The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 45 - Memulai Kehidupan yang Bahagia



"Aku benar-benar terkejut bahwa kamu akan terlihat seperti seseorang yang baru saja mengalami hidup hitam putih... sangat berbeda dengan sekarang, aku melihat hidup berwarna-warni di dalam dirimu tetapi aku yakin semua itu kau tunjukkan untuk membuat diriku tenang, kau tidak mau aku merepotkan dirimu lagi ya... intinya aku mengetahui semuanya, Vania." Lagi-lagi perkataan Elvano membuat Vania terdiam tetapi matanya terbuka lebar karena kepalsuan bisa dilihat jelas oleh dirinya yang begitu peka.


"Kamu pernah bilang dulu ketika bekerja sama denganku... tidak, setiap kita bersama kamu selalu saja mengatakan sesuatu yang berbeda setiap saatnya. Itu benar-benar berat karena banyak yang harus kita lakukan waktu itu sampai tidak ada waktu untuk ini dan itu, setidaknya apa yang kita lakukan dulu itu adalah kenangan kita yang benar-benar bermanfaat..."


"...ya, aku sendiri bahkan tidak memiliki waktu untuk berpikir tentang perasaan yang kau selalu rasakan, aku sendiri membenci diriku untuk tidak menerima kenyataan. Semua masalah yang kita hadapi ini benar-benar berat ya, masih bersyukur untuk memiliki kehidupan yang kita genggam saat ini. Entah kenapa semua kenangan yang kita alami ini benar-benar menyenangkan bahkan aku sampai melupakan semua beban dan masalah yang selalu kita urus."


"Mungkin... itu ketika aku menyadari bahwa diriku benar-benar mencintai dengan sesosok Vampir yang bernama Vania Von Camellia." Pelukan Elvano terasa semakin erat, Vania hanya bisa diam karena semua perasaan yang ia miliki dan ekspresi yang ia gunakan, semuanya diketahui dengan mudah oleh Vania, "Elvano, apakah kau membenci diriku dengan semua perasaan dan sikap yang selalu berubah? Membenci diriku yang sudah seperti ini."


"Tentu saja tidak. Aku mencintai dirimu apa adanya, semuanya aku terima tetapi... aku ingin kamu memperlihatkan jati dirimu yang sebenarnya, semua sikap dan perasaan yang kau miliki jika bisa campur menjadi satu. Aku mencintai dirimu secara keseluruhan, semuanya. Itulah kenapa, kamu tidak perlu mengatakan sesuatu yang menyedihkan, lebih baik kamu melupakan semua beban yang kamu rasakan saat ini, aku tidak ingin kamu menghilang dan mengalami depresi sampai beberapa sikap dan perasaanmu hilang begitu saja."


"Aku ingin kamu memarahi diriku atau melakukan sesuatu yang bercantum dengan disiplin agar aku bisa meningkat menjadi lebih kuat dan hebat lagi. Itu yang aku ingin katakan kepada dirimu." Vania mengepalkan kedua tinjunya ketika mendengar perkataan tersebut, Elvano kaget melihat suara Vania yang terasa berat seperti ingin marah, "Kenapa kamu mengatakannya? Kenapa kamu memberitahuku itu...?"


"Vani---" Elvano melebarkan matanya ketika Vania melepaskan pelukan itu lalu ia menghadapi dirinya untuk memberikan satu serangan pukulan yang mengenai perutnya, serangan itu terasa dan Vania sendiri tidak cukup menyerang dirinya dengan satu serangan karena ia melanjutkan serangan lain dengan menendang perutnya lalu ia menjatuhkan dirinya dengan melakukan tendangan salto yang mengenai dadanya sampai ia terjatuh di atas lantai.


Vania duduk di atas dada Elvano lalu ia menarik kerah bajunya beberapa kali dengan air mata yang sudah mengalir deras, Elvano sontak kaget ketika melihat dirinya ingin menunjukkan jati dirinya yang asli, semua perasaan dan sikap yang lepas sehingga menjadi satu yaitu Vania yang mencoba untuk menahan rasa sedihnya sekarang tidak bisa melakukannya, "Apa yang kau inginkan dariku!? Apa yang kau inginkan...!? Aku mencoba untuk bersikap senang dan memiliki kehidupan berwarna karena kau menyuruhku seperti itu dulu!"


"Syukurlah... mungkin ini Vania yang benar-benar asli, bukan Vania yang masih terbelah-belah... ternyata kamu belum sepenuhnya menghilang dan tergantikan menjadi Vania yang benar-benar, Vania yang sangat aku cintai dan ingin lindungi sampai akhir hayat hidupku... " Apa yang Elvano katakan membuat Vania semakin merasa sedih sampai ia terharu, air matanya mengalir deras dan sudah lama sekali ia tidak menangis seperti itu, ia memeluk Elvano erat lalu mengeluarkan teriakan yang keras untuk melampiaskan semua rasa sedih itu.


Elvano tersenyum lalu ia memberi dirinya sebuah pelukan yang hangat, pelukan itu membuat Vania menatap dirinya dengan tatapan yang terlihat seperti mengancam, entah kenapa Elvano merasa takut ketika melihat dirinya seperti itu, ia menggerakkan kedua tangannya dan Elvano langsung memejamkan kedua matanya karena ia takut Vania akan melakukan sesuatu yang kasar kepada dirinya itu.


Ternyata ia salah karena dirinya dikejutkan dengan ciuman lainnya oleh Vania, kali ini ia meraba kedua pipinya lalu memberikan Elvano ciuman bibir yang lama bahkan taringnya mulai menyentuh bibirnya sampai berdarah, ia ingin menghisap darah miliknya karena sudah lama tidak mencicipinya, ciuman itu tidak lama kemudian berakhir dengan darah yang masih mengalir di bibir Elvano tetapi Vania membersihkan-nya dengan menjilat-nya.


