The Black Messiah

The Black Messiah
TBM 8 - Bloodyoku



Lavia saat ini sedang menggunakan kemampuan Vampir-nya untuk mengubah semua darah kering itu menjadi darah segar lalu ia mengubah semua darah itu menjadi gumpalan bulat yang terlihat cukup lezat sampai ia meminumnya satu, darah yang benar-benar berkualitas berkat bantuan kemampuannya yang dapat meningkatkan kualitas darah apapun. 


Vania hanya menatap semua logam itu lalu ia menyentuhnya sehingga logam itu mulai dipenuhi dengan garis dan motif yang berwarna merah bahkan ia sendiri bisa melihat garis-garis itu memancarkan cahaya merah, terlihat cukup indah sampai hal itu menarik perhatiannya secara keseluruhan terutama Bloodlust yang ia miliki karena bisa merasakan sesuatu di dalam logam itu sehingga ia mengumpulkan semua serpihan logam tersebut.


Lavia bias melihat ruangan ini dipenuhi dengan Eldritch yang sudah mati dibasmi, kemungkinan besar Eldritch itu sendiri adalah ruangan-nya karena ketika ia mencoba untuk meningkatkan kualitas daging kering yang masih terdapat darah busuk di dalamnya, ia bisa melihat tembok itu mulai diselimuti dengan daging segar, Vania seperti biasanya memakan semua itu karena Bloodlust-nya merasakan darah segar itu.


Mereka baru saja selesai melakukan tugas mereka, tidak memakan waktu yang lama dan Vania segera meminum semua gumpalan darah yang dikumpulkan oleh Lavia. Lavia melihat Vania yang baru saja mengumpulkan logam yang terlihat baru dan bersih, ia menyentuh logam itu sehingga ia bisa merasakan darah yang berjumlah besar di dalam logam itu. Lavia berhenti menyentuhnya karena logam yang baru saja ia pegang membuat kepalanya pusing untuk sesaat.


"Jangan menyentuh itu, itu bukan logam biasa melainkan logam yang sudah diselimuti dengan berbagai macam darah. Hanya Vampir yang memiliki Bloodlust tinggi dapat menyentuhnya tanpa merasa pusing." Vania menyentuh logam tersebut sehingga semua logam itu mulai memancarkan cahaya merah, awalnya ia merasa pusing tetapi Bloodlust yang terdapat di dalam dirinya membantu Vania untuk terbiasa dengan logam itu.


"Ahh... kalau tidak salah, guru pernah memberitahu kita bahwa lubang ini penuh dengan sejarah. Ruangan ini sebenarnya Eldritch tetapi seorang Vampir yang awalnya memegang senjata berdasarkan logam itu datang untuk mengalahkannya, hasilnya mereka kalah dan mati sehingga logam itu hancur menjadi kepingan kecil ketika sang pengguna sudah mati." 


Dahulu kala, terdapat seekor Eldritch yang memiliki ukuran tubuh besar bahkan ia dapat mengubah dirinya menjadi ruangan apapun itu sehingga makhluk tersebut pernah menyerang desa tempat tinggalnya untuk memakan beberapa Vampir dan melarikan diri sehingga seorang Vampir berani yang terlihat unik dan berbeda datang menghampiri sarang para Eldritch untuk menyerang. Sepertinya setiap lantai yang dimiliki lubang ini memiliki Eldritch yang berbeda, entah apa yang tinggal di lubang paling dalam.


"Sayang sekali ya, dia sudah mati tetapi setidaknya jiwanya seperti seorang pahlawan karena ingin menghentikan semua teror yang disebabkan oleh Eldritch, setidaknya perjuangannya tidak sia-sia karena desa kita tidak terlalu diserang oleh banyak Eldrith." Vania memejamkan kedua matanya lalu ia menyentuh semua logam itu sehingga Lavia bisa melihat semua serpihan logam itu mulai diselimuti dengan darah.


"K-Kamu tidak bermaksud untuk melakukannya bukan...? Logam itu berbahaya loh, apakah kau tidak membaca atau mendengarkan penjelasan guru tentang senjata yang memiliki nama [Bloodyoku], logam yang terbuat dari darah segar dicampur dengan besi sehingga besi itu akan bertahan untuk selama-lamanya sehingga senjata yang terbuat dari besi tidak akan bisa hancur, satu-satunya cara untuk menghancurkan senjata itu dengan membunuh penggunanya sendiri."


"Aku pernah mempelajari-nya beberapa kali, hanya saja semua serpihan logam ini penting, Lavia. Aku memiliki Bloodlust paling tinggi dan kuat sehingga aku dapat menciptakan Bloodyoku-ku sendiri, sebenarnya aku ingin menyelamatkan bangsa Vampir dan menghancurkan seluruh Eldritch yang ada." Logam itu mulai berubah menjadi merah sehingga tubuh Vania diselimuti dengan aura merah karena ia benar-benar melakukan ritual untuk menciptakan senjata baru yang bernama [Bloodyoku].


