
"The Black Messiah."
"Wahhh, itu nama yang bagus! Baiklah, The Black Messiah... itu adalah organisasi yang akan mengubah bangsa Vampir, kita harus mengubah dunia bersama Vania menjadi sesuatu yang lebih baik untuk bangsa kita sendiri." Lavia mulai menggenggam erat kedua tangannya sambil tersenyum, Vania mengangguk lalu sekarang ia setuju dengan pilihan nama itu yang terdengar cukup keren.
Mereka kembali menghabiskan waktu selama berjam-jam sehingga mereka melupakan soal waktu dan tidur, Vampir tidak wajib untuk melakukan aktivitas seperti tidur karena dunia mereka ini selalu malam. Tidak lama kemudian, waktu untuk pergi ke akademi sudah tiba dan mereka bersiap-siap untuk pergi menuju akademi.
Kali ini Vania tidak diganggu karena dirinya dilindungi oleh Lavia dari depan, entah kenapa hari ini terasa cukup menyenangkan bagi Vania karena tidak ada satupun orang yang mencoba untuk menyakiti dirinya lagi atau mengubah suasana hatinya yang sedang tenang ini. Pelajaran kali ini dipenuhi dengan pembahasan tentang Eldritch, mungkin penyebabnya karena kemarin dimana mereka menyerang secara tiba-tiba.
Eldritch juga dikatakan memiliki kemampuan yang aneh dan bermacam-macam, mereka semua harus bisa berhati-hati sehingga Vania menulis semua yang dibicarakan oleh guru itu di buku kecil yang selalu ia simpan di dalam sakunya. Beberapa menit kemudian, bel istirahat mulai berbunyi dan Lavia mengajak dirinya untuk makan siang di tempat yang aman karena ia membawa bekal yang disediakan oleh ibunya sendiri.
Mereka makan siang dengan damai, Lavia bisa melihat Vania yang bekerja keras karena ia ingin meningkatkan kemampuannya sendiri sampai ia tadi berkunjung ke perpustakaan untuk mencari buku sejarah tentang Eldritch yang berjumlah lebih dari seratus bab. Vania bisa melihat berbagai macam Eldritch dan sebagian yang ia baru saja baca yakin bahwa para Vampir tidak akan bisa terlalu lama bertahan ketika mencoba untuk melawan Eldritch yang berada di tingkatan berbeda.
Hari ini Vania menghabiskan waktu yang cukup menyenangkan tetapi ketika ia menginjak kembali rumahnya maka suasana pasti akan terasa suram untuk dirinya, akademi telah dibubarkan dan semua Vampir pergi meninggalkan akademi. Lavia melambaikan tangannya kepada Vania lalu mereka mulai berpisah, andai saja Vania di adopsi oleh keluarga Lavia maka ia bisa memiliki motivasi besar untuk menjalankan tujuannya.
Zintania adalah beban yang cukup besar bagi dirinya, ia sudah muak melihat ibunya yang selalu memperlakukan dirinya buruk. Vania tiba di hadapan rumahnya lalu ia mengetuk pintu sehingga Zintania membuka itu sambil tersenyum, ia mulai menyilangkan kedua lengannya dan Vania hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya karena ia merasakan sebuah hukuman yang akan melanda dirinya.
"Aku pulang... maaf lama, aku---"
Zintania langsung menampar wajahnya cukup keras, Vania tidak merasakan apapun ketika terkena tampar itu karena ia sudah terbiasa dihukum seperti ini ketika pulang terlambat. Zintania bahkan memberitahu dirinya bahwa ia akan di hukum karena sudah melanggar aturan dalam ikut campur dengan urusan Vampir yang membasmi Eldritch, intinya dia melupakan soal Vania yang pernah menyelamatkan hidupnya kemarin dari Eldritch yang mencoba untuk memakan dirinya hidup-hidup.
"Nyawa kami tidak perlu di selamatkan oleh dirimu, Vania. Apa yang kau lakukan kemarin hanya membahayakan kehidupan-mu itu dan itu adalah salah satu peraturan yang kau harus ikuti, jangan sampai kau ikut campur dan melukai dirimu! Ayah-mu yang baru ini sudah akan menyelamatkan kita tetapi kau datang untuk menyelamatkan kami." Apa yang baru saja Zintania katakan benar-benar tidak masuk akal, dia saat ini terlihat kesal dan ingin sekali melampiaskan-nya kepada Vania yang awalnya terlihat bersinar.
"Kau berhak diam dan tetap mematuhi peraturan yang aku sediakan untuk-mu atau kau lebih memilih tubuhmu aku jual saja di pasar gelap!?"
"Maaf..."
