
Vania perlahan-lahan membuka kedua matanya lalu ia melihat seorang pria dewasa yang cukup tua berdiri tepat di hadapannya sambil memegang sebuah tombak yang baru saja membunuh Eldritch itu, Vania awalnya terkejut karena ia bisa saja terbunuh jika pria itu tidak menyelamatkan dirinya tadi, ketika ia menatapnya lebih teliti lagi ia bisa melihat seorang pria yang tidak asing karena ia pernah bertemu dengan dirinya sebelumnya.
"Kalau tidak salah..."
Pria itu membersihkan kembali pedangnya karena ia membunuh cukup banyak Eldritch, ia mulai menatap Vania dan tersenyum bahkan Vania sontak kaget melihat pria itu yang berubah cukup drastis melalui penampilannya, ia terlihat lelah dan bahkan ia bisa mencium bau yang kurang sedap dari pria itu.
"Sudah lama sekali tidak bertemu ya, Vania... terakhir kali aku melihat dirimu sekecil ini... sangat kecil tetapi sekarang kamu sudah besar dan bahkan cukup nekat untuk membasmi seluruh Eldritch itu sendirian." Kata pria itu yang mulai mendekati Vania.
Pria itu memiliki penampilan yang terlihat seperti orang tua, rambutnya berwarna putih panjang sama seperti Vania, kedua matanya berwarna kuning, kulitnya terlihat kotor bahkan ia terlihat seperti tidak pernah mandi selama seumur hidupnya. Vania harus bangun dan mundur beberapa langkah karena ia melihat pria ini sangat aneh terutama pakaian kotornya itu serta aroma yang benar-benar mengganggu dirinya.
"Kenapa kamu harus menjauh seperti itu, Vania? Kamu tidak mengingat diriku 'kah."
"Tidak... jika Ayah mengetahui diriku disini maka kau bisa saja melakukan sesuatu yang buruk kepadaku seperti menghukum-ku. Selama ini kau kemana saja, Ayah, tiba-tiba bisa bertemu di tempat seperti ini itu aneh sekali." Kata Vania, selama ini pria yang baru saja menyelamatkannya adalah Ayah kandungnya, awalnya Vania berpikir bahwa dia meninggalkan dirinya dengan alasan mati atau lelah ketika melihat Zintania yang memiliki pekerjaan dalam menarik beberapa pria.
"Ini aku loh Ayah-mu dan aku sungguh bersyukur untuk bisa bertemu denganmu di sini, sekarang juga. Jika aku sudah bertemu denganmu seperti ini maka aku tidak akan melepaskan-mu lagi, kenapa kamu berada di tempat seperti ini, nak?" Pria itu mengulurkan kedua lengannya, mencoba untuk mengajak Vania memeluk dirinya dan Vania perlahan-lahan menghampiri pria itu dengan ekspresi datarnya.
"Kamu terlihat sehat dan pakaian itu terlihat kotor bahkan sampai robek... kau sendiri bahwa dikotori dengan darah, apakah kamu baru saja melarikan diri dari rumah hanya untuk menginap di tempat berbahaya seperti ini?"
"Aku tidak mau disiksa lagi dan lagi, lebih baik aku hidup secara individual saja... setelah aku membasmi habis seluruh Eldritch di tempat ini maka aku akan pergi dari desa ini."
"Sungguh gadis yang malang, pasti Ibu-mu memperlakukan dirimu dengan sangat buruk ya sampai kamu rela melakukan hal berbahaya seperti ini. Sudahlah, kamu sekarang aman bersamaku disini dan aku janji tidak akan pernah melepaskan dirimu lagi, Vania anakku." Pria itu mulai memeluk erat Vania, apa yang Vania rasakan itu biasa saja karena ia hanya bisa diam, perasaan sakitnya bertambah besar karena ia tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan ketika memeluknya.
Pria itu mulai mengelus rambut Vania yang panjang, ia bisa melihat dirinya yang benar-benar berbeda bahkan ia sempat mengusap punggungnya dan meraba luka gores yang ia peroleh ketika disiksa oleh Zintania. Vania hanya bisa diam sambil mendengar perkataan pria itu yang mengatakan semuanya akan baik-baik saja sambil mengusap dan mengelus dirinya.
"Ayah, alasan Ayah pergi kenapa?"
"Ibumu adalah seorang ****** yang selalu saja menarik perhatian laki-laki, dia memiliki kecanduan dalam berhubungan jadi aku meninggalkan dirinya. Penyebab aku pergi itu karena dirinya, ia juga bahkan hampir saja menjadikan diriku sebagai korban makan para Eldritch itu, ketika aku pergi... aku mencoba untuk membawamu tetapi ibumu menolak jadi aku pergi sendirian dan bertahan hidup di desa ini sendirian."
"Itu sungguh menyedihkan... Ayah tidak akan pergi lagi sekarang? Apakah Ayah akan menemani diriku? Sebenarnya di dalam hatiku, aku tidak bisa mengungkapkan perasaan sakit dan kesepian yang selalu aku rasakan walaupun aku memiliki seorang sahabat... hanya saja... aku tidak mau merepotkan seseorang di sekitar-ku."
