
"T-Tidak tahu, kenapa menanyakan hal tidak penting itu kepadaku." Tanya Vania sambil mengembungkan pipinya, Yusa dan Selvia mulai tertawa terbahak-bahak karena pernyataan itu sepertinya masih belum sampai kepada seseorang yang Vania sangat cintai yaitu Elvano. Lavia sempat bingung mendengar percakapan mereka, terutama pernyataan yang dimaksud oleh Selvia sehingga ia mulai mendekati Lavia lalu memberitahu semuanya kepada dirinya.
"Oi, jangan beritahu, Lavia!" Vania mencoba untuk menghentikan Selvia tetapi terlambat karena wajah Lavia mulai berubah menjadi warna merah ketika mengetahui fakta bahwa sahabatnya mencintai seseorang tetapi cinta itu masih belum sampai kepada orang tersebut, Lavia menatap Vania dengan ekspresi yang terlihat berbelas kasihan sehingga ia mulai merapatkan kedua tapaknya ke depan sambil memejamkan kedua matanya, "Aku mengharapkan banyak keajaiban terhadap hubungan itu, semoga semuanya berjalan lancar bagi dirimu."
"K-K-Kenapa kamu harus mengatakannya seperti itu, Lavia... ugghhh, ini semua salahmu Selvia!" Kata Lavia sambil menunjuk Selvia yang sedang tersenyum, Selvia dan Yusa mulai menepuk punggung Vania beberapa kali dilanjutkan dengan elusan di kepalanya agar mereka bisa menyemangati dirinya untuk menyatakan perasaan itu secepat mungkin, "Lebih baik aku memberitahu-nya sekarang, masih ada kesempatan karena jika kau menyia-nyiakan kesempatan itu lagi maka Elvano bisa saja direbut oleh gadis lain loh, apakah kau tidak lupa dia juga cukup terkenal dan popular?"
"Di saat-saat penuh dengan masalah seperti ini, bagaimana bisa aku mengatakannya secara terang-terang!? Semua ini menghabiskan waktu dan memalukan, aku bisa menggunakan lain waktu! Lain waktu!" Vania mulai bersalah tingkah karena ia benar-benar sangat malu, terlihat dari wajahnya yang memerah bahkan sampai mereka mulai menertawakan tingkah Vania yang begitu imut ketika malu-malu.
"Aku kira beberapa tahun yang lama ini, aku awalnya sudah mengira bahwa kau sudah memiliki keturunan atau semacamnya." Kata Yusa sambil memegang dagunya, ia berharap tinggi ketika pergi menuju dunia Vampir dimana Vania tinggal, awalnya ia mengira bahwa senior yang pernah melatih dan membawa dirinya menuju puncak kemenangan akan memiliki keturunan yang sudah dewasa atau tidak cucu saja sudah cukup untuk membuat dirinya puas.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Terlalu cepat, tidak ada waktu melakukan hal-hal t-tidak berguna sepert itu di saat-saat seperti ini 'kan...?" Vania mencoba untuk menutup rasa malunya tetapi Selvia memeluk dirinya dari belakang sambil mengelus kedua pipinya bahwa ia sangat suka melihat dirinya malu-malu seperti itu, "Aww~ Jangan seperti itu dong, Vania. Kamu baru saja kalah oleh juniormu sendiri, apakah kamu tidak malu? Yusa sendiri sudah memiliki dua keturunan, satu sudah dewasa dan satunya lagi masih bayi."
Vania sontak kaget ketika mendengarnya, "Juniorku benar-benar mesum dan rendahan! Pergi mati sana!" Seru Vania dengan ekspresi yang terlihat malu sehingga mereka mulai menertawakan dirinya lagi, Lavia sendiri tidak menyangka bahwa Vania akan memiliki perasaan cinta kepada seseorang dan itu bagus karena ia terlihat lebih berwarna sekarang berbeda dengan dulu yang dipenuhi dengan kehitaman dan keputihan.
Mereka baru saja selesai berbicara dengan teman lama, Vania tentunya menikmati waktu-waktu santai-nya bersama rekan yang pernah ia bantu dulu sekali, sekarang bagian mereka untuk membalas budi atas kebaikan Vania dan yang lainnya karena sudah meraih kedamaian bersama di semesta yang bernama Zuusuatouri, semesta dimana Iblis tinggal. Vania awalnya ingin mencari Elvano tetapi ia berpapasan dengan seseorang yang aneh, orang aneh itu mulai mendekati Vania dengan ekspresi tertariknya.
"Sepertinya kamu tidak mengenal dirinya ya, Vania, dia juga anggota baru dari The Black Messiah yang bersedia untuk memulihkan tim dan menjadikan dirinya sebagai pelindung yang sangat kuat." Kata Lavia, ternyata orang aneh itu adalah Yuffie yang saat ini sedang memperhatikan Vania. Vania mendengar perkataannya dan pandangannya tertuju kepada penampilan Yuffie yang sangat terbuka bahkan ia mulai kehabisan kata ketika melihat seorang Elf sekarang masuk ke dalam organisasi The Black Messiah.
"Heyo~ Pasti kamu Vampir yang bernama Vania itu ya... wah-wah, imut sekali, imut... aku tidak menyangka bahwa pemimpin The Black Messiah akan memiliki tubuh mungil seperti ini." Yuffie mulai mendekati Vania dan memerikan seluruh tubuhnya dengan pandangan mesumnya bahkan Vania sempat terkejut ketika merasakan nafas-nya yang begitu berat, ia menatap dirinya yang saat ini sedang bernafas berat seperti melihat sesuatu yang sangat nikmat ketika menatap Vania. Yuffie baru saja sadar bahwa kesukaannya terhadap gadis kecil mulai terlihat, ia mundur beberapa langkah.
