
...BAB 18.5 - A DAYS WITH PAPA!...
...◇◇◇...
...《POV SENKA》...
Hari pertama ku tinggal dengan Papa!
Saat ini, Papa sedang keluar menggembala, aku sebagai anaknya harus melakukan sesuatu!
Ya, benar! Membantunya!
Jadi pertama, aku akan mencari tahu dulu.
Apa yang Papa sukai!
Tap Tap Tap
Aku menuju dapur.
"Oh, Senka? Apa ada sesuatu yang kau mau di sini?" ucapnya lembut.
Target pertama Nenek.
"Nenek! Apa yang papa sukai?" Aku dengan semangat bertanya.
"Oh, mungkin Roti atau.. Senka?" ucap Nenek menyipit dan tersenyum menatapku.
"Myu! aku!"
Benar, Papa suka Senka!
Jadi Senka hanya harus bertemu Papa! pasti Papa senang!
Aku mengangguk dengan optimis.
Yosh!
.........
Di dalam hutan yang rimbun.
"Papa!"
"Oh, Senka.."
Aku keluar dari bayangannya.
Kemampuanku bisa membuatku pergi ke manapun asalkan dari bayangan, karenanya aku bisa sampai ke tempat Papa dengan cepat.
"Myu?"
Aku melihat Papa fokus akan sesuatu dan dia tampak mau mencoba sesuatu.
"Sedang apa, Papa?" ucapku melirik ke sesuatu yang Papa lihat.
"Papa mau mencoba sihir Teror," ucapnya menyeringai lebar.
Tatapannya mengarah ke kerumunan Serigala.
"Myu! aku ingin lihat!"
"Tentu."
Papa akan mempraktekkan sihirnya! aku tidak sabar.
Jadi Papa mendekati sekelompok Serigala abu dan merapal sihir ke arah mereka.
Kami saat ini ada di atas dahan pohon yang besar. Jadi, kawanan Serigala tidak akan menyadari keberadaan Papa dan aku.
"The Creepy," ucap Papa menargetkan salah satu Serigala.
Tiba-tiba asap hitam keluar dari bawah Serigala.
"Au?"
Serigala yang di targetkan terlihat bingung dengan sebuah asap muncul di bawahnya.
"Myuu.." Aku melihatnya dengan cermat, Ayah di sampingku hanya berkata "tunggu saja."
Tampak memakan waktu dan ketika asap menghilang, para Serigala yang berada di dekat Serigala itu terkejut dan berlari ketakutan.
"Auu??" Tampak Serigala itu bingung dan mengejar mereka.
Papa terkikik dan menatapku.
"Bagaimana Senka, apa itu lucu?"
"Iya!" ucapku semangat.
Tapi, di mana lucunya?
.........
Kami kembali ke padang rumput, terlihat ada seorang perempuan duduk di batu besar yang tak jauh dari tempat Papa biasa mengawasi ternak.
"Oh, Lia."
"..."
Aku sudah di dalam bayangan dan memantau semuanya. Benar, sebagai anak Papa. Aku harus melindunginya dari bayang-bayang.
Tidak ada yang bisa menjauhkan Papa dariku.
"Um.. Senka, benar? Di mana dia?" ucap Perempuan merah itu.
"Oh, dia ya.."
Papa melirik ke bayangannya.
'Myu?'
Mungkinkah..
"Senka."
'Myuuu.. Baiklah.'
Aku melompat keluar dari balik bayangan perempuan merah itu.
"Papa."
"Eh??"
Tampak perempuan itu terkejut menatapku.
Aku balas menatapnya dengan tajam.
"...?"
"Haa.. Senka, sini." Papa melambai ke arahku.
"Baik~.."
Aku langsung ke tempat Papa dan naik ke pangkuannya.
"Myuu~.."
Papa mengelus kepalaku.
Uaaah~ Nyamannya~
Aku melirik ke Perempuan merah itu.
"..?"
"Heh." Senyum kecil terbentuk di wajahku.
Tampak wajahnya memerah dan kesal.
Ini lebih baik.
"Ahem, ya... Apa aku boleh memeluknya?" ucapnya menatapku.
Siapa??
Sebentar Papa??
Aku di angkat ke Perempuan itu.
"Myuu??"
Papa?!
Papa tersenyum lembut dan mengangguk.
'Manja saja dengannya.' ucapnya telepati.
Papa???
Aku tidak mengerti dengan yang Papa katakan..
"Jadi, namamu Senka, kan?" ucapnya menepuk kepalaku. Oi!
"Myu, Iya!"
Lebih baik aku menuruti Papa.
.........
"Senka, bilang ah.."
"Ah.. Munch.. Munch."
Enak! Yah, ini cukup bagus.
Perempuan ini ternyata bisa masak, tapi masakan Nenek dan Papa tetap enak!
"Apa enak?" ucapnya tersenyum.
"Iya!"
Memang enak, hanya enak saja. Tidak lebih.
"..." Dia tersenyum dan menatapku.
"..?"
Ada apa dengannya? Dia menatapku intens.
Jadi aku melirik ke Papa.
"..??"
"..." Papa juga menatapku tajam, dia juga tersenyum.
Eh? Apa??
Aku sebagai yang di tengah bingung dengan keduanya.
"Senka, sini," ucapnya masih tersenyum.
Papa?
"Tidak, Senka kau mau makan kue lagi, kan?"
Eh?
ehh??
"Senka.." Papa merentangkan tangannya ke arahku.
"Bilang Ah.." Perempuan itu menyendok kue lagi.
"..."
Apa yang terjadi?
"Myuu.."
"Eh? Senka?"
Jadi aku melompat turun dari pangkuan Perempuan merah itu dan menuju Papa.
"Papa!"
"Ya! Malaikat kecilku!"
Aku bergegas ke Papa dan dia langsung memelukku.
"Myuu~.."
Aku tetap akan bersama Papa, walaupun apapun yang terjadi.
"Hehe~.."
Lalu..
"..Ren." Perempuan itu berdiri di depan kami.
"Tidak, dia anakku!"
Papa langsung memelukku erat. Ugh..
"Bukan itu, umm.. Aku akan membuatnya lagi," ucapnya memerah.
"Buat?"
"Itu.. maksudku.." Wajahnya memerah sampai terlihat seperti tomat.
"..?"
Apa yang Perempuan merah itu maksud??
Wajahnya semakin memerah.
"A-Aku.."
"Lia?"
"..." Dia terdiam dengan gemetar.
"Hufft.. Haa.."
Sekarang apa?
"Uuh!" Perempuan itu langsung lari.
"..?"
"Myu??"
Apa yang sebenarnya dia coba katakan?
"Besok! Aku buatkan lagi!" Teriaknya setelah jauh dan pergi menghilang.
"Myuu?"
"Oh, begitu." Papa mengangguk mengerti.
"Papa?" Apa yang dia pahami??
Papa hanya tersenyum dan mengusap kepalaku.
"Myu? Papa?" Aku memandangnya bingung.
"Bilang Ah.." Kata Papa menyendok kue.
Melihat sendok dengan kue di depanku, aku tersenyum dan melahapnya.
"Myu! Ah! Mm!"
Enak!
Kemudian, Aku dan Papa melanjutkan piknik kami (Menggembala)
.........
...[ Fin ]...