
...BAB 27 - PERJALANAN PANJANG...
...◇◇◇...
Saat aku menghampiri ke kerumunan yang menutupi akses jalan ke rumahku.
Di sana terlihat seseorang yang berjirah besi dan di belakangnya terdapat kereta kuda mewah.
Keramaian orang melihatnya dengan penasaran dan antusias.
Tidak hanya satu ksatria, ada beberapa yang menjaga kereta. Tampak seperti sesuatu yang jarang terlihat.
'Apa ada penjahat atau bandit di sekitar sini??' Pikirku negatif.
Lalu selain Para Ksatria itu, ada Ibu dan Ayah yang berbicara dengan salah satunya.
Tampak seperti Kepala ksatria, suasana pun terlihat serius.
Karena khawatir ada masalah di sana, aku bergegas menerobos ke tempat mereka.
Melalui penduduk yang berdesakkan, aku dengan berani melalui mereka tanpa menahan diri.
Dengan kasar keluar dari kerumunan, aku mendekati keduanya dan memanggil mereka.
"Ayah, Ibu? Ada apa di sini?" ucapku sesampai ke tempat ayah dan ibu.
Mereka berbicara dengan seorang ksatria yang tampak familiar.
Ksatria itu melihatku dan mendekatiku yang kemudian berbicara dengan sopan.
"Apa kau Tuan Ren?" Tanya Ksatria itu saat melihatku dengan teliti.
"Iya..?" ucapku agak bingung.
"Ikut aku," ucap Ksatria itu yang semakin membingungkanku.
"Eh? Ayah apa maksudnya?"
Aku bertanya pada Ayah, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya dan menepuk bahuku.
"Ikut saja," ucap Ayah tampak pasrah.
"..Eh???"
"Ya, sana pergi."
Ibu dengan sedih mengelap matanya dengan sapu tangan.
"Eh??"
Aku terkejut.
Kenapa kalian memperbolehkanku? Dan untuk apa??
"Tuan Ren, silakan masuk," ucap Ksatria itu.
Jadi aku di minta masuk ke kereta kuda (terpaksa) dan setelah masuk ke dalam.
Kereta langsung berangkat pergi.
"..." Aku duduk di bangku kereta yang tampak mewah dan diam membisu.
Karena tidak tahu harus apa, aku melihat keluar jendela dan memandang ke kerumunan.
Para kerumunan berhamburan di luar sana dan semuanya memandangku dengan mata yang berbeda.
Penasaran, kagum, iri dan melotot sinis (itu Amelia)
Aku tertawa kering melihat mereka, terutama gadis itu.
"Um.." ucapku melihat ksatria di depanku itu.
Ksatria itu tersenyum dan memberi busur hormat kepadaku.
Lalu dia membuka helmnya dan berbicara.
"Saya, Joseph Magia. Sudah setahun ya, Tuan Ren," ucapnya memperkenalkan diri dan memberiku kesan pernah bertemu.
Ah! Orang ini ... Kepala Pengawal saat Rosaline di desa dulu.
"Jadi ada perlu apa kau membawaku?" Tanyaku penasaran.
"Ini perintah Duke," ucapnya dengan tegas.
"Duke?!" Kejutku.
Apa yang membuatku dipanggil?! Apa aku berbuat sesuatu yang salah?!
"Tenang saja, Tuan Ren tidak akan dihukum," ucapnya mencoba membuatku tetap tenang.
"Benarkah?" Tanyaku.
"Iya, jadi anda bisa tenang," ucapnya sekali lagi.
"Baiklah, lalu kenapa aku dipanggil?" ucapku dengan bingung.
"Saya tidak tahu lebih jauh, tapi saya hanya diperintahkan untuk membawa anda ke kota. Itu saja," ucap Joseph terus terang.
"Oke.." Aku mengangguk mengerti.
'Apa benar begitu? Jadi apa yang harus kulakukan sekarang??' Namun, dalam batin ku, aku agak panik dan bingung.
Setelah mencapai gerbang desa, Joseph turun dari kereta dan memintaku untuk tetap di dalam kereta.
