


"Ah, aku hampir lupa.." ucapku baru mengingatnya.


"Hehe." Tawa kecilnya membuat kekhawatiranku sirna.


Aku lupa, kalau Senka bisa melakukan itu.


Jadi karena kekhawatiranku akan Senka yang mungkin tersesat hilang. Aku memintanya untuk jika bisa masuk ke bayanganku kalau hal seperti tadi terjadi.


Dia menjawab "Siap!" dengan tangan di kepalanya hormat persis seperti seorang prajurit.


Darimana dia belajar hal seperti itu?


.........


Lalu karena kami masih ada waktu, aku berencana ke Guild Petualang untuk mengamati saja. Tapi kalau bisa aku akan mendaftar juga.


Bangunan besar yang tampak tua dan klasik tepat di depan kami, terlihat beberapa petualang keluar masuk ke dalam bangunan itu.


Guild Petualang kota Magna, Icarus.


'Papa, kenapa kita ke sini?' tanya Senka langsung di kepalaku.


"Hanya ingin mampir saja." ucapku membuka pintu Guild.


Sebuah aula luas yang terhampar terlihat setelah aku memasuki Guild. Berbagai orang dari ras yang beragam terlihat sibuk dalam berbisnis dan menjual barang bawaan mereka.


Semua orang itu adalah Petualang.


Dari berbagai Rank dan profesi terlihat di sini.


Ada ras Beastman, Elf, Dwarf, bahkan Manusia.


Kemudian, aku menuju ke meja Resepsionis tertentu yang sedikit di kunjungi.


Meja Pendaftaran.


Di sana, ada seorang wanita yang duduk menunggu dengan senyuman.


"Permisi, apa saya bisa mendaftar?" ucapku mendekatinya.


'Papa, bukannya mau mampir?' ucap Senka bertanya.


Tidak apa, aku setidaknya ingin memiliki lisensinya saja.


'Dapatkan lisensinya Papa!' ucap Senka mendukung.


Itu baru anakku!


"Hmm, Tuan apa anda berpengalaman dalam kegiatan berburu?" Tanya Resepsionis agak ragu.


Ah, iya.. Sepertinya aku lupa kalau penampilanku sekarang mirip dengan pria yang memakai pakaian rapi seperti pedagang.


Tampaknya orang-orang mengira, mungkin aku datang untuk membuat Quest di sini atau Request daripada menjadi Petualang.


Yah, aku tidak memiliki niat itu dan ke sini hanya iseng. Tapi, siapa tau aku mendapat kartu yang sudah lama tidak kulihat.


"Aku bisa membayar," ucapku tersenyum.


"Baiklah.., lalu isi formulir formal ini," ucapnya memberikanku selembar pendaftaran.


Aku mengangguk dan mengisi formulir sesederhana mungkin dan aku mengosongkan beberapa pertanyaan.


"Ini, sudah selesai."


Aku memberikan kertas itu kembali padanya.


"Oke.." Resepsionis itu sepertinya tidak terlalu memikirkannya dan mengambilnya.


Yah, aku lumayan tinggi di usiaku yang ke 14 tahun jadi tidak ada yang menyadari betapa mudanya aku mendaftar.


Sambil menunggu, aku mengambil kue kering yang ada di meja.


"Ini adalah alat pengecekan Mana dan pengukuran kekuatan," ucapnya mengeluarkan dua alat sihir ke atas meja.


Nostalgianya, aku sudah lama tidak memegang kedua alat itu.


Jadi aku mengambil alat sihir berupa bola elemental dan tongkat pengukur kekuatan di tangan lain.


Aku menyentuh bola elemental dan warna dari bola putih ini berubah menjadi merah dengan warna hijau di sisi kirinya.


Dia mengangguk dan mencatatnya, lalu memintaku mengalirkan mana ke alat sihir lain; Tongkat pengukuran kekuatan.


Jadi aku mengalirkan manaku ke dalamnya.


Lalu angka terbentuk di tengah tongkat.


[ 180 ]


Dan test pun selesai.


"Oh? Oke.." Dia mencatat hasil informasi dari masing-masing alat sihir itu.


"Elemen Api dan Udara, lalu Kekuatan dan daya sihirnya 180," Dia mengangguk membacanya.


Bagus, dengan begini aku bisa mendapat kartuku, tentunya di rank terendah dulu.


Jika ingin menaikkan Rank, itu mudah tapi butuh sebulan terbiasa bekerja di lapangan sebagai petualang sebelum berniat menaikkan Rank.


Lalu, menaikkan Rank juga perlu untuk mengecek apakah Level kita sesuai dengan syarat ketentuan Rank yang Guild tentukan dan di berikan Quest Rank Up untuk membuktikan kelayakannya.


"Tunggu sebentar, kartu akan dicetak," ucapnya memintaku untuk menunggu.


