The Great Adventure In World Of Sword And Magic.

The Great Adventure In World Of Sword And Magic.
Chapter 26 - [ End of Fight and a Prizes ]



...BAB 26 - AKHIR PERTARUNGAN DAN SEBUAH HADIAH...


...◇◇◇...


Tebasan yang luwes dan menusuk.


Serangan yang tenang dan cepat.


"The Boring White" Tofan Kyuciose, sesuai namanya, dia sangatlah kuat dalam artian lain.


Wanita kuat yang saat ini merupakan seorang petualang Rank C hingga aku dewasa juga, dia tetap bersandar di Rank C.


Kilauan Rapiernya yang memukau dan bagaimana dia mendorong Monster Rank AA, untuk sesaat aku berpikir mengenai kenapa dia tetap di Rank C.


[ Tofan Kyuciose ]


[ Magic Swordsman ]


[ Level 62 ]


[ Gelar : The Boring White of Flower ]


"..." Aku terdiam menatap layar yang muncul di atasnya.


Klaang!


Suara seperti bentrokan besi terdengar dan menyadarkanku. Aku harus fokus! Sekarang Tofan sedang meladeni Raja Kera.


Aku harus ikut membantunya!


Namun, Para Kera lain juga ikut menyerang, yang membuat jarakku dengan Tofan dan Raja Kera menjauh.


"Baiklah," ucapku dengan serius.


Sekarang, aku hanya perlu melawan keroco sebelum membantu Tofan.


'Aku harus cepat membantunya!'


Mengambil botol kecil berwarna biru 'Blue Potion' dari kantongku, aku segera meminumnya dan seketika Manaku terisi kembali.


Walaupun tidak banyak, sekarang aku bisa menggunakan sihir lagi.


"Blade of Fire." Aku mengucapkan sihir Api Tier 2 dan memberi efek api pada bilah pedangku.


[ Blade of Fire ]


[ Sihir Api memperkuat Pedang besi untuk sementara ]


Untuk sebentar, aku memperkuat daya serangku.


Aku berlari menuju Raja Kera, dalam sekali jalan aku menebas setiap Kera yang melawan dan menghalangiku.


Slash! Slash! Clang! Clash! Slash!


"Kyikkh!?" "Gyikikh!?"


Setiap serangan memberi mereka luka bakar dan kematian, tapi aku juga mengalami kerusakan terutama di pedang besiku yang daya tahannya perlahan menurun.


Tidak lama, aku sudah sampai di dekat Tofan yang menyerang dengan tusukan tajam.


Setiap tusukan memberi Raja Kera rasa sakit dan tampak bagaimana dia terus memberi debuff Ketakutan kepada Tofan, tapi dia bisa menahannya.


Entah itu skill atau artefak, aku tetap senang dengan bantuan yang kuat.


"Aku akan membantu!" ucapku yang bergegas menyerang Raja Kera.


"Baik," ucapnya menangkis Pukulan Raja Kera dan membalasnya dengan menusuk.


Tebasan berapi memuncak dan memberi luka tebasan di tangan kanan Raja Kera.


"Graaawwwry!!" Teriakan kesakitan Raja Kera memekik keras.


Kami semua tertegun dan tampak rasa takut memuncak.


"Sial, Buff of Mind in Terror." Aku memegang tubuhku dan merapal sihir Teror ke dalam diriku.


Perasaan takut menghilang dalam sekejap.


"Grrrrrrrhaaa!!" Teriakan Raja Kera memuncak.


Dia menatap kami dengan mengerikan dan kejam.


"Tofan. Hati-hati, dia akan menggunakan Roar," ucapku bersiap merapal lagi.


Dia hanya mengangguk dan menutup kedua telinganya.


Aku menatapnya agak heran, tapi memang begitu seharusnya.


Jadi aku mengaktifkan sihir Teror pada diriku dan Tofan, sihir yang berkebalikan dengan sihir Teror tipe Debuff.


Sihir Buff ini memberi ketenangan jiwa.


[ Buff of Mind in Terror ]


[ Peningkatan kekebalan pikiran dan menenangkan diri dari rasa takut dan Teror. ]


"Rawrrryyya!!"