Dia keluar di pintu sebelah kiri dan sekali lagi memberitahuku untuk tetap di kereta.
"Aku tidak mencoba kabur.." ucapku tersenyum.
"Haha, saya hanya memberitahu saja," ucapnya tersenyum.
Jadi seusai Joseph keluar dari kereta, aku mencoba membuka pintu di sebelah kananku dengan perlahan.
"Terbuka," ucapku membuka pintu.
Jadi aku perlahan membukanya dan perlahan turun dari sana, yang kemudian menutupnya kembali.
"..." Aku terdiam saat melihat Joseph tersenyum di balik pintu.
Dia sudah di sana dan mengendarai seekor kuda hitam.
Dengan canggung, aku masuk kembali dan kembali menutup pintu, aku berpura-pura tidak melihat dan tidak macam-macam.
"..Setidaknya di sini ada makanan," ucapku mengambil roti di atas nampan.
Makanannya hanya beberapa roti, daging, buah-buah dan ikan kering.
Semuanya enak. Kurasa..
Karena aku sangat kelelahan setelah melawan The King Ape of Destruction, seusai makan aku langsung tertidur di dalam kereta.
.........
"Tuan Ren, Tuan Ren.." Joseph memanggil.
"Hm? Hoam.. Ada apa?" Aku terbangun dan mengusap mataku.
"Ini sudah mau malam, kami berencana membangun Base sementara. Apa Tuan mau diam di tendanya duluan?" ucap Joseph mengkonfirmasi.
"Okay.." Aku mengangguk dan turun dari kereta agak berat.
Melihat keluar kereta, banyak para ksatria dan pelayan? Jadi di sini ada pelayan juga?
Mengabaikan itu, aku pun sampai ke tenda yang di maksud Joseph dan memasukinya.
Di dalam sudah di sediakan perlengkapan tidur dan tampak mewah.
Benar-benar untuk bangsawan.
Sepertinya ini layanan yang diberikan Duke kepadaku.
"Haha.." Aku tertawa dan mencoba berbaring di atas tempat tidur kecil itu.
Aku langsung berbaring di atas kain sutra mewah yang di bawahnya rerumputan agak tebal dan bantal yang telah disediakan.
'Huaa.. Nyamannya..'
Rasa lembut dan kenyamanan yang tidak pernah kurasakan, membuatku semakin mengantuk.
"Haa..." ucapku merebahkan diri dan mencoba menutup mata.
'Aku... Zzz..'
Lalu, terdengar langkah kaki di dekatku dan suara langkah yang tampak tidak asing.
"Papa."
Suara ini..
Aku langsung terjaga dan bangun, lalu duduk melihatnya.
"Papa.."
Saat aku melihat di depanku, Senka dengan sedih menatapku.
"Senka? Ada apa?" ucapku khawatir.
'Apa ada yang membulinya??'
"Huwaa!" Senka tiba-tiba menangis.
Dia melompat dan jatuh di atas perutku. Ugh..
"Se-Senka, kau baik-baik Saja? ada yang Sakit? Di mana?!" Aku panik saat melihatnya menangis.
"Tidak.. Ayah lama, Senka khawatir," ucap Senka cemberut.
Aku tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Myu?" Dia berhenti menangis dan menengadah melihatku.
"Maaf membuat Senka khawatir, ayah hanya sedikit diculik saja," ucapku bercanda.
"Diculik?!" Wajahnya terlihat ketakutan dan menatapku dengan menangis. Segitunya?!
Dia sangat panik, uwah imutnya!
"Hahaha, tidak perlu. Mereka tidak akan jahat kepada kita," ucapku menenangkan Senka.
"Be-Benarkah?" Tanyanya dengan wajah ragu.
"Benar, apa Senka tidak percaya pada Papa?" ucapku tersenyum dan melebarkan kedua tanganku, seakan meminta pelukan.
"Percaya!" Senka melompat memelukku dan dengan mengemaskan mengusap wajahnya ke dadaku.
"Anak baik~" Aku mengusap kepalanya dan memanjakannya.
"Hehe~.."
