The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 9 - Tujuan Kita Bersama



Vania dan Lavia pergi menuju rumah mereka, Ibu Lavia menyambut mereka berdua dengan ekspresi yang terlihat bersyukur bahwa mereka pulang dengan selamat. Vania terdiam ketika melihat Lavia yang dipeluk oleh ibunya sendiri, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya tetapi ia mencoba untuk tidak menghiraukan-nya sehingga Ibu Lavia mulai mengusap kepala Vania dan memberi dirinya selamat karena sudah berusaha keras bersama Lavia.


Entah kenapa, Vania merasa senang sedikit demi sedikit. Karena sekarang sudah cukup larut jadi mereka mulai pergi kembali ke kamar tidur mereka untuk berbaring di atas kasur, Vania menyimpan kapak kecilnya di atas meja Lavia dan saat ini ia tidak bisa tidur sama sekali karena pikirannya yang dipenuhi dengan ketakutan terhadap para Eldritch itu, sejarah pernah mengatakan bahwa Eldritch adalah akhir bagi umat Vampir bahkan ketika umat Vampir sudah mati maka mereka semua akan pindah ke dunia Elf untuk membasmi mereka semua.


Eldritch benar-benar seperti pemicu dari akhir dunia dan Eldritch yang ia lawan itu tadi lumayan cukup kuat jika seorang Vampir yang tidak berpengalaman dalam bertarung maka mereka akan mati dengan cepat. Vania terus menatap atap sedangkan Lavia sudah tertidur di sebelah-nya, ia ingin sekali pergi dari desa ini ketika para Eldritch sudah terbasmi karena tujuannya adalah membawa kedamaian untuk umatnya sendiri juga tidak terjadinya perang antar bangsa.


Melihat semua Vampir yang tidak memiliki hati dan selalu mengandalkan ego-nya itu, sepertinya mustahil karena Vania sudah melihat banyak sekali insiden Vampir kuat yang mati begitu saja karena terkena khianat, contohnya seperti tadi Vania yang sudah menyelamatkan keluarganya tetapi mereka malah meninggalkannya sendiri. Vampir memang harus berubah walaupun itu sikap natural mereka, Vampir harus bisa maju dan memiliki hati untuk satu sama lain.


Tujuan Vania yang lain dan paling utama adalah mengubah para Vampir, mereka sangat sulit untuk di ajak bekerja sama dan mereka hanya ingin meraih kemenangan itu untuk sendiri. Vania dan Lavia adalah dua kelompok Vampir yang bekerja sama dengan sangat baik sehingga mereka beberapa kali mengalahkan musuh mereka di akademi dan ketika membasmi para Eldritch, bekerja sama itu adalah kunci dan Vampir individual pasti akan memiliki batasan yang menghalangi dirinya.


"Aku benar-benar ingin hati... untuk mereka. Jika kita semua berperang dan ingin sesuatu untuk diri sendiri, bukannya itu lebih buruk dari sampah ya, aku tidak mengerti dengan Vampir tetapi aku sendiri adalah Vampir."


"Hehehe, kamu adalah Vampir yang memiliki hati dan perasaan, Vania. Semua Vampir seperti itu kok, hanya saja kebanyakan Vampir hanya mengandalkan ego mereka." Lavia tiba-tiba mulai berbicara, Vania terkejut lalu menoleh kepada dirinya yang sedang tersenyum karena selama ini ia masih belum tidur karena ingin mendengar sesuatu yang keluar dari mulut Vania.


"Apakah aku membangunkan dirimu?"


"Tidak, aku tidak tidur kok."


"Begitu ya... Vampir memang sulit untuk tidur ya tetapi tidur memberi kita efek yang menguntungkan seperti kekebalan tubuh terhadap efek negatif."


"Iya, apa yang kamu coba bicarakan tadi? Ayo bicarakan, aku ingin mendengarnya dan membantu dirimu, Vania."


"Sepertinya tidak apa jika itu dirimu, aku ingin memberi hati kepada semua Vampir yang ada agar mereka bisa saling membantu satu sama lain dan bekerja, bukan hanya mengandalkan ego dan memikirkan diri mereka sendiri. Umat Vampir bisa saja terancam karena Eldritch jika mereka semua selalu saja seperti itu... tujuanku ingin mengubah mereka, kau tahu."


