
...BAB 9 - PUTRI DUKE...
...◇◇◇...
Hadiah Juara ketiga adalah Sekeranjang buah-buahan dari kebun Paman Thomas Alva.
Hadiah Juara kedua adalah Masakan terbaik (terburuk) dari Bibi Ryuela (dia dikenal akan makanan yang cantik dengan rasa menyekik).
Lalu terakhir, Hadiah Juara Satu dan yang Pertama..
Jabat tangan dengan Putri bangsawan Duke Arcane. Atau bisa disebut juara 1 akan mengajak Putri Duke berkeliling alias Kencan dengannya seharian. Ayah memang brengsek karena tidak memberitahu Ibu. Tapi menyebalkannya aku yang juara pertama dengan poin yang kelewatan.
"Selamat untukmu, Ren-sama," Ucap Putri Duke menjabat tanganku dengan ceria.
> Author : Terkadang karakter tertentu akan memakai kata sapaan -sama, -kun, -san dan ada yang Tuan, Kak, dan sebagainya. Yang sekarang digunakan aksen jepang dan sering dijumpai di kebangsawanan (dalam cerita ini)
Senyuman hangat datang dari Putri Duke Arcane, Rosaline Fin Arcane.
Dia menjabat tanganku dengan wajah yang gembira.
Gadis yang 4 tahun lebih tua dariku.
(Saat ini aku berusia 12 tahun dan menjelang 13 tahun.)
Dia setinggiku, aku menelan ludah melihat tangannya yang menjabatku. Artinya aku akan berkencan dengannya dan mengajaknya berkeliling desa besok.
Guh.. Tidak mungkin, kan?
"Iya, terimakasih. Yang mulia Putri Duke." Ucapku mencoba tenang.
Dia tersenyum manis saat aku membalas senyumannya.
.........
Setelah acara berakhir, satu desa terlihat menantang. Semuanya menunggu aku berbicara.
"..." Um..
Serius deh. Kenapa kalian memojokkanku? Aku tidak bersalah di sini?!
Aku berkeringat dingin di atas panggung, sekarang penonton menatapku dengan tatapan yang mengangguku.
"Lia.." Ucapku melihat ke Lia yang menyilangkan tangannya. Wajahnya kesal.
"Hmph." Dia pergi setelah itu. Oh no..
Dia mengabaikanku. Aku melirik Ayah, ah dia ditatap ibu. Seharusnya ayah saja yang juara 1, mata ku berbicara seperti itu saat menatap Ayah. Ayah cemberut seakan menyesal.
Ini buruk.
"Ah, aku ada janji dengan Yang mulia. Jadi.. selamat tinggal!!" Ucapku langsung turun panggung dan lewat jalur belakang.
Aku lari dari para penduduk desa, terutama laki-laki yang tidak senang. Tunggu, ayah kenapa kau lari?! Ibu jadi mengejar juga..
Sial...
.........
Aku duduk di tepi tempat tidurku dan melamun.
Hari ini agak melelahkan, untuk mental dan ragaku..
"Capeknya ... Haa.." Ucapku menghela nafas berat.
Terutama aku yang ditatap menjengkelkan oleh para laki-laki yang seusia dan lebih tua dariku. Lalu beberapa gadis yang kukenal terutama Lia melihat ku seakan sampah. Ayolah apa yang membuat aku harus menerima ini?! Ini tidak seperti aku akan jadi bangsawan?!
Sudahlah. Mending Turu..
Zzzzz..
.........
Esoknya..
...
..
.
.
"Menikahlah denganku!" Ucap Rosaline dengan memerah.
"Eh??" Aku kaget.
.........
Kembali ke 4 Jam sebelumnya.
Aku datang ke tempat yang ditentukan lebih awal sebelum waktu yang dijanjikan.
Lalu, setibanya aku di alun-alun desa.
Aku melihat Putri ada di sana dengan 2 pengawalnya di dekat air mancur.
"Ren-sama!" Ucapnya riang saat melihatku datang.
Tap Tap Tap
Dia datang dengan cara jalan yang imut saat suara kakinya terdengar. Ahem.. maksudku dia terlihat dewasa.
"Yang mulia," Ucapku memberi busur hormat padanya.
Aku menghadap Putri Duke dengan hormat, tapi wajahnya cemberut.
"Mohh, panggil aku Rosaline saja, Ren-sama." Ucapnya cemberut.
