
...BAB 19 - KEGIATAN BERBURU...
...◇◇◇...
Sudah satu tahun sejak itu.
Lia dan Flam menjadi teman dekat dan aku sering melihat mereka bermain bersama.
Senka menjadi di kenal dekat oleh keluargaku. Kami masih merahasiakan mengenai Senka di desa.
Tinggi Senka juga sudah 4 kaki lebih dan sudah sampai di bawah daguku.
Tampak seperti seorang adik daripada anak perempuan, jika dilihat oleh orang lain.
Melihat perkembangan cepatnya, aku tidak tahu harus senang atau sedih..
Lalu penguasaan pedangku sudah mencapai tingkat di mana Ayahku menyerah bertarung denganku, juga sihir teror dan apiku sudah di tingkat Menengah dan Atas.
"Ren-kun, itu keren!" Ucap Flam dengan wajah cerah.
"Kau bisa melakukan hal seperti itu?!"
Lia tampak kagum melihat sihir yang kucoba.
"Iya, aku juga bisa melakukannya tidak hanya satu."
Jadi apa yang sebenarnya aku lakukan sehingga keduanya tercengang dan kagum adalah..
Telekinesis.
Skillku ini telah naik level menjadi 4 dengan memakai 2 Skill poin.
Sekarang aku bisa mengendalikan objek dan bisa memanipulasi arah dan gerak laju objek yang kukendalikan.
Tanpa aku menggerakkan tangan seperti sebelumnya, aku secara penuh hanya dengan menggunakan pikiran saja.
Aku mampu menggerakkan berbagai objek yang bisa kulihat.
Empat buah Apel yang melayang di sekitarku lah yang menjadi bukti bagaimana keduanya tercengang.
"Apa ini sihir mengambang??"
"Tidak, ini murni aku mengerakkannya dengan pikiranku."
"Ren-kun, Hebat! Aku ingin bisa melakukannya juga!"
"Untuk berpikir kau melatih teknik seperti itu juga.."
Aku merasa tersanjung mendengar pujian-pujian mereka itu.
Terus terang kekuatan Telekinesis adalah Skill yang memerlukan kekuatan mental dan energi alam/Ki (Mana). Jadi sebagai ganti konsentrasi mental, energi Mana juga membantu meringankan dampak dari penggunaan Telekinesis pada otak.
Yang artinya, penggunaan skill itu bisa berdampak buruk pada otakku jika berlebihan.
"Lalu aku bisa melakukan ini juga."
Pedang di pinggangku langsung melayang di atas udara dan mengitari ku.
"Woah!"
"...Mayan."
Flam kagum melihatku melakukan Telekinesis dengan pedang, sedangkan Lia terlihat jengkel tapi dia juga tampak kagum seperti Flam dari bagaimana matanya masih menatap pedang yang ku gerakkan di udara.
"Ren-kun, bisa ajarkan aku!"
"Nah, aku juga mau kalo tidak keberatan."
Melihat keduanya tampak tertarik, aku hanya bisa tersenyum kaku dan berkata lirih.
"Eh, etto.. Nanti saja, ya?"
"Eh? Kenapa?"
Flam menatapku memohon, tapi aku tetap tidak bisa. Karena kemampuan Telekinesis tidak bisa kuajarkan, menggunakannya sekali saja bisa membuat kepala sakit sekali dan terkadang bisa pingsan kalo berlebihan.
Jadi ini kemampuan yang lumayan berbahaya, tapi karena aku memiliki efek dari gelar, Level skillku dan Level 20 lebih. Aku bisa dengan leluasa menggunakannya tanpa menyebabkan resiko seperti sebelumnya.
"Mohh.. Lupakan saja. Jadi apa yang mau kau lakukan Ren-kun?" Ucap Flam menatap ke perlengkapan yang kubawa.
"Dilakukan? Hm.."
Sebenarnya aku berniat pergi ke dalam hutan untuk mulai berburu, sejak menggembala sudah pindah tangan ke sepupuku yang pulang dari kota dan sekarang tinggal di desa untuk menggembala.