Teriakan keras Raja Kera menggema ke sekitar dan membuat Para Kera di sekitar kami membeku ketakutan.


Aku dan Tofan masih bisa bergerak dan meluncur menyerangnya.


Di waktu yang sama, aku mengendalikan bebatuan ukuran besar dan batang-batang kayu yang melesat dengan cepat menabrak dan membunuh Para Kera yang telah aku targetkan.


Baak! Baak! Baak!


"Gyaah!?" "Gruuyha!??" "Geghya!?"


Teriakan kematian Para Kera bagaikan musik di siang hari.


Aku dan Tofan menerjang mendekat Raja Kera.


"Hm.." Tofan memandang apa yang baru saja terjadi, tapi dia tetap berlari ke Raja Kera yang melotot dengan penuh amarah pada kami.


Karena Roar miliknya tidak berefek pada kami, dia memuncak dan berlari ke arah kami dengan sangat agresif.


Ini trik yang sama seperti sebelumnya.


Klaang! Jleeb! Jleeb! Jleeb!


Serangan tusukan yang bertubi-tubi Tofan ayunkan dengan megahnya ke Raja Kera.


Luka tusukan yang menyakitkan membuat Raja Kera semakin marah.


Tofan dengan mudah menahan setiap pukulan Raja Kera lagi dan lagi, lalu serangannya mulai menembus ke dalamnya.


"Graaaawryyyyy"


Raja Kera memekik kesakitan.


Kami mundur dan bersiap menyerang sekali lagi, lalu Rapier Tofan mulai bercahaya.


"Itu!?" Aku terkejut melihatnya.


Rapiernya bercahaya dan tertutupi oleh Aura pedang putih yang tenang, ini adalah skill "Aura Sword."


[ Aura Sword ]


[ Menyelimuti pedang dengan Mana, merupakan Skill pedang ahli dan membuat daya tahan dan serangan pedang meningkat drastis. Memakan mana yang lumayan banyak, tapi memberi serangan yang juga kuat. ]


Lalu, dengan sekali tebas. Lonjakan serangan mana tersebar dan mengarah ke Raja Kera dan Para Kera di sekitarnya.


Whoosh! Blast!


Luka dalam terbentuk di dada Raja Kera dan Para Kera terbunuh dalam proses.


"Grwaaaaaaaaaghh!?!!"


Teriakan kesakitan Raja Kera membuat sekitarnya bergetar dengan kuat.


Aku hampir goyah oleh teriakannya, namun, saat aku melihat Tofan mengaliri Rapiernya lagi dengan Aura yang lebih tebal, dia bangkit dan menyerang Raja Kera sekali lagi.


Itu sangat luar biasa, bagaimana dia berlari menuju wajah Raja Kera.


Dia melompat dan Aura perak mengitarinya, lalu..


Jleeeb! Blast!


Menusuk mata kanan Raja Kera dan ledakan kuat terjadi yang menghancurkan sebagian wajahnya.


Tofan melompat mundur dan jatuh ke dekatku.


"..." Aku kagum dengan hasil serangannya.


Itu memberi dampak yang kuat dan membuat Raja Kera semakin murka. Teriakan kesakitannya terdengar keras bergemuruh.


[ HP : 2586/12000 ]


Namun, Raja Kera masih bertahan dan dia terlihat sangat kesakitan.


"Kita akan akhiri," ucapku menyeringai lebar.


Aku dan Tofan saling menatap dan mengangguk


"Telekinesis," ucapku mengulurkan tangan ke depan.


Aku mengendalikan banyak bongkahan batu, kayu dan banyak hal menuju Para Kera dan Raja Kera.


Baam! Baam! Baak! Baak! Baam!


Para Kera seketika terdorong dan beberapa mati dalam prosesnya.


Namun, Raja Kera berhasil bertahan dari serangan itu. Tapi, dia terhalang oleh Batu besar yang ia coba hentikan.


Karenanya, dia tidak tahu, bahwa Tofan sudah di dekatnya.


"Ini akhirnya. Light Beam," ucapnya menebas vertikal ke wajah Raja Kera.


"Grwaaaaa!?" Cahaya terang menyinari Raja Kera dengan menakjubkan dan membelahnya menjadi dua.


