
Terdengar suara ketukan pintu besi yang keras, Vania yang sedang tidur langsung bangun dan menoleh ke arah pintunya yang sedang dihantam beberapa kali oleh tongkat besi yang dipegang oleh adik-adiknya, mereka memberitahu Vania bahwa sudah saatnya ia bangun untuk pergi dan belajar di akademi. Ketika mendengar itu, Vania menutup wajahnya sendiri dengan bantal karena ia membenci akademi itu, tempat yang sangat tidak nyaman untuk dirinya.
Vania tidak memiliki pilihan lain karena Zintania pasti akan menghukum dirinya lagi, ia memaksakan tubuhnya yang masih terasa lemas untuk bangun. Biasanya Bloodlust yang ia miliki dapat membuat tubuhnya lemah karena kemampuan yang akan ia dapatkan seiring waktu berjalan, ia menghampiri pintu sehingga pintu terbuka oleh Zintania yang sudah menyiapkan sebuah rantai.
"Vania kecil-ku... yang paling Ibu cintai, kamu dihukum lagi ya~" Zintania tersenyum, Vania hanya bisa terkejut ketika mendengar itu karena ia dihukum tanpa suatu alasan, ia tidak bisa mengeluh karena hukuman itu pasti akan bertambah kali lipat jika ia mengeluh. Vania memaksa wajahnya untuk terlihat senang, ia mencoba untuk senyum lebar tetapi dibalik senyuman itu terdapat perasaan menyakitkan dan sedih.
"Apakah... aku boleh bertanya kenapa aku dihukum...?" Tanya Vania.
"Kamu pikir Ibu bodoh apa? Aku melihat dirimu yang meminum darah kakak-mu tadi malam, sebagai hukuman kau akan menggunakan rantai segel ini selama tiga hari. Jika kau membantahnya maka kau akan simpan di dalam ruangan penyiksaan selama satu minggu..." Tatap Zintania panjang, mendengar itu Vania merasa pasrah karena Ibunya semakin lama semakin bertambah gila seolah-olah ia sudah tidak memiliki akal sehat dan otak lagi.
Dunia Vampir adalah dunia yang cukup menyusahkan dan dipenuhi dengan Vampir yang tidak memiliki perasaan atau hati, langka sekali untuk menemukan seorang Vampir yang memiliki hati dan perasaan seperti malaikat karena mereka semua hanya peduli dengan diri sendiri, kata lainnya adalah egois. Vania memang sudah menebak bahwa Ibu-nya sendiri adalah Vampir kejam yang tidak memiliki hati bahkan ia rela untuk membunuh anak-anaknya demi uang dan mendapatkan pria lain.
Zintania memasang rantai itu di leher Vania dan kedua lengannya sehingga ia hanya bisa menggerakkan kedua lengannya secara bersamaan, ia tersenyum kepada Zintania dan ia mulai membalas senyuman itu dengan tepukan lembut di kepalanya. Jika ia datang ke sekolah maka sekolah sudah pasti akan menjadi neraka yang dua kali lipat lebih mengerikan dan mematikan.
"Aku pergi dulu ya..."
"Hati-hati, Vampir kecil-ku."
Vania pergi meninggalkan rumahnya, ia bisa melihat saudaranya yang memiliki pakaian cukup mencolok, seperti seorang putri karena mereka menggunakan gaun yang terlihat sangat menarik perhatian. Akademi yang terdapat di dunia Vampir membebaskan seluruh siswa dan siswi asalkan mereka tidak melakukan perilaku yang buruk, akademi ini bertujuan untuk memberi beberapa ilmu pengetahuan dan kemampuan tentang sihir serta pertarungan.
Vampir membutuhkan pengalaman dalam bertarung dan menggunakan sihir untuk bertahan hidup, kemampuan Vampir natural mereka akan tumbuh jika mereka ingin bekerja keras untuk bertahan hidup, dunia Vampir ini hanya memiliki satu hari yaitu malam, hanya bulan saja yang terlihat di atas langit yang biru. Jika langit berwarna hitam dan memiliki bulan purnama maka itu artinya malam untuk dunia Manusia.
Bulan sabit dan langit yang biru kehitaman mengartikan pagi hari dan siang hari untuk dunia Vampir, terdengar cukup tidak masuk akal tetapi ini adalah dunia yang bernama [Zuutouri] itu. Vania melihat beberapa Vampir yang menatap dirinya dengan tatapan rendah karena mereka membenci seorang Vampir yang memiliki penampilan seperti orang miskin, seluruh Vampir yang belajar di akademi itu dipenuhi dengan Vampir menyebalkan yang hanya memandang penampilan.
Vania hanya bisa diam dan berjalan cukup cepat menuju akademi yang bernama [Vempz]. Ia hanya bisa berharap bahwa semua ini bisa berakhir dengan cepat, ia hanya ingin menyendiri karena penampilannya saat ini terlihat sangat mencolok, ia terlihat seperti seorang budak yang disandera oleh seseorang. Untungnya seorang Vampire mulai mengelus punggungnya sehingga Vania bisa tersenyum setidaknya sedikit ketika melihat seseorang yang sangat ia harapkan untuk datang.
"Vania... kamu dihukum lagi ya...?" Vampir itu adalah seorang gadis atau satu-satunya teman Vania yang tidak pernah mengkhianati dirinya, dia memiliki perasaan dan hati seperti malaikat karena ia menerima apa adanya bahkan ia sudah bertemu dengan Vania sejak kecil, hanya gadis itu yang bisa mengerti tentang perasaan sakit Vania yang selalu ia sembunyikan di dalam dirinya.
