
...BAB 40 - DUKE ARCANE...
...◇◇◇...
Kota Magna, Kerajaan Yu Deila.
"Akhirnya ... Aku sudah terlalu lelah baik raga dan mental," ucapku lega melihat gerbang kota tidak jauh setelah keluar dari Hutan Alta.
Setelah Pemanggilan Sylphy, aku mendapat rekan baru yang akan membantuku di setiap pertempuran.
Lalu, karena Duke sudah agak pulih, kami pun langsung kembali ke kota.
Perjalanan pulang memakan waktu seharian penuh dan hingga kami sampai ke kota, hari sudah menjelang fajar.
Dalam waktu itu, aku melatih teknik pedangku lebih baik dengan Buff Spirit Sylphy. Hasilnya lumayan lebih baik dari yang aku harapkan.
Kemudian sesampainya di dalam kota, kami langsung menuju ke Mansion Duke Arcane secepatnya.
Setelah Gerbang Mansion dibuka, kami masuk ke dalam Mansion dan disambut oleh Rosaline yang dengan bahagia melihat kedatangan kami.
"Ayah!" Teriaknya.
Rosaline langsung berlari ke Duke dengan cepat sesaat kami sampai di depan Mansion.
"Rosaline," ucap Duke turun dari kereta kuda.
Duke menangkapnya dan mereka langsung berpelukan, itu sangat menghangatkan hati dengan melihatnya.
"Haha.. Kau masih terlihat cantik, Rosaline.." ucap Duke menepuk kepalanya.
"Ayah, Ayah.. Ayah selamat, Syukurlah.."
Duke tersenyum dan berkata dengan lirih, "Ayah pulang.."
"Ayah.. Selamat.. datang.." Rosaline meneteskan air mata di pelukan Duke.
Aku turun dari kereta dan menatap pertemuan itu dengan hangat, 'Aku jadi ingin kembali bertemu kedua orangtuaku..' ucapku melihat mereka.
.........
[ Quest Langka #3 "Selamatkan Duke Arcane! Penyerangan tak terduga dan Ambisi misterius." Selesai. ]
[ Reward : Level Pengalaman, Magic Item S-Grade dan Affections Rosaline naik! Diterima ]
[ Level Player telah naik ke Level 35 ]
Walaupun aku mendengar suara Anorganik dan Layar di depanku, perasaan gugup dan gelisah masih terbayang olehku.
Saat ini, aku tengah berdiri di depan pintu kantor Duke. Di dalam, Duke Arcane sedang menungguku.
"Gulp.." Sekarang aku gelisah menghadapinya, berbeda dengan sebelumnya.
Aku punya perasaan aneh untuk ini, karena jika aku tidak bersalah apa yang membuatku datang kesini? Aku masih bingung.
Jadi aku memberanikan diri dan mengetuk pintu.
"Tuan Duke. Ini saya, Ren Maulana," ucapku mengetuk pintu.
"Masuklah." Setelah mendengar jawaban di sisi lain pintu, aku perlahan membuka pintu dan melihat di depanku sudah ada Duke yang duduk di kursi dengan meja penuh dokumen-dokumen di sisi kanan dan kirinya. Terlihat betapa sibuknya Duke sesampai di sini.
Lalu di kanan belakangnya, ada seorang pria dengan setelan rapi yang sepertinya adalah asisten Duke. Sedangkan Duke terlihat mengaruk-garuk kepalanya dengan pusing saat mengecek dokumen di depannya.
"Akhirnya kau datang, Ren Maulana," ucap Duke meletakkan dokumen yang dia pegang dan menatapku dengan ramah.
"I-Iya!" Balasku gugup.
"Hahaha.. Tak perlu tegang, duduk saja di sana," ucapnya tersenyum ramah.
Duke memintaku untuk duduk di sebelah kiri ruangan, di sana terdapat dua sofa dan satu meja di tengahnya.
Dua sofa itu saling berhadapan dan beberapa dekorasi di atas meja membuatku tertarik.
Terdapat dua patung beruang dan Kelinci di atas meja yang dengan indah menghiasinya dan terlihat ukiran pahatan yang memukau.
Aku tahu itu pasti berasal dari Negara Timur. Jadi Aku pun mendekati sofa yang tak jauh dari meja Duke dan duduk di sana.
Kemudian Duke berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ke sofa di seberangku. Sekarang kami berhadapan satu sama lain.
Aku sedikit gugup.
[ Romeo de Fin Arcane ]
[ Duke of West, Arcane Head Family. ]
[ Level 50 ]
Layar muncul di atasnya dan menunjukkan betapa kuatnya dan hebatnya dari nama gelarnya saja.
Namun, satu Layar lain membuatku cemas.
