The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 12 - Ini adalah Pengakhiran



"Uwaaaagggghhhh!!!'


Pria itu menjerit keras ketika ia kehilangan tubuh bagian bawahnya, perutnya sekarang mengeluarkan banyak darah dan organ-organ, ia masih bisa bertahan hidup karena Vampir mampu bertahan walaupun anggota dan organ mereka hilang. Vampir itu hampir bisa disebut setengah abadi dan mereka bisa saja menjadi abadi jika berusaha lebih keras lagi, tubuh yang hilang itu dapat kembali jika Vampir itu menghisap darah seseorang.


Pria itu tidak menyangka bahwa Vania memiliki kemampuan Bloodlust yang cukup mengerikan bahkan sampai membuka kemampuan kuat lainnya yang bernama [Bloodlust Crunchie], dia dapat memakan seseorang dari jarak yang jauh hanya dengan menggerakkan mulutnya, tubuh bagian bahwa pria itu saat ini sudah berada di dalam mulut Vania karena ia saat ini sedang mengunyah-nya dengan wajah yang terlihat suram dan lelah.


"Dasar... dasar gadis tidak tahu diri!!! Kenapa kau memakan-ku!? Itu tindakan anak yang belum pernah di ajarkan oleh kedua orang tuanya...!!!"


Pria itu mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal bahkan Vania tersenyum lalu menelannya, tubuhnya diselimuti dengan aura merah karena Bloodlust itu meningkatkan seluruh kekuatan dan ketahanan fisiknya yang kecil itu, ia mulai tertawa terbahak-bahak karena perkataannya itu, justru dia bisa menjadi seperti ini karena asuhan mereka berdua yang selalu menghukum dan menyiksanya.


"Ayah-Ayah... kamu tidak mengerti ya...? Siapa yang mengubah-ku seperti ini...? Apa yang aku lakukan itu murni dari bangsa Vampir loh, melawan itu wajib bagi Vampir yang mencoba untuk melecehkan dan membunuh Vampir lainnya. Lagi pula Ayah sendiri yang pergi dan mencoba untuk melakukan sesuatu kepadaku..." 


Vania mengatakan seperti itu dengan datar walaupun itu tadi tertawa seperti seorang gadis yang jahat, ia melihat pria itu kesal sampai ia melayang dan mencoba untuk menghisap darahnya tetapi ia tidak bisa melakukan apapun karena Vania menggunakan kemampuan yang sama dimana mulutnya melepaskan aura merah yang berbentuk seperti mulut dengan taring tajam.


"Aaamm..." 


Pria itu sudah terbunuh karena Vania berhasil memakan semua tubuhnya tanpa menyisakan sedikit organ atau tubuhnya, ia mulai mengunyah-nya lalu menarik kembali kapak yang terletak di atas tanah. Ia tidak terlalu peduli dengan keluarganya yang sudah rusak, lebih baik ia melaksanakan tugasnya saja untuk melindungi umat Vampir dari para Eldritch. Vania menelan daging yang berada di dalam mulutnya lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu untuk mencari Eldritch.


Vania sempat menangis kembali karena ia sudah lelah dengan kehidupan di sekitarnya, ia bisa saja tidak mempercayai seseorang yang ia temui. Ia hanya menangis dalam waktu yang singkat dan kembali terpengaruh dengan Bloodlust yang ia miliki sehingga ia terbang tanpa harus beruabah menjadi kelelawar. Ketika ia melihat seekor Eldritch maka ia akan langsung memakannya menggunakan [Bloodlust Crunchie].


Vania melihat banyak Eldritch tetapi mereka masih berada di bawah tingkatan rendah, tingkatan rendah itu berbahaya untuk Vampir yang tidak berpengalaman dalam bertarung melawan Eldritch itu sendiri, di tambah lagi mereka itu cukup menyebalkan jika menyerang desa karena jumlah mereka dan kemampuan yang mereka miliki seperti berubah bentuk dan memakan semua Vampir itu secara langsung.


Vania tidak bisa menggunakan [Bloodlust Crunchie] selama berlebihan karena membutuhkan proses untuk kemampuan tersebut mengunyah lawan yang baru saja ia makan jadi Vania menyerang menggunakan kapak yang ia pegang sampai lubang itu mulai bergetar dan membuat daratan serta tembok menjadi retak. Ia menghabiskan waktu selama berjam-jam tanpa beristirahat karena darah yang mereka miliki memberi dirinya tambah tenaga.


Ia bisa terus bertambah kuat jika membasmi seluruh Eldritch tingkat rendah itu sendirian, Vania sampai mendengar beberapa Vampir yang berada di luar permukaan terlihat ragu karena daratan selalu saja bergetar, mereka pikir bahwa itu adalah perbuatan para Eddritch tetapi mereka seharusnya tahu bahwa terdapat seorang pembasmi di dalam sana yaitu Vania.


