
Kedua rantai yang ia pakai mulai diselimuti dengan darah dimana ia berhasil lepas dari rantai tersebut, ia mengangkat mereka berdua lalu menghantam-nya ke depan dan salah satu Vampir yang mencoba untuk memasukkan kepalanya ke dalam kotoran itu mulai mendapatkan hukuman yang sama dimana Vania menghantam wajahnya dengan toilet di hadapannya lalu ia menginjak puncak kepalanya sampai kepalanya tersangkut di dalam toilet itu.
Deon tercengang ketika melihat teman-temannya yang terkalahkan begitu saja oleh Vampir lemah dan miskin sepertinya, ia terlalu meremehkan dirinya sehingga ia tidak bisa bergerak dan melakukan serangan apapun karena tubuhnya saat ini di genggam oleh sebuah tangan kegelapan yang memiliki kuku panjang, Deon bisa melihat lengan kanannya yang diselimuti dengan kegelapan itu.
"Maaf... Maafkan aku... tolong lepaskan..." Deon mencoba untuk meminta maaf kepada Vania tetapi permintaan maaf-nya itu hanya membuat Vania tersenyum sampai gigi taringnya yang tajam itu terlihat, ia mulai menutup wajahnya sendiri dan mencoba untuk mengendalikan tawa-nya, efek dari Bloodlust telah aktif sehingga mempengaruhi mental dan pikiran-nya, membuat dirinya menjadi lebih agresif sampai ia ingin bermain juga dengan mereka.
"Hahaha... Hehehe~ Ayo lah, aku bercanda loh... bercanda, kalian 'kan tadi sudah mengajak-ku bermain... bagaimana jika aku yang memimpin permainan ini se-ka-ra-ng?" Tanya Vania sambil mengisap telunjuk-nya sendiri, ia bersikap seperti seorang gadis kecil imut yang tidak berdosa tetapi di dalam dirinya itu terdapat pembunuh berdarah dingin yang tidak akan memandang penampilan juga.
Deon benar-benar ketakutan ketika merasakan sesuatu yang mematikan di dalam tubuh Vania, ia sampai membasahi celananya tanpa sengaja dan menangis karena menyesal mengganggu Vania, ia seharusnya membawa lebih banyak teman karena kedua temannya pingsan, salah satunya tersangkut di dalam toilet yang dipenuhi dengan kotoran itu.
"Kenapa... takut ya... sayang sekali ya, aku sudah menyiapkan banyak permainan yang menyenangkan loh~ Kalian yang memulainya dan permainan yang sudah berjalan tidak akan bisa berhenti di tengah jalan loh." Tatap tajam Vania, ekspresi-nya terlihat lebih mematikan dan mengancam sekarang sampai Deon mencoba untuk menjerit tetapi jari hitam itu mulai menutup mulutnya agar ia tidak menarik perhatian siapapun.
"Ini adalah hukuman terakhir-mu, Vania... kami sekarang adalah saksi dan korban-nya, kau pasti akan mendapatkan hukuman berat dari akademi ini." Vampir yang baru saja dihajar oleh Vania masih bangkit, ia mencoba untuk berdiri dan melarikan diri tetapi pintu itu terhalang dengan tangan kegelapan yang tidak bisa ditembus begitu saja.
"Menghukum-ku ya...? Jadi permainan seperti detektif 'kah...? hukuman 'kah... hmmm~ Aku menyukai-nya."
Vania menghampiri pria di belakangnya lalu ia mulai menatapnya dengan tatapan yang tidak berdosa, ia tersenyum dengan lembut lalu pria itu sadar bahwa kedua kakinya tiba-tiba hilang begitu saja, menyebabkan dirinya terjatuh dan mencoba untuk menjerit tetapi Vania menginjak mulutnya dan mencabut lidahnya agar ia bisa menikmati permainan ini tanpa suara bising yang keluar.
Kedua lengan Vania diselimuti dengan kegelapan ditambah lagi kekuatan yang ia miliki melonjak tinggi karena bantuan dari Bloodlust, ia dapatkan memotong kedua kakinya karena bantuan dari tangan kegelapan yang bernama [Torture Hands], kedua tangan kegelapan yang ia miliki itu Vania dapatkan karena bantuan dari Bloodlust-nya. Ia mendapatkan kekuatan ini dari saudaranya, darah yang ia hisap benar-benar memberi dirinya hasil yang cukup memuaskan sampai ia tidak sabar untuk melepaskan seluruh kesakitan yang ia rasakan di dalam dirinya.
"Ya~ Ya~ Mari kita main~ Hukuman~ Hukuman~" Vania mulai menyanyi sambil menepuk kedua tangannya beberapa kali, ia mulai mengangkat kedua lengannya lalu menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan bahwa ia akan memberi laki-laki itu arti dari kesakitan yang masih kurang dengan kesakitan yang Vania rasakan.
"Bloodlust Rage" Vania melebarkan matanya sehingga kedua tapak tangannya diselimuti dengan aura berwarna merah pekat lalu ia mulai mencabik-cabik tubuh laki-laki itu sama kulit, daging, dan organ tubuhnya berserakan dimana-mana.
