
Vania memegang erat kapak-nya lalu ia menatap tajam Eldritch itu yang sedang menghantam seluruh Vampir itu, ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan-nya dengan pelan sehingga tubuhnya diselimuti dengan aura merah pekat. Vania mengangkat kapak-nya ke atas lalu ia sudah siap untuk mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya untuk menghancurkan Eldritch Abomination itu walaupun ia akan merasa kesakitan dan nyeri.
"Aku akan mengerahkan seluruh kemampuan-ku sekarang juga...! Rasakan ini...!!! [Bloodyoku: Dying Hit]!!!" Vania melesat maju menuju arah kepala Eldritch itu dan Eldritch itu bisa melihat dirinya, makhluk itu mencoba untuk menggagalkan serangan Vania tetapi gagal karena semua Vampir bangsawan itu sekarang mulai fokus dalam melindungi Vania agar ia bisa mengenai serangan dahsyatnya itu.
"Haaaaaahhhhhhhh!!!"
Vania berputar lalu ia berhasil menghantam kepala Eldritch itu sehingga Eldritch itu menjerit kesakitan, kapak Vania mulai memancarkan cahaya merah dan terdapat garis merah yang terlihat aliran darah mulai memberikan kekuatan besar. Vania tersenyum sinis lalu ia segera melepaskan serangan bertubi-tubi dengan mengayunkan kapak-nya beberapa kali tepat dengan kepala Eldritch itu karena pemimpin bangsawan tadi memberitahu bahwa Eldritch Abomination I inti kelemahannya di daerah kepala.
"MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!MATI!" Vania melakukan serangan seratus kali dengan mengayunkan kapak-nya beberapa kali sehingga setiap serangan yang mengenai kepala Eldritch itu melepaskan dorongan besar di sekitar wilayah tersebut bahkan sampai mengguncangkan wilayah itu seperti terjadi gempa bumi dahsyat, sang pemimpin mulai menyuruh mereka semua untuk mundur karena Eldritch itu bisa saja mengamuk kembali.
Ketika Vania berhasil mengenai wajahnya dengan serangan yang ke seratus, Eldritch itu terjatuh sehingga tubuh bagian bawahnya mulai meledak menjadi daging kecil, kepalanya masih bertahan tetapi sekarang kepala itu mulai tergeletak di atas tanah sehingga Vania mengangkat kapak-nya ke atas sehingga kedua lengannya mengeluarkan banyak darah bahkan kedua matanya juga ikut mengalirkan darah deras karena berlebihan menggunakan Bloodlust itu.
"Kau akan merasakan...!!! Kekuatan penuh dari kemampuan-ku... Bloody Stream!!!" Vania melesat kembali menuju Eldritch itu untuk mengakhiri hidupnya dengan kemampuan yang bernama [Bloody Stream], "MATI!!!"
Vania berputar lalu ia menghantam kepala Eldritch itu menggunakan kapak yang diselimuti dengan aura merah, ketika ia berhasil mengenai kepalanya dengan serangan terakhirnya itu, aura merah itu masuk ke dalam tubuh Eldritch itu sehingga menciptakan duri-duri tajam berwarna merah yang menjalar maju untuk membunuh seluruh Eldritch yang tersisa. Semua Vampir tercengang melihat Vania yang berhasil mengalahkan Eldritch Abomination I itu karena mereka bisa melihat asap yang keluar dari dalam kepala Eldritch itu.
"A-Asap... d-dia berhasil...? H-Hebat sekali, aku tidak menyangka gadis kecil seperti dirinya akan memiliki kekuatan sehebat ini." Semua Vampir benar-benar terkejut melihat Vania yang berhasil mengalahkan Eldritch itu dengan mudah, Vampir yang selalu mereka anggap remeh dan rendah akhirnya menyelamatkan desa mereka walaupun hancur setidaknya nyawa mereka selamat.
Penglihatan Vania mulai kabur dan perlahan-lahan buram karena ia terlalu memaksakan dirinya untuk mengerahkan seluruh kekuatannya sampai puncak paling atas hingga akhirnya ia terjatuh dan pingsan. Tidak ada yang membantunya karena mereka terlalu sibuk merayakan kemenangan mereka sehingga seorang bangsawan mulai menghampiri Vania lalu menggendong-nya.
Sekarang seluruh Vampir yang tinggal di desa Ventazaur tidak memiliki tempat tinggal jadi para bangsawan itu akan membawa mereka menuju desa yang sangat sopan dan tegas, hukumannya tidak terlalu buruk dan berlebihan seperti desa satu ini. Nama desa itu adalah [Camel] dan hanya para Vampir yang sudah dilatih keras tinggal di tempat itu bahkan mereka juga sudah bisa disebut sebagai bangsawan yang paling hebat dan setia, tujuan mereka tentunya mengalahkan seluruh Eldritch dan melindungi umat Vampire.
