The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 6 - Tidak Membutuhkan Imbalan



Lavia ikut sedih ketika melihat Vania yang memakan makan malamnya sambil menangis bahkan ibu Lavia sendiri ikut merasa sedih bahwa gadis kecil seperti dirinya terlalu banyak menerima keburukan karena sekitarnya sehingga ia menangis ketika melihat sesuatu yang terlihat sederhana, semua yang dilakukan oleh Zintania benar-benar tindakan yang tidak pantas untuk anaknya yang dihasilkan dari seorang pria yang menghilang begitu saja.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan malam dan Ibu Lavia mulai mencuci piring sehingga Lavia ingin membantu tetapi ibunya menolak karena ia ingin Lavia untuk menemani Vania yang terlihat sedih dan saat ini sedang merenung sambil menatap pakaian yang ia kenakan. Lavia menghampiri Vania lalu ia meraih tangannya untuk mengajak dirinya pergi menuju kamarnya agar mereka bisa bermain disana.


Mereka berdua duduk di atas lantai yang terasa hangat, Vania masih terlihat sedih dan kedua matanya terlihat lembab karena baru saja selesai menangis. Lavia mencoba untuk membuatnya kembali bahagia dan senang dengan mengeluarkan beberapa kotak yang berisi mainan-nya sejak kecil, mereka masih berusia di bawah sepuluh tahun setidaknya memainkan sesuatu yang menarik dapat membuat mereka berdua senang.


"Vania, bagaimana kalau kita main boneka Vampir melawan Eldritch?" Lavia tersenyum lalu ia memberikan boneka Vampir itu kepada Vania dan ia memegang boneka Eldritch itu sehingga mereka bermain dengan mengadukan kedua boneka itu.


Lavia setidaknya melihat Vania yang terlihat tenang, melihat dirinya menangis seperti tadi membuat Lavia merasa bahwa Vania membutuhkan seseorang yang dapat mendampingi dirinya kemana-pun agar ia bisa bertahan. Semua orang tidak memiliki awalan yang baik tetapi mereka dapat mengubah akhir dari cerita mereka dengan perjuangan dan tekad yang mereka miliki.


Hati Lavia merasa tidak enak, entah kenapa ia ingin menangis ketika mengingat masa-masa dimana ia pertama kali bertemu dengan Vania di akademi. Sejak itu mereka masih berumur empat tahun dan Vampir yang sudah berumur empat tahun diwajibkan untuk mengikuti akademi agar pengetahuan mereka bisa meluas, pertama kali... Lavia melihat Vania memiliki penampilan yang sama, pakaian kotor, rambut berantakan, dan pipi merah terlihat seperti bekas tamparan.


"Vania, setidaknya berubah... sejak dulu sampai sekarang, dulu ia sangat tertutup bahkan ia tidak mau menunjukkan perasaan dan ekspresi-nya itu yang terlihat kuat, setiap dia terluka... aku bisa melihat dirinya yang meneteskan beberapa air mata dan setiap ia datang ke akademi saja, aku selalu melihat dirinya mencoba sekuat mungkin untuk tidak menangis." Ungkap Lavia, ia berhenti memainkan bonekanya sehingga Vania ikut berhenti, kali ini ekspresi-nya terlihat bingung.


"Sudah waktunya untuk tidur ya, besok mungkin kita harus ke akademi juga."


"Benar juga... kita tidak boleh terlambat." 


Lavia bangkit dari atas lantai dan ia membereskan semua mainan-nya lalu ia menghampiri kasur yang besar itu, ia mengajak Vania untuk tidur bersama dirinya di atas kasur yang empuk itu. Vania tidak bisa menolak karena Vania memaksa dirinya, ia mulai berbaring di atas kasur empuk itu sampai punggungnya merasakan sensasi yang berbeda, tubuhnya juga terasa hangat karena tertutup dengan selimut.


Lavia berbaring di sebelah-nya lalu ia menatap atap, Vania hanya diam karena ini pertama kalinya ia berbaring di atas sesuatu yang terasa nyaman dan empuk bahkan bantal-nya juga terasa lebih nyaman. Lavia melirik ke arah Vania yang terlihat tenang, ia memegang erat selimutnya dan Lavia tidak bisa tidur karena ia selalu saja mengingat tentang Vania yang dulu sampai sekarang, tangisan-nya benar-benar menarik perhatiannya.


"Vania."


"Hm?"


"Bagaimana perasaanmu? Tinggal disini?"


"Aku merasa lebih tenang, seharusnya aku juga tidak menunjukkan sesuatu yang memalukan seperti tadi. Mungkin tadi aku melihat bawang...?"


"Hahaha, jika kau melihat atau merasakan bawang maka kamu tidak akan bisa menggunakan kemampuan atau kekuatan-mu itu."


"Jika aku harus jujur sih, cukup menyenangkan... aku seperti bermimpi untuk melihat semua hal yang aku ingin lakukan sejak dalu terkabul-kan begitu saja karena teman baik-ku, aku tidak merasa menyesal sama sekali ketika aku berteman denganmu, Lavia." Vania tersenyum lalu ia berterima kasih kepada Lavia, ia mulai tersenyum ketika melihat senyuman kecilnya itu, setidaknya senyuman-nya masih dalam proses menuju senyuman yang indah.


Baaammm...!!!