Lavia tersenyum mendengar Vania yang menceritakan tentang tujuannya itu, apalagi yang ia harapkan dari sahabatnya sendiri yang benar-benar ingin mengubah Vampir. Untungnya dia menemukan seorang Vampir yang benar-benar waras dan berbeda walaupun dia sendiri kecanduan dengan bermacam-macam darah. Tujuan Lavia sama seperti Vania, ia ingin melindungi dari depan dan mengikutinya dari belakang untuk melihat perkembangannya dalam meraih tujuannya itu.


"Apa yang kamu katakan tentang Vampir itu benar, walaupun kita Vampir tetapi kita tidak sama seperti mereka. Jika Eldritch dikatakan sebagai akhir untuk umat Vampir maka mereka mulai dari sekarang harus bisa berubah dan beradaptasi menjadi Vampir yang berbeda, memiliki hati dan perasaan... saling membantu sama lain dan tidak terlalu mengandalkan ego-nya itu."


"Kesabaran itu tidak selalu ada, Vania. Terkadang semua rasa sakit yang kau lepaskan itu bisa membuat dirimu lega, lagi pula mereka yang kau bunuh sudah melakukan tindakan kejam kepada dirimu selama bertahun-tahun. Mereka pantas untuk mendapatkannya, itu seperti tindakan melindungi diri sendiri, jika kau terus diam maka kau yang akan dibunuh."


"Itu benar juga..."


"Vampir juga pelan-pelan berubah dengan situasi yang mereka hadapi. Beberapa tahun sebelumnya, apakah kau ingat terjadi ledakan besar yang terjadi di semesta Yuusuatouri? Itu mengerikan 'kan... sebagian Vampir mulai berubah terutama Vampir hebat dan kuat, guru-guru di akademi kita juga seperti itu tetapi mereka selalu saja memperlakukan dirimu dengan buruk, itu harus segera diperbaiki!"


"Kamu memang hebat ya dalam perkataan, aku sungguh senang menemukan teman seperti dirimu, Lavia. Terima kasih, aku harap kita bisa berteman untuk selama-lamanya."  Vania tersenyum, senyuman-nya kali ini terlihat tulus dari dalam hatinya sehingga membuat Lavia terkejut juga senang ketika melihat sisi lembutnya itu.


"Tidak apa-apa, kita pasti bisa. Jika kita tidak dapat melaksanakan tujuan itu maka masih ada jalan yang sama dengan tujuan itu seperti... kita ingin mengubah bangsa Vampir 'kan kalau begitu kita mulai dengan mencegah peperangan dan kehancuran untuk Zuutouri." Lavia mulai menggenggam erat kedua tangan Vania, perkataannya memberi Vania motivasi untuk bisa melakukan semua tujuan itu secara bersamaan.


"Ya... ayo, kita coba."


Lavia duduk di atas kasur karena ia tidak bisa tidur sama sekali, ia hanya ingin bercerita semalaman bersama Vania, bercerita tentang masa depan dan tujuan yang akan mereka laksanakan sampai akhir. Mereka berdua terus menumbuhkan hubungan mereka seperti sahabat, perkataan mereka tidak jauh dari tujuan dan lelucon yang dapat membuat mereka berdua tertawa.


Setelah mereka lulus dari akademi maka mereka akan segera menjalani petualangan mereka seperti membasmi para Eldritch, lubang yang cukup dalam itu adalah tujuan sampingan untuk mereka tetapi setidaknya tempat itu bisa dicoba untuk menjadi tempat latihan. Mereka sampai tertawa bersama-sama ketika membicarakan tentang tipe pria yang mereka sukai, sepertinya Vania menerima apa adanya asalkan hatinya benar-benar memilih dirinya.


"Lavia... Bagaimana jika aku mengembangkan sebuah organisasi atau tim, sesuatu seperti itu agar kita bisa menumbuhkan keluarga lebih besar lagi untuk mengubah Vampir dan menghancurkan para Eldritch." Tanya Vania karena ia berpikir untuk mengumpulkan lebih banyak Vampir yang memiliki pikiran sama.


"Itu ide yang bagus, Vania! Aku akan mendengar nama yang kau pikirkan terlebih dahulu, tentunya kau adalah pemimpin. Vania pasti akan menjadi pemimpin yang hebat." Lavia tersenyum.


Vania memikirkan sebuah nama untuk pembentukan tim atau organisasi-nya, tidak menghabiskan waktu yang cukup lama karena ia sudah nama yang ia pikirkan langsung muncul secara tiba-tiba di dalam pikirannya, "Bagaimana jika aku beri nama..."


"...The Black Messiah?"