
Vania menghampiri Elvano dengan tatapan yang terlihat cemburu dan mematikan, sepertinya apa yang dikatakan Selvia dan Yusa benar bahwa keterlambatan dan penyesalan bisa saja terjadi dengan cinta jadi ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Entah kenapa hasrat membunuh Vania bangkit begitu saja ketika melihat semua gadis itu mendekati Elvano bahkan satu gadis saja sudah cukup membuat dirinya kesal ketika ia melihat dirinya mencoba untuk mencuri ciuman pertama Elvano.
Gadis yang hampir saja mencuri ciuman pertama Elvano melihat Vania yang mendekat sehingga ia mengalihkan pandangannya kepada dirinya, Elvano bisa menyadari keberadaan Vania lalu ia melirik ke belakang dan merasa senang ketika melihat dirinya sudah kembali seperti biasanya, tetapi ia bisa melihat wajahnya yang terlihat sangat kesal ketika melihat kedua tangan gadis itu sedang meraba dada Elvano, "Vania."
Elvano sadar bahwa dirinya dikelilingi dengan beberapa gadis, ia tidak bermaksud untuk dikelilingi seperti itu karena selalu saja sering mengalami situasi seperti ini dimana semua gadis itu mencoba untuk mengambil kesempatan besar, ia memegang kedua tangan gadis itu lalu menurunkan-nya karena ia tidak mau Vania salah paham terhadap dirinya, "Tidak, Vania, ini bukan---"
Vania langsung menarik dasi pelayan yang Elvano selalu gunakan sehingga ia sontak kaget melihat dirinya yang bersikap kasar seperti itu kepada dirinya, semua gadis terkejut ketika melihat tingkat itu, mereka melihat Vania seperti adiknya tetapi mereka salah, "Kamu adik Elvano ya, imut sekali~ Tapi jangan kasar seperti itu kepada kakakmu itu loh." Beberapa gadis mulai berbicara, Vania mencoba untuk tidak menghiraukan karena ia menarik dasinya untuk mengajak dirinya ke dalam kamar.
"Ikut dengan aku."
"E-Ehh? Kenapa?"
"Terserah, ikut saja. Jangan melawan." Kata Vania yang terus menarik dasinya sehingga Elvano mulai mengikuti dirinya, "Tunggu, Elvano tidak melakukan apapun, kenapa kamu harus membawa dirinya dari ka---"
Vania melirik ke belakang lalu ia menunjukkan tatapan yang sangat tajam bahkan sampai menakuti mereka semua, tubuh mereka mulai dipenuhi dengan keringat dingin ketika merasakan hawa membunuh yang sangat besar di dalam tubuh Vania. Mereka memutuskan untuk diam dan tidak mengatakan apapun, ekspresi mereka juga bahkan terlihat ketakutan sehingga Lavia tidak menyangka bahwa Vania benar-benar mencintai Elvano seperti itu.
Ketika Vania mengajak Elvano ke dalam kamarnya, terjadi keheningan yang cukup mencanggungkan sehingga mereka tidak bisa mengeluarkan sedikit kata. Ruangan kamar saat ini gelap karena Vania sengaja mematikannya, Elvano menoleh ke belakang dan melihat Vania berdiri tegak sambil menundukkan kepalanya, entah kenapa suasana yang ia rasakan saat ini benar-benar aneh dan canggung karena ia baru saja di tarik oleh Vania untuk meninggalkan semua gadis itu.
"Batalkan kontrak... sekarang juga..." Ucap Vania pelan sehingga Elvano sontak kaget ketika mendengar itu karena Vania meminta untuk membantalkan kontrak pelayan yang berjalan selama-lamanya, ucapan yang cukup mutlak bahkan Crest yang dimiliki oleh Elvano hilang begitu saja bahwa mereka sekarang tidak menjalani kontrak yang sama, "A-Apa yang kamu lakukan, Vania? Apakah kamu ingin mencari pelayan lain selain diriku?!"
"Tidak apa, sekarang aku baru saja menyadari sesuatu yang lebih penting dibandingkan kontrak dan hubungan seorang bangsawan dengan pelayannya itu. Apakah kamu mau mendengarnya dariku?" Tanya Vania sambil menatap Elvano, entah kenapa ruangan gelap itu cukup mengganggu, mereka tidak bisa melihat ekspresi satu sama lain tetapi masih bisa merasakan perasaan yang mereka alami dan rasakan saat ini.
"Aku ingin kau menjadi milikku..."
"Apa?!" Elvano mencoba untuk menanyakan sekali lagi karena ia takut mendengarkan sesuatu yang salah di kedua telinganya, "Hm? Apakah aku mengatakan sesuatu yang tidak bisa kau dengar...? Kau pura-pura tuli atau semacamnya ya, walaupun diberi telinga tajam Vampir."
"Tidak-tidak, aku ingin memastikannya saja... aku tidak mau menyakiti perasaanmu, Vania, tiba-tiba seperti ini... Crestku hilang begitu saja dan kemungkinan besar jabatanku sebagai seorang pelayan bisa saja turun karena membuat seorang kontraktor tidak puas dengan pelayanannya." Kata Elvano sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat bersalah.