Raja Kera runtuh dan meninggalkan Para Kera lainnya ketakutan dan melarikan diri.


[ Reward : Exp dan Hadiah Misterius diterima! ]


[ Hadiah Misterius Otomatis berada di Shadow Storage Senka! ]


Haa.. Akhirnya selesai juga.


Aku dengan lelah jatuh ke tanah dan duduk dengan lega.


Aku memandang sosok yang membunuh Raja Kera, Tofan "The Boring White." dan kurasa ada Bunga di julukannya?


Jadi inilah akhirnya, aku perlahan berdiri dan melihat ke depan.


"Nn? Apa kau baik-baik?" ucap Tofan sudah di depanku. Sangat cepat?!


"Eh, Ah.. iya, aku baik," ucapku sedikit terkejut melihatnya sudah ada di depanku.


Walaupun tadi jarakku dengannya sekitar puluhan meter. Untuk memiliki kecepatan seperti itu, apakah dia punya skill percepatan? Speed Boost?


Tetap saja, aku tidak bisa melihat skillnya dengan penglihatan sistemku. Apa ada syarat untuk membukanya?


.........


Di rumah Paman Thomas.


Aku duduk di kursi meja makan dan di seberang meja, Paman tersenyum dan mengeluarkan dua kantung uang logam di atas meja.


"Ren, ini yang Paman janjikan," ucapnya dengan tersenyum memberiku sekantung uang Silver.


"..Iya, Paman," balasku mengambilnya.


Sebenarnya aku tidak meminta imbalan, tapi kurasa ini tidak apa-apa. Juga Tofan duduk di kursi di sebelahku. Dia menyilangkan tangannya dan hanya diam saja.


[ Quest Langka #2 "Selamatkan Kebun Paman Thomas!" Selesai! ]


[ Reward : Mendapatkan Level Pengalaman (Exp), Uang dan Hadiah Paman Thomas diterima! ]


[ Hadiah Uang logam Koin perak (20 Koin) bisa dipindahkan ke Shadow Storage? ]


[ Pindahkan? ]


Sepertinya aku bisa memindahkannya ke penyimpanan milik Senka. Akan kucoba.


Jadi aku melihat sekitarku, walaupun yang kulakukan agak mencurigakan.


"..?" Paman Thomas terlihat bingung melihat tingkahku.


Sedangkan Tofan duduk di sampingku masih menyilangkan kedua tangannya dengan cuek.


"Tofan, ini imbalanmu juga," ucap Paman memberikan sekantung uang kepadanya. Itu sebanyak milikku atau lebih?


Jadi aku berpikir untuk memindahkannya nanti saat aku sendiri saja.


Lalu, Fiona datang membawakan makanan beserta minuman ke atas meja makan.


Paman Thomas tersenyum dengan aku dan Tofan menatap makanan yang disediakan.


itu semua terlihat enak.


"Kalian tahu, makanan ini semua buatan Fiona. Kujamin enak! Ayo makanlah!" ucap Paman dengan tersenyum lebar.


"Pa-Paman!" Fiona tampak malu mendengarnya.


Aku tersenyum lalu mencoba makanannya dan berkata "Enak!", benar-benar sangat enak.


"Kurasa aku bisa kecsini untuk makan setiap hari, jika boleh.. hanya bercanda," ucapku tertawa kecil.


Paman Thomas tertawa mendengarnya dan berkata aku bisa datang kapanpun, sedangkan Gadis yang di maksud..


"Eh?" Fiona terkejut dengan pipinya memerah tomat.


Fiona tersipu mendengarnya dan dengan panik langsung mundur ke belakang, yang tak lupa membungkukkan badan lalu pergi sambil membawa nampannya.


Melihat itu, aku tersenyum dengan Paman yang terlihat senang.


"Hahaha! Jika kau mengincarnya bilang saja!" ucap Paman tertawa.


"Ti-Tidak kok." Aku mengelengkan kepala dengan panik.


Paman dan aku berbincang dengan senang. Sedangkan..


"Selesai.." ucap Tofan selesai makan dan berdiri dari kursinya.


