
...BAB 21 - DESA...
...◇◇◇...
Di depan sebuah bangunan dengan papan tertulis "The Rabbit Killer Inn."
Kami sampai di mana tempat tujuan Lia.
Rumah Lia dan satu-satunya penginapan di desa Konora.
Tapi, ada suatu kejanggalan di depan rumahnya. Tepatnya di depan kami.
Tampak ada seorang gadis berambut perak tergeletak di sana.
"..."
"Lihat, ada orang asing tergeletak di sini!"
Bukankah ini gadis yang tadi?
Jika kuingat namanya.. Van, kan?
"..Kenapa kau memanggilku?"
"Orangtuaku sedang keluar sejak pagi, mereka membeli bahan makanan di luar," Ucapnya mendekati Gadis vampir itu.
"Oke.."
Jadi dengan bantuanku, aku membawa gadis itu ke kamar Lia. Walaupun, Lia tampak memintaku menerbangkannya dan tentunya aku menolaknya yang pada akhirnya aku membawanya dengan menggendong gadis itu.
"Bukankah kau tidak harus memintaku? Ayahku, kan bisa?" Ucapku menatap Lia yang cemberut.
"Dia tidak ada saat aku ke rumahmu," Ucapnya masih cemberut.
"..Jadi begitu."
Mungkin Ayah sedang pergi keluar dengan alasan kalau dia mau kerja, padahal orang itu hanya malas-malasan di luar sana.
Mungkin pagi ini, dia sedang minum bir di suatu tempat.
Lia berjalan mendekatiku yang melamun dan mencubit bahuku.
"Ren, kau kenal dia?" Ucapnya sinis.
"Tidak juga."
"Kau kenal, kan?"
Ada apa dengan mata yang menusuk itu?
Keringat dingin menetes di dahiku.
"Umm.."
"Hmm.."
"Iya, semalam aku bertemu dengannya.." Ucapku dengan pahit.
"Hee.. begitu."
Wajahnya tampak jengkel saat mengatakannya.
"Kurasa dia memanggil dirinya 'Van," Ucapku melirik gadis vampir yang terbaring di atas tempat tidur Lia.
"Namanya Van? Kenapa dia bisa di sana?"
Lia menusuk pipi Van dengan jarinya.
"Tidak tahu, mungkin tidur?"
"Aneh kalau dia tidak bangun setelah kita coba membangunkannya.." Ucapnya mencubit kedua pipi Van.
"Iya..."
'Sebenarnya ada apa dengan, Lia?' Pikirku melihatnya mencubit Van hingga memerah kedua pipinya
"Oi, kau tidak apa-apa?" Ucapnya masih mencubit pipi gadis vampir itu.
"Emangnya dia bisa menjawab?" Keluhku.
Lalu, gadis itu mulai gemetar.
"Uuh.."
"Oh! Dia bangun!!"
Gadis vampir itu langsung duduk dan tampak terkejut.
"Hei, kenapa kau bisa ada di depan rumahku?"
Amelia menatapnya bertanya-tanya dan Van melihat ke kami, dia menyentuh kepalanya tampak bingung.
"Uu.. aku.. "
"Kamu Kenapa?"
Grooowll~
Suara gemuruh yang memberi keheningan terjadi tepat di depan kami.
"Aku lapar..."
""...""
Lia menatapnya heran, tentunya aku juga.
"Jadi kamu kelaparan ya.." Ucap Lia tampak malas.
"..."
Aku ingin pulang.
"Lapar.." Ucapnya sekali lagi, wajahnya tampak lesuh dan menatap kami.
'Haa.. Jadi apa sebenarnya yang dia lakukan saat itu..?' Pikirku mengingat ketika pertama kali bertemunya.
"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan makanan," Ucap Lia beranjak keluar kamar.
Lia pergi setelah mengatakannya dan memintaku menunggu dengan gadis Vampir itu.
"..!"