[ Kondisi : Dikutuk. ]
Walaupun dia tampak sehat, kata Kutukan membuatku terkejut dan ragu mengenai kondisinya.
Kutukan apa yang di terima Duke? Aku tidak tahu dari hanya melihat Layar di depanku saja.
"Ren Maulana, mungkin anda bingung alasan dipanggil ke sini," ucapnya menatapku lembut.
Aku mengangguk kecil.
"Satu tahun lalu, Anda menyelamatkan Putriku, Tidak.. Keluargaku. Jika Anda terlambat memberitahu, mungkin Saya dan Keluarga saya telah lama hilang," ucapnya masih tersenyum, walaupun yang ia katakan terdengar tidak menyenangkan.
'Uh? Tidak mungkin, kan..'
Jadi benar saja, Di masa depan aku tidaklah mendengar nama Romeo de sebagai kepala keluarganya. Kemungkinan yang Duke katakan benar.
"Haha.. Sepertinya Anda memahaminya, benar. Mereka berkaitan dengan kerajaan lain, ini seharusnya rahasia. Tapi karena anda adalah teman anak saya dan yang ia percayai, aku bisa mengatakannya" ucapnya dengan senyum ramah.
"Juga, Aku berencana menghadiahimu. Cain bawakan barangnya," ucapnya menatap pelayan di sampingnya.
"Baik, Duke," ucap pelayan itu dan berjalan pergi.
Pria bernama Cain itu pergi ke ruangan sebelah dan membawakan sesuatu dari sana. Itu terlihat dibungkus oleh sesuatu di atas nampan dan di sisinya lagi ada sekantung yang mungkin berisi uang.
Cain meletakkan hadiahnya di atas meja. Dari yang terlihat, Selain sekantung uang, Kotak hitam yang tidak tahu apa isinya itu membuatku penasaran.
"Buka," ucap Duke.
Cain membuka kotak itu sesuai instruksi Duke.
Apa yang di dalamnya membuatku tertegun, layar muncul diatasnya.
Benda itu membuat senyumanku..
[ Scroll of Status Identification (High Grade) ]
"..." Wajahku perlahan datar.
"Apa kau tidak menyukainya?" ucap Duke melihatku.
"Ah! Ti-Tidak Tuan Duke! Aku sangat menyukainya, benar kok!"
Aku panik mengatakannya, tapi Duke tersenyum dan tampak puas.
"Mungkin anda tidak tahu dari desainnya yang agak mewah saja. Benda ini adalah alat identitas yang mampu memperlihatkanmu Status aslimu," ucap Duke dengan nada senang.
"Benda ini saya berikan karena telah membantu keluarga kami, lalu ambillah ini juga sebagai bayaran karena penyelamatkanku," Tambah Duke memberikanku sesuatu.
Benda lain ditambahkannya dan ia berikan kepadaku.
[ Blood Pendant ]
[ Liontin yang mampu mengumpulkan Mana dan bisa digunakan sebagai Mana Darurat jika pemakai kehabisan Mana. ]
"Wah!"
"Hahaha, baguslah jika kau menyukainya. Pakailah, jika memakainya anda akan mengetahui fungsi sebenarnya liontin ini," ucap Duke dengan lembut.
Aku menuruti yang Duke katakan dan memakainya.
Manaku terserap ke dalam Liontin dan ketika MP berkurang hingga ratusan, Mana berhenti terserap.
[ MP : 700/700 ]
Liontin mampu menampung 700 Energi sihir (Mana) di dalamnya. Aku bersyukur mendapatkannya.
"Terimakasih untuk semuanya, Tuan Duke!" ucapku tulus.
"Hahaha, Tidak apa, Tidak apa. Kau penyelamatku juga," ucapnya tersenyum lebar.
Aku tersenyum dengan Duke yang juga senang.
Kurasa aku sudah mendapat banyak hal yang bagus, walaupun dalam proses ada yang berbahaya.
Seusai pertemuan itu, aku pamit pergi dan keluar dari Kantor Duke.
"Haa... Akhirnya selesai," ucapku menghela nafas. lega.
Sejak tadi aku merasa gelisah, tapi semua berjalan lancar. Aku sangat lega, tidak terjadi apa-apa.
"Ren-sama!!" Teriak seseorang dari belakangku.
"Ugh.. Suara ini.." Aku mendengar suaranya tepat di belakangku.
Di tengah lorong yang panjang ini, Rosaline berlari dengan riang menuju padaku.
Belum sampai, Rosaline terinjak gaunnya dan dia terpleset jatuh.
Buukk!
"Rosaline!" Aku langsung menghampirinya, dia tergeletak kesakitan.
"Tidak apa-apa?" Aku memberinya tangan untuk memintanya berdiri.