Aku dan Paman menatapnya kaku, baru ingat kalau ada dia di sini.


"Ahem, jadi Tofan.. Terimakasih atas bantuannya, lalu apa kau bala bantuan dari desa?" ucap Paman menanyainya.


Tofan mengelengkan kepala dan berkata dengan nada datar.


"Tidak, aku sendiri yang datang," ucapnya dengan datar.


"Benarkah?" Paman sedikit bingung mendengarnya.


Karena dia sebelumnya memerintahkan pekerjanya untuk melaporkan dan meminta bala bantuan datang, jadi dia berpikir kalau Tofan adalah salah satu bala bantuan itu.


"Tofan, kau datang sendiri? Bukan dari desa?" ucapku mencoba mengkonfirmasi.


"Iya," ucapnya datar.


Karena dia mengatakannya begitu, kami percaya dengannya.


"..Aku mendapat informasi dari dia.." Tofan menunjuk ke seekor burung berwarna putih di luar jendela.


Aku dan Paman melihat burung itu dengan bingung dan penasaran.


"Seekor burung?" ucapku bertanya-tanya.


"Iya, dari dia. Aku mengerti bahasanya."


""Apa??"" Aku dan Paman kaget.


Bukannya itu kekuatan druid??


Kekuatan untuk berbicara dengan hewan itu sangat langka dan aku tidak tahu kalau Tofan mempunyainya.


Walaupun begitu, dia tidak terlalu membahasnya dan itu berakhir begitu saja.


"Ren, bawa juga ini."


Paman Thomas memberiku sekeranjang berisi buah-buahan dan Tofan pun juga mendapatkannya.


Jadi seusai kami diberi hadiah karena membantu menghabisi kawanan Monster dari kebun Paman Thomas. Aku dan Tofan pergi dari sana.


Untuk penjualan dari bangkai Raja Kera dan Para Kera Perusak akan diberikan pada kami setelah di hitung harga setiap bagian dan tentunya di potong untuk biaya kebun dan prosesnya. Kami tidak masalah dengan itu.


Lalu, sekarang kami berdua berjalan bersama kembali ke desa.


"..."


"..."


Aku sedikit canggung untuk berjalan dengan wanita perak itu.


Dia sedari tadi diam dan hanya berjalan tanpa berbicara sedikitpun.


Dari dekat, tinggi kami hampir sama.


Pertumbuhanku memang berbeda dengan anak seusiaku, karena gen ku lebih ke ayah.


Tapi, tetap saja. Ada rasa canggung berjalan dengan Wanita cantik berambut perak di sampingku ini.


Aku dengannya berjalan melewati jalanan yang sama menuju ke desa.


Seakan, tujuan kami sama. Tepatnya, memang sama.


"Um.. Tofan," ucapku mengajaknya berbicara.


"..Iya?" Tanyanya melirikku.


Aku tersenyum lembut dan melanjutkan.


"Terimakasih karena menolongku saat itu." Aku menundukkan kepala berterimakasih.


"Saat itu?"


"Iya, kau menyelamatkanku saat aku hampir mati oleh Raja Kera," ucapku dengan senang.


"Oh, Iya."


Walaupun dia terlihat cuek, aku tersenyum dan berkata dengan tulus.


"Jadi jika kau perlu bantuan, kau bisa memintaku untuk membantumu! Kapanpun!" ucapku dengan serius dan sedikit bersemangat mendekatinya.


"Y-Ya," ucapnya sedikit heran dan tampak mundur.


'Ups, aku terlalu dekat.'


Setelah kami sampai di tempat tujuan, di jalan kami berdua sama sekali tidak saling berbicara dan tidak mengucapkan apapun hingga sampai di gerbang desa.


Walaupun begitu, kami tidak merasa canggung sama sekali.


"Aku ke sana," ucap Tofan menunjuk ke Penginapan Killer Rabbit.


"Iya." balasku singkat.


Jadi kami berpisah di dekat gerbang.


*Suara ramai


Lalu, ada suara keramaian orang tidak jauh dari rumahku.


"Hm?" Ada yang aneh di sana?


Akupun langsung berjalan ke kerumunan di depan sana.


.........


...[ Continued ]...