"Hm?"
Gadis itu langsung bangun dari tempat tidur dan melihat sekitar dengan wajah kagum, lalu menatapku.
"Ah! Kau, Anak kecil itu!" Ucapnya menunjukku.
"..!? Siapa yang kau panggil anak kecil??"
Dia mendengus dan berjalan mengitariku.
'Sedang apa dia??'
Aku memandangnya heran, tapi gadis itu masih berputar-putar melihat sekeliling kamar.
"Dimana aku?" Ucapnya menatap ruangan.
Aku menghela nafas dan mendorongnya kembali ke tempat tidur.
"Di rumah Lia, gadis yang menolongmu. Jadi kembali ke tempat tidur."
"Begitukah. Uh.. aku lapar," Ucapnya menyentuh perutnya.
Aku menghela nafas lagi dan ingin sekali pergi dari sini.
Ada Vampir di depanku..
"Tunggu saja sebentar, Lia akan kembali membawakan makana-.. aw! Sakit!"
*Gigit
"...Slurp."
Gadis perak itu tiba-tiba menarik tanganku dan mengigit tanganku.
Guh, darahku diserapnya?!
"Hei, hentikan!"
Aku mendorongnya pergi dan menjaga jarak darinya.
"Ow, kenapa?" Ucapnya bingung.
"Kenapa?? Apa yang kau coba lakukan sebenarnya?? Apa kau Vampir Hah??" Kataku dengan keras.
"Eh, Ah.. ya, aku Vampir."
"..." Jujur sekali..
"Umu, kamu enak!" Ucapnya menjilat bibirnya.
"Geh, hentikan tatapan menjijikanmu. Itu sakit saat kau melakukannya.." Ucapku menjauhinya.
Senyuman lebar terbentuk di wajah Van dan dia menarik-narik lengan bajuku.
"Ayolah, bagi pada ku lagi.." Ucapnya berbinar-binar menatapku.
"Lu kira aku apaan?!"
Aku mendorongnya menjauh, tapi Van tetap gigih dan menarik-narik lengan bajuku.
"Ayolah~.."
"Tidak."
Creeak~
Pintu terbuka dan Lia berjalan masuk membawakan nampan dengan beberapa makanan di atasnya.
"Makanan datang.." Ucapnya membuka pintu.
"Ah! MAKANAN!!"
Van melompat dari tempat tidur dan menuju Lia dengan semangat.
"Ini dia makanannya, sup hangat dengan daging dan teh herbal."
Lia meletakkannya di meja kamarnya.
"Waw!"
Van langsung duduk di kursi dan dengan cepat menyantapnya. Sepertinya Vampir juga bisa makan makanan manusia.
"Terimakasih makanannya."
Dia menyelesaikan makannya belum semenit, itu menjelaskan betapa laparnya dia.
"Baguslah, Namaku Amelia Urona. Panggil aku Amelia," Ucap Lia dengan wajah bangga.
"Makasih Amelia!"
Van dengan semangat menjabat tangan Lia dan mengoyangnya dengan cepat.
"Tidak apa-apa," Ucap Lia masih di goyang tangannya, tampak tidak nyaman.
"Ah, aku Van. Kau bisa panggil aku Van!" Ucapnya masih mengoyangkan tangannya.
"..Iya."
Wajahnya seperti sudah tahu.
'Yah, bukannya itu sudah jelas? Aku sudah memberitahu Lia sejak awal.'
"Lalu dia?"
Van menunjukku, aku sedikit bingung karenanya.
"Aku? Ah, Namaku Ren Maulana. Bukannya aku sudah memberitahumu?" Ucapku agak heran.
"Hmm.."
Dia memiringkan kepala dan tampak sedang berpikir.
"Kenapa?"
"Tidak, namamu sedikit aneh.."
Aneh??
"Terserah kau sajalah.." Kataku malas.
"Hehe.."
'Apa ada yang lucu?'