Deon panik ketika melihat Vania yang benar-benar mengerikan, perasaan yang hanya ia rasakan sekarang adalah penyesalan karena sudah mengganggu dan mencoba untuk memperkosa Vampir seperti dirinya. Deon tidak tahan melihat aksi pembunuhan itu karena ia bisa melihat Vania yang menghisap semua darahnya dan membiarkan tubuh temannya kering sama organ yang berserakan di lantai itu mulai ia lempar keluar.
Vania bisa merasakan fisiknya bertambah kuat bahkan kekuatannya melonjak tinggi, meminum darah Vampir yang sama sepertinya hanya akan memberikan efek peningkatan terhadap kemampuan Vampir. Vania menoleh kepada Deon yang sudah pasrah, ia mulai menggerakkan tangan hitam itu untuk mendekati dirinya sehingga mereka berdua mulai saling bertatapan.
"Ohhh.... Benarkah..."
"Aku mohon..."
"Aku lepaskan kok." Tangan itu mulai melepaskan Deon, ia mulai berterima kasih tetapi wajahnya hilang ketika Vania menggigitnya dengan satu gigitan yang mematikan, Deon terjatuh di atas tanah dan ia mulai mencabik-cabik tubuhnya agar ia bisa meminum seluruh darah yang mengalir deras itu dari tubuhnya.
Deon memiliki takdir yang sama dengan temannya, anggota tubuhnya berserakan di mana-mana bahkan organ tubuhnya hancur menjadi kepingan kecil karena cakar Vania yang cukup kasar, semua darah yang mengalir deras itu langsung Vania minum dan ia segera menggunakan kemampuan Vampir berdasarkan darah.
Semua darah yang mengotori tubuhnya mulai ia ubah menjadi gumpalan darah gelembung, setelah itu ia meminum semua darah itu dan ingat bahwa saku celana Deon terdapat pisau yang sangat tajam, ia dapat menggunakan alat itu untuk menciptakan pembunuhan palsu dimana ia tidak akan menjadi tersangka.
Masalahnya seseorang yang membunuh di dalam akademi maka mereka akan langsung dikeluarkan sehingga Vania memiliki firasat bahwa Zintania pasti akan marah besar kepada dirinya jadi ia mengambil pisau itu lalu membunuh Vampir yang masih tersangkut di dalam toilet itu.
Bloodlust Vania masih aktif, itu artinya pengetahuannya tentang membunuh dan menyembunyikan pembunuhan jauh lebih besar. Ia seperti seorang pembunuh yang mahir dalam mengerjakan sesuatu. Vania keluar dari dalam toilet itu lalu ia beruntung bertemu dengan seorang Vampir yang juga teman dari Revana. Vania segera menarik dirinya dengan mencengkeram tubuh gadis itu menggunakan tangan kegelapan-nya itu, ketika Vampir itu berhasil Vania tangkap tanpa basa basi lagi ia langsung membunuh dirinya dengan menusuk dadanya sampai pisau itu menusuk jantungnya.
"Selamat tidur... kalau tidak salah kamu pernah menghancurkan banyak hal dariku..." Vania membantu gadis itu untuk duduk di atas lantai lalu ia menggerakkan kedua tangannya agar ia memegang erat pisau tersebut, sekarang gadis itu terlihat seperti pelaku yang membunuh ketiga Vampir itu dan sekarang sentuhan terakhir-nya adalah Vania menusuk bahu kanannya sendiri agar ia bisa disebut sebagai korban juga, darah mengalir deras melalui luka itu lalu ia tersenyum sadis.
"Aku berhasil..." Kedua iris-nya berhenti memancarkan cahaya, Vania menarik nafas dalam-dalam lalu ia menjerit keras sehingga menarik beberapa perhatian Vampir termasuk para guru, beberapa guru masuk ke dalam kamar mandi dan melihat Vania yang terluka cukup parah... guru itu terkejut ketika melihat Vania terluka parah dan ia juga bisa melihat tiga mayat yang terbunuh karena pisau, pisau itu terbukti dipegang oleh teman Revana dan Vania untungnya sudah menghapus seluruh sidik yang ia miliki dengan kemampuan Vampir-nya.
Insiden mengerikan seperti ini membuat kepala akademi membubarkan semua murid, mereka bisa pulang dengan cepat karena kepala akademi tidak ingin menakuti Vampir lainnya tentang pembunuhan ini. Semua guru itu percaya bahwa gadis yang menusuk dirinya dengan pisau itu adalah pelaku karena mereka menggunakan kedua penglihatan tajamnya yang terlihat dipenuhi dengan sidik jari dari gadis tersebut.
Vania aman dan tidak ada satupun yang melakukan interogasi kepada dirinya sehingga Revana sendiri merasa malu memiliki teman yang dapat menusuk dari belakang, selama ini dia pembunuh yang cukup kejam juga, melakukan kejahatan dan mengakhiri semuanya dengan melakukan bunuh diri.
"Pasti itu mengerikan ya... kamu hampir saja terbunuh oleh dia, Vania..." Kata Lavia sambil membantu Vania untuk berjalan, Vania sengaja untuk melukai dirinya seperti itu karena ia ingin terlihat seperti korban yang benar-benar terluka.
"Ya... aku hampir saja mati disana..."