"Apakah itu membuat dirimu tenang...? Sudah yakin 'kan...?"


"Entah kenapa... mungkin jika memberi diriku hisapan dan ciuman satu lagi, mungkin aku bisa merasa lebih tenang karena sudah melihat dirimu menangis..." Vania langsung menarik hidung Elvano sambil menunjukkan ekspresi kesal, "Bodoh... jangan terbawa suasana karena aku akan mencoba untuk mengubahnya menjadi lebih baik..."


"Kita dapat mengubah semua kehidupan kita... memperbaiki dirimu yang selalu lari dari kenyataan dan memperbaiki diriku yang memiliki masa kelam dalam kehidupan ini... aku tidak marah sama sekali dan aku juga benar-benar mencintai dirimu karena sudah mau mengubahku, entah kenapa semua ini cukup terlambat untuk mengatakannya tetapi... aku juga mencintai dirimu, benar-benar mencintai dirimu, Elvano." Kata Vania sambil memandang arah lain, Elvano tersenyum melihat pacarnya yang malu-malu seperti itu.


"Sekali lagi kamu mendekati gadis lain... aku tidak akan memaafkan dirimu dan mereka, mereka aku bunuh dan kamu aku hukum... mengerti? Sekarang kita mulai kontrak lainnya, aku tidak akan mencintai siapapun kecuali Vania dan aku akan memberi semua rasa cintaku kepadanya untuk selama-lamanya." 


"Aku tidak akan mencintai siapapun kecuali Vania dan aku akan memberi semua rasa cintaku kepadanya untuk selama-lamanya! Aku berjanji!" Seru Elvano keras, Vania tersipu lalu ia baru saja mengingat tentang topik yang ia bahas tadi, saking malu-nya ia mulai menutup wajahnya di dada Elvano lalu kembali mengatakan soal topik sebelumnya, "Soal itu... mengubah semua kehidupan kita... apakah kamu mengerti...?"


Vania mengumpulkan semua keberanian terakhirnya lalu ia menatap Elvano dengan tatapan yang terlihat malu bahkan wajahnya benar-benar merah, "A-Aku mau...! Aku mau kita... membuat sebuah kehidupan... walaupun semua kehidupan yang kita rasakan ini sudah berjalan dengan seharusnya, setidaknya kita dapat mengubahnya dengan mengubah yang baru! Kita buat kehidupan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan."


Elvano melebarkan matanya, ia mengerti apa yang Vania maksud sehingga ia melebarkan matanya ketika Vania mengangkat tubuhnya lalu melepas dasi kupu-kupu yang ia gunakan, wajahnya mulai bertambah merah karena ia tidak menyangka Vania akan memintanya secara langsung, "Aku ingin... aku ingin sekali mengubah semuanya dengan cepat... kamu juga pasti mau 'kan, Elvano...?"


Vania mengusap perutnya, "aku mau... aku mau kehidupan... yang bisa kita ubah menjadi sesuatu yang berbahagia..." Vania perlahan-lahan melepas kancing Elvano dan ia tidak bisa melakukan apapun kecuali menurut karena ia terlihat cukup agresif juga, dirinya yang asli benar-benar menyeramkan bagi Elvano tetapi setidaknya semua ini adalah perasaan Vania yang asli.


"Baiklah... aku akan memberi dirimu kehidupan itu jika kamu mau..." 


"Jangan kasar-kasar ya..."


"Baiklah..."


***


Lavia saat ini sedang menikmati satu cangkir teh sambil memperhatikan Yuffie yang sedang merajut bajunya, entah kenapa ia merasa khawatir dengan Vania yang saat ini pergi entah kemana. Selvia dan Yusa tadinya menanyakan tentang Vania kemana ia pergi tetapi Lavia tidak mengetahuinya, Haruki mulai mendekati mereka hanya untuk mengambil satu cangkir teh dan menanyakan Vania, "Lavia, apakah kau melihat Vania?"


"Hari ini kok banyak sekali yang menanyakan tentang dirinya ya? Aku tidak tahu dia pergi kemana tetapi aku baru saja melihat dirinya pergi bersama Elvano entah kemana---" Lavia terkejut ketika melihat Haruki yang salah tingkat untuk sesaat karena ia dapat merasakan keberadaan siapapun dengan jelas karena dia adalah seorang Legenda, ia tahu bahwa Vania dan Elvano saat ini sedang berada di dalam kamar, "Ohh, aku mengerti sekarang, mereka sepertinya sedang menghabiskan waktu bersama."


"Biarkanlah mereka, sudah lama sekali kedua cinta yang belum terungkapkan itu bersama..." Lavia melanjutkan aktivitasnya dengan meminum teh dan melihat Yuffie yang hampir menyelesaikan pakaian yang pas untuk Vania kenakan ketika ia bertarung nanti.


"Cinta ya... hmm..."


"Oh wow!!! Jadi-jadi!!! Lihat, teman-teman! Pakaian yang aku buat untuk Vania nanti!" Mereka melihat pakaian yang dibuat oleh Yuffie benar-benar imut, dengan warna hitamnya itu sepertinya sudah cocok untuk Vania kenakan, "Wahhh!!! Pakaian yang sangat kecil dan pantas untuk Vania yang kecil, hebat sekali Yuffie... kamu tidak pernah mengecewakan tentang pakaian."


"Hm~ Hm~ Umu~ Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan talentaku dalam merajut pakaian apapun." Yuffie menggerakkan pakaian itu dan sepertinya ia akan memberikannya nanti ketika bertemu dengan Vania lagi.


"Baju gothic loli hitam ya..."