"A-Ahhh... Ehem-ehem, sepertinya aku hampir saja bablas tadi. Sebenarnya aku sangat suka dengan gadis sepertimu, aku hampir saja mengukur tubuhmu untuk menjadikan dirimu sebagai eksperimenku." Kata Yuffie sehingga Vania menatap dirinya dengan ekspresi yang terlihat aneh dan ketakutan, Lavia terkekeh pelan lalu ia memberitahu Vania bahwa Elf satu ini terkadang mudah senang dan terbawa suasana apapun sehingga ia tidak bisa menahan diri untuk melakukan apa yang ia mau.
"Umu, umu, tubuh mungil seperti ini sepertinya pas juga untuk menggunakan sesuatu yang sangat pantas... seorang Vampir kecil... seorang pemimpin dari The Black Messiah juga ya... umu, umu, oh wow! Ini benar-benar terbayangkan di dalam pikiranku!" Yuffie mulai menunjuk Vania seperti model, ia menggunakan jari-jari untuk membuat seperti kamera karena ia sedang membayangkan sebuah pakaian yang pas untuk gadis seperti Vania.
"Ahh! Hahaha! Aku baru saja melupakan sesuatu yang penting, namaku adalah Yuffie Keiko, panggil saja Yuffie atau kakak cantik boleh... sebutan lainnya juga aku akan menerimanya, kapten~ Intinya aku adalah seorang pelayan yang sudah sepenuhnya dilatih oleh Baron, sekarang aku akan bersenang-senang bersama kalian dalam menjalani tugas sebagai anggota The Black Messiah!" Yuffie menunjukkan rasa hormat-nya menggunakan tapak kanannya sehingga Vania mengangguk lalu tersenyum, setidaknya ia dapat mengenal beberapa anggota yang unik.
"Jangan-jangan kamu itu adalah Elf yang legendaris kata mereka ya? Sang penemu yang pernah bertarung, kemenanganmu itu karena keberuntungan-mu 'kan?" Tanya Vania.
"Sedih banget! Kenapa harus di bilang kemenanganku itu keberuntungan!" Jawab Yuffie sambil mengembungkan kedua pipinya, tidak lama kemudian Yuffie membalas perkataan itu dengan mengeluarkan pengukuran karena ia tidak bisa menahan hasrat dirinya untuk membuat sebuah baju yang pantas untuk Vania, "A-Apa yang kamu lakukan, Yuffie?"
"Aku ingin memberimu hadiah pertemanan, sepertinya sebuah pakaian yang cocok untukmu. Sebentar ya... hah... hah... benar-benar... tubuh seorang gadis kecil... sangat lembut... wangi... hahhh..." Kata Yuffie sambil bernafas berat, Vania bisa merasakan hembusan nafas yang membuat dirinya tidak nyaman sehingga Lavia terkekeh dan memberitahu dirinya untuk tetap bersabar karena pakaian yang dibuat oleh Yuffie cukup berguna bahkan Lavia sampai diberi banyak sekali.
Setelah Yuffie mengukur tubuh Vania, ia mendapatkan hasil yang cukup memuaskan sampai ia langsung melakukan proses pengerjaan dalam membuat pakaian yang pantas untuk Vania gunakan, "Kalau begitu, senang bisa bertemu dengan dirimu ya~ Aku menantikan waktu-waktu menyenangkan bersama dirimu, semoga saja aku tidak ada masalah di duniaku sendiri. Sekarang shush, shush, pergi-pergi, aku tidak bisa fokus jika dua gadis imut melihatku seperti itu."
Vania dan Lavia pergi meninggalkan Yuffie, mereka sempat membicarakan dirinya yang bersikap aneh tetapi semangat dan kebaikan dirinya bisa terasa sangat jelas sehingga Vania tersenyum lebar, senyuman itu terlihat cukup langka karena Lavia bisa merasakan kebahagian besar di dalam dirinya, semuanya berubah karena Vania di adopsi menjadi seorang bangsawan, setidaknya semuanya berjalan dengan lancar bahkan sampai membuat Vania bersyukur.
"Kamu pasti sudah merasa senang ya...?"
"Kesenangan yang aku rasakan tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, setidaknya aku bisa menjadi seorang Vampir yang penuh dengan rasa bersyukur. Aku juga tidak perlu mengingat apa yang sedang saudara dan ibuku lakukan, mereka tidak ada lainnya dari ingatan yang harus aku hapus dengan segera." Vania berhenti berjalan ketika ia melihat Elvano sedang berbicara dengan gadis yang berbeda, Lavia melihat dirinya berhenti lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Elvano dan terkejut.
Vania bisa melihat dirinya didekati oleh seorang gadis yang cukup cantik bahkan gadis itu sempat merayu dirinya dengan memijit dirinya lalu mengusap tubuh sampai kedua wajahnya, mencoba untuk mencuri ciuman pertama dirinya, "Vania... jangan lakukan sesuatu yang kasar ya." Kata Lavia karena ia bisa melihat tatapan cemburu dari Vania sehingga ia menghampiri Elvano dengan cepat.
"Cinta benar-benar mengubah segalanya..."
"...kekuatan cinta, cukup aneh juga."