"Ta-Tapi, aku tidak.." Ucapku agak gugup, aku menatap ke kedua pengawalnya yang agak seram itu.
Kau tahu tatapan pengawal-pengawalmu mengerikan?! Kalo aku tidak lakukan, aku akan dalam bahaya?!
Tapi dia menatapku cemberut. Um.. Apa harus?
"Baik, Rosa..line.." Ucapku mencoba berbicara sambil tidak melihat tatapan pengawalnya.
"Iya, Ren-sama," Ucapnya dengan sangat senang.
Dia tersenyum hangat.
Ugh.. imutnya..
"Ayo antar aku berkeliling, Ren-sama," Ucapnya dengan senang.
[ Quest Langka #1 "Ajak berkeliling Putri Duke di sekitar Desa♡" diberikan. ]
[ Terima? ]
Ugh.. baiklah.. Bentar?? Kenapa ada tanda love(♡)?!
Rosaline menarik tanganku mengajak, aku mau tidak mau mengangguk dan diseretnya pergi.
[ Quest diterima! Tidak ada batas waktu! Silakan dinikmati! ]
Sepertinya aku telah menerima Questnya..
Lalu apa-apaan dengan suara anorganik itu?! Menjengkelkan!?
Jadi aku memulai memandu Putri Duke. Sebenarnya 2 pengawal itu agak mengangguku..
Karena nama di atas mereka..
[ Mata-Mata dari Kerajaan Teuron. ]
Apa benar ini tidak apa-apa? Mereka mata-mata?!
"Apa itu, Ren-sama?" Rosaline menunjuk kios di sebelah kanannya itu.
"Itu adalah toko roti. Apa Yang Mulia ingin kesana?" Ucapku menawarinya ke toko roti tersebut.
Dia menggembungkan pipinya, karena tidak senang. I-Imutnya..
"Uh, iya.. Rosaline-sama.." Ucapku mencoba memalingkan wajahku.
"Tanpa, -sama!" Ucapnya serius.
Aku mengangguk dan mencoba memanggilnya seperti itu.
"Rosaline.." Ucapku agak malu-malu.
"Ya!" ucapnya tersenyum.
Jadi aku membawanya ke Toko roti Pak Saiyam.
"Ini dia! Roti melon terbaik kami!" Ucap Pak Saiyam.
"Wah!!" Rosaline terlihat sangat senang saat melihat roti melon itu. Dia menatapku seakan bertanya 'ini bisa dimakan?' Apa ini pertama kalinya dia memakan makanan seperti ini??
Rosaline tampak senang dan mengambilnya, aku juga diberikan oleh Pak Saiyam juga.
Keluar dari toko roti, Rosaline melihat roti melon itu sebentar dan mencobanya.
"Enak!!" Ucapnya dengan senang, mata birunya terlihat berbinar-binar bahagia.
"Tentunya, ini adalah roti terbaik di sini!" Ucapku dengan bangga.
Rosaline terlihat sangat senang dan memakannya dengan gembira sampai habis. Dia juga meminta rotiku, tentunya aku kasih.
"..." Walaupun situasi ceria yang dibuat Rosaline, aku masih terganggu.
Karena lama-kelamaan aku merasa sesak dengan 2 pengawal yang menyebalkan ini. Kenapa juga mereka melakukan itu.. huhh.. Hentikan tatapan menekan itu?!?!?
Sungguh ironis, aku merasa perlu melakukan sesuatu tentang keduanya nanti.
.........
Kami sudah berkeliling ke banyak tempat yang cukup lama, entah kenapa desa terasa seperti kota lama-lama. Apakah aku terlalu berpikiran berbunga-bunga karena merasa desa lebih luas??
Terserah, yang penting Rosaline senang.
"Jadi bagaimana, Rosaline? Apa kau senang?" Ucapku memakan sate kelinci sambil berjalan berdampingan.
"Iya! Ini menyenangkan sekali! Terima kasih, Ren-sama!!" Ucapnya sangat riang dan menikmati memakan sate dengan bahagia.
"Syukurlah, kalau kau berkata begitu.." Ucapku tersenyum.
Tapi kenapa kita lama-lama menjauh dari desa? Rasanya kita akan sampai di gerbang lain.
Jarak kami ke gerbang Barat tidak lama lagi dan sebuah kereta kuda lain yang tampak mencurigakan terlihat dekat luar gerbang.