Senka dengan senang menikmatinya.
Atmosfer di sekitar kami menjadi lebih baik.
"Nanti jika ada yang datang, senka masuk ke dalam bayangan Papa, baik?" ucapku memberitahunya dengan lembut.
"Ya!" ucapnya yang melepas pelukannya. Kenapa??
Dia langsung masuk ke dalam bayanganku.
"Senka?" ucapku bingung.
Lalu ada langkah kaki di luar yang mendekat, kemudian suara itu terdengar datang dari luar tenda.
"Permisi, Tuan Ren," ucap Joseph yang berhenti di depan tenda dan berbicara jauh dariku.
"Tuan Ren, ini ada makanan yang dibuat oleh para pelayan. Silakan dimakan," ucapnya membuka sedikit kain tenda dan masuk.
Joseph meletakkan satu nampan makanan ke dalam tenda dan setelahnya dia meminta ijin pergi.
Aku mengangguk mengizinkannya, yang kemudian Joseph mulai pergi keluar tenda.
Jadi seusai dia pergi, aku mengambil nampan yang terdapat sup daging, kentang tumbuk dengan saus cabai dan beberapa roti yang lembut.
"Senka. Kau lapar, kan?" ucapku melihat ke bayanganku.
"Ya, Myu!" ucapnya yang keluar dari bayangan dan memandang makanan di atas nampan dengan antusias.
Grooowl~
Suara perutnya sampai berbunyi, Tampaknya Senka sudah lapar.
"Hahaha, ayo makan," ucapku menawarkan makanannya.
"Yatta!"
Senka bergegas mendekatiku dan langsung duduk di atas pakuanku.
Lalu, kami pun makan bersama.
Aku menyuapinya setiap dia minta.
Karena ini dan itu, Aku dan Senka makan bersama dengan gembira.
Dia sangat imut saat makan, apalagi bagaimana dia rakus memakannya, uwaah! malaikat kecilku!
.........
Di pegunungan yang terjal.
Ada sekelompok bandit yang berencana memblokir jalan.
"Boss, akhirnya kita bertugas lagi!" ucap seorang pria agak compang camping.
"Ya, sejak sakit dan depresi kita hilang. Kita bisa bekerja lagi!" Sang Boss tersenyum senang, setelah penderitaan yang terus berlanjut berakhir. Dia bertekad untuk menjegal orang lagi.
"Benar, Boss!" ucap Bandit A.
"Rencana Penjegalan Boss pasti berhasil!" ucap Bandit B.
"Hehe, untuk membereskan masalah yang kita perbuat dulu. Ayo jegal pedagang atau bangsawan lagi!" ucap Boss bersemangat.
""Ya! Ayo Jegal lagi!!" ucap Para bandit.
Kemudian mereka bergerak menuruni pegunungan menuju jalan kereta kuda di hutan.
.........
Di dalam Tenda.
"Papa!"
"Haha."
Aku bersenang-senang dengan gadis kecil ku.
Dia seperti malaikat! Sekarang saja dia membuat bayangan bergerak seperti Monster. Yah, itu menyeramkan, tapi melihatnya bahagia aku ikut bahagia.
Sesekali, aku berkeliling kamp sebentar dengan Senka menyelam di bayanganku.
Itu menyenangkan untuk melihat para ksatria berjaga dan para pelayan yang tampak memasakkan makan untuk para ksatria dan aku, serta Senka.
Jadi selama ada waktu, aku berkeliling sebelum kembali ke kereta.
Lalu sudah waktunya berangkat, jadi aku memasuki kereta kuda dan mulai melanjutkan perjalanan lagi.
Ternyata perjalanan ke Kota yang kami tuju membutuhkan waktu seminggu lebih.
'Itu Lama sekali..'
"Joseph, Apa nama Kota yang akan kita tuju?" Tanyaku ke Joseph yang mengawal di luar.
"Ya, Kita akan ke Kota Magna. Kota pesisir laut dan tempat perdagangan besar di Kerajaan Yu Deila," ucap Joseph menjawab pertanyaanku.
Jadi tempat itu, ya..