"Uh.. Iya.." Rosaline memerah saat mencoba mengambil tanganku.
[ Affections Rosaline meningkat! ]
[ Player persiapkan dirimu! ]
Layar dan suara anorganik yang misterius tiba-tiba itu membuatku tegang seketika.
Aku membeku melihat layar itu. Apa maksudnya itu??
"Ren-sama?" Rosaline masih memegang tanganku dan sedikit bingung karena aku tetap diam.
Sekarang aku agak malu, sejak kasih sayang yang agak misterius itu ada. Semakin lama, aura Rosaline terasa berbeda dari saat pertama kali bertemu.
Saat ini saja, aku merasa seperti dia ingin menerkamku. Rasanya seperti itu.
"Ren-sama! Aku ada sesuatu untukmu!" ucapnya menunjukan keranjang yang di atasnya tertutup kain merah putih yang terlihat mahal.
"Eh, Iya.." Darimana itu muncul? Walaupun ada sesuatu yang aneh, aku tetap mengambilnya.
Karena dia memberiku sesuatu, jadi aku memeriksa apa isinya dan terkejut.
"Kue.." ucapku menatap kue-kue di dalamnya.
"Iya, Kue! Aku membuatnya khusus untuk Ren-sama!" ucapnya dengan ceria.
"..Gulp." Aku menelan ludah.
'Kurasa bisa di makan..' pikirku melihat kue yang terlihat gosong itu.
"Cobalah," ucap Rosaline dengan tersenyum gugup.
Aku hanya bisa tersenyum kaku dan membuka mulut untuk menelannya langsung.
"..!!"
Rasa ini!
"..Ren-sama?" Tanyanya gugup.
"...E."
"E?"
"Enak! Rasanya berbeda dengan yang terlihat," ucapku mengangguk dengan sedikit air mata.
"Syukurlah, Ren-sama suka." Rosaline tampak lega dan tersenyum lembut.
"Rosaline, kau bisa memasak juga ya.." ucapku mengambil lagi dan memakan kue.
"I-Iya, aku bisa. Hehe.." Dia terlihat sedikit panik, tapi aku bisa mengerti. Kalau dia sudah berusaha untuk membuat kue ini.
"Ah! Benar juga, Ren-sama akan tinggal di sini, kan?" ucapnya tersenyum lembut dan menatapku penuh harap.
"Oh, tentang itu. Aku akan pulang setelah ini," balasku menggaruk pipiku.
"Eh!? Jangan!"
"Rosaline??"
Dia langsung memelukku dan tanpa malu berkata, "Tinggal saja di sini, Ren-sama!"
"Uh.. Itu tidak bisa," ucapku tetap menolaknya.
"Kenapa??"
"Kau sudah tahu kan, aku punya keluarga di Desa dan aku agak rindu dengan mereka," ucapku melihat ke jendela lorong dan nampak langit biru yang cerah.
Perlahan, pelukannya mengendur.
"Uh.. uuh.. Ba-Baiklah, kalau Ren-sama berkata begitu." Rosaline melepas diri dariku dan menjaga jarak.
"Rosaline?" Dia terlihat menarik gaunnya dan sedikit gelisah.
Aku mendekatinya dan mencoba berbicara, tapi dia lebih dulu berbicara dan menatapku lembut.
"Ren-sama.. Anda akan kesini lagi, kan?" ucap Rosaline dengan wajah sedikit muram.
"Iya, aku mungkin akan berkunjung lagi. Lain kali.." ucapku lirih.
Walaupun aku berkata begitu, Aku berencana untuk tetap di Desa selama beberapa bulan mungkin satu atau dua tahun. Jadi berkunjung ke kota Magna mungkin akan ada di daftar setelah aku pergi berpetualang.
"Benarkah?" Dia menatapku memastikan.
"Iya," ucapku mengangguk.
"Janji?" ucapnya mendekat.
"..." Aku tersenyum kaku.
'Er..'
"Ren-sama, Janji, kan?" Tanyanya melihatku lebih dekat.
Aku mengangguk, tapi tetap dia memberiku jari kelingking. Ayolah..
"Iya, Janji," ucapku membalasnya dengan janji kelingking. Kuharap akan baik-baik saja..
.........
Lalu, sudah saatnya aku pulang.
Di luar gerbang, ada Duke, Rosaline dan beberapa pelayan dan ksatria. Sayangnya Putri Anastasia sudah lama pergi, setelah urusannya harus selesai lebih cepat. Karena panggilan dari kerajaan.
Antonile dan Desi juga ada di sana, lalu aku melihat seekor kucing sedang berkeliaran di bawah kaki mereka.
Aku terkejut melihatnya, karena mereka berkumpul ketika aku akan pergi.