"Aku akan melakukan perburuan harian seperti kemarin."
""...""
Mereka agak gelisah yang membingungkanku.
"Ada apa?"
Keduanya saling menatap, lalu Lia berkata duluan.
"Uh, ti-tidak kok.. tapi kalo boleh.. Apa kami bisa ikut?" Ucapnya dengan gugup.
"Eh? Serius? Lia juga??"
"Kenapa? Apa kau tidak mau menjagaku?" Ucapnya cemberut.
Wajahnya memerah saat mengatakannya, tampak dia gemeter seperti memaksakan diri.
"..." Melihatnya seperti itu, aku sedikit ragu
"Tidak boleh??"
"Tidak, bukan seperti itu."
Seharusnya Lia masih memiliki trauma di Hutan Bloody, jadi kenapa dia mau ikut denganku untuk berburu?
Aku melirik gadis satunya.
"..?"
Lalu Flam mengangguk menatapku, jadi aku menghela nafas dan melirik Lia.
"Kalo Flam masih bisa, tapi Lia.. Apa kau tidak masalah ikut ke hutan?"
"Apa sih! Tidak masalah, kan aku ikut!!"
"O-Oke.."
Aku agak takut dengan bagaimana Lia menarik kerahku.
Jadi dengan begitu, mereka ikut berburu denganku.
.........
Di dalam Hutan.
"Hehe~"
"Senka, kau mau ini?"
"Mau!"
Aku agak cemburu melihat Senka berjalan bersama dengan Lia.
Uuh.. Menyebalkan..
Flam di sampingnya juga menyayangi Senka dengan membawa kue-kue manisan di keranjang yang dia bawa.
Untuk informasi, Flam sudah mengenal Senka baru-baru ini saat Lia memintanya untuk melihat Senka yang biasa bersamaku.
Jadi sekarang orang yang tahu aku punya anak perempuan bertambah.
"...Kenapa kalian membawa sesuatu seperti itu??" Ucapku bingung.
"Kenapa? Bukannya perlu?" Lia tampak tidak mempermasalahkannya.
"..Tentu saja, tidak! Kalian pikir kita sedang piknik!?"
"Eh? Bukan?"
Haaa... Melihat Lia dan Flam bertingkah seperti umurnya memang menjengkelkan.
Usia mereka sekarang 13 dan 11 tahun, beberapa tahun di bawahku. Karena aku ingat apa yang aku lakukan dulu di usia ku ini, aku jadi merasa apa yang kulakukan kontras dengan masa laluku.
Jika dulu aku agak ceroboh dan suka bermain-main yang membuatku tidak sadar betapa bodoh dan lemahnya aku sampai dewasa.
Tapi sekarang berbeda.
"Haa.."
Aku menghela nafas dan berjalan dengan hati-hati.
"Ren-kun, di sana!"
Flam menunjuk ke Babi Hutan yang berlarian tidak jauh dari kami.
Seekor Babi Hutan tampak sedang mengejar kelinci.
"Shh.. Aku akan menjatuhkannya."
Aku bisa saja mematahkan leher Babi Hutan itu dengan Telekinesis, tapi itu tidak perlu.
"Oke.."
Kemudian dia meminjamkan Busurnya dengan enggan kepadaku, lalu aku mengambilnya dan mulai bersiap menyerang.
"Ren, kau mau pakai panahku?" Lia menawarkan anak panah miliknya.
Tapi, aku menggelengkan kepala.
"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya tanpa itu," Ucapku mulai menarik senar busur.
Sesaat aku menarik busur, percikan api muncul di tengah busur dan perlahan membentuk menjadi sebuah anak panah dari api.
Warnanya yang merah terang perlahan mulai menggelap dan semakin panas.
Anak panah yang berkobar panas memberi tekanan yang intens.
Keduanya tampak tertegun dan diam.
Lalu aku melepasnya.
Fwoooooosshh! Blaaaasst!
"Pighhyaaakkk?!!"
""...""
Babi Hutan langsung terbakar di tempat dan bau matang tercium.
