The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 5 - Rasa Sakit Ini



Lavia dan Vania pergi mengunjungi rumah Vania untuk memberitahu Zintania bahwa mereka berdua memiliki urusan penting di akademi dan semua guru memberi tugas penting yang harus dikerjakan bersama jadi Lavia mencoba untuk membujuk Zintania agar Vania menghabiskan waktu selama beberapa hari atau satu hari di rumahnya untuk mengerjakan tugas yang diberikannya itu, Zintania mempercayai apa yang Lavia bicarakan sehingga ia mengijinkan Vania untuk pergi karena saat ini ia akan bersenang-senang bersama para pria.


Vania merasa bersyukur dan senang bahwa ibu-nya mengijinkan dirinya untuk menginap bersama Lavia, itu artinya dia bisa merasakan arti dari istirahat yang sebenarnya bahkan dia bisa mencicipi makanan yang lezat. Vania terus berterima kasih kepada Lavia dan ia merasa senang ketika melihat Vania yang bersinar seperti matahari, hampir cukup langka untuk melihatnya seperti ini.


Mereka berdua segera berubah menjadi wujud kelelawar lalu pergi menghampiri rumah Lavia untuk beristirahat disana, Vania juga masih merasakan suatu yang janggal di dalam dirinya bahwa ia sudah melakukan pembunuhan dan fitnah kepada seseorang setidaknya Bloodlust yang berada di dalam dirinya terasa terpenuhi sehingga ia mencoba untuk tidak mengingatnya, jika ia terus mengingatnya maka ia akan memberanikan diri untuk memberitahu Lavia.


Beberapa menit kemudian, Lavia mulai membuka pintu rumahnya sehingga Vania melebarkan matanya karena ini pertama kalinya ia melihat isi rumah yang terlihat mewah dan rapi, berbeda dengan rumah yang ia miliki. Seorang gadis mulai menyambut mereka berdua bahkan gadis atau ibu dari Lavia merasa cukup senang melihat Lavia membawa seorang teman yang selalu ia bicarakan. Vania menundukkan kepalanya untuk menunjukkan formalitas-nya tetapi Ibunya memberitahu dirinya untuk bersikap saja seperti di rumah.


"Silahkan masuk, Vania. Apakah kamu dan Lavia mau mandi? Pakaian yang kalian kenakan terlihat kotor, jangan-jangan bermain di tempat sembarangan ya." Melihat Ibu Lavia yang terlihat sangat baik dan lembut seperti itu membuat Vania terdiam karena ia tidak pernah melihat Ibunya menyambut dirinya selembut dengan gadis di hadapannya, entah kenapa perasaannya semakin kosong dan hatinya terasa sakit.


"Vania, ayo, kita mandi dulu terus kita melakukan sesuatu yang menyenangkan!"


"Ehh, iya."


Mereka masuk ke dalam rumah itu lalu Ibu Lavia mulai menutup pintunya dengan rapat, Ibunya sudah mendengar banyak tentang Lavia sampai ia sendiri merasa sedih ketika melihat Vania secara langsung yang memiliki rantai di lehernya juga pakaiannya yang kotor dan robek itu. Tetapi setidaknya ketika mereka berada di kamar mandi, Vania dapat melepaskan rantai itu menggunakan kemampuan darah untuk melicinkan rantai itu lalu ia terlepas sehingga Lavia bertepuk tangan karena terkesan ketika melihat kemampuan darahnya.


"Mulai dari sekarang, anggap saja seperti rumahmu sendiri."


"Hm... aku coba..."


Lavia mulai melepas pakaiannya, ia juga ingin mencoba untuk melepaskan pakaian Vania tetapi ia mundur beberapa langkah karena merasa malu, ia ingin membuka pakaiannya sendiri tetapi Lavia terlalu cepat sehingga ia berhasil melepaskan pakaian Vania dan tubuhnya yang memiliki warna seputih susu mulai terlihat. Lavia terkejut ketika melihat beberapa luka bekas berbentuk abstrak di belakang punggungnya, Vania benar-benar tersiksa hidup bersama ibu-nya dan hal itu membuat Lavia merasa sedih.