Vania mengetahui semuanya karena ia sangat teliti mendengarkan penjelasan gurunya terutama membaca buku yang menceritakan seorang Vampir hebat yang memiliki Bloodlust tinggi rela melindungi umat Vampir dari segala bahaya juga mencegah perang sesama bangsa, [Bloodyoku] ini setidaknya dapat membantu Vania untuk bisa bertarung dengan benar karena ia tidak memiliki senjata untuk bertarung, senjata yang ia gunakan selalu mudah hancur.


Lavia terkesan ketika melihat Vania yang benar-benar melakukannya, tujuan yang selalu ia bicarakan sejak kecil, ia tidak menyangka untuk melihat seorang Vampir yang memiliki Bloodlust tinggi tetapi masih bisa disebut sebagai Vampir normal yang memiliki hati, setidaknya Lavia senang melihat Vania ingin melakukan tujuannya itu dengan caranya sendiri. Membunuh atau mengampuni itu semuanya adalah pilihan yang harus Vania tentukan.


Vania mengangkat kedua lengannya ke atas sehingga semua logam itu mulai membentuk sebuah senjata, pembentukan senjata itu tidak bisa Vania kendalikan jadi ia hanya perlu menunggu sampai logam itu membentuk sebuah senjata, ia awalnya memilih sebuah pedang tetapi ia sadar bahwa logam itu hanya akan membentuk sebuah senjata yang memperlihatkan karakteristik seorang Vampir.


"Terlihat seperti dirimu Vania, hehehe, kecil..."


"Kau benar tetapi walaupun aku kecil, setidaknya aku masih bisa bertarung dan menjadi liar!" Vania melebarkan matanya untuk memindahkan seluruh darah yang ia hisap ke dalam kapak itu sehingga kapak itu memancarkan cahaya merah dan mulai membesar bahkan Vania tidak bisa memegang-nya dengan satu tangan melainkan dua karena ukurannya terlalu besar sehingga kekuatan yang dimiliki kapak itu juga besar.


Lavia tercengang ketika melihatnya ukuran kapak itu sekarang jadi lebih besar bahkan ukurannya melampaui tubuh mereka berdua, kapak itu terlihat cukup berat tetapi Vania dapat mengangkatnya dengan mudah karena kekuatan Vampir yang benar-benar mengerikan ketika menghisap darah, Lavia bertepuk tangan lalu Vania memberitahu dirinya untuk mundur beberapa langkah karena ia ingin membuat sebuah jalan.


Vania memegang erat gagang kapak itu lalu ia berputar tiga putaran setelah itu melemparnya ke atas sehingga kapak itu menerobos ke depan dan menghancurkan apapun yang menghalangi dirinya, Vania dan Lavia tercengang melihat kekuatan besar dari kapak itu, mereka segera berubah menjadi kelelawar lalu pergi meninggalkan lubang itu dengan melewati jalan yang baru saja di buat oleh Vania.


Vania menunjuk kembali kapak-nya sehingga kapak-nya mulai mengecil lalu tertarik kembali menuju tapak kanannya, mereka akhirnya bisa meninggalkan lubang yang dipenuhi dengan Eldritch itu. Vania dan Lavia segera pergi meninggalkan wilayah itu sambil terkekeh pelan karena petualangan yang pendek tadi cukup menyenangkan, untungnya mereka keluar tidak jauh dari desa.


"Bukannya itu bagus, Vania? Sekarang kamu memiliki senjata untuk bertarung, itu artinya ketika ujian tentang latih tanding dimulai maka aku yakin kamu pasti bisa."


"Semoga saja, aku masih belum terbiasa dengan kapak ini karena terlalu besar dan menguras kekuatan serta darah. Senjata yang aku gunakan bertambah kuat jika aku membagi atau memindahkan semua darah yang berada di dalam diriku, tidak jauh lagi dari haus darah... senjata ini benar-benar terlihat seperti diriku."


"Benar sekali, walaupun kecil setidaknya Vania mematikan jika mencoba."


Vania melihat Lavia yang terlihat senang, entah kenapa ia tidak bisa merasakan apapun saat ini kecuali mengingat keluarganya yang benar-benar mengkhianati dirinya, dia sudah bersusah payah untuk menyelamatkan mereka semua tetapi seorang laki-laki yang kemungkinan ayah barunya meninggalkan dirinya sendirian sehingga ia dibawa masuk ke dalam lubang bersama Eldritch itu.


Entah apa yang mereka pikirkan ketika melakukan hal menyakitkan seperti tadi, hati Vania masih terasa hancur karena ia sepertinya sudah tidak dianggap lagi penting untuk mereka walaupun tadinya ia rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan keluarganya, ia mengharapkan penyelamatan dan pengakuan bahwa dirinya itu berguna. Vania menarik nafas dalam-dalam lalu ia menghembuskan-nya pelan sehingga Lavia bisa mendengar suara sedih yang keluar dari mulutnya.


"Vania, ada apa?"


"Tidak ada, ayo pulang."