The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 42 - Pesta Sebelum Bencana



Rencana yang mereka pikirkan akhirnya sudah dirancang dengan sempurna berkat bantuan Aldebaron, sekarang adalah hari ulang tahun Camellia dimana semua bangsawan dan pasukan Iblis yang Selvia bawa mulai berpesta di dalam istana dan desa Camel bahwa hari ini adalah hari yang sangat spesial untuk seorang bangsawan yang sudah membawa banyak nama dan perjuangan yang tidak ada hentinya sehingga sekarang, kemungkinan besar waktu kehidupan Camellia akan berakhir.


Saat ini, Vania masih tertidur di atas ranjang dengan ekspresi yang terlihat kelelahan karena menghabiskan seluruh waktunya berlatih dengan menyiksa dirinya sendiri di bawah cahaya matahari semua orang berpesta sambil berdansa sedangkan Vania hanya bisa mengerang kesakitan sampai tubuh dipenuhi dengan keringat karena latihan itu mempengaruhi mental dan pikirannya bahwa cahaya yang selalu ia rasakan itu benar-benar menyakitkan.


Aldebaron masuk ke dalam beberapa ruangan untuk menyambut beberapa orang tertentu, mereka menyambutnya dengan penuh kehormatan dan memberi tahu mereka secara diam-diam bahwa pertarungan melawan seseorang yang mengendalikan Eldritch akan dimulai tidak lama lagi, ia sempat melihat Haruki yang sedang berdiri di pojokan sambil menyilangkan kedua lengannya, ia terlihat tenang tetapi pikirannya sedang berlatih dengan membayangkan pertarungan Carmilla.


"Ras seperti kalian yang bernama Legenda cukup unik dalam melakukan latihan ya... pikiran yang kalian miliki itu dapat digunakan sebagai tempat latihan kapanpun sedangkan tubuh kalian dapat beristirahat kapanpun." Kata Aldebaron, Haruki hanya mengangguk tetapi ia menunjuk beberapa darah yang keluar dari tubuhnya, "Memiliki resiko itu tersendiri, jika pikiranmu dipaksa untuk berlatih dengan seorang musuh, hanya dengan membayangkan-nya saja sudah cukup untuk memberi efek samping kepada tubuhmu ini."


Aldebaron tertawa terbahak-bahak sambil menepuk punggung Haruki beberapa kali bahwa semua ras dan orang yang ia temukan benar-benar unik dan berbeda, ia pergi meninggalkan Haruki dan berharap bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja untuk dirinya. Ia melihat beberapa iblis yang terlihat akur bersama bangsawan Vampir lainnya, dunia benar-benar berbeda dibandingkan tahun lalu, semuanya berubah karena satu orang itu bagus sekali karena semua ras saling akur kepada satu sama lain.


Mengatasi masalah secara kebersamaan itu benar-benar terbaik karena masalah terasa ringan bahkan beban tidak terasa begitu berat, Aldebaron menghela nafas panjang, berharap bahwa Carmilla tidak melakukan apapun di pertarungan terakhir ini karena mereka hanya perlu mempersiapkan diri dari apapun terutama kematian karena melawan Carmilla itu tidak mudah. Semua orang berpesta dengan tenang dan Vania yang sedang tidur melebarkan matanya karena ia sudah tidur cukup panjang.


"Hah... hah... hah..." Tubuh Vania dipenuhi dengan keringat, ia terkejut ketika melihat Lavia sedang duduk di sebelah-nya sambil membaca buku, "Ahh! Vania!"


Lavia memberi Vania pelukan yang sangat erat karena ia merindukan dirinya, Vania hanya bisa diam lalu ia membalas pelukan itu dengan wajah yang tenang karena waktu istirahatnya tidak terasa begitu tenang bagi dirinya karena ia sudah mengetahui Carmilla oleh Aldebaron ketika ia melakukan latihannya. Entah kenapa memikirkan dan membayangkan Carmilla saja sudah cukup untuk membuat Vania kesal dan khawatir dengan teman-teman sekitarnya itu.


"Dimana semua orang...?" Tanya Vania dengan ekspresi yang masih lelah dan lemah, tubuhnya masih terpengaruh dengan sinar cahaya itu, entah kenapa keberadaan dan dirinya berada di ambang sekarat, seolah-olah proses latihan yang ia lakukan itu seperti ingin menghapus keberadaan dirinya sebagai seorang Vampir yang seharusnya sudah mati ketika menahan semua cahaya itu secara bertahap, ia berhenti latihan ketika menginjak cahaya yang berada di tingkat paling atas.


"Semuanya baik-baik saja kok, tidak ada yang harus kau khawatirkan... pesta ulang tahun Camellia sudah di mulai, sepertinya aku tidak bisa menikmati pesta tanpa dirimu yang sedang beristirahat panjang ini. Lagi pula aku tidak terlalu ingin bersantai, membaca beberapa buku mungkin dapat membantu diriku untuk nanti." Kata Lavia, ia menunjukkan beberapa buku sehingga Vania terkekeh pelan karena melihat Lavia kembali itu sudah cukup untuk membuat dirinya tenang.


"Sepertinya aku tidak begitu siap untuk menghadapi Eldritch yang sangat kuat... juga Vampir cahaya yang bernama Carmilla itu. Entah kenapa perasaan yang aku rasakan saat ini sedang merasakan kesakitan yang dahsyat." Kata Vania sambil menepuk dadanya beberapa kali, Lavia mulai mendekati dirinya lalu memberi Vania sebuah elusan lembut di kepala agar ia bisa merasa lebih tenang, "Tanpa dirimu... rencana dan pertarungan kita akan terasa berat sebelah, semua orang membutuhkan kekuatan satu sama lain termasuk Vampir Bloodyoku seperti dirimu, mungkin jika kamu menyerangnya seperti..."