"Itu bukan luka yang menyakitkan kok, tenang saja, aku sudah terbiasa dengan ini." 


"Tetapi... itu terlihat menyakitkan, luka bekas berbentuk abstrak dengan ukuran yang lumayan besar. Sungguh menyedihkan, Vania. Aku tidak tahu bahwa Ibu-mu memperlakukan dirimu seperti ini, aku benar-benar sedih sampai ingin menangis."


"Jangan mengkhawatirkan dirimu, khawatirkan dirimu saja, Lavia. Kau khawatir jika itu serius, luka bekas yang aku miliki ini bukan sesuatu yang serius karena semuanya sudah berlalu dengan cepat." 


Vania mengatakan sesuatu yang terdengar cukup jantan bagi seorang gadis karena ia sudah terbiasa menahan semua rasa sakit, maupun itu di luar dan di dalam setidaknya ia dapat menahannya dan menyembunyikannya hanya untuk dirinya. Lavia mulai mengajak dirinya untuk duduk di atas bak mandi besar itu, mereka masuk ke dalam bak mandi sehingga Vania melebarkan matanya karena tubuhnya merasakan air hangat yang membuat tubuhnya merasakan sensasi dari kenikmatan.


"Uwaaahhh... ini apa... aku terasa lebih santai..." Vania tersenyum kecil.


"Ini adalah air hangat, air ini dapat meningkatkan kualitas tubuhmu loh. Vania itu gadis yang cantik dengan rambut putih itu, aku yakin kamu pantas menjadi seorang Vampir yang memiliki julukan ratu atau bangsawan." Lavia terkekeh.


Lavia mulai menyiram Vania dengan air hangat itu, Vania terkekeh lalu membalasnya sehingga mereka berdua mulai menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama. Entah kenapa, di luar Vania terasa senang dan santai tetapi di dalam dirinya terdapat penyesalan dan rasa bersalah karena sudah membunuh bangsa yang sama walaupun dia memiliki tujuan untuk mencegah perang antar bangsa, ia tidak bisa mengerti dengan pilihan dan Bloodlust yang ia miliki.


Vania menutup kedua telinganya sambil memejamkan kedua matanya sehingga Lavia sadar dengan ekspresi yang terlihat ketakutan itu, ia mulai mendekati dirinya dan setelah itu ia menepuk bahu kanan Vania sampai ia tidak sengaja menjerit pelan karena terkejut. Kedua penglihatannya tadi membawa dirinya ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan mayat, semua ini tidak jauh dari ulah Bloodlust itu.


"Ada apa, Vania...? Apakah kamu baik-baik saja? Kamu terlihat tidak sehat."


"Lavia... aku penasaran... apakah kamu akan membenci seorang pembunuh...?"


Lavia terkejut ketika mendengar itu, "Pembunuh...? Aku akan memaafkan jika pembunuh itu memiliki alasan masuk akal, terkadang seorang pembunuh itu melakukan pembunuhan yang terlihat buruk untuk orang yang tidak mengetahui kebenaran tetapi sebagai seorang Vampir aku yakin bahwa tidak semua pembunuh itu jahat dalam tindakannya."


"Maaf... Lavia, selama ini aku menyembunyikan sebuah rahasia. Kita sudah berjanji sejak kecil bahwa tidak ada rahasia di antara kita, selama ini empat Vampir yang berada di kamar mandi itu mati karena diri-ku yang tidak bisa mengontrol kutukan dari Bloodlust ini. Aku hanya merasa sangat kesal sampai aku melupakan diriku yang sebenarnya, pikiran-ku untuk membunuh dan balas dendam selalu saja mempengaruhi waktu demi waktu."