'Mungkin secara tidak sadar, kami dibawa oleh keduanya.' Pikirku.
'Ahh.. sudah waktunya ya..'
Kupikir akan lebih lama, tapi waktu sudah lebih 4 jam terlewati. Jadi aku akan bertindak sekarang.
"Rosaline.."Ucapku menatapnya serius.
"I-Iya, Ren-sama?" Ucap Rosaline gugup, dia menelan sate terakhirnya.
Aku mendekatinya sampai bisa memeluknya kapan saja.
"Re,Ren-sama??"
"Maaf, untuk ini.." Ucapku langsung menggendongnya tanpa menunda lama.
"Hyah!?" Rosaline berteriak terkejut dan menatapku heran dengan wajahnya memerah tomat saat tengah ku gendong.
Aku merangkul dan mendekap Rosaline ke pelukanku secara tiba-tiba dan menggendongnya ala Tuan putri. Lalu dengan cepat membawanya pergi menjauh dari ke 2 pengawal mencurigakan itu.
"Apa?!" Ucap Pengawal A terkejut.
"Berhenti!!" Teriak Pengawal B.
Keduanya terkejut dan mencoba mengejarku. Tapi karena aku lincah, aku melewati lorong-lorong dan gang yang sulit dilewati.
Untungnya aku hafal jalan setelah berjam-jam keliling. Jadi aku sudah siap melakukan ini.
Lalu Aku melompat dari atas rumah dengan lihai dan berlari menjauh dan membuat jarak dengan keduanya. Mereka hampir tidak kelihatan saat aku menyadarinya.
Sebelumnya, aku sudah memastikan dan sepertinya mereka berdua membuat rencana jahat untuk Rosaline. Tentunya aku menemukan beberapa orang yang tersembunyi dari penglihatanku, tentunya ada layar persegi bernama dan memiliki tulisan "Sekutu pria itu dan satunya" Jadi menonjol sekali..
"Ren-sama?" Suara Rosaline sangat pelan, sampai tidak terdengar olehku.
Wajah Rosaline memerah dan dia kebingungan di pelukanku.
"Ah, maaf. Mereka berdua mencurigakan jadi aku membawamu pergi." Ucapku menurunkannya, Rosaline langsung turun dariku.
"Ah.. Uh, Ah.. " Rosaline tampak masih bingung, walau dia sudah turun. Wajahnya sangat merah dan terlihat pusing.
Dia sepertinya sangat kebingungan dan berjalan mundur.
Lalu, tak sengaja dia menginjak lubang jalan dan terkejut.
"Eh?" Dia tersentak dan akan jatuh ke belakang.
"Rosaline??" Aku kaget saat dia akan jatuh dan menangkapnya.
Seketika wajahnya langsung memerah Tomat dan menatapku tersipu malu.
Blush~ Wajahnya tampak seperti tomat, yang membuatku khawatir dengannya.
"Maafkan aku, apa kau tidak apa-apa?" Ucapku melepasnya.
Dia mengangguk dan terlihat diam dengan wajah memerah.
"Rosaline?" Ucapku melihatnya yang terlihat diam.
"...Uh? Iya?" Dia terlihat sadar dan menatapku.
"Kau tidak apa-apa? Kita sudah jauh juga.." Ucapku khawatir jika dia ada sakit di suatu tempat.
"Uh? Aku.." Wajahnya semakin memerah.
"Apa benar ada yang sakit??" Ucapku khawatir, dia anak Duke jadi aku akan bermasalah kalau aku melukainya.
Kami sudah berhenti di tempat yang kurasa aman. Tapi Rosaline tetap bingung dan hanya menatapku.
Dia berdiri dan mendekatiku yang membuatku spontan mundur.
"Ren-sama.." Ucapnya dengan suara agak pelan.
"Iya?" Ucapku mendengarkan.
Lalu ada jeda sebelum Rosaline berbicara.
"..."
"..?"
Dia menarik nafas dan menatapku dengan tekad.
"Rosaline?" Aku ingin tahu apa yang ingin dia katakan.
Lalu..
"Menikahlah denganku!" Ucapnya dengan wajah memerah layaknya Tomat.
"Hah??" Apa yang dia bilang??
Kita kembali ke awal.
Ini buruk.
.........
...[ Continued ]...