"Apa baik-baik saja hanya dengan satu kuda? Tidak ingin dikawal, Ren Maulana?" Tanya Duke melihatku.
"Tidak apa, Tuan Duke. Aku bisa menjaga diri," ucapku lembut dan melihat kuda yang disiapkan Duke kepadaku.
"Walaupun kau berkata begitu.." Duke terlihat khawatir, tapi Rosaline di sampingnya tampak teguh dan yakin dengannya.
"Ren-sama pasti baik-baik saja. Dia kuat, Ayah," ucapnya yakin.
"Rosaline mungkin benar, tapi.."
"Tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri," ucapku meyakinkannya.
Aku ingin pulang sesegera mungkin.
"Yah, jika kau memang ingin seperti itu. Baiklah.. Bawa ini untuk di jalan," ucap Duke dengan senang, dia melirik ke pelayan Desi.
Desi datang dan memberiku kantung kecil.
"..?" Aku melihat tas kecil itu.
Awalnya aku bingung, tapi aku sadar saat layar muncul di depanku dan sesuai dengan yang kupikirkan.
[ Magic Bag (Medium Size ) ]
[ Tas yang mampu menampung benda dengan ukuran yang berlipat-lipat dari Tas. Tas mampu menampung sekitar 100 lebih barang sebesar Sapi. ]
Dari penjelasannya, aku yakin aku bisa memasukkan banyak barang ke dalamnya.
"Terimakasih," ucapku melihat mereka semua dengan tulus, Duke mengangguk senang dan Rosaline mendekatiku.
"Ren-sama, di mana Senka?" tanyanya melihat sekeliling.
"..." Sekali lagi, aku tersenyum kaku.
'Ah.. Mereka pasti curiga jika aku tidak membawanya.' ucapku masih tersenyum dan kaku.
Jadi, aku memulai telepati ke Gadis kecilku.
'Senka, keluarlah dari balik bayangan di sana. Cepat!' ucapku padanya dengan tergesa-gesa.
'Myuu... Umyu? Myu? Papa?'
'Senka.' panggilku.
'Myu! Baik, Papa!'
Lalu, Senka keluar dari kegelapan di belakang Duke dengan cepat. Tidak ada yang menyadari kemunculannya, lalu Senka melewati mereka dan pergi kepadaku seakan tidak memiliki masalah.
"Papa!" Teriaknya bergegas kepadaku.
Senka datang membawa sesuatu ditangannya, itu permen kapas yang aku simpan di Storage Shadow. Dia sepertinya memakannya saat di dalam.
"Senka, kau lama sekali.." ucapku padanya.
"Myu! Maaf, Papa.." Wajahnya terlihat sedih, aku langsung menepuk kepalanya dan menenangkannya.
Lalu, wanita muda itu mendekati kami.
"Senka, mau tinggal dengan Mama?" Tanya Rosaline dengan tersenyum lembut, seakan tidak menyadari keadaannya.
Senka terkejut dan langsung menjauhinya. Lalu Ayahnya, sang Duke yang mendengarnya memiliki wajah amat terkejut dan heran.
"Ro-Rosaline, apa yang tadi kau.."
"Ah, Ayah.. Sebenarnya aku-.."
Sebelum perkataannya selesai, aku berteriak sesaat aku naik kuda dengan Senka.
"Duke, Rosaline dan semuanya. Aku pergi dulu!" Teriakku bersamaan kuda yang memekik pergi.
"Ren-sama!" Teriaknya.
Aku langsung bergegas pergi menaiki kuda dan pergi tanpa menengok ke belakang.
Rosaline, Duke dan yang lain menatap kepergianku.
"Rosaline.." ucap Duke pelan, tapi berat.
"Ayah?" Rosaline tampak berkeringat.
Wajah Duke terlihat gelap dan menatap anaknya itu dengan tersenyum yang sangat sangat lembut.
"Jelaskan apa "Mama" yang kau maksud itu?" Tanyanya dengan tersenyum lembut(?)
"Gulp.. Ya sebenarnya.." Rosaline mengatakan sesuatu pada Duke dengan sedikit gugup, yang seketika Duke tampak marah dan wajahnya tersenyum lebar melihat punggungku, dan berkata "Aku akan menunggu kedatangannya lagi," ucapnya dengan tersenyum(?)
Aku sudah melewati gerbang Mansion, tapi perasaan tidak enak apa yang baru kurasakan ini?
"Ayo pergi!" Senka duduk di depanku dan berteriak dengan ceria.
Aku tersenyum dan melaju pergi keluar kota.
Prosesnya cepat dan akhirnya aku keluar dari Kota menuju Hutan Alta. Akhirnya aku akan kembali ke Desa Konora.
.........
...[ Continued ]...