Terdengar suara ledakan keras yang terjadi di pusat desa, suara itu mengejutkan Vania dan Lavia secara refleks sehingga pendengaran mereka bisa merasakan suatu pergerakan yang terdengar sama persis seperti makhluk Eldritch, gerakan lidah dan mulut... itu yang mereka dengar sehingga lonceng yang berasal dari rumah kepala desa mulai digoyangkan agar mengeluarkan suara peringatan untuk seluruh penduduk kota.


Lonceng yang mengeluarkan suara itu otomatis membuat semua Vampir bersiap siaga untuk mengalahkan Eldritch itu, Vania sendiri membuka jendela lalu terbang keluar menggunakan kemampuan iblis-nya yang dapat membuat dirinya melayang. Lavia memberitahu ibunya untuk tepat diam di tempat yang aman lalu ia ikut terbang menuju arah Vania sehingga mereka bisa melihat desa bagian barat yang diserang oleh Eldritch.


Eldritch yang mereka lihat terlihat cukup mengerikan dengan bentuk besar yang terlihat seperti naga tetapi Eldritch itu tidak memiliki kepala melainkan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan mulut dan taring yang sangat tajam, lidah yang mereka miliki juga cukup lentur bahkan bisa memanjang untuk menangkap mangsa mereka, semua mulut itu juga dapat menyemburkan api panas yang membakar desa bagian barat itu.


"Vania, ingin turun tangan?"


"Ayo, inilah alasan kenapa aku tidak bisa tidur. Pendengaran-ku terlalu tajam sampai aku bisa mendengar pergerakan lidahnya, aku juga dapat memprediksi kapan dia akan menggunakan kemampuan lidahnya itu." Kedua lengan Vania mulai mengandung kegelapan dimana ia langusng memanggil [Torture Arms] yang muncul tepat di belakangnya, ia juga tidak lupa untuk membangkitkan kedua matanya yang mengandung Bloodlust atau nama kemampuannya adalah [Bloodlust Clairvoyance].


Lavia mengeluarkan belati-nya lalu ia bersama Vania melesat maju menuju arah makhluk itu sehingga mereka bisa melihat beberapa Vampir yang memakai zirah mulai bertarung, sepertinya Eldritch ini jauh lebih mengerikan dan kuat karena seluruh pasukan Vampir yang berbeda-beda berkumpul hanya untuk bertarung. Mereka melihat dari jauh untuk menganalisis musuh sehingga Eldritch itu dapat membelah dirinya hingga menciptakan Eldritch baru yang jauh lebih cepat.


"I-Itu...!? Fragmentasi, dia hampir sama seperti ulat yang dapat membelah diri untuk menciptakan Eldritch yang lain." Kata Lavia, ia mulai mengumpulkan semua darah yang bergenang dimana-mana lalu ia menyerap-nya dengan belati-nya sehingga ia melemparnya ke depan dan mengenai Eldritch itu sampai menjerit keras dan menyemburkan api panas melalui mulut-mulut mereka.


Vania mulai mendekat dan menahan semua api itu menggunakan kedua tapak tangan kegelapan-nya, setelah itu para Vampir mulai menyerang sehingga Eldritch itu membelah diri dan menciptakan pasukan lebih banyak dengan ukuran yang sama. Kali ini pendengaran tajam Vania bisa mendengar suara orang yang tidak asing dari jauh, ia menoleh ke arah suara yang ia dengar tadi sehingga kedua penglihatannya yang tajam dapat melihat rumahnya yang diserang juga oleh Eldritch dengan tipe berbeda.


Eldritch itu terlihat seperti tengkorak dan daging yang bergabung menjadi satu juga Eldritch itu memiliki lengan yang berjumlah cukup banyak sehingga lengan itu menangkap beberapa saudaranya. Vania harus mendekat agar kedua tangan di belakangnya itu bisa mengenai Eldritch itu, ia juga bisa melihat Zintania yang terkena pegang oleh Eldritch itu. Ia melaju dengan cepat lalu mengayunkan kedua lengannya itu sehingga Eldritch itu terdorong ke belakang.


Vania bersiul sehingga beberapa kelelawar datang untuk menyelamatkan mereka semua tetapi Zintania masih terjebak di genggaman-nya itu, Vania melancarkan beberapa serangan menggunakan kedua tapak tangannya yang diselimuti dengan aura merah, ia menggunakan kemampuan Bloodlust-nya untuk memotong seluruh lengan itu sehingga Zintania berhasil bebas tetapi Eldritch itu kesal sehingga menumbuhkan tentakel dan lengan yang lebih besar untuk menangkap Vania.


Vania tertangkap dan itu tidak bisa bergerak karena tentakel dan tangan Eldritch itu terasa sangat lengket bahkan serangan kedua tapak hitamnya itu bisa hindari dengan mudah, Eldritch itu mulai mundur perlahan dan Vania tidak bisa melakukan apapun kecuali menatap ke depan dan meminta bantuan kepada Zintania yang sedang duduk sambil menatap Vania dengan ekspresi terkejut karena ia baru saja diselamatkan oleh anaknya itu.


"I-Ibu tolong...!"


Vania meminta tolong kepada ibunya dan saudara-saudaranya tetapi mereka pergi sehingga seorang pria mulai mengangkat Zintania dan membawa dirinya pergi, mereka semua meninggalkan Vania sendiri sehingga Eldritch itu membawa dirinya masuk ke dalam lubang yang cukup dalam.


"Sebenarnya... aku ini apa..."


"...untuk kalian?"