The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 3 - Eldritch



"Kamu boleh juga ya... berani berbicara seperti itu di hadapanku." Revana menghampiri Vania tetapi ia dihentikan oleh Lavia karena lorong ini dipenuhi dengan kelelawar yang hanya memiliki satu mata, semua kelelawar itu bisa disebut sebagai hewan pengawas yang dikendalikan oleh seorang Vampir. Jika mereka bertengkar di lorong luas seperti ini maka mereka akan pergi menuju ruang hukuman.


"Sudahlah, aku mohon jangan mengganggu Vania lagi, biarkan dia sendiri bersamaku. Apakah kalian tidak tahu---" Beberapa teman Lavia mulai mengajak-nya untuk mundur agar ia bisa berhenti membela Vania, Lavia mencoba untuk melawan tetapi genggaman mereka sangat kuat sehingga Vania menggelengkan kepalanya, memberitahu Lavia bahwa semuanya aman dan terkendali.


"Sudah ya... kalau tidak ada perlu denganku maka jangan berbicara denganku jika tujuanmu selalu sama." 


Vania mulai mendekati, Revana cukup terkejut melihat Vania yang mencoba untuk mendekati dirinya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat datar-nya itu. Entah kenapa Revana merasakan firasat buruk sehingga ia melihat senyuman Vania yang lembut tetapi senyuman dibalik itu adalah senyuman seseorang yang ingin memberi pelajaran kepada seseorang yang bodoh, Vania menunjukkan rantai yang mengikat kedua lengannya lalu ia mengangkatnya sehingga ia menghantam kening Revana cukup keras.


Semua Vampir yang berada di lorong tercengang ketika melihat aksi kekerasan Vania, mereka berdua sekarang seimbang karena sudah melakukan tindakan kekerasan. Mereka tidak lagi takut dengan namanya guru yang mengawasi melalui kelelawar bermata satu itu, seluruh murid mulai mendukung Revana untuk menghajar balik tetapi Vania menghampiri Lavia lalu ia mengajak-nya pergi menuju kelas-nya.


"Sakit, dasar sialan...!!!"


"Aku tidak bermaksud untuk memberimu kesakitan, aku hanya membantu-mu menyingkirkan nyamuk yang mencoba untuk menghisap darahmu itu. Sepertinya aku mendapatkan yang besar ya... kening-mu sampai berdarah seperti itu." Kata Vania.


Perkataannya membuat Revana kesal, ia mencoba untuk menyerang Vania tetapi bel berbunyi yang mengartikan mereka semua harus berkumpul di kelas mereka masing-masing untuk melaksanakan pelajaran. Pelajaran di dunia Vampir ini fokus-nya kepada pertarungan dan pertahanan seorang Vampir, bukan hanya itu saja tetapi para guru terkadang akan mengambil buku sejarah hanya untuk menjelaskan makhluk berbahaya yang tinggal di dunia Vampir itu.


Semua murid harus berkumpul di kelas mereka masing-masing dalam waktu yang tepat atau mereka akan mendapatkan hukuman, intinya hukuman ini bisa mengembangkan sebuah disiplin bagi Vampir tetapi dalam pandangan Manusia itu salah karena hukuman itu terlihat brutal dan sadis.


Pelajaran dimulai, Vania melihat meja-nya yang dipenuhi dengan coretan hitam yang mengejek dirinya sendiri, ia tidak terlalu peduli karena sudah sering merasakan hal seperti ini sejak berumur enam tahun. Tujuan Vania melanjutkan hidup hanya untuk menjadi Vampir yang dapat membangkitkan perasaan dan hati untuk semua Vampir, ia tidak tahan melihat Vampir berdarah dingin dan tidak berhati sama sekali, ia juga ingin mencegah terjadinya perang antar sesama bangsa.


Seorang guru memegang sebuah buku yang menceritakan sejarah tentang [Eldritch], pelajaran hari ini Vania bersama Vampir lainnya akan mempelajari tentang makhluk hidup mengerikan yang bernama [Eldritch]. 


"Bagaimana menggambarkan ejekan yang aneh dari hukum kodrat ini? Tidak ada kata-kata yang dapat mencakup kebencian menjijikkan seperti itu, mereka adalah Yang Lain. Yang tak terbayangkan. Alien di luar pemahaman, keberadaan mereka satu-satunya penghinaan terhadap semua alasan."


"Kita dapat berbicara tentang suara-suara yang sangat tidak harmonis dan warna-warna yang memuakkan, tentakel vermiformis yang berceceran nanah dan kekosongan yang ada di dalamnya, atau geometri matematika yang kompleks, tetapi itu hanyalah kedangkalan."


"Meskipun mengerikan dan sakit nista ini, mereka tidak mendefinisikan kekejian, mereka hanyalah salah satu dari gejala yang lebih umum dari kesalahan mendasar mereka.  Mereka adalah hal-hal yang tidak seharusnya ada, alien yang sangat mengerikan."


" Inilah yang membuat mereka menjijikkan dan inilah yang membuat ngeri serta berkurang menjadi kegilaan oceh semua kecuali yang terkuat dari mereka yang menemukan mereka. Hukum seperti yang mereka patuhi, seperti Ketika Planet Menyelaraskan atau Disegel Jahat dalam Kaleng, adalah sifat mereka, bukan milik kita."