Kelinci di dekatnya kabur dengan ketakutan.
Jadi kami mendekati Babi tersebut.
"Sudah matang?"
"Sepertinya.."
"Hmm, bagaimana kau membawanya, Ren?"
Lia tampak ragu untuk hanya menyeret atau membawanya langsung. Karena itu akan mengakhiri perburuan kita.
Babi Hutan itu saja berukuran sedang dan dengan ukuran kami, mungkin satu orang bisa membawanya sendirian.
Jadi aku tersenyum dan menatap ke Gadis kecilku.
"Senka, masukkan," Ucapku tersenyum.
"Baik, Papa!"
Senka dengan lucu berjalan ke arah Babi dan bayangan Babi itu bergetar dan sesuatu keluar dari bayangan dan langsung menelan Babi masuk ke dalam bayangannya.
Adegan yang mengerikan itu terjadi dalam sekian detik.
""...""
"Kerja bagus."
"Yatta!"
Keduanya mematung melihat yang terjadi, sedangkan aku menepuk kepala Senka dan memujinya.
"Ayo kita cari mangsa yang lain."
"Tunggu sebentar."
"Iya..?"
Lia dengan kuat menahan bahuku saat aku mau pergi. Dia terlihat ingin sebuah penjelasan.
"Apa tadi itu..?"
"Eh? Sihir penyimpanan?"
Wajah keduanya tampak meragukan.
"Apa benar?"
"Uh.. benar kok, ya kan Senka?"
"Myu! Benar!"
"Hmm.." Lia melihat ke Senka yang dengan imut memeluk lenganku, lalu dia balik menatapku dengan sinis. Apa aku berbuat salah atau sesuatu??
"Sudahlah, lalu bergerak.."
"O-oke."
Aku maju dengan keduanya yang berbincang-bincang santai di belakangku.
Sedangkan Senka masuk ke bayanganku lagi.
.........
"Hmm.." (Lia)
Kami selesai berburu dan kembali menuju desa.
"Ada apa, Lia?" Ucapku penasaran dengan Lia yang tampak tidak puas.
"Ini berbeda," Ucapnya jutek.
"Berbeda kenapa?"
"Tidak ada yang terjadi?!"
"Eh?"
"Benar! Kupikir akan ada hal yang menakutkan dan mengerikan!" Ucap Flam sependapat.
"Iya, aku sepemikiran dengan Flam," Ucap Lia mengangguk setuju.
Keduanya entah kenapa sepemikiran.
"Oh, kenapa kalian pikir begitu?"
""Karena itu Hutan Bloody!""
"Eh??"
Apa sih yang mereka katakan??
"Haa.. bukankah hutan Bloody memiliki nama yang berdarah?"
"Benar, aku juga berpikir begitu."
"..Kalian ini.."
Sepertinya mereka ingin sesuatu yang menantang. Hm?
Terlihat tidak jauh dari jalan, aku melihat beberapa orang di sana.
"Sepertinya ada masalah di sana?" Ucapku menatap layar di atas kepala mereka.
"Di mana?"
"Apanya?"
Keduanya berhenti dan dengan penasaran memandang ke arah yang ku tunjuk.
Di depan sana ada sekelompok pria asing yang terlihat mencurigakan.
Mereka tampak menunggu di sisi jalan, tapi karena kami semakin dekat.
Kelompok itu menyadari kami dan salah satunya berteriak sesaat melihat kami.
"Boss! Ada seseorang yang datang!"
"Apa?! Siapa mereka??"
"Lihat!"
Kami tidak bisa tidak bingung, ada lima pria yang bertingkah mencurigakan.
"Mereka anak kecil!"
"Begitu, bekuk dan bawa mereka ke sini!"
""Iya!""
Ada masalah datang..
"Re-Ren-kun?!"
"Ren, musuh! Itu musuh!!"
Keduanya dengan panik bersembunyi di belakangku.
"Aku tahu."
Sepertinya aku bakal kerepotan sekarang..
.........
...[ Continued ]...