"...aku akan mengerahkan semua kekuatan yang aku miliki! Aku adalah Vania Von Camellia, seorang Vampir yang akan menghentikan dirimu dengan menghajar dirimu habis-habisan menggunakan kapan ini sambil mengeluarkan suar mati-mati-mati! Ahahaha, seperti itu... Vania yang aku kenal." Lavia terkekeh sambil mengusap pipinya sendiri, Vania mulai menutup mulutnya karena ia mencoba untuk tertawa melihat Lavia yang benar-benar mengenal dirinya. 


Kedua sahabat itu terlihat ceria sambil tertawa bersama karena bercerita sesuatu yang konyol sehingga Vania merasa lebih tenang dari sebelumnya, ia memutuskan untuk bertemu dengan mereka sekarang karena tubuhnya sudah terasa baikan sekarang. Lavia mengajak dirinya pergi menuju lobi utama dimana Haruki melihat Lavia keluar bersama seorang Vampir yang belum pernah ia temui sebelumnya tetapi ia tahu bahwa Vania memiliki potensi yang cukup besar karena dia sendiri adalah pemimpin dari The Black Messiah.


"Senang bertemu denganmu, pemimpin, aku Shichiro Haruki."


"Vania Von Camellia, mohon kerja sama-nya untuk melakukan tugas dan tujuan yang sama sebagai anggota The Black Messiah." Secara refleks Vania menunjukkan harga dirinya sebagai seorang bangsawan dengan menunjukkan rasa kehormatan yang cukup tinggi bahkan sampai membuat Haruki terkejut karena pemimpin organisasi itu adalah seorang gadis yang memiliki fisik tubuh kecil tetapi ia tahu bahwa tekad yang dimiliki oleh Vania sangat besar.


Vania baru saja selesai menghabiskan waktu beberapa menit dengan berbicara dengan Haruki, sepertinya ia sudah terbiasa dengan karakteristik yang dimiliki oleh Haruki bahkan ia juga sudah pasti akan menerimanya. Ia pergi menghampiri ruangan lainnya untuk mengambil sebuah minuman darah dan tidak sengaja berpapasan dengan beberapa iblis yang mengenal dirinya sangat dekat karena mereka pernah menjalani tugas yang sama dalam melawan ancaman iblis.


"Wah, wah, wah, lihat siapa yang menunjukkan dirinya kepada kita. Sudah lama sekali tidak melihat seorang Vampir yang dulunya adalah anggota penting Truce Order. Seorang seksi yang melakukan pekerjaan dengan sangat baik." Kata Selvia sambil menunjukkan ekspresi yang senang, ia sangat merindukan Vania dan akhirnya sekarang bisa bertemu kembali dengan dirinya. Vania sontak kaget ketika melihat dua Iblis yang sedang menikmati camilan itu, ia memberi Selvia pelukan yang sangat erat karena merindukan seorang iblis yang cukup hebat waktu itu.


"Aku merindukan dirimu, Selvia... ahh, apakah aku harus memanggilmu dengan sebutan ratu sekarang?" Tanya Vania dengan senyuman lebarnya, ia berhenti memeluk Selvia untuk memberi Yusa beberapa tepukan tangan dan tukaran tinju, Lavia terlihat senang melihat Vania memiliki teman lainnya yang sangat akur dengan dirinya, "Hentikan... jangan panggil aku ratu, jadi malu nantinya... panggil aku seperti biasanya karena aku tidak terlalu ingin dianggap sebagai seorang ratu bagimu."


"Seperti biasanya ya, Selvia, kamu tidak pernah berubah bahkan sudah mencapai beberapa penghargaan dan julukan. Kau sendiri Yusa tidak ada bedanya dari dulu, kau terlihat sama seperti biasanya." Vania terkekeh.


"Apakah aku bisa menyebut itu sebagai pujian 'kah? Kau sendiri masih memiliki ukuran tubuh yang sama, bukan hanya itu saja tetapi kami terlihat berbeda karena aku merasakan sesuatu di dalam tubuhmu itu." Kata Yusa sambil memeriksa tubuh Vania dengan ekspresi yang terlihat serius, Vania mulai menepuk wajah Yusa karena ia tidak mau diperhatikan seperti itu oleh seorang junior yang pernah ia latih sebelumnya, "Apakah kau memperlakukan diriku seperti seorang anak kecil lagi? Seharusnya kau tahu bahwa aku lebih tua darimu dan seorang senior yang pernah melatih dirimu."


"Ahh, ternyata kau masih mengingatnya... jika kau mengingat tentang itu, aku jadi merasa penasaran..." Yusa tersenyum jahil sambil menatap Selvia sehingga ia mengerti apa yang ia coba maksud, "Wahhh~ Aku sendiri bahkan hampir lupa, sekarang aku mengingat jelas tentang seorang seksi dan calon seksinya yang pernah memimpin medan perang, sayang sekali ya... pernyataan itu belum sampai kepada dirinya." Kata Selvia, ia mencoba untuk mempermainkan Vania.


"A-Apa yang kalian maksud?"


"Bagaimana hubunganmu dengan Elvano sekarang, berjalan dengan sangat baik?" Tanya Selvia sambil mendekati wajahnya, wajah Vania mulai memerah dan ia langsung mengalihkan pandangannya.


"...t-tidak tahu."