"Ugh, sialan ya... pasti ini disengaja! A-Aku benar-benar menghabiskan waktu yang sangat menyenangkan jika bersama dirimu, sejak awal aku menganggap dirimu sebagai gangguan yang selalu saja menyuruhku untuk ini dan itu, itu yang aku harapkan dari seorang pelayan sih... aku senang ketika bersama dirimu, yahh... intinya aku bisa mengerti dan mengetahuinya..." Vania menundukkan kepalanya, ekspresinya terlihat sangat khawatir ketika mengetahui Elvano yang terluka, ia selalu mengingat dirinya ketika bertarung yang berakhir dipenuhi luka.
"Kamu yakin... untuk memilih diriku?"
"Aku tidak akan mengatakannya lagi... berikan aku jawaban yang pantas dan dapat dimengerti olehku..."
"Baiklah... jika kamu memiliki diriku, aku dengan senang hati menjadi milikmu." Jawab Elvano, entah kenapa ia merasakan semua ini seperti permintaan adik dan kakak, kesempatan yang ia miliki saat ini cukup besar untuk mengubah hubungannya tetapi ia bisa melihat Vania tersenyum kecil dan itu membuat dirinya lega entah kenapa.
"Begitu ya... Baiklah, mungkin ini kontrak kita yang baru sebagai buktinya... mudah sekali." Vania mendekati Elvano bahkan ia sontak kaget ketika melihat dirinya sangat dekat, ia bisa melihat Vania yang menaikkan tubuhnya, mencoba untuk memberi Elvano sebuah ciuman sehingga ia tidak percaya apa yang baru saja ia lihat sekarang, karena ruangan gelap dan sepi, entah kenapa kesempatannya semakin besar.
Elvano menundukkan kepalanya lalu ia memberi Vania sebuah ciuman di bibir hingga mereka secara resmi memberi ciuman pertama mereka kepada seseorang yang sangat mereka cintai, setelah itu mereka berhenti lalu Vania menempati kedua lengannya di belakang, mencoba untuk senyuman dan bersikap bisa saja karena perasaan yang ia rasakan itu menembus rasa malu yang berlebihan, "Mungkin itu adalah kontrak kita yang terakhir, semoga semuanya berjalan untuk selama-lamanya."
"Ya..."
"Aku lumayan gugup untuk memberitahumu... setidaknya sekarang sudah terjadi, apa yang terjadi harus dibiarkan terus terjadi." Elvano sontak kaget ketika melihat kedua lubang hidung Vania mengeluarkan sedikit darah, sepertinya ia mimisan ketika berciuman di bibir tadi, "Vania, kamu berdarah tuh... bagian hidung..."
"A-Ahh! Aku tidak sadar... sebentar aku... aku ke kamar mandi dulu untuk membersihkannya..." Saking panik-nya Vania tidak sengaja menabrak tembok sampai Elvano terkekeh pelan dan sadar bahwa ia benar-benar bersemangat ketika menerima ciuman itu, ketika memikirkan kembali tentang ciuman pertamanya itu membuat Elvano menunjukkan ekspresi yang terlihat serius sehingga ia menghentikan Vania sebelum ia menyentuh pintu di hadapannya itu.
Cara Elvano menghentikan Vania cukup membuat dirinya terkejut karena ia memberi sebuah pelukan dari belakang yang membuat Vania berhenti bergerak untuk sesaat, telinganya perlahan-lahan merasakan hembusan nafas Elvano dan mendengarkan perkataannya, "Aku mencintaimu..."
"...bukan sebagai adik atau teman tetapi sebagai seorang wanita." Perkataan yang baru saja keluar dari mulut Elvano membuat Vania terdiam, ia tidak menyangka bahwa Elvano baru saja menyatakan perasaannya dengan jelas, "Aku sepertinya selalu memilih untuk melarikan diri dari semua kenyataan yang aku lihat terutama kematian adikku yang baru saja terjadi beberapa hari yang lalu, semua kenyataan yang aku rasakan itu palsu dan terasa menyakitkan, pilihan yang terbaik adalah lari."
"Tetapi... melarikan diri itu hanya pilihan sementara karena aku pasti akan ditemukan kembali dengan kenyataan lain, jadi aku sejak menjalankan tugasku bersama dirimu di dunia iblis membuatku sadar bahwa aku harus bekerja lebih keras lagi... rasa kerja keras itu bertambah besar ketika aku bertemu dengan dirimu dimana kau resmi menjadi bangsawan Camellia juga."
"Apakah kau ingat...? Ketika aku pertama kali bertemu dengan dirimu dan mencoba untuk memperbaiki dirimu menjadi seorang Vampir yang benar-benar senang, sebenarnya aku sudah mendengar banyak cerita tentang dirimu dari Lavia... kamu terlihat benar-benar rusak dan berbeda dulu... setiap perasaan dan sikap yang kau berikan kepadaku benar-benar berbeda." Perkataan Elvano membuat Vania diam dan tidak bisa mengatakan apapun, sepertinya ia mengetahui tentang topeng yang saat ini ia gunakan.
"... ..."