Semua Vampir itu pergi dan mengikuti para bangsawan, Lavia bisa melihat Vania yang digendong oleh seorang pria, ia hanya bisa diam dan mengikuti mereka dari belakang sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat lega bahwa Vania baik-baik saja. Sekarang Lavia hanya perlu mengikuti dirinya karena ia khawatir bahwa laki-laki itu akan melakukan sesuatu yang tidak pantas kepada Vania.
Menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk para Vampir itu tiba di desa [Camel], desa yang letaknya cukup jauh sehingga para Vampir itu bisa mengetahui kenapa semua Vampir itu datang terlambat, desa Camel ini cukup besar bahkan dipenuhi dengan bangunan dan istana yang terlihat sangat mewah. Kepala desa dari Camel menyuruh seluruh Vampir yang mengungsi untuk tinggal di Camel dan mematuhi peraturan yang tertera jika tidak maka mereka akan dikurung di dalam sebuah ruangan yang sama seperti sel penjara.
***
"Aku menyarankan dirimu untuk tetap diam di atas kasur dan beristirahat. Tubuhmu masih jauh dari kata pulih."
"Apa yang terjadi...? Siapa kau... dimana aku... ini... dimana..." Vania meraba kepalanya yang terasa pusing, penglihatannya saat ini sedang menunjukkan dunia yang berputar karena kedua penglihatannya masih dalam proses pemulihan karena sudah mengerahkan seluruh kekuatannya.
"Kamu berada di istana dimana para bangsawan Camellia tinggal, temanmu yang bernama Lavia sudah menceritakan semuanya tentang dirimu kepada kepala bangsawan Camellia. Sepertinya kau akan tinggal bersama mereka untuk waktu yang cukup lama dan panjang, kau sendiri bahkan di angkat menjadi keluarga itu sendiri karena kau adalah seorang Vampir yang istimewa..."
"...kalau tidak salah namamu itu Vania ya...? Sekarang kau memiliki julukan baru, Vania Von Camellia dengan kekuatan yang diberikahi oleh Bloodyoku. Itu adalah namamu yang baru karena kau sekarang sudah resmi menjadi seorang bangsawan Camellia." Ucapan pria itu membuat Vania bingung karena otaknya saat ini masih belum sepenuhnya berfungsi, kekuatan yang dilepaskan mampu membuat seluruh tubuhnya terasa mati untuk sesaat sehingga pria itu mulai membuka sebuah botol lalu membantu Vania untuk meminumnya.
Botol yang berisi darah berkilauan itu membuat Vania melebarkan kedua matanya sehingga ia kembali bangkit dengan ekspresi yang terlihat ketakutan, pria itu tersenyum karena botol itu memiliki efek yang cukup manjur untuk Vania sehingga ia mulai menatap pria itu lalu mengeluarkan kapak-nya sehingga pria itu secara refleks menunjuk kapak Vania sampai terjatuh di atas tanah, "Apa maumu dariku...? Kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini...?"
"Jangan menunjukkan emosi dan amarahmu seperti itu, Vania Von Camellia... kau sudah melaksanakan tugasmu sebagai rakyat desa biasa untuk mengalahkan Eldritch Abomination itu, kau tidak perlu takut untuk bertemu dengan seorang Vampir yang baru seperti diriku. Aku tidak akan melakukan apapun kepada dirimu, lebih baik kau berhenti mengangkat senjatamu dan mendengarkan penjelasanku." Perkataan pria itu langsung membuat Vania terdiam, ia kembali berbaring di atas kasur-nya lalu ia menyelimuti dirinya sendiri karena serangan Eldritch tadi cukup membuat dirinya kesal dan ketakutan.
"Sepertinya kau masih lelah ya, baguslah... kepala keluarga Camellia masih mengijinkan dirimu untuk beristirahat, kau bisa bertemu dengannya jika kau mau." Kata pria itu, ia mengeluarkan sebuah buku untuk membacanya karena ia ditugaskan untuk menjaga Vania sampai kondisinya kembali pulih.
"Dimana Lavia...? Apakah dia baik-baik saja?"
"Saat ini ia sedang dalam pelatihan, ia juga sementara akan menjadi keluarga Camellia untuk dilatih menjadi seorang Vampir yang hebat. Eldritch Abomination yang kau lawan itu masih belum cukup untuk membawa kedamaian dan ketenangan bagi umat Vampir karena masih banyak sekali Eldritch yang bersembunyi di sana." Kata pria itu, Vania hanya bisa diam sambil memejamkan kedua matanya karena ia tidak menyangka untuk bisa memenangkan pertarungan ketika melawan Eldritch, di dalam dirinya ia hanya bisa merasakan ketakutan untuk mati tetapi berkat bantuan Bloodlust, semuanya berubah sehingga ia ingin Bloodlust itu mengubah dirinya menjadi seorang Vampir yang berbeda.
Memikirkan kembali tentang Eldritch itu, Vania tidak bisa tidur sama sekali sehingga ia menatap pria itu dengan ekspresi yang terlihat serius, "Ada apa? Apakah kau membutuhkan pertanyaan atau sesuatu?"
"Toilet..."
"Ahhh... mari aku antar."