Bloodlust itu benar-benar membantu Vania, ia semakin mahir dalam bertarung dan bertahan hidup. Ia sendiri bisa saja memiliki julukan sebagai seorang [Eldritch Slayer] jika seseorang mengetahui apa yang sedang ia lakukan sekarang, ia terus membasmi seluruh Eldritch di setiap ruangan dan lantai. Ia sendiri melawan Eldritch tingkat atas dengan hanya memakannya lalu mengeluarkannya lagi karena tubuh Eldritch itu terlalu keras untuk dikunyah.


Vania menghabiskan banyak waktu di dalam lubang itu dan tidak pernah keluar, Lavia sendiri mulai khawatir karena ia tidak pernah bertemu dengan Vania selama dua minggu. Beberapa hari yang lalu, Ibu Lavia baru saja memberitahu dirinya bahwa ia akan pergi berkunjung ke tempat Ayahnya yang saat ini sedang berada di Yuusuatouri jadi Lavia harus tinggal sendiri di dalam rumahnya, memikirkan Vania yang pergi entah kemana.


Lavia terbang dengan kecepatan yang cukup tinggi, ia bisa melihat setiap ruangan dan lantai sudah aman, ia bahkan tidak melihat satupun Eldritch yang berkeliaran. Tidak menghabiskan waktu yang cukup lama sampai Lavia menemukan Vania yang sedang duduk di atas tanah sambil beristirahat, Vania menoleh kepada Lavia lalu terkejut karena ia bertemu kembali dengan sahabatnya dalam waktu yang cukup lama.


"Vania...!!!"


"L-Lavia...?"


"Vania!!!" Lavia menghampiri Vania lalu ia memeluk dirinya dengan sangat erat karena ia benar-benar merindukan sahabatnya itu. Vania merasa bersyukur bahwa Lavia masih mengingat dirinya, entah kenapa Lavia hanya seorang Vampir yang dapat ia percayai sepenuhnya karena dia selalu saja mencari dan mengejar dirinya kemana saja ia pergi.


"Syukurlah, selama ini kamu berada di tempat ini ya. Aku senang kamu masih hidup, setidaknya kamu beritahu aku alasan kenapa kamu tidak pernah lagi bertemu denganku di akademi..."


Vania merasa bersalah ketika ia mendengar suara Lavia yang terdengar sedih bahkan ia juga melihat dirinya yang menangis, Vania tersenyum kecil lalu ia memeluknya kembali dan memberitahu dirinya bahwa ia merindukan-nya juga. Kedua sahabat kembali bertemu kali ini mereka akan melaksanakan tujuan, Vania baru saja mendengar pembicaraan Lavia tentang ibunya yang akan pergi dalam waktu yang cukup panjang.


Lavia tidak menolaknya karena ia akan melaksanakan petualangan yang panjang bersama Vania, untungnya ia sekarang bertemu dengannya jika tidak maka ia akan merasa bosan di rumahnya. Vania meminta maaf seperti biasanya bahkan ia menunjuk sebuah tembok yang tercipta dari darah, ia memberitahu Lavia bahwa di balik tembok itu terdapat Eldritch kuat dan mengerikan yang tidak bisa ia lawan sendirian.


"Aku sudah lama tidak mendengar cerita darimu, entah kenapa aku merasa lebih tenang dan percaya bahwa kita berdua bekerja sama untuk melawan Eldritch itu pasti bisa. Bagaimana, Lavia? Apakah kamu ingin memulai tugas sebagai anggota The Black Messiah sekarang juga?"


"Tentu saja, aku sudah mempelajari banyak hal di akademi, mungkin pengalaman dan pengetahuanku cukup untuk membantu kita bertarung melawan Eldritch tersebut. Aku yakin kamu juga sudah bertambah kuat karena menghabiskan waktumu di sini hanya untuk membasmi seluruh Eldritch itu."


"Kalau begitu kita sudah sepenuhnya siap, mari kita saling bekerja sama dan melindungi." 


Vania kembali bangkit lalu mereka berdua mulai setuju untuk melawan langsung Eldritch yang berada di balik pintu itu, mereka sudah mempersiapkan diri mereka bahkan Vania sempat menunjukkan beberapa kemampuan yang ia dapatkan, semuanya terlihat lebih kuat dari sebelumnya bahkan Lavia tidak ingin kalah sehingga ia menunjukkan kemampuannya juga kepada Vania.


"Baiklah, mari kita mulai."


"Ayo!"