Vania pernah mendengar beberapa kali tentang Eldritch bahkan desa ini sudah beberapa kali diserang oleh makhluk mengerikan seperti itu, mereka benar-benar berdarah dingin dan tidak akan pernah memandang bulu. Apa yang mereka lakukan hanya makan, membunuh, memasang, melakukan sesuatu negatif, dan hal-hal lainnya. Kalau tidak salah Vania ingat bahwa Ibunya sendiri pernah menjadi Ayah kandungnya sebagai tumbal agar Eldritch itu bisa mengincar dirinya dibandingkan keluarga besar yang ia miliki.


Memikirkan tentang mereka hanya membuat kepala Vania semakin pusing, dirinya dipenuhi dengan kekesalan karena ingin membunuh mereka satu per satu lalu menghisap darah mereka. Pelajaran hari ini terus membahas tentang Eldritch dengan tipe-tipe yang berbeda sehingga pelajaran berakhir ketika bel berbunyi, bel itu memberitahu mereka bahwa murid-murid sekarang diperbolehkan untuk beristirahat.


Mereka berdua pergi menuju kantin dan melihat banyak sekali murid yang menikmati daging mereka dengan jus darah segar, Vania menatap semua darah itu dengan tatapan tajam bahkan kedua iris-nya memancarkan cahaya merah, Bloodlust yang ia miliki akan aktif dan hampir saja membuat dirinya tidak terkendali. Vania segera menutup mata kanannya lalu menatap ke depan bahwa kutukan yang ia miliki bertambah semakin parah, ia haus terhadap darah bahkan meminum tiga botol penuh masih belum cukup.


Mereka harus antri untuk mendapatkan makan siang mereka, tidak memakan waktu lama sehingga mereka sekarang sudah memegang makan siang yang disediakan oleh kantin itu. Vania sudah menghabiskan botol yang berisi darah itu karena refleks sehingga ketika ia mencoba untuk mencicipi daging kelelawar, seseorang mulai menendang kakinya sampai ia terjatuh dan wajahnya terkena kelelawar itu.


Suara terjatuh itu menimbulkan suara yang cukup keras sehingga menarik perhatian semua orang termasuk penjaga kantin, ia ingin memastikan apa yang terjadi tetapi seseorang yang menendang-nya memberitahu dirinya bahwa Vania terjatuh karena tergelincir, apa yang ia katakan langsung dipercaya karena kelelawar yang mengawasi tidak melihatnya karena kantin ini dipenuhi dengan Vampir.


"Vania, apakah kamu baik-baik saja...?!" Lavia menempati piring-nya di atas lantai lalu ia membantu Vania untuk berdiri sehingga wajahnya dipenuhi dengan noda yang menyelimuti wajah serta mengotori bajunya, Lavia sontak kaget ketika melihat ekspresi-nya yang terlihat biasa saja seolah-olah ia terbiasa diperlakukan seperti ini.


"Sudah, Lavia... biar aku urus ini sendiri." 


Vania pergi meninggalkan kantin, ia menghampiri kamar mandi untuk membersihkan wajahnya yang dipenuhi noda. Ketika ia sampai di dalam kamar mandi, ia bisa mendengar suara langka yang menghampiri kamar mandi, ia ingin sekali beristirahat sebentar tapi mereka selalu saja datang untuk mengganggu, untungnya ia tidak terlalu menghiraukan-nya karena ia sedang membasahi wajahnya dengan air.


Terdengar suara pintu toilet terbuka di belakangnya, ia mematikan keran air itu lalu menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang tersenyum ketika melihatnya. Vampir yang baru saja menendang-nya datang dan menutup pintu rapat agar ia bersama teman-teman yang ia bawa bisa bersenang-senang bersama Vania di toilet wanita ini, Vania hanya bisa diam lalu ia mencoba untuk pergi tetapi pria yang menendang-nya mulai mendorongnya ke belakang.


"Mau pergi kemana, Vania? Tidak ingin bersenang-senang dulu?"


"Apa yang kau inginkan, Deon..." 


"Lihatlah dirimu sendiri, seperti seorang budak yang sudah siap untuk dipermainkan. Kalau begitu, kami dengan senang hati akan membantu dirimu." Walaupun Vampir berusia sangat muda, mereka sudah berpikir dewasa karena otak mereka yang mampu beradaptasi cukup cepat, Deon memerintah beberapa temannya untuk memegang kedua lengan Vania lalu membawa dirinya masuk ke dalam toilet.


Vania menunjukkan ekspresi yang jijik ketika salah satu toilet masih memiliki kotoran yang belum di siram, Deon menyuruh mereka berdua untuk memasukkan kepala Vania ke dalam tetapi ia menolaknya dengan menghantam kepalanya dengan tembok di sebelah-nya agar ia bisa menjaga jarak dengan toilet itu.


"Hei, hei, hei, jika kau menolak seperti itu maka pertahanan-mu berkurang." Deon mendekati Vania dan ia mencoba untuk membuka rok-nya tetapi ia tiba-tiba tertarik ke belakang dengan beberapa tusuk yang muncul di tubuhnya, Deon tercengang ketika melihat itu karena luka tusuk itu mengeluarkan darah yang mengalir cukup deras sampai ia sendiri tidak bisa menahan rasa sakit dari luka itu.


"A-Ack... A-Apa ini..." Deon menatap lengan kanan Vania yang diselimuti dengan kegelapan, Vania menatap tajam mereka berdua sehingga kedua Vampir itu mulai merasakan ketakutan ketika menatap kedua matanya itu. 


"Pilihan yang menyenangkan itu..." Iris Vania memancarkan cahaya merah pekat sehingga pandangannya bisa melihat banyak sekali tanda di tubuh kedua Vampir itu, tanda yang menandakan kelemahan dan celah serangan yang langsung membunuh mereka.


"...mati ya?"