"Wah, wah, wah, ada apa ini? Apakah dia anakmu yang selalu membuat dirimu kesal, Zintania?" Tanya seorang pria yang menghampiri dirinya dari belakang, Zintania mengangguk dan memberitahu-nya bahwa seorang laki-laki yang memberi Vania di kandungnya sudah pergi entah kemana dan tidak pernah kembali, hal itu membuat dirinya kesal sehingga perasaan itu ia melampiaskan-nya kepada Vania.
"Malang sekali ya, anak ini." Zintania berhenti menginjak-nya lalu pria itu mulai membantu dirinya untuk berdiri, Vania menatap pria itu dengan tatapan yang terlihat datar karena ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini.
"Gadis yang malang ya, apakah masih ada banyak hukuman untuknya?"
"Tentu saja, aku akan memaksa dirinya memakan sesuatu yang dapat membuat dirinya muntah darah." Zintania pergi menuju dapur untuk mengambil sesuatu untuk Vania tetapi Vania tidak diam saja karena ia mengingat perkataan Lavia bahwa kesabaran itu pasti ada batasnya, selama mungkin kau menahannya maka kau hanya akan merasakan rasa kesal yang berlebihan.
Vania melarikan diri dari pria itu, pria itu mencoba untuk mengejarnya tetapi ia terjatuh karena sebuah tapak hitam yang menjatuhkan dirinya. Hujan darah yang deras mulai turun, membasahkan tubuh Vania sampai basah kuyup tetapi ia tidak peduli karena ia ingin mencari tempat tinggal barunya, ia juga tidak ingin merepotkan Lavia jadi ia memiliki untuk melarikan diri dan mencari tempat tinggal yang cukup aman untuk dirinya bertahan hidup,
Hujan itu semakin besar sehingga menimbulkan angin yang cukup besar, Vania tidak bisa memikirkan tempat lain kecuali lubang yang dijadikan sebagai sarang Eldritch itu. Vania menemukan lubang besar yang ia hancurkan dengan kapak-nya itu, ia masuk ke dalam lubang itu lalu tiba kembali di sebuah ruangan yang mempertemukan dirinya dengan senjata kuat-nya itu.
Tubuh Vania mulai bergetar kedinginan, ia duduk di atas tanah sambil bersandar di belakang tembok. Ia tidak bisa memikirkan apapun jadi dia hanya bisa diam sampai tubuhnya kembali hangat, ia tidak bisa menangis bahkan menunjukkan ekspresi apapun karena Zintania sudah menghukum dirinya terlalu berlebihan sampai ia memberanikan dirinya sendiri untuk melarikan diri.
Vania menghabiskan waktu selama berjam-jam di ruangan itu sehingga ia melihat beberapa Eldritch masuk untuk memakan dirinya, Bloodlust Vania kembali aktif lalu ia menarik kapak-nya yang ia simpan di pinggangnya dan setelah itu ia membunuh mereka semua dengan cepat lalu memakan mereka hidup-hidup karena ia tidak bisa menahan lapar dan nafsu untuk meminum darah. Ia melanjutkan perjalanannya untuk mengunjungi setiap ruangan yang terdapat Eldritch.
Vania menghabiskan waktu berjam-jam membasmi semua Eldritch itu sendirian walaupun dia sudah terluka beberapa kali, dengan bantuan dari Bloodlust yang ia miliki... dia dapat berkembang sampai kemampuan Vampir yang dapat memulihkan dirinya sendiri berkembang pesat, luka yang ia rasakan tidak bisa disamakan dengan kesakitan yang lebih pedih yaitu di dalam hatinya. Ia terus membunuh semua Eldritch itu dengan tubuh yang sudah terkena tebas, gigit, tusuk, dan lain-lain.
Semua rasa sakit yang ia rasakan itu tidak sebanding dengan siksaan Ibu-nya, ia tidak bisa bertarung cukup lama karena ia sendiri memiliki batasan juga sehingga ia mulai berhenti memburu semua Eldritch itu, ia duduk di atas tanah dan bersandar di belakang Eldritch empuk yang baru saja ia bunuh. Kapak-nya dipenuhi dengan darah dan tubuhnya sendiri dikotori dengan darah dan nanah.
"Hah... hah... hah... pada akhirnya aku kelelahan bertarung melawan mereka semua, luka-luka ini seperti bisa aku jadikan pengalaman karena semua Eldritch yang bersembunyi di dalam lubang ini dipenuhi dengan tingkat biasa, aku ingin mencari tantangan yang sebenarnya...." Vania menatap ke atas lalu ia memejamkan kedua matanya untuk memulihkan tenaganya yang benar-benar hilang.
"...aku ingin mengubah bangsa Vampir."