Lalu, dia masuk ke ruangan di belakang untuk mencetak kartu.


Sekarang aku sendiri di meja Resepsionis.


'Baiklah, aku akan menunggu sambil makan kue itu,' ucapku dalam hati.


Tiba-tiba..


Baak!


"Oya, oya.. Ada anak baru ya?" ucap seseorang yang memukul keras meja resepsionis.


Matanya melotot menatapku.


'Hm..?'


'Kenapa harus ada saja gangguan yang datang, haa.. harusnya aku tidak terlalu mencolok di sini, kau tahu..' ucapku dalam hati.


"Kau begitu mencolok dengan mencoba memakai pakaian mewah, Hah.." ucapnya menarik kerahku.


'Serius??'


Sepertinya aku memang mencolok.


Aku tidak membantahnya, karena itu ada benarnya.


"Hei, jangan diam saja. Kau pikir dengan pakaian itu akan menakutiku?" Dia menarik kerahku dengan seenaknya.


Ada apa ini? Tidak ada yang mencoba melerai kami??


Hm?


[ Don Ba ]


[ Petualang Rank C ]


[ Level 32 ]


Jadi begitu..


Sepertinya pria ini lumayan kuat di Guild ini.


Karena, aku rasa tidak ada orang yang berniat melerai atau membuat diam orang ini.


Sepertinya aku harus membela diri, suara keras Senka terdengar di telingaku.


Baik, Baik..


Jadi aku memegang tangannya dan melepasnya dari kerahku.


"Hah? Kau mau berkelahi?" ucapnya kesal.


"Kalau kau meminta."


"Jangan sombong!"


Dia langsung mencoba memukulku, aku dengan mudah menghindar ke samping.


"Huh?"


Pria itu tertegun karena aku berhasil menghindarinya, jadi saatnya membalas.


Blaam! Buuk!


Pukulan yang kuat mengenai tepat di wajahnya dan membuatnya terhempas ke belakang.


"Ada apa?" ucapku menatap pria itu yang jatuh ke belakang.


"Geh.. Sialan.." Dia mencoba berdiri dan meludah ke samping.


Sepertinya aku telah membuatnya marah.


Yah, aku tidak peduli dengannya. Karena dia hanya lawan yang mudah.


Para petualang terkejut melihat ada perkelahian, karena Pria Don ini mencoba membuli petualang pemula. Mereka tidak mengira akan ada orang yang berani melakukan itu pada Don.


Akhirnya mereka berkumpul melihat perkelahian antara aku dan pria itu.


"Hei, Hei.. Apa ini tidak masalah?" ucapku melihat kerumunan.


"Heh, sialan!" ucapnya marah.


Ayolah, kau yang duluan..


Pria itu berlari dan mengambil kapak yang bersandar di meja seseorang. Dia tidak peduli dan menyerangku.


Baam!


Dentuman keras yang tercipta dari serangan kapak vertikal membuat kerusakan di lantai yang besar.


"..." Aku menghindarinya dengan mudah.


Don menarik kapak dan mulai menyerang dengan membabi buta.


'Gerakan yang barbar dan tidak bagus,' ucapku dalam batin.


Aku melompat dan naik ke atas meja lain.


Baam!


Meja itu terbelah dua dan membuat kerumunan mundur.


Kepanikan terjadi.


"Apa kau gila mencoba melakukan itu??" Ujarku bingung dengan pria itu.


Don tidak mengubris dan tetap menyerangku.


"Bocah sialan, sini lawan aku!" ucapnya dengan amarah.


Hanya karena dia yang mulai, dia mencoba berlagak kuat sekarang.


Jadi aku berhenti menghindarinya dan menatapnya yang tersenyum seakan bisa menyerangku.


"Huh?" Dia terkejut karena aku tiba-tiba berhenti.


"Haa.." Aku mendekatinya.


Para petualang menatap kami dengan antusias.


'Mereka semua sepertinya payah melihat situasi, Yah tidak semua..' Pikirku memperhatikan sekitar.


"Hah?"


Smash!


Aku sudah di depannya dan langsung memukul tepat di Ulu hatinya, juga menyentuh punggungnya dengan mengaliri sihir Teror padanya


"Gahhhyhhh??!" Pria itu menjerit dan tumbang seketika.


Buuk!


Ini lah akibatnya jika mencoba melawan orang yang salah.


Namun, situasi yang kukira akan buruk. Malah ramai dan antusias bersorak.


"Hebat!!"


"Dia mengalahkan Don! Luar biasa!"


Apa yang terjadi?


Saat aku memperhatikan sekitar, Antonile terlihat mematung di dekat pintu masuk. Keramaian orang yang menonton juga terlihat tidak biasa.


"..." Aku menghela nafas..


Jadi benar, aku terlalu mencolok.


.........


...[ Continued ]...