Aku mengangguk mendengarnya dan duduk termenung mengingat geografis duniaku.
Dunia ini bernama Morfus.
Memiliki sekitar 3 Benua besar dan yang ku tahu adalah Benua Barat, Benua Utara dan Benua Timur.
Benua Barat bernama Aelan, Benua Utara bernama Deysa, dan Benua Timur bernama Baraq.
Ketiga benua memiliki banyak kerajaan-kerajaan yang berdiri.
Diantara ketiga benua, hanya Benua Aelan yang memiliki 4 Kerajaan besar.
Kerajaan Tifran, Kerajaan Jasdal, Kerajaan Numerus dan Kerajaan Terak.
Secara rinci:
1. Kerajaan Tifran, Kerajaan yang paling maju dalam bidang farmasi dan pengetahuan. Berletak di tengah benua dan memiliki luas wilayah yang lumayan besar dan makmur.
2. Kerajaan Jasdal, merupakan Kerajaan dengan militer terbesar dan terkuat diantara keempat Kerajaan. Namun, wilayah Kerajaan Jasdal terbilang buruk dan tidak teratur. Karena memegang prinsip kokoh yaitu hanya yang kuat lah yang berkuasa dan yang lemah ditindas. Ideologi yang kejam dan tak beradab adalah bagaimana Kerajaan Jasdal terbentuk.
3. Kerajaan Numerus, Kerajaan dengan perkembangan sihir yang maju dan tempat banyaknya penyihir-penyihir berbakat lahir. Merupakan Kerajaan yang dipimpin oleh Ahli sihir terkemuka di setiap generasinya dan hebat dalam berbagai sihir.
4. Kerajaan Terak, Kerajaan yang berpaham Religius dan menganut agama dunia, Wisdom Church dalam mendewakan Creator God, Reuya. Memiliki luas wilayah yang terbilang kecil dari ketiga Kerajaan lain. Kerajaan ini adalah tempat di mana para Pahlawan dunia lain/dunia ini, Pendeta Suci (Holy Maidens), dan para pendeta diajarkan mengenai Religius agama dan meningkatkan kekuatan suci mereka.
Secara garis besar seperti itu yang aku tahu, walaupun akan lebih jelas jika membaca di buku sejarah di perpustakaan.
Lalu Kerajaan yang aku tempati sekarang adalah Kerajaan Kecil di paling Barat Benua Aelan, Kerajaan Yu Deila.
Salah satu Kerajaan yang memiliki teknik sihir untuk memanggil para Pahlawan dunia lain untuk melawan Raja iblis.
7 tahun dari sekarang, pemanggilan Pahlawan akan terjadi. Aku sudah tahu, karena pernah melihatnya.
Seorang Pahlawan dunia lain, saat itu.
"Papa!"
"Hm? Ada apa Senka?"
"Di sana!"
Di sana? Aku tidak mengerti, tapi sepertinya ada sesuatu di depan kami.
*Berhenti mendadak
"Umyu?!"
"Uwah?!" Tiba-tiba kereta kuda berhenti mendadak.
"Ada apa, Joseph??" ucapku langsung membuka jendela kereta.
Aku melihat keluar jendela, Joseph tampak serius dan berbicara dengan tegas.
"Ada bandit! Siaga!"
Bandit?!
"..."
Tapi aku bisa menghabisi sesuatu seperti bandit.
Jadi aku turun dari kereta dan memeriksa keluar kereta.
Sekelompok Bandit terlihat menghadang di depan kami, sepertinya mereka ingin merampok kami.
"Haha, Menyerahlah dan berikan harta kalian!" ucap Pria gendut yang sepertinya Boss mereka.
Sepertinya aku kenal dia? Siapa ya?
Lalu Para ksatria mulai bergerak saat itu juga.
Mereka semua mengeluarkan pedang mereka dan menghadapi Para Bandit.
Aku dan Senka menjadi penonton saat Itu juga.
"Yah, mungkin akan aku sedikit bantu mereka," ucapku melihat mereka.
"Domain Of Terror."
.........
...[ Continued ]...