Dia itu, gadis yang aneh..
Bagaimana tidak, Van langsung menghisap darahku begitu bertemu. Padahal jika Vampir biasanya tidak semudah itu melakukannya, apalagi di waktu siang bolong seperti ini.
Lalu yang paling mengherankan adalah dia dengan enteng mengatakan kalau dia Vampir.
Sudah jelas, kalau dia spesies yang spesial.
Bagaimana dia tidak terbakar oleh sinar matahari dari jendela kamar.
"..."
Kurasa aku harus berjaga-jaga dengannya.
'Papa..'
Ah, Senka? Kau sudah bangun?
'Nn..'
Ada apa?
'Dia?'
Gadis itu seorang Vampir. Jadi Senka tetap berhati-hati saja sekarang.
'Baik!'
Anak baik..
'Hehe~.'
Lalu, aku juga harus tetap waspada dengannya mulai dari sekarang.
Walaupun aku lengah tadi, tapi tetap aku perlu berhati-hati lagi.
"Van, apa kau bisa memberitahu kami. Kenapa kau bisa ada disini?" Ucapku menghampirinya.
"Tentu, aku akan memberitahumu semuanya!"
Lalu dia menjelaskan apa yang dia tahu, mungkin semuanya?
'Waspada dengannya, ya..'
Tadinya aku berpikir begitu, tapi gadis ini bersikap penurut dari yang kuduga.
"Jadi begitu.. kamu tersesat."
"Yap. Aku tidak tahu ada di mana, saat aku iseng lewat hutan dan Bam, aku di sini!"
Bam yang dimaksud apa sih??
Sekarang aku memahaminya..
Gadis ini, dia idiot.
Secara normal, pastinya jika dia Vampir atau sejenisnya. Mereka akan lebih tertutup dan tidak mudah tersulut. Contohnya..
"Van."
"Iya?"
"Kamu Vampir, bukan?"
"Iya."
Lihat, dia menjawab dengan wajah polos yang terlihat bodoh. Lia sendiri bingung di sebelahnya.
"Vampir?"
Dia terlihat tidak percaya. Tentunya, Vampir dikenal takut cahaya matahari dan hanya ada saat malam. Jadi dia tidak percaya jika gadis dengan tampang kekanak-kanakan ini adalah Vampir.
Lihat, sekarang saja dia makan dengan rakus.
"Makan pelan-pelan saja, Van," Ucap Lia yang memberinya beberapa kue kering.
"Iya, tentu."
Walaupun dia bilang begitu, Van tetap makan dengan ceroboh. Aku dan Lia hanya memandang satu sama lain dengan agak heran.
Sebenarnya Van ini gadis seperti apa? Aku bingung untuk membandingkannya yang di masa depan dengan yang sekarang, apa memang dia sebodoh ini? Atau..
Dia hanya berakting. Ini kemungkinannya.
.........
"Jadi setelah ini, kau mau kemana Van?"
Lia mulai merapikan mangkuk dan gelas ke nampan.
"Hmm.. Aku akan kembali ke kakakku."
'Kakak? Dia punya kakak??' Ucapku dalam batin.
"Kakakmu?"
"Iya! Dia adalah kakak terbaik dan jago memasak!" Ucapnya dengan bangga.
"Kakak yang bisa diandalkan, ya.." Ucap Lia tersenyum lembut.
"Iya!"
Van tersenyum lebar dan menatap kami dengan semangat.
"Kau tahu! Kakakku itu..."
Van tampak bahagia saat membahas kakaknya, Lia mendengarkan dengan tenang sedangkan aku ingin sekali pergi dari sini.
"Oh, iya? Kenapa kalian masih di sini?"
"Hm? Maksudmu?" Ucapku bingung.
Van terlihat memiringkan kepalanya.
"Kenapa? Bukannya desa ini akan hilang?"
Hah? Apa..?
.........
...[ Continued ]...