Pria itu mendengarkan perkataan Vania sambil mengangguk sehingga kedua lubang hidungnya merasakan aroma seorang gadis kecil yang benar-benar lezat, ia tidak sabar melihat perkembangan Vania terutama ketika ia tumbuh besar nanti, ia tersenyum sedikit dan ia mulai menurunkan kedua lengannya dan meraba kedua kakinya sambil menatap kedua mata Vania. Vania masih terus berbicara, ia tidak merasa terganggu karena dia sendiri adalah Ayahnya.
"Vania, apa yang kamu ceritakan kepada Ayah benar-benar menyedihkan ya... tetapi sekarang kamu aman bersama Ayah, lebih baik kamu tinggal bersama dengan Ayah. Kamu memiliki aroma yang sama wangi-nya dengan seorang gadis dewasa..." Pria itu menjilat bibirnya sehingga Vania menunjukkan ekspresi jijik karena ia bisa merasakan sesuatu yang mengganggu tubuhnya.
"Ibu dan Ayah sudah berpisah dalam waktu yang lama, tidak ada yang menggantikan... karena kau adalah anakku maka tidak menjadi masalah jika aku menjadikan dirimu sebagai gadis-ku ketika sudah besar tetapi sepertinya penampilan dirimu yang masih kecil, entah kenapa menggoda diriku!!!"
Pria itu menghampiri Vania dan Vania terlambat untuk melakukan sesuatu karena pria itu sudah menjatuhkan dirinya bahkan sampai menahan kedua lengannya erat. Vania mencoba untuk melarikan diri tetapi kekuatan pria itu sangat kuat sehingga ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menatap dirinya dengan ekspresi yang terlihat ketakutan karena ia baru saja mendengar bahwa dirinya sangat menggoda Ayah-nya itu artinya dia bisa saja melecehkan Vania kapanpun.
"Tidak... hentikan, Ayah... aku mohon... jauhi aku, tinggalkan aku. Aku tidak ingin bersamamu jika Ayah seperti ini..."
"Tidak akan, aku akan tetap bersamamu. Kamu lupakah apa yang baru saja Ayah katakan tadi? Aku tidak akan melepaskan-mu, walaupun Ibumu memiliki tubuh yang sangat menggoda setidaknya anak kandung Ayah yang kecil ini lebih menggoda. Ayah lebih menyukai gadis kecil seperti-mu." Pria itu mencoba untuk menjilat wajahnya tetapi Vania berhasil menghindarinya sambil menunjukkan wajah yang ketakutan, ia sempat menangis karena ia benar-benar ketakutan, seolah-olah semua Vampir memang gila sampai ia tidak tahan melihatnya.
"Hentikan... aku mohon, Ayah... aku tidak mau..."
"Jangan melawan, gadis pintar. Tidak sakit kok, setelah Ayah melakukannya kepadamu maka kamu akan Ayah jadikan pengganti Ibu ya?"
"T-Tidak... Hentikan..."
Pria itu mencoba untuk melecehkan Vania tetapi ia berhasil menghindarinya dengan melawan sampai pria itu merasa kesal karena Vania terus menolak, ia tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan cara yang kasar yaitu menghantam wajahnya lalu Vania berhenti karena pukulan yang mengenai wajahnya terasa cukup menyakitkan.
Pria itu sekarang mencoba untuk mulai mengintip sesuatu di balik rok Vania lalu ia tersenyum seperti seseorang yang telah hilang pikirannya, ia sudah tidak memiliki akal sehat karena mencoba untuk melakukan pemerkosaan kepada anaknya sendiri. Vania terus menangis karena ia sudah lelah dengan semua hal yang ia hadapi, awalnya dia sudah memiliki harapan lebih kepada Ayahnya itu tetapi ia malah berubah menjadi seseorang yang mengerikan seperti ini.
"Jangan menangis, Vania sayang-ku... Ayah akan melakukannya dengan pelan-pelan." Pria itu memegang erat rok Vania sambil menahan kedua lengannya itu, kedua kakinya tidak bisa ia gerakan karena pria itu duduk di atas kakinya.
"Tidak... aku mohon..."
"Sepertinya akan sulit jika aku menariknya, lebih baik aku merobek-nya saja." Pria itu menunjukkan wajah yang terlihat menyeramkan karena ia mencoba untuk merobek roknya itu, Vania menjerit keras dan mencoba untuk meminta bantuan tetapi tidak ada satupun yang mendengarkan dirinya karena dia sudah berada di dalam lubang yang cukup jauh dari permukaan.
"Aahhhhhh!!! Ayah!!! Hentikan!!!" Vania terus menjerit sehingga ia mendengar roknya yang mulai robek, kedua iris Vania memancarkan cahaya merah sehingga ia menunjukkan ekspresi yang terlihat sangat kesal karena Bloodlust mulai mempengaruhi dirinya, batas kesabaran yang ia miliki benar-benar hancur karena ia sudah tidak tahan dengan semua cobaan yang melanda dirinya.
"MATI...!!! BLOODLUST CRUNCHIE!!!" Vania membuka mulutnya lebar lalu ia menggigit udara sehingga tubuh pria itu terbelah menjadi dua, tubuh bagian bawahnya dimakan oleh aura merah yang keluar dari dalam mulut Vania ketika ia baru saja menggigit sesuatu.
"Uwaaaaaggggghhhhhhhhhh...!!!"