The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 23 - Mengatasi Kelemahan



Elvano mengantar Vania menuju ruangan dimana Camellia berada karena Aldebaron saat ini membutuhkan dirinya, seperti biasanya mereka membicarakan tentang keseharian dan proses tentang pemburuan para Eldritch itu. Semuanya berjalan dengan lancar dan ia akan pergi untuk melaksanakan tugas lagi yang diberikan oleh Aldebaron, tugas yang diberikan oleh Aldebaron itu lebih penting dibandingkan perintah yang akan diberikan oleh seorang bangsawan.


Vania tidak bisa melakukan apapun kecuali mengijinkan dirinya untuk pergi karena ia sendiri memiliki keyakinan tinggi bahwa Elvano sekarang adalah seorang pelayan berbintang 10 yang mampu memimpin pasukannya sendiri karena sekarang seluruh bangsawan di desa Camel ini sudah terbagi menjadi beberapa bagian sehingga dunia Vampir sekarang dipenuhi dengan bangsawan yang benar-benar bijak dan lebih mementingkan tujuan mereka untuk meraih kedamaian demi umatnya sendiri.


"Apakah kau yakin bisa melaksanakan tugas ini sekarang?" Tanya Vania.


"Tentu saja, kau terlalu mengkhawatirkan diriku, seorang bangsawan atau pelayan yang pulang dengan keadaan terluka itu adalah hal biasa. Luka bisa ditunjukkan sebagai hasil kerja keras yang cukup efektif loh." Jawab Elvano.


"Sekali lagi kau pulang dengan luka yang parah seperti biasanya, aku tidak akan membiarkan dirimu pergi lagi loh... tidak ada juga kesempatan untuk dirimu mendapatkan permintaan maaf diriku lagi." Kata Vania sambil menunjukkan ekspresi yang kesal, Elvano hanya bisa tertawa ketika melihat Vania yang masih menyembunyikan perasaan peduli di dalam dirinya, walaupun ia mencoba untuk membicarakannya secara terang-terangan maka ia hanya akan marah dan menunjukkan tingkah salah seperti malu.


"Ohh ayolah, nona... kapan kamu akan memberitahu diriku bahwa kau selama ini peduli---"


Vania menepuk perut Elvano sampai ia bisa merasakan tepukan itu seperti pukulan karena kekuatannya dibandingkan dengan Elvano itu sangat jauh, "Jangan mengatakan sesuatu yang bodoh, pelayan bodoh. Aku peduli bukan berartinya aku benar-benar peduli, hanya saja kau itu pelayanku kau tahu, siapa yang akan melayaniku lagi." Kata Vania dengan pipi yang memerah, ekspresi-nya juga terlihat kesal untuk menutupi rasa malunya.


"Hahahahaha, kau tidak pernah berubah ya, nona Vania."


"Siapa yang tidak berubah... huhhh, Elvano bodoh! Benar-benar pelayan yang bodoh!" Seru Vania sambil mengembungkan pipinya, Elvano hanya bisa tersenyum dan terkekeh pelan karena ia sudah tertarik dengan dirinya sejak dulu, 20 tahun yang ia rasakan bersama Vania itu benar-benar gila karena mereka tidak sempat untuk beristirahat atau menghabiskan waktu bersama karena ancaman yang terus berdatangan terutama ancaman itu pernah sekali membunuh mereka berdua karena kehancuran alam semesta.


"Sejak kecil dan dewasa... ia tidak pernah berubah sepertinya, selalu menyembunyikan perasaan dengan wajah kesal yang imut itu. Benar-benar imut sampai aku tidak sempat untuk melayani dirinya bahkan berbicara dengan dirinya tentang hal lain kecuali pertarungan dan Eldritch itu cukup sulit." Ungkap Elvano sambil mengusap pipinya dengan jari-jarinya itu, Vania saat ini sedang memperhatikan ke depan sambil menggerakkan kedua bahunya yang terasa pegal.


"Vania..."


"Hmm, apa?"


"Apakah kau tahu tentang undangan para bangsawan yang akan terjadi di istana Camellia ini?"


"Undangan...? Undangan apa?"


"Pesta, berdansa, dan merayakan kelahiran dari Camellia untuk ke 500 tahun ini." Kata Elvano, Vania melebarkan matanya ketika ia sadar bahwa dua hari dari sekarang adalah ulang tahun Camellia, ia harus memikirkan sebuah hadiah untuk ibu angkatnya sendiri sehingga ia mulai memegang dagunya.


Ketika Elvano mencoba untuk mengundang dirinya untuk berdansa dan berpesta biasa, ia terlambat karena Aldebaron berada di belakang mereka berdua untuk memberikan pelukan yang sangat erat kepada mereka berdua sehingga mereka terkejut karena pelukan itu sudah tidak diragukan lagi berasal dari seorang kepala pelayan yang hebat, "Hwaaaahhhhh!!! Entah kenapa satu hari tidak bertemu dengan kalian itu terasa seperti 100 tahun...! Kalian benar-benar tumbuh besar dan menjadi seorang Vampir yang sangat layak ya, sedih saya..."


"Elvano, terima kasih sudah mengantar Nona sejauh ini, sekarang kau bisa pergi untuk melaksanakan tugas yang aku berikan." Kata Aldebaron sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, Elvano mengangguk dan ia berharap untuk bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Vania.