Gadis itu memiliki warna mata hijau mudah, rambut merah darah dengan model seperti ekor kuda, kulitnya juga tidak jauh seperti seorang Vampir yang berjenis kelamin perempuan yaitu putih seperti susu. Gadis itu bernama [Chiganaru Lavia], ia mencoba untuk melepasnya tetapi Vania menolak karena rantai itu memiliki segel [Holy]. Satu-satunya segel yang tidak dapat dibuka oleh kekuatan Vampir, Lavia sempat terkejut ketika melihat rantai itu memiliki lambang kesucian.
"Sungguh kejam sekali, bagaimana bisa Ibumu memiliki rantai seperti itu?"
"Pasar gelap mungkin... kamu tidak perlu repot-repot membantu-ku, aku baik-baik saja."
"Tetapi semua orang akan melakukan sesuatu yang buruk kepadamu lagi dan lagi, aku tidak tahan melihat kamu dihina oleh mereka. Ketika aku mencoba untuk menghentikan mereka, mereka selalu tidak mendengar dan aku selalu saja digusur oleh temanku yang lainnya untuk menjauhi dirimu."
"Jika kau tidak mau bersamaku lagi maka pilihan yang tepat adalah tinggalkan diriku sendiri, lagi pula apa yang kamu harapkan dari seorang Vampir yang lahir di luar nikah? Aku hanyalah anak haram, semua anak yang dihasilkan oleh Ibuku pada akhirnya akan mati dan dijual kepada keluarga yang rusak."
"Saudara perempuanku... Ibu rela menjual mereka kepada pria Vampir mengerikan, aku pernah mendengarnya karena kemampuan dari pendengaran tajam-ku ini bahwa semua pria datang dan membeli saudara perempuanku hanya ingin menjadikan mereka sebagai boneka... pabrik untuk membuat keturunan Vampir..."
Lavia merasa bersalah ketika mendengar itu, ia ingin sekali membantu dirinya tetapi apa yang ia coba lakukan hanya ditolak oleh Vania yang tidak ingin merepotkan siapapun, kehidupannya adalah urusannya sendiri bukan urusan orang lain karena itu adalah prinsip Vampir sebenarnya, hidup menjadi apapun yang kau mau dan jadilah diri sendiri walaupun itu buruk. Lavia mencoba untuk mengelus rambutnya agar Vania bisa merasa lebih tenang karena ekspresi-nya bisa menjelaskan semua keburukan yang ia rasakan setiap hari.
"Bagaimana kalau sekarang tidur di rumahku...? Hanya untuk hari ini saja agar kamu bisa beristirahat dengan tenang dan memakan sesuatu yang dapat mengembalikan tenagamu ini."
"Terima kasih tetapi Ibu pasti meno---"
"Berbohong, gunakan itu saja. Berbohong untuk kebaikan sendiri itu tidak apa... aku tidak ingin kamu menghabiskan hari ini dengan sesuatu yang dapat menghancurkan mental-mu, Vania. Ayo, hanya hari ini saja."
"Lihat saja nanti"
Mereka tiba di dalam akademi itu, dari luar akademi itu terlihat seperti istana besar yang sangat mewah bahkan ketika mencoba untuk masuk saja mereka bisa melihat beberapa hal yang terlihat cukup menarik, semua fasilitas tersedia dan peraturan tentu saja ketat sehingga seseorang yang melanggar peraturan itu akan mendapatkan hukuman cukup berat sehingga wajah dari Vampir yang terus melanggar itu akan terlihat di aula.
Kali ini hanya tiga orang yang memiliki gambarnya dipasang di aula, yang pertama tidak jauh lagi Vania karena ia melanggar semua peraturan itu karena semua Vampir dan teman-teman mengkhianati dirinya sehingga semua guru mempercayai apa yang baru saja mereka katakan karena Vania tidak memiliki seseorang yang membela dirinya kecuali Lavia sendiri.
"Tenang saja ya... kali ini aku akan mencoba untuk melindungi-mu." Lavia mengelus punggung Vania pelan-pelan.
"Tidak usah..." Vania menoleh ke arah kiri dimana ia melihat beberapa Vampir datang menghadapi dirinya hanya untuk mengejek dan mengganggu dirinya. Entah kenapa, Lavia mulai menatap mereka dengan tatapan suram karena ia tidak percaya bahwa seorang murid yang menjalankan tugas keamanan selalu saja mengganggu Vania.
"Wah, wah, Vania... penampilan-mu terlihat lebih mencolok sekarang ya. Kamu terlihat seperti budak... budak yang siap untuk melayani seorang pria buluk yang ingin memenuhi nafsunya sendiri." Vampir yang menjalankan tugas keamanan itu adalah seorang gadis yang memiliki rambut hitam dengan tambah putih di sekitarnya, kedua matanya berwarna putih dan penampilannya terlihat sangat mencolok seperti seorang ratu.
"Senang bertemu denganmu... kamu sekarang terlihat seperti boneka ya, Revana."
"Iya, kamu terlihat seperti seorang ****** sekarang!" Revana melakukan putaran lalu ia menendang kepala Vania sampai ia terjatuh di atas tanah, semua orang mulai menertawakan Vania dan tidak ada satupun yang ingin membela dirinya kecuali Lavia.
"Hei, apa yang kamu lakukan kepada Vania, hentikan sekarang juga!!!" Seru Lavia.
"Jangan mengganggu. Tidak ada untungnya kau membela Vampir miskin dan haram seperti dirinya... lebih baik kau bersenang-senang dengan kami untuk mengganggu dirinya, rasanya bahkan lebih nikmati dari darah yang selalu ia sukai loh."
Vania bangkit dari atas tanah, "Aku datang ingin belajar..."
"...bukan berkelahi."