Lavia terkejut untuk sementara ketika mendengar hal itu dari Vania tetapi ia percaya dengan Vania bahkan hatinya sendiri mempercayainya, dia melakukan pembunuhan itu pasti lelah karena sudah menahan semua kesakitan itu di dalam dirinya sehingga ia tidak pernah melampiaskan-nya kepada siapapun, sejak kecil Vania memang seperti itu sampai Lavia merasa tidak percaya awalnya ketika melihat Vania yang sekarang dapat melampiaskan kesakitan itu.


"Rasa sakit itu... akan semakin parah jika kau menahannya, Vania. Lebih baik kamu melepaskan semuanya saja, cara yang terbaik adalah dengan menangis dan cara untuk Vampir seperti kita ya... memberi pelajaran kepada seseorang yang pernah memperlakukan dirimu buruk."


Vania terkejut ketika melihat Lavia memaafkan dirinya begitu saja, setidaknya ia merasa lebih tenang karena sudah mengungkapkannya kepada Lavia. Tidak lama kemudian mereka keluar dari kamar mandi dan Lavia memberi pakaian yang terlihat imut untuk Vania sehingga ia langsung memakaikan-nya kepada Vania.


"Uwahhh... baju itu pas untukmu, Vania. Kamu terlihat seperti Vampir model, ahahaha." Lavia terkekeh, Vania tidak bisa melihat dirinya sendiri dan melihat cermin saja tidak bisa karena Varmin tidak akan bisa melihat diri mereka sendiri di hadapan sebuah cermin. Setidaknya Vania merasa lebih nyaman dan hangat ketika menggunakan baju itu, ia mulai tersenyum kecil kepada Lavia karena ia merasa bersyukur untuk bisa menginap bersama dirinya itu.


Makan malam telah tiba, Lavia mengajak Vania untuk mengunjungi ruang makanan yang dipenuhi dengan makanan lezat dan minuman yang sangat disukai oleh Vania yaitu darah. Vania terkejut ketika melihatnya karena ia tidak pernah merasakan perasaan baru seperti ini dimana ia bisa mandi dan menikmati makan malam, makanan yang lezat buka busuk.


Mereka semua mulai duduk di atas kursi dan menyantap makanan yang berada di hadapan mereka, Vania sendiri masih terdiam sambil menatap semua daging panggang yang tersedia, entah kenapa kedua penglihatannya hanya melihat apel dan makanan busuk yang diberikan oleh ibunya kepada dirinya... masa-masa itu cukup buruk sampai ia melupakan rasa lapar karena sering muntah memakan makanan busuk itu.


Vania mengedipkan matanya beberapa kali sehingga ia mengingat ketika di akademi makan siangnya selalu saja jatuh dan terlempar begitu saja karena ulah seseorang, ketika ia berkedip sekali lagi ia bisa melihat makanan lezat di hadapannya. Vania mencoba untuk mencicipi daging itu lalu lidah dan mulutnya merasakan sensasi berbeda yang belum pernah ia rasakan sejak ia balita, ini adalah rasa yang pernah ia rasakan ketika berumur 2 tahun, "He... hehehe..."


Mereka mendengar Vania terkekeh pelan, mereka menoleh kepada Vania lalu terkejut ketika melihat dirinya menangis dengan wajah kaget-nya itu, air mata deras mengalir keluar melalui kedua matanya karena rasa sakit yang ia pendam menghancurkan tembok itu sendiri dan membuat Vania tidak bisa menahannya lagi.


"Hiks... m-maaf..." Vania mulai menangis tersedu-sedu sambil menghapus air matanya yang deras itu. Lavia merasa sedih melihat Vania menangis seperti anak kecil, ini pertama kalinya ia melihat dirinya menangis dan cara menangis-nya terlihat sangat menyedihkan.


"Makan yang banyak ya..."


"...Vania."