"Kalau begitu, aku duluan, Nona." Kata Elvano sambil menepuk dadanya lalu ia menundukkan kepalanya kepada Vania, Vania menjawabnya dengan lembut lalu ia kembali memberi dirinya hormat sehingga Elvano pergi meninggalkan Vania bersama Aldebaron, tugas yang akan ia laksanakan tidak bisa lakukan sendirian karena Aldebaron sudah mengumpulkan beberapa bangsawan dengan pelayannya yang sudah siap untuk bertarung melawan seekor Eldritch, ia hanya bisa mengandalkan Lavia dan Gienka karena mereka memiliki pengalaman yang sangat besar dibandingkan dengan bangsawan dan pelayan yang baru saja memulai tugas ini.


"Apa kau membutuhkan sesuatu dariku, Aldebaron? Apa tentang Camellia?" Tanya Vania.


"Tentu saja, kali ini adalah urusan yang sangat penting untuk dirimu karena beliau ingin mengatakan sesuatu sebelum waktu kehidupannya benar-benar berakhir. Menurut prediksi yang ia rasakan, satu minggu lagi adalah batas hidupnya." Kata Aldebaron, Vania melebarkan kedua matanya lalu ia bergegas masuk ke dalam ruangan Camellia berada, Aldebaron hanya bisa diam dan ia mulai mengikuti dirinya dari belakang.


Vania masuk ke dalam ruangan Camellia dan ia merasakan hawa yang sangat menyengat di hidungnya karena ia bisa merasakan kehidupan Caemellia yang terhapus secara perlahan sehingga sebagian tubuhnya itu sudah berubah menjadi asap lalu menciptakan debu hitam, Vania hanya bisa meraih lengan kiri Camellia dengan sangat erat sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat sedih karena ia sudah merasa nyaman dengan ibunya yang baru, seorang ibu yang memperlakukan anaknya dengan benar.


"Vania... sudah... lepaskan lah... lepaskan semua rasa... sedih... yang kau rasakan... semua ini... memang harus... terjadi... waktu kehidupanku... tidak lama lagi..." Kata Camellia, suaranya sekarang terdengar tidak jelas sehingga Vania hanya bisa diam sambil meneteskan beberapa air mata melalui kedua matanya, Camellia menunjukkan senyumannya lalu ia mengusap pipi Vania menggunakan jarinya.


"Vania... dengar... kau... kau benar-benar... seorang gadis... angkat... yang pantas untuk... melanjutkan... bangsawan Camellia... dengan... kekuatan Bloodyoku... yang kau miliki... kau... sudah berkembang banyak... sudah saatnya dirimu... untuk melawan kelemahan yang kau miliki itu... sebelum kau... memiliki takdir yang sama sepertiku... terpaksa untuk menyegel musuhmu sendiri..." Camellia terus memaksakan dirinya untuk mengeluarkan suaranya, Vania bisa melihat tubuh Camellia yang perlahan-lahan berubah menjadi debu.


Aldebaron hanya bisa diam, entah kenapa ia tidak bisa menunjukkan emosinya karena ini adalah kejadian yang benar-benar penting untuk Vania agar ia bisa berkembang dan siap untuk menghadapi latihan untuk mengalahkan kelemahan terbesar yang ia miliki, melawan kelemahan itu juga memiliki resiko yang dapat membunuh dirinya sendiri.


"Ibu..." Vania menempati tapak Camellia di pipinya sehingga ia bisa merasakan debu yang menyentuh pipinya, ia menatap kembali tapak yang ia raih lalu tercengang ketika melihat tapaknya berubah menjadi debu karena ia tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, "20 tahun ini... benar-benar... menyenangkan... aku tidak menyangka... akan bisa bertahan selama 20 tahun... mungkin semua ini disebabkan olehmu Vania... kamu adalah takdir... kamu adalah pembawa harapan untuk kita... bangsawan Camellia... terutama umat Vampir..."


"Sekarang... kau tidak memiliki banyak waktu... kau harus... melaksanakan latihan itu sekarang juga... teruslah... sempurnakan latihan itu... kalahkan kelemahan... kalahkan takdir yang sudah memberi kelemahan itu kepada kita..."


"...kuatkanlah dirimu dari segala cahaya dan kelemahan yang dimiliki oleh Vampir...!" Seru Camellia sehingga ia memejamkan kedua matanya untuk beristirahat, Vania hanya bisa diam karena ia tidak terlalu bisa menangis tersedu-sedu, terakhir ia melakukannya ketika bersama Lavia dimana ia mendapatkan makanan yang cukup lezat.


Aldebaron mulai mendekati Vania lalu ia menepuk kedua bahunya karena ia sudah bersedih untuk melatih bangsawan seperti dirinya, "Bagaimana, Vania? Maukah kau memulai latihan itu sekarang? Aku mengetahui sebuah tempat yang selalu di gunakan oleh nona Camellia tetapi latihan itu terlambat bagi dirinya, waktu yang kita miliki sekarang dan kesempatan besar yang kita punya... mari kita gunakan itu."


"Apakah aku harus melatih diri untuk tidak terbunuh dari sinar cahaya dan kesucian?" Tanya Vania.


"Begitulah, mari..."


"Baiklah..."